Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 19 (R) : Arch Bishop


__ADS_3

...•Pagi Hari•...


...Kota Larden...


...Reruntuhan Kota Larden...


Pada saat itu nampak banyak sekali pasukan tengkorak yang sudah hancur menjadi tulang-tulang dan terlihat Warlen yang sedang terbaring diantara tulang-tulang itu.


Staminanya sudah benar-benar terkuras dan habis, dengan senyum lebar dia sangat puas dengan apa yang dicapainya.


Dia melihat kearah tangannya yang sekarang sudah mengeluarkan cahaya berwarna merah gelap dan mengeras seperti logam, Dark Iron Fist. Yang juga adalah sebuah kemampuan tingkat lanjut dari Iron Body.


Dirinya terbaring lemah karena kelelahan, nafasnya terengah-engah karena letih, dan pandangannya mulai meredup sampai akhirnya dia tertidur.


Tak jauh dari tempatnya. Altares yang juga gurunya melihat dirinya dengan perasaan yang puas.


"Change." Ucap Altares yang kemudian bertukar tempat dengan salah satu tengkorak miliknya yang berada didekat Warlen.


Seusainya berpindah tempat, mendadak saja dia menyentuh bagian perut muridnya dengan tangannya.


"Zearl!" Ucapnya yang kemudian muncul lingkaran sihir kecil berwarna abu-abu diperut muridnya, namun tak disangka lingkaran sihirnya pecah.


A/N : Zearl adalah sihir untuk menarik roh seseorang yang mendiami tubuh orang lain.


"Sihir tolakan? Rupanya benar, aku yakin ada yeng terjadi sesuatu setelah dia memutus kontraknya." Ucapnya kecil seraya melihat heran tubuh muridnya.


Namun kejadian tak diduga pun dimulai, sontak muncul seorang wanita berambut hitam yang sangat panjang dengan jubah hitam pekat dan beberapa pernak-pernik tengkorak.


Terlihat aura tekanan yang sangat hitam menyelimuti wanita itu menatap kearah Altares seraya waspada.


"Omunos!" Ucap wanita itu, yang kemudian muncul aura hitam dan langsung menyerang Altares.


"Hmph! Permainan anak-anak." Ucap Altares angkuh seraya menarik sedikit nafasnya dan meniup aura itu.


Tak disangka aura yang dikeluarkan wanita itu menghilang seiring dengan tiupannya, dan juga nampak terlihat wanita tersebut terkejut bukan main menyaksikan serangan miliknya dapat dipatahkan semudah itu.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Altares dengan mata yang menyipit seraya menatap curiga wajah wanita itu.


Wanita ini terdiam membatu, dia merasa ketakutan dan mulai mencoba masuk kedalam tubuh Warlen.


Namun Altares sudah memberikan segel pelindung seperti dinding pada tubuh muridnya yang membuat wanita ini terhalang untuk kembali.


"Sebaiknya kau lihat lawan bicaramu sebelum pamer, Iblis kecil." Ucap Altaeres sambil menatapnya.


"Soul Chains!" Ucap Altares yang kemudian muncul rantai perak melilit wanita itu.


Wanita itu nampak merintih kesakitan, namun hal itu tidak menyentuh perasaan Altares. Dia selalu menonaktifkan dan mengaktifkan menyiksanya agar berbicara.


"Hm.... Masih tidah mau bicara? Kalau begitu maafkan aku. Soul Drain!" Ucapnya yang kemudian rantai-rantai itu mulai menyerap jiwanya secara paksa.


Namun tak disangka wanita ini mengeluarkan sebuah kalung dengan hiasan batu ditengahnya dan motif mata hewan buas berwarna biru.


...Gambaran Kalungnya...



...Pict From Google...


Altares nampak sangat terkejut dengan apa yang dia lihat dan mulai menghilangkan lilitan rantainya, sekaligus dinding sihir yang ada ditubuh muridnya. "Azer!"


"Sebaiknya kau kembali ketubuhnya, jangan lupa sampaikan salamku pada ibumu." Ucap Altares yang dibalas dengan anggukkan wanita itu.


"Satu hal lagi, jika waktunya telah tiba sebaiknya kau ceritakan padanya, untuk sekarang ini kekuatanmu akan kusegel sebagian agar kau bisa berbagi tempatmu dengan malaikatnya." Lanjutnya seraya menatap wajah wanita itu dalam-dalam.


Terlukiskan perasaan lega diwajah wanita itu, yang kemudian dia berterima kasih dengan membungkukan badannya, bersamaan dengan dirinya yang kembali masuk ketubuh Warlen.


