Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 44 : Terbukanya Segel Marie


__ADS_3

Beberapa jam seusai pertempuran itu. . .


Tak terasa hari sudah semakin gelap. Kelompok Warlen yang kelelahan setelah mengalami pertempuran sengit saat ini sudah kian memulih.


Namun tidak untuk Yun-Yun. Dia yang masih tak sadarkan diri, sebab luka parah pada bagian kepala dan kakinya, harus mendapatkan perawatan dengan segera.


Diantara anggota kelompok Warlen tak ada yang memiliki sihir penyembuh, dan hanya bisa menghentikan pendarahannya dengan membekukan lukanya.


Sampai akhirnya mereka semua memutuskan untuk membawanya kembali ke Kerajaan Grizel. Tapi tidak untuk Warlen yang memutuskan untuk tinggal disana.


Dia memberikan perintah pada Nerine dan Garm untuk menjadi pengawal Yun-Yun selama perjalanan, yang awalnya hal itu sangat ditentang oleh mereka berdua.


Namun akhirnya mereka menyerah karena sifat Warlen yang keras kepala. Mereka berduapun akhirnya menyetujui perintah ketuanya.


Namun karena perasaan Nerine yang semakin khawatir pada kekasihnya, membuatnya menumpahkan rasa sayangnya pada Warlen dengan mencium bibirnya lemah lembut. Kiss~


Garm dan Zarin yang menyaksikan kejadian itu, hanya bisa membuka matanya lebar-lebar menatap mereka berdua yang mesra dengan mulut yang ternganga.


"Cepatlah kembali setelah membuka segel Marie. Aku menunggumu untuk menikahiku." Ucap Nerine dengan raut wajah yang seakan tak terjadi apa-apa seraya berjalan menggendong Yun-Yun dan meninggalkan mereka.


Seusai Nerine menjauh nampak sekali wajah dan kupingnya memerah bagaikan kepiting rebus.


'Tan-Tan-Tanpa sa-sadar.... A-A-Aku ma-malah me-me-menciumnya!!!!' Pikir Nerine gugup karena malu dengan mata berbinar dan mulut yang mengkerut.


Sementara itu ditempat Warlen. Dia hanya diam mematung tak bergerak sedikitpun dengan pipi dan kuping yang memerah seraya menatap Nerine yang sudah berjalan cukup jauh.


"NERI-" Belum sempat Zarin berteriak, dia melihat seorang wanita dengan penutup mata dan rambut yang melayang-layang bersamaan dengan percikan listrik ungu disekelilingnya menatap seram dirinya dari kejauhan.


"APAAA!?" Teriak Nerine dari kejauhan.


"T-T-Tidak! Semoga perjalanan anda menyenangkan!" Ucap Zarin tersenyum panik sambil membungkuk-bungkukkan badannya.


A/N : Kosa Kata maksudnya seperti sedang menggeleng-geleng / mengangguk-anggukkan.


Secara tiba-tiba saja, Garm juga mengambil kesempatan ini untuk mencium bibir Warlen yang diam mematung itu. Kiss~ Chuu~


"Itu adalah ciuman pertama dalam hidupku, kuharap kau bertanggung jawab, Warrrleeeen~" Ucap Garm seraya berjalan meninggalkan Warlen dengan kedipan genit padanya. Wink~


Nampak sekali lagi Zarin hanya bisa menatap kejadian itu dengan mata melotot dan mulut yang menganga.


"Jangan kau teriaki aku, mengerti?" Tegas Garm seraya melirik seram Zarin dengan mata yang bersinar biru.


Zarin yang tak bisa berkata apapun hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya dengan perasaan yang panik pada Garm.


Seusai mereka berdua pergi untuk membawa Yun-Yun ke Kerajaan Grizel. Zarin yang tak mau kalah juga ikut mencium bibir kakaknya dengan agresif bahkan memasukkan lidahnya kedalam mulutnya. Mmh~ Mmh~


"Aku juga ingin menikah dengan kakak." Ucap Zarin seusai menciumnya.


Warlen merasa dirinya saat ini sudah membuat dosa yang sangat besar. Dia tidak tau bagaimana caranya menghadapi situasi ini, sampai akhirnya mengutuk dirinya sendiri. 'Sebaiknya aku jadi batu saja.'


Warlen yang sebelumnya hanya diam membatu, kini seluruh tubuhnya menjadi batu beneran dan mulai retak sedikit demi sedikit Crack! Crack! Crack! Yang kemudian mulai terpotong menjadi bagian-bagian kecil. Brugh!

__ADS_1


"KAKAK! KAKAK!" Teriak Zarin yang panik.


'Ini yang terbaik.' Pikir Warlen sambil meneteskan air mata penyesalan.


Beberapa saat kemudian. . .


Terlihat Warlen yang sudah kembali normal dalam keadaan sehat walafiat.


"Jadi apa yang akan kakak lakukan?" Tanya Zarin yang penasaran menatap kakaknya sedang duduk melihat kearah batu besar itu.


"Aku juga sedang berpikir." Balasnya seraya menatap kearah lingkaran sihir besar berwarna dan bercahaya kuning dibawah batu itu.


'Sebelumnya aku tak pernah melihat adanya lingkaran sihir ini. Sejak kapan? Ditambah lagi rasanya lingkaran sihir ini terasa tidak asing bagiku.' Pikir Warlen yang keheranan dengan keanehan itu.


