Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 37 : Pengakhiran Keadaan


__ADS_3

Pertarungan antara Azgul dan Quendin berlangsung sangat lama. Mereka terus menerus bertukar dan menepis serangan satu sama lain.


Azgul terus menerus mengayunkan senjatanya kearah dada Quendin dari kanan kekiri dan sebaliknya. Namun serangan Azgul tak ada yang mengenai Quendin seakan-akan dia hanya menebas angin. Dia terus saja melancarkan serangannya sambil berlari untuk memojokkan Quendin.


Quendin dengan lihainya menghindari tebasan bertubi-tubi dari Azgul sangat mudah. Dia mundur beberapa langkah sebelum Azgul melancarkan serangannya yang cepat itu.


'Kalau begini tak akan selesai. Kenapa dia hanya menghindari seranganku?' Tanya Azgul dalam benaknya sambil terus menyerang dan mencari celah sekecil mungkin untuk menusuk Quendin.


"Ada apa, Azamante? Kau tidak bisa menebasku?" Ucap Quendin dengan santainya menghindari serangan Azgul.


Nampak Azgul tak memperdulikan kata-kata Quendin dan terus melancarkan serangannya, kemudian "Frenzy." Ucap Azgul yang menggunakan kemampuannya dan tiba-tiba saja serangan Azgul mendadak menjadi lebih cepat.


Sebelumnya Azgul dapat melayangkan tiga kali serangannya hanya dalam satu kali kedipan mata, namun kini dia dapat melayangkan enam sampai tujuh kali serangan beruntun dalam satu kali kedipan mata.


Quendin nampak kesulitan menghindari serangan Azgul yang beruntun itu, dan kemudian ada suatu ketika dia terkena serangan Azgul.


CRAT! Nampak sekali Quendin terkejut terkena sayatan kecil dari pedang Azgul di perutnya dan kemudian melompat dua puluh langkah kebelakang untuk memeriksa kondisinya.


'Sial. Lukanya kurang dalam.' Ucap Azgul yang masih berlari kearah Quendin untuk menusuknya, Azgul merasa ini kesempatan terbaik untuk membunuhnya sebelum Quendin menyentuh tanah.


"Burning Phantom" Ucap Azgul dan kemudian api yang berada diseluruh tubuhnya membesar dan kecepatan berlari Azgul bertambah sangat drastis, sampai-sampai meninggalkan beberapa bayangan tubuh Azgul. Seakan-akan melihat dirinya sedang berada didepanmu padahal dia sudah berada dibelakangmu.


Quendin sedang berada diudara dan melihat Azgul yang menyerang kearahnya seketika terkejut dengan serangan yang sangat cepat itu, dan tiba-tiba saja Quendin mengucapkan sebuah mantra.


'Guirtoni' Ucap Quendin dan kemudian tiba-tiba saja Azgul sudah berada diudara tepat dibelakang diri Quendin sambil melancarkan serangannya.


BAM! Muncul asap tebal yang menghalangi keberadaan mereka berdua akibat serangan Azgul kearah Quendin.


Terlihat Azgul keluar dari sana bersamaan dengan asap tebal yang beriringan mengekor padanya dan mendarat ditanah dengan tangan kiri yang berlumuran darah membasahi bulu lebatnya.


Terlihat juga Quendin yang keluar dari sana dan terpental cukup jauh dari asap tebal itu bersamaan dengan sebuah senjata yang sangat besar ditangannya.


Nampak juga Azgul yang sudah tidak dalam mode Agni's Transform lagi, dari tubuh sebelah kanannya sampai mata kirinya tersayat oleh benda tajam, dan juga nafasnya terengah.


Kondisinya diperburuk karena mata sebelah kirinya tak dapat lagi melihat, dan tangan kirinya hampir terpotong putus, tubuhnya berlumuran darah yang keluar dari luka itu.


'Tadi itu apa!? Agni Transform milikku sepertinya juga sudah sampai batasnya. Aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, jika aku menggunakannya sekali lagi kemungkinan berhasilnya hanya 50% dan jika gagal. Aku akan langsung mati.' Ucap Azgul dalam benaknya yang mengamati situasi dari Quendin.


Nampak juga Quendin yang menabrak bangkai kapal itu dan dia keluar dengan melompat dari tempat itu tanpa terluka sedikitpun, tubuh Quendin juga terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.


Dia mengenakan baju zirah berwarna hitam, dengan pedang besar berwarna biru laut yang dia bawa dipunggungnya, dan seketika udara didalam perut Chardybis mendadak sangat berbeda dari sebelumnya.


Dia berjalan secara perlahan sambil menatap tajam Azgul dengan matanya yang bersinar biru sangar, suara dari air-air yang dia injak saat berjalan terdengar sangat mengerikan. Seakan dia adalah seorang monster buas yang melihat mangsanya.


