Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 21 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

Pada malam itu, seusainya mereka mereka membuka kotak kado yang dibawa Miresk.


Freya yang nampak sangat terpukul setelah melihatnya, mulai pergi sendirian kemakam Alexander dan menangis seharian, dia terus menerus menyalahkan dirinya yang lemah.


Garm nampak tidak dapat percaya dengan apa yang telah disaksikan kedua matanya, akan tetapi dari lubuk hati terdalamnya, dirinya terus berusaha untuk menahannya sendirian dan tidak menangis.


Valkyrie berteriak ketakutan saat melihat isinya, dirinya muntah, dia merasa dirinya sangat tidak berguna akan hal itu, dan juga sejak saat itu Valkyrie memiliki rasa trauma dengan darah.


Audelia sangat terkejut setelah melihat kado yang berisi kepala itu, dia berusaha untuk tetap tenang dengan berpikit jernih. ' Orang yang melakukan ini pasti ingin kita merasa takut. ' Audelia juga nampak berusaha untuk menenangkan Valkyrie.


Miresk yang sudah mengetahuinya lebih dulu masih merasakan kengeriam setelah melihat apa yang ada ditangannya, namun dia terus berusaha untuk tegar dan juga tetap menggenggamnya.


Setelah percakapan panjang, mereka bertiga sepakat untuk menguburkan kepala itu disebelah Makam Alexander dengan nisan bertuliskan Orland Biorgon.


Mereka juga tidak ingin berlama-lama lagi, bersamaan dengan Freya yang mereka temui di makam Alexander, mereka mulai membuat rencana untuk menyelamatkan Helena dari Kerajaan Zealos.


Akan tetapi mereka ingin Garm tidak mengikuti mereka, dikarenakan dirinya adalah orang yang paling diburu diseluruh Kerajaan Zealos, seorang mantan Anggota Helbinez yang ikut bersama mereka pasti akan terlalu mencolok, terlebih poster-poster wajahnya juga sudah tersebar di seluruh Kerajaan Zealos.


Garm diperintahkan oleh Freya untuk memberitakan kabar buruk ini kepada Warlen, walaupun pada awalnya Valkyrie ingin mengikuti Garm.


Namun semuanya menolak sebab itu akan menjadi perjalanan yang cukup berbahaya mengingat kondisi Valkyrie kemarin, Garm-pun akhirnya berangkat ke Reruntuhan Kota Larden seorang diri.


Freya menugaskan dirinya sendiri untuk menembus gerbang tengah dengan sihir milik Valkyrie, sulit bagi penjaga untuk mendeteksi pergerakan mereka karena akan terjasi sangat cepat, kemungkinan terdeteksi hanya 1% menurut kalkulasi Audelia.


Miresk dan Audelia akan kembali ke Kerajaan itu melalui gerbang utama, terlebih lagi Audelia adalah Tuan Puteri Kerajaan Zealos saat ini.


Tiga hari kemudian setelah kotak kado itu..


...•Sore Hari•...


...Kota Larden Atas...


...[Reruntuhan Kota Larden]...


Langit dan awan-awan makin memerah, terbenamnya matahari, dan juga perasaan dingin yang mulai menusuk kulit.


Nampak sangat jelas diantara reruntuhan kota terlihat seorang pria yang sedang bertarung dengan seluruh undead disekelilingnya, dia menghajar semua musuhnya hingga tak tersisa.


...Warlen Lilith Eirini...



...Pict From Google...


Bak!Buk!Bak!Buk!Bak! Bunyi serangan demi serangan yang dilancarkan Warlen, menghajar undead-undead yang berada di sekelilingnya itu dengan mudah.


Terlihat Altares memperhatikan, juga mengawasi pertumbuhan gerakan sekaligus kecepatan Warlen yang semakin hari semakin meningkat dari atas bukit itu.


"Hei, tidak adakah hal yang lebih menantang dari ini, aku sudah bosan bermain dengan boneka milikmu." Ucap Warlen sambil melihat Altares dengan tatapan tajam dan menginjak salah satu undead Altares hingga hancur.


JRASH! Bunyi dari kepala undead yang hancur, CRAT! CRAT! Suara darah berwarna ungu yang menodai tubuhnya.


