
...Masih didalam perut Charybdis...
Audelia dengan lihainya menghabisi beberapa pasukan monster itu sendirian dengan kekuatan api ungu yang berada ditelapak kakinya dan senjatanya, serta perlindungan dari uap panas yang berada disekeliling tubuhnya, membuat dirinya semakin percaya diri untuk terus menerus menyerang mereka dengan cepat.
Azgul sendiri juga menikmati pertarungan ini, sudah sejak lama dia tidak merasakan pertarungan yang selama ini. Sihir Agni Transform membuat tubuhnya terbakar bersamaan dengan pedang panjang yang berkobar api sebagai senjatanya. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk menebas dan membakar monster-monster itu.
Nampak juga Nerine yang sangat cerdik saat menggunakan Claymore pemberian Warlen. Dia mengayunkan senjata yang mata pedangnya tiga kali lipat besar dari tubuhnya itu dengan sangat mudah, hanya dalam sekali tebasan bersamaan dengan Blood Splash dan Electro Shockwave miliknya, dia berhasil membunuh tiga puluh monster secara serempak dan tubuhnya juga terus menerus mengeluarkan percikan listrik berwarna ungu sebagai pelindung diri dari musuh-musuhnya.
Tak terasa mereka sudah bertempur dengan monster itu selama berjam-jam lamanya, namun tak ada tanda-tanda yang mengatakan serangan mereka berhasil mengurangi jumlah monster itu.
Audelia menyadari inti sihir miliknya sudah hampir habis. Dia tidak terlalu peduli dengan keadaan tubuh miliknya saat itu dan terus menerus bertarung dengan seluruh monster itu. Tak punya pilihan lain Audelia akhirnya berpilih untuk menonaktifkan sihir dikakinya Zan Fury.
Kecepatan Audelia berkurang sangat drastis, dirinya yang sebelumnya bisa sampai membunuh delapan sampai sepuluh musuh dalam sepuluh helaan nafas kini harus menunggu hingga dua puluh helaan nafas untuk membunuh musuh dengan jumlah yang sama.
Azgul terus dan terus berlari kesana-kesini seperti sedang berlarian tanpa arah, namun sesampainya diujung perhentiannya dia selalu berhasil membunuh seluruh monster yang telah dilewatinya dan secara tak sadar dia sempat melihat ada yang janggal dari pergerakan Audelia.
'Nampaknya ada yang aneh dengan pergerakan Nona Kecil itu, tapi apa?' Tanya Azgul pada dirinya sendiri sambil terus-menerus melancarkan serangan pada monster-monster itu.
Nerine terus menerus maju menghabisi seluruh musuh-musuhnya tanpa henti, dan sesekali dia selalu memperhatikan Audelia juga Azgul untuk memastikan keadaan mereka. Nerine yang menyadari pertarungan mereka yang tak ada habisnya-pun mulai mencari celah datangnya monster-monster ini.
Audelia tampak sedikit kesulitan dengan pergerakannya. Dia selalu berusaha untuk menghindar jika monster-monster itu mulai mengepungnya, namun sayangnya Audelia kali ini gagal untuk menghindar. Kakinya terlilit oleh tentakel monster itu yang kemudian mulai membanting tubuh mungilnya ketanah. BRAK!!!
Nampak tubuh Audelia merasakan sakit yang luar biasa akibat benturan itu. Bajunya sedikit rusak dan mulutnya mengeluarkan darah sesaat. Rapier api ungu miliknya juga ikut terlepas dari genggaman tangannya yang kemudian dilempar menajuh darinya.
^^^Purple Incendary - Membuat Rapier yang digenggam Audelia menjadi sangat tajam dengan api ungu miliknya.^^^
^^^Rapier Api Ungu.^^^
Monster-monster itu melilitkan tentakelnya pada kaki Audelia yang kemudian membuka melebarkannya, pergelangan tangannya juga sontak dililit oleh tentakel monster-monster yang berada disekitarnya.