"Azamante, jangan kau pikir aku tidak tau kekuatan dari senjata terkutukmu itu. Pertama kau harus menebas musuhmu sampai setengah mata pedangmu maka sihir apinya akan aktif. Kedua kau harus menyatukan setengah dari inti sihirmu kedalam pedang itu, dan yang pasti saat ini kau tidak bisa menggunakannya lagi bukan?" Ucap Quendin sambil menatapnya tajam.


Azgul merasa dirinya benar-benar terpojok bersamaan juga kondisinya yang kian memburuk, Azgul sedikit bergeming saat melihat dan mendengar perkataan Quendin, ditambah lagi saat ini dia sudah berubah menjadi seekor monster dalam bentuk sempurna.


Azgul terus menerus menatap tajam mata Quendin. Tubuh Azgul sedikit gemetaran dan dia merasakan perasaan takut akan kematian, perasaannya mengatakan untuk pergi dari sana.


Namun tiba-tiba saja Azgul mengingat nasehat dari kakaknya yang dulu adalah seorang raja dibukit Hwerun sebelum Azgul naik tahta dan masih seekor serigala kecil yang nakal.


Serigala tidak akan pernah sekalipun menundukkan kepalanya dihadapan musuhnya, namun Serigala akan menundukkan kepalanya dihadapan orang yang dia cintai dan dia kasihi.


'Yaa.. Aku ingat kakak.' Ucap Azgul dalam benaknya sambil tersenyum kecil dan kemudian mengeratkan gigi taringnya lalu mengaum sekeras-kerasnya.


"Ada apa? Kau takut padaku? Kenapa tidak berhenti dan bergabung denganku, Azamante." Tanya Quendin sambil menatap Azgul tajam.


"Ya, saya takut. Tapi saya berasal dari ras Serigala. Ras yang mungkin sangat kecil jika dibandingkan dengan ras-ras lainnya. Akan tetapi kami sangat memegang teguh pada pendirian kami." Jawab Azgul pada Quendin.


"AKU AZAMANTE GULAG SEORANG RAJA DARI BUKIT HWERUN DAN JUGA SEORANG RAJA DARI PENGUASA LAUTAN. MENGANGGAPMU SEBAGAI MUSUHKU, QUENDIN!" Teriak Azgul padanya sambil mengaum.


...Azamante Gulag...



...Pict From Isvoc-art.com...


Nampak Quendin tersenyum mendengar perkataan Azgul dan kemudian dia mulai berlari kearahnya dengan kecepatan yang sama seperti Azgul dalam mode 'Burning Phantom'.


Tiba-tiba saja Azgul terkena pukulan telak diperutnya BUAGH! dan kemudian menghempaskannya sangat jauh. Belum selesai, Quendin berlari melesat dengan cepat kebelakang Azgul yang masih terhempas dan menendang punggungnya sampai-sampai membentur dinding dari perut Chardybis.

__ADS_1


Nampak dari benturan itu membuat Chardybis merasa kesakitan dan mengeluarkan suara yang sangat keras hingga menggetarkan perutnya.


"Menyerahlah, Azamante. Aku akan memaafkan dirimu jika kau menyerah. Akulah yang pertama kali menyelamatkanmu dikala kau kelaparan, jadilah bawahanku seperti dulu, Azamante." Ucap Quendin yang belum menggunakan senjatanya sama sekali.


"Tak akan..." Ucap Azgul dengan mulut yang mengeluarkan darah, nampak Azgul merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya dan sekitar perutnya.


'Sepertinya organ perutku terluka dan tulang punggungku remuk.' Pikir Azgul sambil merasakan ada yang janggal pada tubuhnya, "Sepertinya diriku sudah salah menilaimu, Quendin." Jawab Azgul pada Quendin sambil terbaring lemas.


"Aku ingin mencicipi daging dari Putri Zealos itu. Bolehkan, Azamante?" Ucap Quendin sambil berjalan kearah terowongan yang sebelumnya dilewati oleh Nerine dan Audellia.


"JANGAN BERANI KAU SENTUH MEREKA!" Teriak Azgul pada Quendin yang menyulut amarahnya.


"Oh.. Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh penuh lukamu itu, Azamante." Balas Quendin sambil menyeringai melihat Azgul.


"Agni Transfor- URGH!" Azgul tampak kesulitan untuk menggunakan kekuatannya, kemudian BATS! Quendin tiba-tiba melesat kearah Azgul dan mencengkramnya lalu melemparnya keatas.


Kondisi Azgul sangatlah buruk, mata kirinya dan organ dalam perutnya rusak serta tulang punggungnya yang remuk membuat Azgul benar-benar tidak berdaya dihadapan Quendin.


