
Hari-haripun berlalu, Ibu dari Warlen dan Zarin itu semakin merasakan sakit ditubuhnya. Dirinya selalu tersenyum menatap dan menyembunyikan penderitaannya ketika bertemu dengan mereka semua.
Walaupun Gremory sudah menyarankan Amber untuk berbicara terus terang, ia tetap berkeras hati menahan rasa sakitnya.
Sampai akhirnya disetiap hari Amber harus terus beristirahat tanpa bergerak sedikitpun didampingi sahabatnya itu.
Amber sangat bahagia melihat kedua anaknya yang kini tumbuh dewasa, Warlen yang semakin mantap dengan kekuatan sejatinya, dan Zarin yang mulai piawai dalam permainan sabitnya.
Membuat hati dari Ratu Iblis itu sedikit lega, dia merasa beban didalam hatinya yang sudah membuatnya khawatir mulai terangkat perlahan-lahan.
Dua minggu berlalu, Amber mulai merasa gumpalan hitam itu semakin menggerogoti tubuhnya, kulitnya memucat diiringi dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Satu setengah bulanpun akhirnya terlewati sejak pelatihan itu dimulai, Warlen yang sering hilang kendali akhirnya dapat menguasai kekuatan sejatinya.
Kondisi dari Amber yang semakin memburuk mulai terendus oleh Warlen seorang, walaupun pahlawan kesepuluh itu tak pernah berbicara pada ibunya.
Pada awalnya Warlen hanya memperhatikan ibunya dari kejauhan, ia sama sekali tak pernah menggubris kelakuan konyol ibunya saat menyapa dirinya.
Namun sedikit demi sedikit, Warlen mulai merasa ada hal yang janggal dengan sikap ibunya, ia melihat Amber selalu saja tak hadir saat mereka semua makan malam.
Warlen yang penasaran mulai mengintip secara sembunyi-sembunyi, dirinya selalu memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah dari ibunya yang semakin memucat seperti sedang terkena penyakit.
Sampai akhirnya pada suatu hari saat mereka ingin melakukan makan malam, Warlen mulai menatap ibunya terus-menerus. Sebab Amber yang sebelumnya tak pernah hadir, mulai menampakkan wajahnya pada mereka semua.
Adiknya, Zarin selalu bertanya-tanya pada sikap kakaknya dan ibunya, akan tetapi semua itu selalu ditepis oleh senyum tipis mereka berdua.
Warlen tak ingin Zarin mengetahui hal yang sudah ia ketahui, dan Amber tak ingin membuat kedua anaknya itu khawatir pada dirinya.
Warlen yang semakin cemas akhirnya mulai memberanikan diri untuk bertanya langsung pada ibunya, banyak terbesit pertanyaan didalam hatinya yang sudah ia simpan sejak lama.
Sampai tiba disuatu sore, seusai mereka semua berlatih. Warlen menyempatkan diri untuk memeriksa keadaan ibunya sekaligus bertanya banyak hal pada Amber.
Namun semua pertanyaan itu mendadak sirna dalam sekejap saja, Warlen mendapati Amber yang saat ini terbaring tak berdaya diatas tempat tidurnya, gumpalan hitam itu semakin meluas bahkan tudung yang biasa dipakai oleh Ratu Iblis itu tak lagi dapat menutupinya.
Melalui lubang kunci kamar tidur Amber, mata Warlen mengintip menyaksikan penderitaan yang saat ini sedang menggerogoti tubuh ibunya.
Akan tetapi tiba-tiba saja, Warlen kedapatan sedang memata-matai ibunya oleh pemilik istana itu, Kaisar Api Gremory Elzia.
Warlen yang belum menyadari kedatangan Gremory, masih saja terus melirik dan mengintip melewati lubang kunci itu.
Pada awalnya wajah dari wanita api itu hanya menatap heran dengan kelakuan pria remaja ini, hingga akhirnya dia mulai berbicara dengan nada yang ketus.
"Aku tahu diusiamu yang sekarang pasti sedang mengalami masa-masanya, tapi mengintip ibumu sendiri itu terlihat menjijikan. Masih banyak wanita lain yang lebih muda darinya, Warlen." Terdengar ucapan dari Gremory yang menatap pria itu dengan satu alis terangkat membuat Warlen sontak terkejut dan beraksi seperti orang ling-lung.