'Kenapa!? Kenapa Ziror ku tidak bekerja!? Seharusnya uap panas ditubuhku bisa menghalau serangan mereka!? Kenapa!?' Tanya Audelia dalam hatinya yang terbaring dengan tangan dan kaki yang terbuka sambil melihat kearah monster-monster itu yang semakin mendekatinya.
"NONA KECIL!" Teriak Azgul dari kejauhan yang kemudian berlari dengan kecepatan tinggi untuk menolong Audelia, dia terus-menerus menebas dan membakar monster-monster yang menghalangi pandangannya dari Audelia.
Teriakan dari Azgul membuat Nerine sangat terkejut. Tak peduli seberapa banyak musuh yang sedang berada dihadapannya, Nerine merapalkan beberapa mantra sambil menebas mereka semua dan kemudian "Electro Dragon's Roar! "
Muncul sebuah percikan listrik-listrik kecil berwarna ungu dimata pedang claymore miliknya dan kemudian mulai membesar menyerupai seekor naga raksaksa.
Dari bola darah yang ada ditengah-tengah claymorenya muncul gumpalan-gumpalan yang berwarna merah dan kemudian mulai menyebar kesegala arah menargetkan seluruh monster yang ada didalam perut Chardybis itu terkena cipratannya.
Tak butuh waktu lama bagi Nerine yang mulai mengayunkan claymorenya bersamaan dengan naga listrik ungunya yang melesat menghantam ratusan monster disekelilingnya.
"Electro Shockwave" Ucap Nerine dan muncul sebuah percikan listrik ungu yang keluar dari ciptratan bola darah claymore miliknya yang kemudian menyetrum seluruh monster-monster yang ada didalam perut Chardybis itu sampai hangus.
Tampak juga Azgul sedang menyelamatkan Audelia dari jeratan tentakel monster-monster yang mengelilinginya. Hanya dalam dua helaan nafas dengan cepat Azgul menggunakan pedang api-nya untuk menebas kawanan monster itu seperti ayunan pedang bertubi-tubi yang sangat cepat.
Audelia yang kemudian terlepas dari jeratan monster-monster itu merasakan sakit yang sangat luar biasa pada tangan dan kakinya. Terdapat beberapa luka gigitan yang cukup dalam dan meninggalkan bekas berwarna hijau diantara lubangnya.
Beberapa saat kemudian, tak terlihat lagi ada monster yang tersisa ditempat itu.
__ADS_1
'Ugh! Kenapa tangan dan kakiku tidak bisa bergerak!?' Cemas Audelia dalam benaknya.
Nampak juga Azgul yang telah sampai ditempat Audelia lalu terkejut setelah melihat luka ditangan dan kakinya.
"Racun ini!? Tak mungkin.. Aku sudah melihatnya mati saat itu." Ucap Azgul yang sangat terkejut seakan mengetahui asal dari racun ini.
"Sungguh mengejutkan bertemu dengan sahabat lamaku. Kapten Bajak Laut Serigala Api, Azamante Gulag, dan juga Kapten Bajak Laut Warner, Clidia Nerine." Ucap seseorang dari balik terowongan diperut Charybdis
Terlihat Nerine yang tiba didekat Audelia dan Azgul lalu melihat kearah terowongan perut Charybdis karena mendengar suara itu dan kemudian dikejutkan dengan pandangan yang ada dihadapan matanya. Nerine tak percaya ternyata orang yang selama ini dia kira sudah mati ternyata masih hidup dan berubah menjadi seekor monster.
"SU-SUARA ITU! QUENDIN!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!?" Teriak Nerine yang terkejut dan marah.
Azgul yang mendengar nama Quendin langsung saja menoleh kearah yang sama dengan Nerine dan terkejut dengan perasaan yang sama dengan Nerine. Dia mulai mengeratkan giginya yang tajam dan menatapnya dengan penuh amarah.