"Dengan ini sudah satu juta undead yang kukalahkan." Ucap angkuh Warlen sambil mengarahkan pandangan tajam matanya pada Altares.


Altares nampak membalas pandangan mata Warlen dengan tatapan keheranan. 'Tidak hanya penampilannya yang berubah, sifatnya juga mulai berubah. Lilith, apakah ingatannya sudah memulih? '


"Grey Water Explode." Ucap mantra sihir Altares yang kemudian membuat seluruh undead disekitar Warlen mulai meledak-ledak.


"Grey Inferno." Mantra sihir Altares yang kedua dan seketika itu juga membuat undead-undead disekitar Warlen mulai terbakar dan mengeluarkan api berwarna abu-abu.


Warlen sedikit terkejut dan juga tersenyum melihat tindakan dari gurunya. Tak berpikir panjang Warlen mulai mencari cara untuk menggunakan seluruh kekuatannya menghadapi Altares.


"Mud Wall!" Mantra sihir Warlen untuk mengendalikan kekuatan element miliknya, dirinya membuat pertahanan dari lumpur yang membungkusnya seperti cangkang telur.


"Ice Prison!" Warlen yang merasa pertahanannya masih memiliki celah, mulai memperkuatnya dengan membuat pondasi seperti jeruji besi yang melapisi seluruh lapisan Mud Wall itu dari dalam menggunakan es.


Seketika itu juga nampak undead-undead milik Altares yang terus menerus meledak tepat diluar pertahanan milik Warlen.


Warlen yang tidak bisa terus menerus bertahan, mulai memikirkan cara untuk menyerang Altares. Tidak kehabisan akal, nampak dirinya terlihat menemukan sebuah cara yang dirasa akan berhasil.


Warlen mulai memeriksa keberadaan undead yang mungkin saja terkubur dibawah tanah, siapa sangka ternyata dirinya benar. Warlen menyadari ada beberapa undead yang saat ini merangkak didalam tanah menuju kearahnya.


"Tunnel!" Ucap Warlen yang kemudian tepat ditengah-tengah pertahanan cangkangnya muncul sebuah lubang seukuran tubuhnya.


"Frozen Avalanche!" Tidak berhenti sampai disana, Warlen menggunakan sihir air miliknya yang diarahkan keseluruh sisi lubang itu dan kemudian perlahan-lahan mengeras.


' Semoga saja ini akan berhasil ' Ucap harapan Warlen dalam hatinya yang kemudian terjun dan meluncur didalam lubang itu, seperti sebuah perosotan.


Altares nampak masih membaca bukunya diatas batu besar, dan sesekali dia melirik memperhatikan pertahanan Warlen yang menyerupai cangkang telur itu.


Namun kemudian tiba-tiba saja Altares dikejutkan dengan suara retakan tanah dan air deras yang berada tepat disekitar batu besar, pandangan Altares pada bukunya kini menjadi teralihkan.


BLAR!!


Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari retakan tanah bersamaan dengan semburan air yang mulai menyembur keras mengarah tepat ketempat Altares.


Altares mulai merasa curiga dan seketika itu juga langsung mengambil sikap waspada sambil memandang sekelilingnya, namun siapa sangka tiba-tiba saja Warlen sudah melesat kearahnya.


Warlen terlihst melesat kearah Altares sambil memusatkan seluruh inti sihir miliknya tepat di kepalan tangannya, dan juga kecepatan Warlen mulai bertambah berkat dorongan air yang menyembur dibawah telapak kakinya.


Nampak terlihat dengan jelas senyuman lebar diwajah Altares yang sudah menduga serangan mendadak Warlen, pada saat yang sama Altares langsung menjentikkan jarinya dan kemudian.


DUAAR!


Terdengar bunyi ledakan yang sangat nyaring berasal dari tempat Altares berdiri sebelumnya, Warlen yang sudah memprediksi gerakan Altares hanya bisa tersenyum menghadapi ledakan-ledakan undead disekitarnya.


Dibalik ledakan kuat milik Altares, Warlen mulai membuat sebuah zirah batu yang melapisi seluruh tubuhnya, dan dirinya menyebut kekuatan itu sebagai Stone Armor.