Pahlawan kesepuluh itu mendadak langsung menggaruk leher belakangnya dan mundur selangkah seraya berusaha tersenyum untuk menghilangkan rasa canggungnya, ia sempat tertawa malu saat mendapati dirinya disaksikan oleh Gremory.
"Sudahlah... ada yang ingin kubicarakan berdua denganmu." Tegas Gremory diiringi dengan helaan nafas panjangnya, dirinya juga sadar tak bisa lagi menutupi penderitaan yang sedang Amber lalui.
...•••...
Dibawah sinar matahari sore nan hangat, dibalik sebuah bebatuan tinggi yang menciptakan suara kesunyian, bahkan diantara tempat-tempat terindah di istana langit, hanya disinilah lokasi yang dapat memanjakan mata.
...Landscape...
...Pict From Pinterest...
__ADS_1
Terlihat Warlen dan Gremory sedang berjalan berdampingan disambut oleh angin hangat yang menyapa kulit, kilauan rambut indah sang kaisar semakin memerah dibawah cahaya membuat pria pahlawan itu tersipu malu.
Gremory yang menyadari hal itu sedikit merasa tersanjung atas sikap pria remaja ini, namun ia memilih untuk terus berjalan hingga ketepian lalu beranjak duduk, mengistirahatkan dan menggoyangkan kakinya diatas jurang dalam itu.
"Kau tau? Ini adalah tempat favoritku disaat diriku sendirian, namun ketika ibumu datang ke istana langit, dia sering sekali membuatku kerepotan, akan tetapi hal itu membuatku jadi merasa lebih hidup." Ucap Gremory yang secara tak sadar terus saja mengungkapkan perasaannya, ia merasa sangat cemas dengan keadaan temannya. Matanya menatap sedih dan wajahnya terlihat sedang menahan isi hatinya.
"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu Nona Gremory, akan tetapi setelah aku bertemu dengan rekan-rekan yang membantuku hingga sekarang, diriku merasa bersyukur dapat hidup ditempat ini." Balasan dari Warlen terdengar lembut dan nyaman ditelinga kaisar api itu, membuatnya sedikit malu dengan ungkapan bocah remaja itu.
"Oooh~ Apa ini? Pernyataan cinta? Tak tahu malu, sudah ada beberapa wanita ditanganmu, mengintip ibumu, dan sekarang kau ingin meminang diriku? Hahahahaha~ Mulutmu sungguh manis, Pahlawan Elzia." Tak disangka-sangka godaan dari Gremory sanggup membuat pipi Warlen memerah, jantungnya sedikit berdegup kencang dan matanya terbelalak menatap Kaisar Api yang dikenal tak ramah itu.
"Kau kenapa? Duduklah disini.." Panggil Gremory seraya menepuk lembut sisi kosong ditempatnya bersantai. Kaisar api itu sedikit tersenyum dengan sikap remaja canggung ini, ia benar-benar terhibur atas kelakuan dari Warlen.
Pahlawan kesepuluh itu merasa gugup dengan panggilan itu, hatinya sedikit goyah saat menatap wajah cantik dari kaisar itu. Akan tetapi dia terus berjalan seraya menelan ludahnya, dan terus saja bersikap canggung dihadapan wanita ini.
Tak lama kemudian-pun, Warlen beranjak duduk disebelah Gremory, diiringi dengan keringat yang mengalir di wajah lugunya, dirinya semakin salah tingkah seusainya duduk disebelah wanita cantik itu.
"Aaah... Kau ini ya.. Mungkin sifatmu yang kikuk itu membuat wanita disekitarmu jatuh hati, bisa-bisa nanti aku juga ikut mendaftar diantrian istrimu. Ahahahaha~" Goda Gremory seraya menyenggol-nyenggol lengan dari pahlawan itu dan melirik tersenyum senang, karena dirinya menikmati hal-hal seperti ini.
Warlen hanya bisa terdiam dengan wajah yang memerah dan keringat dingin dipipinya, ia tak bisa berkata-kata apapun, jantungnya berdegup kencang, bari kali pertama dia merasakan perasaan ini seumur hidupnya.