"Hal-hal yang menarik terus saja datang dari bocah ini, mungkin akan ada sedikit perubahan pada fisiknya beriringan dengan kekuatannya yang tersegel itu terbuka." Ucap Altares sambil memandang muridnya.


Terlihat juga Altares tersenyum kecil 'Apa yang kau rencanakan, Amber.' ucap batin Altares sambil melihat rambut Warlen yang sedikit demi sedikit berubah warna menjadi sedikit gelap.


Terlihat didalam ruang inti sihir tubuh Warlen, wanita itu sedang merasakan sakit bersamaan dengan adanya aliran inti sihir hitam dan putih yang mengelilingi tubuhnya.


Beberapa saat kemudian. . .


Saat ini Warlen sudah duduk dengan mata berkeliling dan mendapati gurunya yang berada disebelahnya seraya membaca buku favoritnya, nampaknya Altares sangat mencintai isinya.


Warlen merasa tak nyaman, kepalanya sedikit pusing setelah menggunakan terlalu banyak inti sihir saat pelatihannya, namun yang paling membuatnya terheran ketika dia mendapati adanya sebuah kalung yang sudah terpakai dilehernya.


"Kalung apa ini? Bentuknya aneh sekali." Ucap Warlen seraya meraih, dan melihat-lihat kalung itu dengan mata yang menyipit sambil bertanya-tanya dalam pikirannya.


"Pemberian dari seseorang, sebaiknya kau simpan baik-baik." Ucap Altares seraya menatap muridnya dalam-dalam.


"Kuberitahukan satu hal. Setelah ini, fisikmu yang sebelumnya tersegel didalam tubuhmu, akan kembali padamu." Lanjut Altares.

__ADS_1


"Seseorang? Perubahan fisik? Tersegel?" Tanya Warlen yang keheranan dengan jawaban Altares.


"Fisikmu akan berubah, kekuatanmu akan meningkat, dan yang pasti ada sesuatu yang sudah terjadi padamu saat dulu." Balasnya seraya membuka bukunya.


"A-Apa maksudnya?" Ucap Warlen yang saat ini benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan gurunya.


"Aku juga tidak mengerti bagaimana cara menjelaskannya, lagipula kalung itu memang dari awal seharusnya ada padamu." Jawab Altares acuh tak acuh.


"Sekarang tidak perlu kau khawatirkan, fokus saja pada tujuanmu, percaya saja pada gurumu." Lanjut Altares seraya beranjak dari duduknya.


"Baiklah! Gu- Eh? Jadi mulai saat ini aku adalah..... muridmu??" Tanya Warlen dengan perasaan semangat bercampur senang dihatinya.


"Telingamu ternyata tersumbat." Balasnya seraya menutupi dirinya dengan kabut dam menghilang.


'Dingin sekali! Tapi baiklah, pastinya aku sudah satu langkah lebih maju saat ini, kalung ini? Sebaiknya kusimpan saja baik-baik.' Pikirnya saat itu seraya membaringkan diri dan mulai beristirahat.


Sementara itu ditempat lain. . .


...•••...


Siang hari, didalam kamar. . .


Saat itu nampak Valkyrie yang terbaring lemas tak sadarkan diri diatas tempat tidurnya, bersama dengan seeorang pria berambut pirang pendek.


Pria itu saat ini sedang menjulurkan tangannya menyentuh kepala Valkyrie.yang kemudian dari tangannya keluar cahaya yang berwarna kuning.


...The Boy...



...Pict From Google...


"Selesai juga, aku tak pernah menangani pasien seperti ini sebelumnya. Inti sihirnya kacau sekali." Ucapnya sambil mengelap keringat sebiji jagung yang berada diwajahnya.


Jeglek! Terdengar suara pintu dimana ternyata Garm baru saja masuk kedalam kamar itu dengan raut wajah yang cemas.


"Bagaimana keadaanya, Miresk?" Tanyanya seraya menatap Valkyrie dengan perasaan yang khawatir.


'Ini sangat aneh. Kemarin sesaat dia tiba-tiba saja tak sadarkan diri setelah mengeluarkan aura itu.' Ucap batin Garm.


"Untuk sekarang tidak ada yang harus dikhawatirkan. Hanya saja.... Aku melihat aliran inti sihirnya mungkin sedikit kacau." Jawab Miresk seraya menyadari adanya aliran inti sihir putih dan hitam yang saling berbenturan disekitar tubuh Valkyrie.