"Ada apa kakak? Oh! Inikan lingkaran sihir yang dibuat oleh ibu." Ucap Zarin sambil menunjuk hal itu dengan mata berbinar.


"Hah? Ibu? Artinya pahlwan ketiga Marie disegel oleh Ibu?" Tanya Warlen dengan mata yang terbuka lebar-lebar heran.


Zarin mengangguk padanya seraya menyentuh lingkaran sihir itu dengan tangannya.


'Apa yang dia lakukan?' Pikir Warlen seraya menatap heran adiknya.


"Kakak, ayo ikut sentuh juga!" Bentak Zarin yang mendadak kesal.


"Eh? Baiklah." Balas Warlen yang sedikit terkejut gugup.


Kedua kakak beradik itu kemudian menyentuh lingkaran sihirnya bersamaan. Tak lama seusai mereka menyentuhnya, muncul sebuah cahaya yang sangat terang diiringi dengan kehadiran Marie Larden yang berambut pirang.


Dan tiba-tiba saja dia menyerang Zarin dengan cepat tanpa peringatan sedikitpun.


DUASH! Beruntung Warlen berhasil menahan tinju dari Marie dengan tangannya, yang kemudian menangkap GRAB! merobohkannya BRUK!


"Tenanglah, Marie Larden Eirini." Tegur Warlen seraya menatap seram Marie yang masih lemah.


Marie yang merasa dirinya belum pulih sepenuhnya hanya bisa pasrah dalam keadaan itu.


Beberapa saat setelah Warlen menjelaskan situasi mereka, Marie nampak sedikit terkejut mengetahui bahwa dirinya sudah tersegel selama ratusan tahun dan masih hidup sampai sekarang.


"Apa itu benar? Kalian berada dipihak kami?" Tanya Marie menatapnya curiga.


"Ya.. Semua yang kuceritakan adalah yang sebenarnya.." Balas Warlen menatap Marie seraya melirik Zarin yang mengangguk membenarkan perkataan kakaknya.


"Kalau begitu.. Altares pasti sudah..." Ucap Marie dengan perasaan sedih dan mata yang mulai basah.


Warlen yang sudah menyiapkan diri harus menjelaskan keadaan tentang Altares yang saat ini sudah tiada. "Begini.. Nona Marie-"


A/N : Sengaja diskip penjelasannya, karna kalian udah tau kalo dia tewas terbunuh Jasper.


Seusai percakapan mereka, seketika raut wajah Marie menunjukkan perasaannya yang marah, sedih, benci, dan dendam.


"Putriku ada disini? Dimana dia!?" Tanya Marie terkejut dengan mata berkeliling.

__ADS_1


"Saat ini dia sedang terluka parah. Sebab itu kedua rekanku sekarang sedang mengantarkannya ke Kerajaan Grizel." Jawab Warlen seraya meihat kearah batu besar itu yang mulai retak. Crack!


"BAWA AKU KESANA!" Teriak Marie pada mereka berdua dengan perasaan yang cemas.


Warlen dan Zarin hanya mengangguk menatap Marie seraya melihat batu besar itu mulai retak sedikit demi sedikit dan langsung hancur ingin menimpa mereka bertiga.


Dengan cepat Warlen menggunakan kemampuannya untuk melindungi mereka. "Mud Wall!" Ucapnya seraya muncul dinding lumpur yang mulai menutupi bagian atas mereka berdua.


BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! Bebatuan mulai menghantam pelindung Warlen sampai menutupi seluruh bagian sekitarnya.


Beberapa saat kemudian. . .


"Kalian baik-baik saja?" Tanya Warlen pada mereka berdua seraya menahan reruntuhan batu besar yang ingin menimpa mereka.


"Aku tak apa.. Terima kasih." Ucap Marie dengan mata yang terbuka lebar menatap keaeah Warlen.


"KAKAK! KAU BERDARAH!" Teriak Zarin panik seraya melihat kakaknya dengan wajah yang berlumuran darah.


"Hahaha! Yang paling penting kalian berdua baik-baik saja." Balas Warlen seraya mengangkat dan melempar batu besar yang menahan dirinya. BRUK!


"Holy Access - Archangel Healing." Ucap Marie yang kemudian mengeluarkan cahaya berwarna kuning terang seraya menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan Warlen.


Mendadak saja luka pada bagian kepala Warlen langsung sembuh seketika.


"Dengan ini kita impas. Sekarang bawa aku ke Kerajaan Grizel." Ucap Marie menatap mereka berdua.


"Terima kasih." Balas Warlen seraya mengangguk menjawab ucapan Marie.


"Sebelum itu, Holy Access - God's Hammer." Ucap Marie yang menoleh kearah reruntuhan itu seraya mengeluarkan palu kuning berukuran raksaksa yang menghantam menghancurkan seluruh harta kekayaan Kerajaan Larden yang ditinggalkannya sejak dulu. DUMMMM! DUMMM!! DUMMMM!!! BLAR!!!


"Mengerikan sekali.." Ucap Zarin seraya menatap reruntuhan kota itu yang semakin hancur.


"Ayo pergi.." Ucap Marie seraya melihat mereka berdua.


"Ya.." Balas Warlen singkat seraya mulai berjalan kearah Kerajaan Grizel.


...Marie Larden Eirini...



...Pict From Google...


END. .


____________________________________________


Pesan Penulis :


Maaf kalo updatenya melambat.


Hehehe..

__ADS_1


__ADS_2