"S-S-Sebenarnya... Apa yang terjadi pada ibuku?" Tanya Warlen dengan wajah yang gugup, walaupun dia saat ini sedang tersipu malu, namun rasa khawatirnya mengalahkan perasaan gugupnya.
"Hm.. Lucifer akan bangkit diakhir bulan ini." Ujar Gremory dengan kecemasan yang terlihat diwajahnya, diiringi dengan penjelasan panjang yang membuat pahlawan itu tercengang.
Didalam lubuk hati terdalamnya, Gremory merasa sangat risau akibat penyakit yang diderita oleh sahabatnya, bahkan dirinya tak dapat menghentikan hal itu.
Didalam penjelasan panjang Gremory, Warlen menyadari hidup ibunya tak akan lama lagi. Kaisar api itu mengatakan kalau Amber adalah bagian dari sisi Lucifer yang lain.
Dengan hati yang bimbang dan perasaan tak percaya bercampur menjadi satu didalam hati Warlen. Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh pria remaja ini, sampai akhirnya dia mendapat jawaban yang ia cari.
Warlen yang sebelumnya termenung, sontak langsung bangkit berdiri dan bersujud dihadapan sang kaisar itu, dengan pandangannya yang mulai buram karena air mata, ia memohon pada Gremory untuk memberikan secercah harapan pada ibunya.
"Kita semua tidak bisa melawan takdir yang telah ditetapkan, bahkan Dewa-Dewi ataupun Sang Pencipta tak sanggup melawan hal itu. Namun jika kau berusaha mungkin saja akan ada sesuatu yang berubah, yaitu nasib. Lebih baik kau bicarakan langsung padanya, selagi dia masih ada didunia ini." Ujar Gremory yang memberikan nasihat seraya mengusap kepala pria remaja itu, ia sadar betul hati pria kikuk yang ada dihadapannya sedang bimbang.
Perkataan Kaisar Api ini, sedikit membuat pria pahlawan itu tenang. Tanpa sadar dirinya memeluk Gremory dan membuat wanita cantik itu jatuh tersungkur dipelukan Warlen.
Gremory hanya dapat terdiam membatu dipelukan hangat sang pahlawan yang sedang berderai air mata kesedihan itu.
Gremory yang luluh akhirnya mengelus-elus rambut lembut pria remaja ini sembari menenangkannya dengan kata-kata lembut.
Tak selang beberapa lama, Warlen yang sudah sedikit tenangpun mulai mengucapkan selamat tinggal pada Gremory. Dia menghapus air matanya, dan berlari sekuat tenaga menuju ke tempat ibunya beristirahat.
"Warlen ya... Aku ingin tahu, jalan mana yang akan kau pilih." Gumam Kaisar api itu seraya menatap punggung Warlen yang gagah. Dia tersenyum kecil dengan wajah yang sedikit memerah karena tersanjung.
...•••...
Sementara itu disuatu kamar yang berada didalam Istana Langit, dapat terlihat Amber sedang terbaring lemah dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
...Amber's Room...
...Pict From Pinterest...
Ratu iblis itu tahu kondisinya sangat buruk, dia termenung menatap langit-langit kamarnya, memikirkan jalan kedua anaknya yang terjal, air matanya sedikit mengalir, rasa khawatirnya mulai merasuk kedalam hatinya.
"Mereka akan baik-baik saja, kuatkan hatimu, Amber." Gumamnya lemah seraya menutup matanya dengan tangannya yang pucat.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu seseorang diluar kamar Amber, membuatnya langsung menghapus air matanya sembari beranjak duduk dan menarik selimut yang menutupi kedua kakinya.
"Siapa?" Tanya Amber dengan suara yang setengah lirih.
"Ini aku, Warlen. Bolehkah aku masuk, Amber?"
Mendengar ucapan itu sontak membuat Amber sedikit terkejut, dia tak pernah menyangka kalau anak laki-lakinya akan berbicara dengannya.
Amber yang bahagiapun langsung bersiap-siap menutupi seluruh gumpalan hitam yang menggerogoti tubuhnya dengan selimut dan kerudungnya.
"Ya ampun~ Masuklah~" Balas Amber dengan nada yang menggoda namun terdengar dibuat-buat.
Jeglek!