Tak cukup jauh dari tempat Warlen berhadapan dengan Undead, nampak Altares memandang memperhatikan kearah muridnya itu yang berada tepat diatas batu besar tempatnya bertukar tempat menggunakan undeadnya.


Tapi siapa sangka, Altares sedikit terkejut melihat Warlen yang tersenyum kearahnya, dan kemudian tepat dibawah kakinya muncul lubang besar diiringi dengan semburan air yang sangat deras.


Warlen yang berhasil menjebak Altares kedalam perangkapnya, tidak ingin kehilangan kesempatan, dirinya langsung mempercepat dan memperkuat serangannya lalu seketika itu juga menghilang secara tiba-tiba ditengah undead.


Altares nampak kesulitan bergerak, semburan air yang mengenai dirinya mulai menjadi es, pandangan matanya terus memperhatikan Warlen dan sesekali dirinya juga tersenyum puas.


Altares yang sudah merasa harus serius mulai mengeluarkan aura berwarna abu-abu disekitar tubuhnya, sambil memandang kearah Warlen, Altares mulai mengucapkan beberapa mantra.


"Collossu-" Belum sempat Altares menyelesailan ritual pemanggilan golemnya, dirinya dikejutkan dengan menghilangnya Warlen dari pandangan matanya.


Benar saja terlihat sangat jelas Warlen sudah siap dengan kuda-kuda penyerangannya yang saat ini tepat berada diudara dan juga dibelakang Altares.


"Dark Iron Fist!" Nampak terlihat dari dekat Warlen yang sudah menarik tangan kanannya kebelakang, dan menutup tangan kanannya dengan tangan kirinya.


Bersamaan dengan itu juga, tangan kanannya mulai berubah menjadi sedikit hitam seperti logam yang keras, diiringi dengan lesatan yang luar biasa cepat mengarah menyerang Altares.


Nampak terlihat Altares sedikit dikejutkan dengan perkembangan Warlen yang lebih cepat dari rencana awalnya, namun perasaan puasnya dapat terlukiskan diwajahnya.


Lesatan serangan Warlen yang terlihat sudah semakin dekat kearahnya, membuat Altares harus menunjukkan perbedaan kekuatan mereka berdua.


Nampak banyak sekali undead yang merangkak keluar dari bawah tanah, dan mulai menumpuk diri satu persatu hingga sampai membentuk sebuah tembok raksaksa, One Thousand Undying Wall


Nampak Warlen sedikit terkagum-kagum saat melihat kekuatan sihir milik Altares, namun dirinya yang tidak ingin ambil pusing mengenai hal itu langsung saja menghantamkan tinjunya tepat kearah tembok raksaksa itu.


BAAAAM!! Terdengar suara ledakan dahsyat akibat benturan inti sihir dari Altares dan Warlen, membuat sebuah awan gelap dilangit disertai hujan lebat sekaligus petir besar yang menyambar.


Nampak terlihat jelas, kemampuan Dark Iron Fist yang sebelumnya aktif ditangan Warlen sudah menghilang, kekuatan dorongannya pun terhenti tepat ditengah-tengah sekumpulan undead tembok raksaksa itu.


Disisi lain nampak Altares sudah bersiap untuk meledakkan seluruh dinding undeadnya, dia mulai mengangkat salah satu tangannya kedepan dan membentuk segel.


"SIALAAAAAAAAAN!!!!!" Teriak keras Warlen yang tak ingin kalah kuat dari gurunya sambil berusaha sekuat tenaga melampaui batas kekuatannya saat ini.


"Apakah aku melunak, Marie." Ucap Altares sambil menatap kearah Warlen yang terjebak didalam tembok bersama dengan ribuan undead, dirinya juga membatalkan segel ledakan undead itu.


"Water Jet Fist!" Ucap Warlen yang memunculkan semburan air bertekanan tinggi pada siku tangan kanannya, mendorong kekuatan tinju miliknya sekali lagi.


DUAM! Bunyi tinju Warlen yang mulai menembus menghancurkan pertahanan Altares, sampai akhirnya memukul Altares tepat diwajahnya bahkan menghempaskan tubuhnya sekitar empat ratus meter kebelakang.