"Aliran inti sihir yang berbenturan? Apa maksudmu? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?" Balas Garm dengan rasa khawatir, dan juga bingung.


"Maaf, hanya seorang Arch Bishop saja yang bisa melihat aliran inti sihir. Sebenarnya kemampuan ini hanya mempermudah kami dalam menyembuhkan pasien yang sakit." Jelas Miresk seraya menatap Valkyrie dengan perasaan yang sedikit terheran-heran.


"Maafkan aku, Miresk. Kau sampai harus jauh-jauh datang kesini." Tegur Audelia padanya seraya mengamati keadaan Valkyrie.


"Tidak masalah, Tuan Putri. Lagipula ini memang sudah tugasku membantu orang yang sedang kesulitan." Jawab Miresk seraya menatap Audelia dengan rasa sungkan, dan kemudian dia dikejutkan dengan kehadiran Freya yang berada disebelah Audelia.


"Maaf atas keterlambatanku, Ratu Freya." Sapanya pada Freya.


"Namaku Miresk Lahn, seorang Arch Bishop dari Kerajaan Zealos. Aku ikut berduka atas kepergian Raja Alexander." Lanjutnya seraya membungkuk hormat pada Freya.


"Terima kasih." Balas Freya dengan sedikit tegas seraya membungkuk hormat padanya.


"Saya akan menjelaskan keadaan nona malaikat ini." Ucap Miresk seraya melirik Valkyrie.


"Untuk saat ini, aku belum mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Namun entah kenapa saat ini kondisinya secara tiba-tiba membaik, padahal sebelumnya aku hanya berusaha untuk menahan aliran inti sihir miliknya. Hal itu kulakukan agar dirinya tidak mengamuk." Jelas Miresk kepada mereka seraya menatap aliran inti sihir milik Valkyrie.


"Apa maksudmu mengamuk dan secara tiba-tiba membaik?" Tanya Garm dengan rasa cemas.


"Maaf, Aku juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada nona ini. Hanya saja... jika inti sihirnya mengamuk dia mungkin bisa lepas kendali, singkatnya dia akan menyerang siapapun yang dilihat." Jelas Miresk.


"Sudahlah Garm. Percayakan saja padanya, tak ada alasan baginya untuk berbohong." Tegur Freya yang mengerti situasinya seraya menepuk pundak Garm.


Terlihat Audelia juga merasa bersalah dengan kejadian ini.


Beberapa saat kemudian. . .


Suasananya mulai sedikit tenang dan saat ini mereka semua duduk dilantai kamar itu.


"Baiklah. Sekarang kita akan kembali kemasalah utamanya." Ucap Freya dengan mata yang berkeliling memperhatikan mereka.


Mereka berdiskusi panjang tentang permasalahan Daren dan Helena. Audelia juga mengatakan kalau dia awalnya berencana untuk menemui Freya, tapi berakhir dengan menjumpai Garm dan Valkyrie.


Audelia juga menceritakan apa yang sudah dia ketahui pada Freya.


Freya benar-benar terkejut dengan penjelasan Audelia saat itu, dia benar-benar marah dan sangat murka terhadap Daren. Dia tidak mengerti kenapa Daren bertindak sejauh itu.


Miresk juga ikut menyampaikan pada mereka tentang identitas Garm yang sudah diketahui oleh Kerajaan Zealos.


Garm dulunya adalah seorang anggota Helbinez, sebelum akhirnya bertemu dengan Alexander yang melepaskan belenggunya selama ratusan tahun saat masih tinggal di Hutan Efriot.

__ADS_1


Miresk melanjutkan seluruh informasi yang dia ketahui, dan saat ini kemungkinan besar Daren tidak ingin ada saksi yang masih hidup.


Terlebih lagi sekarang Kerajaan Zealos sedang memburu Garm.


Keadaan di Kerajaan Zealos sedang tidak baik, sebab obsesi Daren yang ingin cepat-cepat naik tahta menjadi Raja menggantikan ayahnya, Raja Uren Zealos Eirini.


Dengan menggunakan propaganda yang disebarluaskannya pada masyarakat Zealos, berkaitan tentang melindungi anak dari seorang Cursed Hero, Warlen.


"Maksudmu, Daren menggunakan opini masyarakat Zealos sebagai senjata sekaligus menggulingkan tahta ayahnya yang saat ini melindungi pengungsi Vinziala dan Duskford." Cetus Garm yang mengerti.