Sesaat setelah Warlen masuk, nampak sekali dia tak sanggup memandang ibunya dan pada akhirnya membuang mukanya. Namun dapat terlihat perasaannya yang tidak karuan sudah tergambarkan diraut wajahnya.
"Ada apa? Kenapa mukamu murung begitu? Apakah Zarin berbuat nakal padamu? Siapa yang menyakitimu?" Pertanyaan demi pertanyaan terus dikeluarkan dari bibir pucat Amber, bahkan dia terus saja mengoceh hal ini dan itu agar Warlen bisa terhibur.
Dia terus bersikap konyol dihadapan Warlen, seakan dirinya tak menderita. Dia selalu mengatakan kalau anak laki-lakinya itu kuat, bahkan lebih kuat dari dirinya sendiri, sampai akhirnya dia mulai terdiam ketika Warlen menatapnya dengan tajam.
"Amb-- Tidak... Ibu, aku tidak tahu harus mulai darimana, tapi.. Aku tahu ibu sedang sakit sekarang. Jadi kumohon... ceritakan semunya padaku bu..." Ucap Warlen yang bersikap tegas diiringi dengan eratan kencang kepalan tangannya.
Sontak Amber membuka lebar-lebar kedua matanya, dia terkejut terheran-heran dengan perkataan Warlen. Namun dia tetap bersikeras terus saja mengatakan kalau itu tidak benar, sampai akhirnya dia melihat Warlen yang mendadak saja menjadi diam.
Warlen mulai berjalan perlahan, langkah demi langkahnya terlihat sangat berat. Sampai akhirnya Warlen mulai menundukkan kepalanya, membuat wajahnya tak terlihat tertutupi rambutnya.
Dia mengeratkan giginya dengan kuat demi menahan perasaannya, dan sampai akhirnya tiba-tiba saja terdengar tetes demi tetes air yang jatuh dilantai, membuat ruangan sunyi itu seakan mengungkapkan isi hati Warlen yang sudah tak terbendung lagi.
"Kumohon.... Kumohon.... Ceritakan semuanya padaku bu...." Ujar Warlen yang pada saat itu memejamkan matanya berharap untuk menghentikan tangisannya.
Amber yang menyaksikan kesedihan anaknya, akhirnya mulai luluh juga. Dia beranjak bangkit dari tempat tidurnya, berdiri dengan kaki yang lemah menopang badannya, memeluk anak laki-lakinya dan kemudian berbisik lembut padanya.
...•••...
Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, dan tak perlu ada yang ditutupi. Menangislah terkadang dengan menangis kau akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Dengarkan ibu, Rasa cinta ibu lebih kuat dari kematian, meskipun nanti dia akan merebut tubuh ibu, namun dia tidak akan merebut kasih sayang ibu padamu.
Sekeras apapun kematian mencoba, hal itu tetap saja tidak bisa memisahkanmu dari ingatan ibu. Tak perduli waktu, jarak, ataupun dunia yang nantinya memisahkan.
Pada akhirnya cinta lebih kuat dari kematian, kenangan-kenangan yang sudah mengisi kekosongan didalam hati kita. Tak akan pernah bisa lagi dirubah sampai kapanpun juga.
Ibu tak akan pernah melupakan semua kenangan disaat-saat dulu masih merawatmu sedari kecil, ibu minta maaf tak bisa menemani kalian disaat-saat kamu dan adikmu tumbuh dewasa.
Ingat pesan ibu baik-baik. Jadilah lebih kuat dari siapapun, jika kau kalah teruslah berusaha untuk melangkah maju. Lindungi adikmu dan rekan-rekan yang membantumu dengan sepenuh kekuatanmu.
Aku, Amber Lilith Illusia. Sangat bahagia mempunyai putra setangguh dirimu. Kamu mengerti? Warlen? Aku percaya padamu karena kau adalah Putraku, Warlen Lilith Illusia.
•••
Warlen yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu mulai menangis sejadi-jadinya, hatinya terenyuh, pikirannya kosong, tangannya mulai mengangkat memeluk ibunya dengan erat.
"Aku menyayangimu.... Ibu...."
END. . .
__ADS_1
...______________________________________________...
Pesan Penulis : Update akan dipercepat, saya minta maaf kalo ada kesalahan penulisan. Ikuti terus HOTW yah!! Jangan lupa like and comment!