Namun siapa sangka, wajah Warlen yang seharusnya sedikit puas berhasil meninju gurunya malah nampak terlihat kesal dan jengkel saat ini.


"Tch! Masih saja bersembunyi!" Ucap kesal Warlen yang menyadari kalau tinjunya tidak meninju guru aslinya melainkan undead miliknya yang menyamar.


Nampak terlihat jelas Warlen tidak menyadari bahwa Altares yang asli sudah tepat berada dibelakangnya, Altares juga terlihat mengangkat bukunya keatas bersiap menyerang Warlen.


PLETAK!

__ADS_1


"Boleh juga kau bocah." Ucap Altares yang menghilang didalam kabut dan meninggalkan Warlen dengan benjolan sebesar bola pingpong.


...•Malam Hari•...


...Kota Larden Atas...


...[Reruntuhan Kota Larden]...


Malam yang dilalui saat ini nampak berbeda, Warlen yang biasanya hanya seorang diri saja, kini Altares tiba-tiba saja muncul menemani Warlen yang terbiasa sendirian.


Keduanya kini duduk disekitar api unggun yang mencairkan suasana dingin pada malam itu, terlihat juga ada beberapa daging hasil perburuan Warlen yang sedang dipanggang.


"Jadi.. apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Warlen dengan perasaan herannya sambil menatap Altares yang pada saat itu sedang menyantap daging panggang.


"Apa maksudmu?" Balas Altares seusainya menelan daging panggang nikmat itu.


kretek~kretek~ bunyi kayu yang terbakar.


"Sesekali duduk bersama dengan muridku seperti ini cukup menyenangkan." Jawab Altares yang seakan paham maksud dari pertanyaan Warlen.


"Tarserahlah, sepertinya kau kesepian." Balas Warlen sambil membuang tusuk daging sekaligus mengambil daging yang sudah matang terpanggang.


"Hmph.. Bukankah kau yang kesepian? Setelah semua ini, selanjutnya apalagi yang ingin kaulakukan?" Tanya Altares dengan perasaannya yang sedikit penasaran.


' Dua hari yang lalu, rambutku menghitam dan sebagian ingatanku saat tinggal dibenua Elzia mulai kembali ' Ucap benak Warlen yang tidak mendengar pertanyaan Altares sambil memandang daging panggang yang ada ditangannya.


"Ada apa? Kau sakit perut?" Tanya Altares yang menggoda mengejek Warlen dengan senyuman tipis.


"Aku terkadang kebingungan untuk menanggapimu guru, tapi.. aku tak menyangka ternyata guru bisa bercanda juga." Jawab Warlen dengan nada serius sambil menatap kosong kearah api unggun.


"Ahahaha.. Jangan bicara omong kosong, aku tahu dengan baik kau tidak sedang memikirkan hal itu. Aku tahu saat ini dirimu sedang bimbang." Balas Altares sambil menghela nafasnya.


"Jalan manapun yang akan kau pilih, entah dimasa depan kau akan menjadi pria yang dapat diandalkan atau tidak. Aku akan terus mendukung dirimu sekuat tenagaku, dan jangan pernah mengingkari janjimu karena kau adalah seorang pria." Lanjut Altars sambil beranjak dari duduknya.


"Dirimu adalah dirimu, jika kau ingin merubah masa depanmu, maka kau dapat merubahnya dengan berusaha sekuat tenaga." Lanjut Altares sambil berjalan kearah Warlen.


"Ingat satu hal ini.. Jangan pernah meninggalkn orang yang sangat berarti bagimu, atau kau akan menyesalinya." Ucap Altares sambil mengusap kepala Warlen dengan lembut.


Nampak Warlen yang sedikit menjadi sentimental mendengar perkataan gurunya. "Mengapa kau sangat percaya padaku." Tanya Warlen sambil memandang kearah api unggun itu.


"Mungkin karena kau mengingatkanku pada seseorang yang belum lama ini meninggal." Jawab Altares dengan perasaan sedihnya yang sangat nampak terlihat diwajahnya.