"Aku juga tidak tau pasti. Tapi jika aku menjadi dirinya dan itu adalah satu-satunya cara bagiku untuk naik tahta dengan aman. Kemungkinan besar aku akan melakukan hal yang sama dengannya." Ucap Miresk seraya menatap mereka bertiga.


"BIsa dibilang Raja Zealos yang sekarang adalah teman dari Raja Alexander yang melindungi anak dari Jasper Eirini. Raja Zealos juga dikenal cukup baik dikalangan masyarakatnya. Namun untuk menghancurkan seorang pemimpin, kita hanya perlu suara orang banyak yang mendesaknya dari bawah." Lanjut Miresk.


"Kenapa kau membantu kami?" Tanya Freya seraya menatapnya tajam.


"Sudah kubilang! Pria ini adalah mata-mata ku! Dia yang menyelidiki Kerajaan Zealos selama aku keluar untuk menyelidik ditmpat lain, dia juga adalah sahabat kecilku." Balas Audelia yang kesal melihat sikap Freya.


"Aku sudah mengerti tujuan Daren yang mengincar Tahta Raja. Tapi bagaimana dengan Helena?" Tanya Garm dengan perasaan terheran-heran.


"Secara garis besar dia hanya ingin menjadikan Helena sebagai istrinya. Akan tetapi hal yang paling menguntungkan demi memenuhi tujuannya hanyalah bekerja sama dengan iblis. Jika aku benar, saat ini keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu, membunuh Pahlawan Kesepuluh." Jelas Miresk.


"Meminta bantuan pada iblis! Menghancurkan kerajaanku dan membunuh suamiku! Lalu sekarang dia mengincar putriku! Benar-benar pria yang BUSUK!" Ucap Feya seraya memukul lantai kamar itu dengan keras hingga hancur. Bum!


Dengan amarah yang tak terbendung, Freya mulai berdri seraya beranjak pergi dari sana.


Akan tetapi Garm menarik tangannya untuk menghentikannya.


"TENANGLAH FREYA!" Bentak Garm yang berusaha menenangkan Freya.


"Pergilah.... itupun jika kau ingin mati." Cetus Audelia yang kesal dengan sikapnya.


Nampak emosi Freya semakin tersulut, kuping dan hatinya panas mendengar perkataan Audelia. Dia memandang Audelia dengan mata yang diselimuti oleh amarah.


"Sleep!" Ucap Miresk yang merapalkan mantra tidurnya pada Freya.


"Maaf.. Saat ini anda tidak boleh pergi kemanapun, Ratu Freya." Ucap Miresk seraya menatapnya dengan rasa bersalah.


Beberapa saat kemudian. . .


Garm, Audelia, dan Miresk. Sepakat untuk membuat rencana langkah mereka kedepannya, bersamaan dengan Freya yang saat ini sedang tertidur pulas diatas kasurnya.


Namun Garm menyadari sesuatu "Tunggu! Jika Daren tidak ingin ada saksi maka saat ini, Orland!?" Ucapnya yang terkejut dengan perasaan sangat cemas.


Sementara itu ditempat lain. . .


...Perbatasan Kota Vinziala...


...Lembah Logam...


Pada saat keadaan di Lembah Logam cukup mengerikan, namun juga cukup indah. Banyak pegunungan tinggi mengenai awan, udara yang terasa hangat, dan matahari yang kian terbenam.


Nampak bendera hancur bekas perang Kerajaan Vinziala masih berkibar tertiup angin disana, dan saat ini Peradaban Kerajaan Vinziala sudah hilang dari sejarah Benua Elzia.


...The Last War of Vinziala...



...Pict From Google...


Diantara gunung dan kota terdapat sebuah lembah yang kaya akan mineralnya yaitu Lembah Logam, terdapat sebuah rumah kayu kecil yang reot dilembah itu.


Terlihat didalamnya ada seorang pria dengan jenggot panjangnya dan ototnya yang besar sedang bercucuran keringat akibat panas api dari senjata yang sedang dia tempa.


Terdapat satu pria lagi yang sedang memandang kearah rumah kayu itu dari luar lembah.


Pria itu menggenggam tombak panjang, rambut panjang terikat sekaligus pakaian yang juga coklat sama dengan rambutnya. Dia memiliki mata yang berwarna emas dengan tatapan kuat dan sebuah anting putih yang terpasang rapi ditelinganya.


...The Guy...



...*Pi**ct From Google*...


...Art From @pvc_parfait...


...Genshin Impact Zhongli...


END. .


...______________________________________________...


Pesan Penullis :

__ADS_1


Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.


Terima Kasih


__ADS_2