Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 62 : Perjalanan Hari Kedua!


__ADS_3

Warlen terus berlari melesat dengan cepat kearah Pohon Drasilius besar itu, bunyi dari dedaunan kering yang diinjaknya terus bersuara dan pandangan dari matanya terus menghadap lurus kedepan.


Jalan menuju kearah Pohon Drasilius semakin menanjak keatas, bahkan sampai melewati awan-awan. Udara dingin dan tiupan angin kencang semakin terasa, kondisinya sama seperti sedang berada dipuncak gunung.


"Sebenarnya, seberapa besar sih pohon ini? Ditambah lagi, entah kenapa aku malah Deja Vu saat melihatnya." Gumam Warlen yang mulai teringat tentang Batu Besar di Reruntuhan Kota Larden. Dia juga merasakan hal yang sama seperti dulu, merasa sudah dekat tapi tidak kunjung sampai.


Tiga jam-pun akhirnya berlalu, terlihat Warlen baru saja tiba didekat pohon besar yang bernama Drasilius itu, tepatnya ditepian tebing tinggi Hutan Golbum.


Dapat dilihat juga keringat sudah membasahi tubuh dan wajah Warlen, sekaligus nafasnya yang terengah-engah karena oksigen semakin menipis dan kelelahan berlari.


"Sebenarnya... aku ini... berada diketinggian berapa MDPL sih?" Tanya Warlen sambil memegangi dengkulnya dengan kepala yang menunduk sekaligus mengatur nafas cepatnya.


...•••...


...MDPL...


...Meter Diatas Permukaan Laut atau Ketinggian Suatu Tempat Diatas Permukaan Laut....


...•••...


"Luar biasa.. Pemandangannya benar-benar indah." Ucap Warlen yang tercengang karena takjub saat melihat sekelilingnya, dan mendapati kalau saat ini dirinya sudah berada diposisi yang lebih tinggi daripada awan-awan.


Pandangan mata Warlen mendadak berhenti karena ada hal menakjubkan yang menarik perhatiannya. Dia mendongak keatas, melirik, sekaligus mengira-ngira tinggi, dan besar dari Pohon Drasilius.


...Drasilius Tree...


...



...


"Puncaknya kelihatan, tapi gimana caraku kesana? Pantas saja Nona Gremory menyarankanku untuk tidak memanjatnya." Ucap Warlen sambil melihat kearah pohon itu, dirinya juga sempat melirik kebawah, akan tetapi tak bisa melihat dasarnya karena tertutupi awan tebal.


Tak kehabisan akal Warlen kemudian membuat sebuah jembatan yang terbuat dari element air miliknya.


"Ice Bridge!" Ucap Warlen lalu terlihat ada sebuah air mengalir membentuk jembatan, dan berangsur-angsur mengeras menjadi es.


Akan tetapi anehnya tiba-tiba saja jembatan es itu seakan menabrak sesuatu, dan kemudian langsung berhenti.


Warlen yang menyadari kejadian itu juga ikut merasa heran, sebab dia tidak melihat adanya sebuah pengalang apapun disekitar Pohon Drasilius.


"Hm.. ada yang aneh." Ucap Warlen sambil melihat kearah Pohon Drasilius itu, tak mau banyak pikir, Warlen langsung mundur jauh kebelakang mengambil ancang-ancang bersiap untuk berlari kemudian melompat.


"Baiklah!!! Kita mulai!" Seru Warlen dan kemudian mulai berlari sekencang-kencangnya, lalu bersiap untuk melompat dibantu dengan element tanahnya yang mendorong telapak kakinya keudara sekuat-kuatnya.

__ADS_1


Terlihat dari kejauhan Warlen melompat sangat kuat dari tebing tinggi itu kearah Pohon Drasilius, tepat dibawah Warlen juga nampak awan-awan putih sangat banyak menutupi daratan.


"BODOHNYA AKU!!!!" Teriak penyesalan Warlen yang melompat keudara, nampak terlihat angin bertiup sangat kuat membuat tubuh Warlen terdorong kebelakang dan kemudian terjatuh menembus awan, diikuti juga dengan teriakan selanjutnya. "AAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"


•••


Beberapa saat kemudian. Terlihat Warlen terjatuh kebawah dalam keadaan selamat sehat walafiat, dirinya terjatuh dengan posisi terbalik mengapung diatas sebuah rawa besar yang berada tepat didasar Pohon Drasilius.


BYUR!!! Terdengar air diikuti juga dengan kepala Warlen yang terangkat.


"FUAH!!! GILA! KUKIRA AKU AKAN MATI!" Ucap Warlen yang syok sambil menahan tubuhnya memakai tangan dan juga dengkulnya didasar rawa itu.


Nampak juga wajah, rambut, dan baju zirahnya terlapisi lumut sekaligus tumbuhan hijau yang berada diatas genangan rawa itu.


Dia juga sempat melihat kearah sarang-sarang nyamuk disana, ditambah lagi jumlah dari nyamuk itu sangatlah banyak.


"Entah kenapa semuanya terasa sama seperti saat aku datang ke dunia ini." Gumam Warlen sambil beranjak berdiri, dan kemudian hampir terpeleset karena dasar dari rawa itu adalah tanah gambut.


"Eh!!? Eh!? Fyuh~" Ucap Warlen yang lega karena berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, dia juga langsung mulai beranjak pergi ketepian rawa itu.


"Terserah deh.. yang penting sekarang aku harus kearah Barat Pohon ini." Lanjut Warlen lalu melihat sekelilingnya, sambil berjalan menutup hidung karena bau amis yang menyengat.


...Rawa-Rawa...



Dia juga langsung membuat sebuah pelindung berbentuk kotak menggunakan element tanahnya, untuk melindungi dirinya dari serangan nyamuk-nyamuk yang bersarang disana.