"Jadi kalian masih mengingatku? Aku sangat terharu walaupun wujudku seperti ini. Oh! Aku hampir lupa untuk memberikan salamku pada nona yang lumpuh itu. Terima kasih sudah mau datang ke Kerajaan Leviathan, Putri Zealos." Ucap Quendin sambil menundukkan kepalanya.
Audelia yang sedang dipangku oleh Azgul nampak sangat ketakutan melihat monster itu menatap dirinya tajam. Dia tidak dapat bergerak dan ingin bilang pada Nerine juga Azgul untuk pergi dari sana, namun dia tak sanggup untuk membuka mulutnya karena merinding.
Audelia tiba-tiba saja bisa melihat aura inti sihir milik Quendin yang keluar dari tubuhnya, warnanya biru kehitaman dan sangat besar hampir memenuhi seluruh perut Chardybis ini.
Azgul yang merasakan ketakutan dari tubuh Audelia, Tiba-tiba saja langsung meletakkan tangannya dikepala Audelia Puk! Usap-Usap.
"Jangan khawatir, dia tidak akan menyakitimu, lukamu akan sembuh dengan penawar racun ini. Aku akan melawannya sampai kalian tiba dijantung Chardybis. Pergilah tanpa menunggu diriku, jika kalian bisa selamat itu sudah cukup bagiku." Ucap Azgul yang lembut melihat Audelia sambil memberikan penawar racun miliknya dan meletakannya diatas tubuh Audelia.
Tiba-tiba Audelia merasakan kehangatan yang menyentuh hatinya saat Azgul mengusap kepalanya. Dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah dia dapatkan selama menjadi seorang Putri Raja, namun ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan saat dia mendengar perkataan Azgul.
"Azgul... Kau... Apa yang kau lakukan?" Tanya Nerine cemas sambil menahan pundak Azgul.
"Pergilah... Aku tidak ingin melihat seorang gadis kecil mati dihadapanku lagi." Ucap Azgul kemudian melesat dan berdiri dihadapan Quendin.
Nampak Nerine yang mengerti maksud Azgul langsung berlari ketempat Audelia kemudian menggendongnya dan mulai meninggalkan tempat itu menuju ke jantung Chardybis.
"APA YANG KAU LAKUKAN!? KENAPA KAU MENINGGALKAN AZGUL!?" Teriak Audelia pada Nerine sambil meronta-ronta dipelukannya.
"Diamlah.. Percayakan saja pada Azgul, dia adalah Perompak terkuat diantara kami semua." Jawab Nerine sambil berlari menggendong Audelia.
Sementara itu ditempat Azgul dan Quendin. . .
"Kau menyelamatkan Putri Zealos itu? Azamante Sang Raja dari Bukit Hwerun." Ucap Quendin yang mempersiapkan pasukan Gafang's-Man miliknya.
"Saya tak mengerti kenapa anda menjadi seperti ini, Kapten Quendin." Ucap Azgul yang sedikit bimbang sambil menatap kearah senjatanya yang berkobar.
"Kau bilang kau tak mengerti?! HAHAHAHA! Jangan bercanda Azamante. KAU LAH ORANG YANG MEMBUATKU SEPERTI INI!!" Bentak Quendin yang kecewa padanya.
"A-Apa maksud anda, Kapten Quendin?" Tanya Azgul yang terkejut dengan pernyataannya.
"Kau pikir aku tidak tahu? Jangan berlagak seperti orang yang polos, BEDEBAH!" Bentak Quendin yang sangat marah dan nampak juga ratusan Gafang's-Man sedang berdiri dibelakang dirinya.
"Kau pergi meninggalkanku saat Scylla menyergap kapalku. Kau hanya melihatku dari kejauhan seakan-akan kau tak peduli. Kau pikir aku tidak melihatmu saat itu? Kau pikir aku bodoh?" Ucap Quendin yang sedang menambahkan ratusan monster dibelakangnya.