Terlihat Quendin bersiap untuk melompat dan membelah tubuh Azgul yang sedang berada di udara menjadi dua bagian dengan pedang besar berwarna biru yang sebelumnya terus berada dipunggunynya.


Azgul yang tak punya pilihan lain mencoba memilih untuk berjudi dengan pedang terkutuknya. 'Kakak, Azegani. Putri kecilku, Yurn. Istriku, Elera. Berikanlah aku kekuatan untuk melindungi mereka semua.' Ucap Azgul dalam benaknya.


Terlihat Quendin yang melompat melesat kearah Azgul sambil menggenggam pedang biru besar itu.


"AGNI TRANSFORM!!!" Teriak Azgul.


BAM! Asap tebal sekali lagi menutupi benturan pertarungan mereka, nampak ada percikan-percikan api merah dan listrik biru yang terlihat dari dalam asap itu.


DUAR! Tiba-tiba saja ada ledakan yang sangat dahsyat ditengah-tengah asap tebal itu, bersamaan dengan mereka berdua yang terhempas kesisi yang berbeda dan menahan hempasan dari ledakan itu sambil terseret dengan posisi berdiri mereka masing-masing.


Nampak terlihat Azgul berhasil menggunakan kekuatannya, seluruh tubuhnya dan pedangnya sekali lagi terbakar api yang berkobar, tubuhnya yang terluka kembali pulih seperti sedia kala. Namun ditopengnya tepat dimata kirinya terdapat goresan luka yang menutup matanya.


......Agni's Transform (Azamante Gulag)......



......Pict From Google......


......Dota 2 Juggernaut......


Quendin merasa dia harus cepat-cepat mengakhiri semua ini mulai berjalan secara perlahan kearah Azamante. "Kau benar-benar seekor peliharaan yang merepotkan, Azamante." Ucap Quendin.


...…Guirtoni (Quendin)…...



......Pict From Google......


Terlihat mereka berdua saling menatap sambil menggenggam pedangnya masing-masing, Azgul dan Quendin merasa saat ini mereka harus menyelesaikan masalah mereka.


"Azamante, akan kukatakan sekali lagi. Jadilah bawahanku dan mengabdilah pada diriku, kau akan kuampuni. Apakah kau lupa siapa yang pertama kali sudah menolongmu?" Ucap Quendin sambil menggenggam pedang besarnya kedepan.


"Tak ada gunanya berbicara denganmu, Quendin. Asal kau tau saja, dirimu bukanlah orang pertama yang menjadi penyelamatku saat itu." Jawab Azgul dengan lantang.


"Jadi... sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi?" Tanya Quendin sambil menatap Azgul tajam diantara kedua pedang besarnya.


"Ya.." Jawab Azgul singkat sambil menatap kearah Quendin tajam sambil menggenggam pedangnya menyamping 30°.


"Baiklah.." Balas Quendin kemudian berlari dan ada cahaya listrik biru yang mengekor padanya kearah Azamante dengan kecepatan tinggi.


Terlihat juga Azgul yang berlari melesat kearah Quendin dengan kecepatan tinggi bersamaan api yang berkobar mengekor padanya.


BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! Suara dari ledakan yang terus menerus muncul bersamaan dengan benturan serangan mereka.


Terlihat juga ada cahaya biru listrik dan cahaya api yang terus menerus berebenturan dengan sangat cepat.


Nampak Quendin terus menerus terkena sayatan kecil pada baju zirahnya dari pedang Azgul dan juga Azgul yang terus menerus menahan serangan Quendin yang sangat kuat dan berat seraya menyerang.


Seiringan dengan pertarungan mereka berdua, masing-masing dari mereka menyadari sesuatu.


Quendin merasa Azgul lebih unggul dalam hal kecepatan dan sebaliknya Azgul merasa Quendin lebih unggul dalam hal kekuatan. Tak berhenti sampai sana Quendin merasa curiga dengan mata Azgul yang tak pulih dan mulai menyadari serangannya akan sedikit melambat saat menggunakan tangan kirinya.

__ADS_1


'Jika aku benar.' Ucap Quendin dalam hatinya sambil mencari celah untuk menyerang Azgul saat dia menggunakan tangan kirinya dan kemudian JRASH! Tampak Quendin berhasil menebas putus tangan kiri Azgul bersamaan dengan pedang terkutuknya yang terhempas.


Seketika itu juga Azgul kembali ke dalam wujud serigalanya lalu, STAB! Terlihat pedang besar Quendin berhasil menembus tubuh Azgul dari perut hingga kepunggungnya.


"S..Si..Sial." Ucap Azgul yang tertembus pedang itu, BUAGH! CRAT! Quendin menendang Azgul sampai terhempas dari pedangnya yang menusuk tubuh Azgul hingga menabrak lapisan perut dari Chardybis dengan sangat kuat.