Kemudian membersihkan tubuhnya dan juga pakaiannya menggunakan element airnya. Seusainya membasuh diri, dia beristirahat sejenak karena sedikit kelelahan dan lapar.


Setelah Warlen beristirahat, dia mulai berjalan untuk melanjutkan perjalanannya kearah Barat Pohon Drasilius. Dia juga sempat menangkap tiga ekor Ikan Gabus didalam rawa itu untuk santapannya nanti.


"Hm.. Matahari terbit disana. Berarti disebelah kananku arah selatan, dan disebelah kiriku utara. Kalau begitu barat berarti dibelakangku." Ucap Warlen yang memperkirakan arah langkah kakinya, seraya juga mengintip kearah matahari.


Namun disaat Warlen membalikan badannya, sontak saja dia langsung terkejut bukan main. Bagaimana tidak, dihadapannya kini muncul banyak sekali sosok monster yang mengerikan.


...•••...


...The Monster...



Monster-monster itu menatap Warlen dengan mata yang hitam logam dengan penuh haus darah. Tubuh mereka benar-benar besar dan tingginya sekitar dua setengah meter, sekaligus penampilan mereka terlihat sangat brutal.


Tidak pikir panjang Warlen langsung mengambil pedangnya, dan kemudian melapisinya dengan api lalu berubah seperti Broadsword. "Fire Broadsword." Ucap Warlen.

__ADS_1


Bentuk dari pedangnya sama dengan Aqua Broadsword.


"Entah kenapa banyak sekali mahluk-mahluk seperti kalian ada disini." Ucap Warlen sambil memandang kearah mahluk itu, dan langsung berlari melesat menyerang mereka semua dengan Fire Broadsword-nya.


'Tiga puluh ya..' Ucap benak Warlen sambil melirik dengan cepat sembari menghitung monster itu satu demi satu, Warlen juga terlihat langsung melompat keudara.


Warlen yang tidak ingin berlama-lama, langsung menggunakan Fire Blade Dance-nya menyerang mereka semua. "Jangan halangi jalanku.." Ucap Warlen sambil menatap kearah mereka semua.


Warlen mulai melakukan gerakan yang sama dengan Aqua Blade Dance-nya, akan tetapi sayangnya ada beberapa monster ikut juga melompat keudara bersamaan dengan Warlen.


Beberapa monster yang melompat keudara tiba-tiba saja menyerang Warlen dengan cara memanjangkan tangan mereka seperti akar pohon, dan juga langsung mencengkram menarik kaki Warlen.


GREP!


"SIAL!" Teriak Warlen yang hilang keseimbangan lalu memotong tangan dari monster itu menggunakan pedang apinya, terlihat juga beberapa monster lainnya menyerang Warlen menggunakan tangan mereka.


SYAT! SYAT! SYAT! SYAT! SYAT! Suara dari Fire Broadword Warlen nampak terus menerus memotong, dan juga menangkis tangan monster-monster itu, bersamaan juga dengan tubuh Warlen yang semakin merendah akibat hilang keseimbangan.


DRAP!


"Kalian pikir bisa menang melawanku? Jangan bercanda." Ucap Warlen yang baru saja mendarat dalam posisi berdiri keatas daratan, terlihat juga sudah ada banyak monster- monster mengepungnya.


Warlen mengangkat Fire Broadsword-nya keatas dengan kedua tangannya, dan tiba-tiba saja disekeliling dirinya muncul lingkaran sihir berwarna merah ruby dalam radius satu kilometer.


Seketika itu juga Fire Broadsword Warlen mulai memerah layaknya besi panas, dia langsung menancapkannya ketanah lalu berucap dengan mata yang merah menyala. "Fire Bringer of Explosion."


Dari tengah sisi lingkaran sihir merah ruby itu tiba-tiba muncul ledakan yang teramat besar seperti bom atom, dan kemudian langsung menghancurkan sekelilingnya bahkan menjadi kawah besar.


Terlihat dipusat kawah itu, Warlen seorang diri berdiri diatas sebuah tanah yang membentuk pilar, karena tidak terkena ledakan. Nampak juga puing-puing kecil dari tanah terjatuh dari langit.


Warlen sudah mengatur pola dari ledakan itu agar tak mencapai dirinya, ditambah lagi dia juga menciptakan sebuah pelindung sihir berwarna merah ruby disekitar dirinya


Warlen berdiri diantara asap-asap tebal yang meluluhlantakan seluruh Hutan Golbum dalam radius satu kilometer, dan nampak diperbatasan ledakan itu banyak pepohonan juga ikut terbakar.


Warlen memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, dirinya juga nampak terlihat terkejut dengan perubahan lingkungan didalam Hutan Golbum ini.


"Ini gila.. Lain kali aku harus berhati-hati." Tegur Warlen pada dirinya sendiri sambil melihat-lihat sekitarnya, ini adalah pertama kalinya bagi Warlen menggunakan kekuatan ini.


Namun anehnya, lagi-lagi kawah besar ini berangsur-angsur mulai kembali seperti sedia kala ; Tanah yang kembali menjadi rawa-rawa ; Pepohonan-pepohonan mulai tumbuh, dan juga monster-monster itu.


Warlen menyaksikan kejadian itu semua dengan mata yang melebar seakan tak percaya, akan tetapi dirinya tak ingin banyak pikir, dia langsung melesat kearah Barat tempat dimana pintu masuk kedalam Pohon Drasilius berada.


"Tempat ini gila sekali.." Ucap Warlen sambil berlari melewati monster-monster itu dengan kecepatan penuh, sampai akhirnya dia berhasil tiba tepat diarah Barat.


•••

__ADS_1


Lanjut di Next yah!


__ADS_2