__ADS_1
"Aku memungutmu dari bukit terpencil, seekor serigala yang tak punya tempat tujuan dan juga makanan. Aku memberikan tempat tidur dan membiarkan kekasihmu bersamamu. Aku menjadikanmu wakil kapten kapalku. Aku tak menyangka dirimu akan menjadi lebih kuat dari diriku." Ucap Quendin sambil memerintahkan monster-monster itu untuk menyerang Azgul.
Azgul yang terdiam mulai bersiap untuk serangan dari pasukan monster yang berjulam ratusan itu. Dia mengobarkan api disekujur tubuhnya dan pedangnya. Dia mengeratkan genggaman gagang senjatanya kemudian mengarahkannya kedepan, sambil menarik nafasnya dalam-dalam dia menatap kearah kerumunan monster yang berlari kearah dirinya.
"Tapi apa balasanmu, kau pergi dari kapalku dan membuat sebuah kelompok bajak laut yang baru. Kau naik peringkat terus dan terus sampai akhirnya kau dijuluki sebagai salah satu dari perompak penguasa lautan. Aku yang mendengar hal itu awalnya sangat gembira, namun sampai akhirnya tiba dimana aku sedang menghadapi kematian lalu kau meninggalkanku? Kau hanya melihatku dari kejauhan? WAKIL KAPTEN AZAMANTE!!" Bentak Quendin yang kecewa sambil memerintahkan seluruh pasukan monster yang sudah dikumpulkannya untuk menyerang Azgul.
Azgul yang mendengar perkataan Quendin nampak terdiam, namun dia tetap menghunuskan pedangnya kearah monster-monster itu, dengan permainan pedangnya yang sangat cepat sampai-sampai tak butuh lebih dari satu kedipan mata dia sudah menebas dan membakar puluhan monster itu.
"JAWAB AKU! WAKIL KAPTEN AZAMANTE! JIKA TIDAK! AKU AKAN MEMBUNUH GADIS KECIL ITU!" Teriak Quendin padanya sambil mengumpulkan pasukan-pasukan monster itu lagi.
Azgul yang seakan-akan tak perduli dengan perkataan mantan kaptennya itu terus menerus menebas monster-monster yang datang, sampai akhirnya dia berhasil membunuh seluruh monster yang menyerangnya.
Tak ada satupun noda darah ditubuh Azgul. Seluruh darah dari monster itu terbakar habis oleh tubuhnya yang berkobar, kobaran api yang keluar dari tubuhnya mulai membesar dan membentuk cin-cin dibelakang tubuhnya.
"Maafkan saya, Kapten Quendin. Saya juga memiliki awak-awak kapal yang sangat berharga pada saat itu. Saya sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan anda, akan tetapi jika sekali saja anda menyentuh gadis itu. Maka saya tak akan segan-segan pada anda." Jawab Azgul yang melihat kearah Quendin dengan tatapan tajam.
"Baiklah, peruma saja aku menggunakan monster yang kubuat dari manusia-manusia tak berguna ini. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Jadi... Bisakah kita mulai, Azamante?" Ucap Quendin yang menatap kearah Azgul tajam.
Nampak Azgul yang mendengar hal itu sontak saja langsung melompat dan berhenti tepat dihadapannya, sambil memposisikan pedang miliknya kearah Quendin kemudian berkata "Saya akan menakhiri masalah kita yang sudah terlalu lama berlarut-larut, Kapten Quendin."
...Azamante Gulag (Azgul)...
...Agni's Transform...
......Pict From Google......
...Dota 2 Juggernaut...
...Quendin...
...Demon's Form...
......Pict From Google......
_____________________________________________
BAB IX PART 4 : THE FEMALE PIRATE EMPEROR (END)
NOTE : Mungkin updatenya bakal melambat, lagi ngerevisi bab-bab sebelumnya.. maaf ya.
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih
__ADS_1