"Tampaknya tubuhmu tidak sepenuhnya pulih. Sebaiknya kau memikirkan tawaranku. Aku bisa membangkitkan putrimu juga istrimu, Azamante." Ucap Quendin sambil menatap Azgul yang sekarat.


"Aku... tidak... ingin... melawan... takdir. Apa..bila... orang... yang kau... cintai... sudah tiada... dan... menjadi... sebuah... kenangan... maka... kenangan... itu... akan menjadi... sebuah... harta... yang... berharga." Ucap Azgul yang kesulitan berbicara sambil mengeluarkan darah dari mulutnya dan kemudian dia menutup matanya dengan perlahan.


'Maafkan aku nona kecil, nampaknya kau harus pergi tanpa diriku. Aku tidak tau, apakah aku akan kembali seperti semula setelah aku menggunakan kekuatan ini. Aku hanya pernah menggunakannya sekali. Tuan Warlen, kaulah orang pertama yang menyelamatkanku dulu." Ucap Azgul dalam benaknya sambil merapalkan beberapa mantra didalam hatinya.


"Apakah kau masih tidak ingin menjadi bawahanku, Azamante?" Tanya Quendin sekali lagi sambil menatap Azgul.


Tak ada jawaban dari Azgul, Quendin pun ingin meninggalkannya dan menyusul Nerine yang sedang bersama dengan Audelia menuju jantung Chardybis.


"God of Fenrir" Ucap Azgul yang sekarat dan tiba-tiba saja Quendin merasakan hawa mencekam yang lebih kuat dari dirinya, kemudian ketika Quendin menoleh kebelakang dia melihat seekor serigala buas raksaksa yang sedang menatapnya.


...God of Fenrir (Azamante Gulag)...



...Pict From Google...


"Kau adalah orang kedua yang pernah melihatku dalam bentuk ini, Quendin." Ucap Azgul yang melihatnya dengan tatapan buas.


"Tidak... mungkin... KAU BENAR-BENAR BRENGSEK AZAMANTE!!!!!" Teriak Quendin yang kemudian mulai berlari menyerangnya.


Sementara itu ditempat lain. . .


...Jantung Chardybis...



......Pict From Google......


Terlihat Audelia dan Nerine yang baru saja tiba dijantung Chardybis, nampak Audelia masih merasa cemas memikirkan Azgul.


"Aku tak menyangka kita akan sampai ditempat ini, monster-monster yang menghalangi kita benar-benar merpotkan." Ucap Nerine sambil melihat sekelilingnya.


"Kenapa semuanya terlihat sama, seharusnya ini benar tempatnya." Ucap Nerine yang terheran-heran melihat sekelilingnya dan kemudian dia melihat kearah Audelia.


"Tenanglah. Dia pasti akan kembali pada kita." Ucap Nerine sambil mengelus kepala Audelia dan tiba-tiba saja terdengar suara auman serigala yang sangat keras didalam tubuh Chardybis itu.


Nampak seluruh monster-monster yang bersemayam ditubuh Chardybis mulai menuju ketempat suara dari auman itu berasal.


Terlihat juga Audelia yang merasa bahwa itu adalah pertanda buruk, seketika saja dia mengingat wajah Azgul yang sebelumnya mengelus kepalanya dan langsung berlari kembali ketempat Azgul.


Nerine yang terkejut melihat Audelia yang berlari tak bisa mengejarnya, entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja terowongan yang sebelumnya mereka lewati tertutup oleh selaput lendir.


Nerine merasa ada yang janggal ditempat ini dan benar saja, ternyata ada seseorang yang sedang bersembunyi ditempat ini.


Awalnya dia hanya berani mengintip kearah Nerine dari kejauhan dan semakin lama semakin mendekati Nerine. Seakan-akan sedang ketakutan dan setelah dia memastikan bahwa Nerine adalah manusia, dia menangis dan berjalan secara perlahan kearah Nerine lalu menggenggam tangannya.


Nerine merasa benar-benar terkejut setelah melihat orang yang dikiranya musuh ternyata adalah seseorang yang sedang dicari oleh Helena dan Audelia. "Y-Y-Y-Yun-Yun!!" Ucap Nerine yang terkejut sambil menatap kearahnya.


...Yun-Yun...



......Pict From Google......


......Genshin Impact Qiqi......


_____________________________________________


BAB X PART 1 : THE WOLF KING OF HWERUN


NOTE : Mungkin updatenya bakal melambat, lagi ngerevisi bab-bab sebelumnya.. maaf ya.


Pesan Penullis :

__ADS_1


Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.


Terima Kasih


__ADS_2