"Mau bagaimanapun, aku adalah gurumu. Tapi kuharap kau mengingat nasehatku baik-baik kali ini." Lanjut Altares sambil melihat keaeah langit malam penuh bintang.


"Aku mengerti guru, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan." Balas Warlen sambil beranjak berdiri dan menatap kearah Altares dengan serius.


Tak butuh waktu lama bagi Altares untuk paham dengan hal yang mengganggu pikiran muridnya, wajah Altares-pun seketika itu berubah dan menatap kearah Warlen dengan tajam.


"Jangan terlalu terburu-buru dulu, untuk sekarang kau masih belum terbangun sepenuhnya dan seharusnya kau mengerti dengan kondisi tubuhmu sendiri." Balas Altares sambil memukul lembut dengan bukunua kearah kepala Warlen.


Nampak Warlen sedikit merasa kecewa dengan jawaban Altares, akan tetapi disisi lain dirinya juga mengerti alasan gurunya yang menahannya untuk tidak menggunakan kekuatan itu.


Dua hari lalu kekuatan yang tertidur didalam tubub Warlen tiba-tiba saja mengamuk tanpa sebab, namun yang paling buruk ialah, dirinya juga tidak dapat mengenali musuh ataupun kawan.


Pada saat itu Altares menahan amukan kekuatan Warlen dengan sekuat tenaganya, bahkan sampai-sampai Altares juga hampir terbunuh oleh hal itu.


Sebelumnya Altares pernah membahas hal ini dengan Warlen, dia bilang kalau ada sepasang senjata sihir yang sempat muncul dengan atribut api dan juga angin digenggaman tangan Warlen.


Serangan dari senjata itulah yang membuat Altares hampir terbunuh, namun disisi lain Altares juga menyadari adanya sesuatu yang janggal dengan kondisi fisik Warlen selama dalam mode mengamuk.


Altares mengamati pergerakan muridnya yang menjadi tak terarah dan banyak celah, walaupun sangat kuat, kekuatan itu bisa menghancurkan tubuh Warlen yang masih dalam perkembangan.


Setelah pertarungan sengit Altares berhasil melumpuhkan Warlen dan membuatnya pingsan, akan tetapi hal-hal aneh mulai terjadi setelahnya.


Fisik Warlen mulai berubah dari waktu ke waktu yang kemudian menjadikannya seperti orang yang sangatlah berbeda saat ini, ditambah lagi sedikit-demi-sedikit ingatan lama milik Warlen yang selama ini tertidur mulai terbangkitkan.


' Saat ini aku juga mempunyai tattoo naga ditanganku ' Besit pikiran Warlen yang pada saat ini sedang memikirkan banyak hal rumit dikepalanya sambil menghela nafas.


"Apakah masih ada hal yang mengganggumu?" Tanya Altares sambil mengurungkan niatnya untuk memberitahu kebenaran yang ada pada kalung milik Warlen.


"Tidak... Tidak ada yang kupikirkan.." Jawab Warlen sambil meraih daging yang masih mentah untuk dipanggang.


"Setelah makan, kau harus beristirahat. Besok kau akan kembali ke Kota Larden, tidak baik jika membiarkan masalah yang terlalu lama." Balas Altares yang membuat Warlen sedikit terkejut mendengarnya.


Warlen nampaknya mengerti maksud dari ucapan gurunya, namun dirinya hanya bisa terdiam terpaku menatap kearah daging panggangnya.


Beberapa saat kemudian, nampak Altares sedang menuliskan sebuah mantra pencegah yang dia tanamkan dipunggung Warlen, proses itu berlangsung sangat menyakitkan dan sulit.


Altares menyadari kalau sudah hampir setengah dari kekuatan miliknya terserap hanya untuk menanamkan mantra pencegah itu, dirinya juga sempat melihat adanya sebuah mata sihir dengan kekuatan yang mengerikan memandang kearahnya.


Setelah proses itu selesai, nampak terlihat sebuah tattoo diagram sihir berwarna merah bercahaya yang tertanam dipunggung Warlen, dan disisi lain juga Altares sedikit kelelahan setelah melakukan hal itu.


Warlen yang merasa sangat kelelahan setelah proses menyakitkan itu terpaksa harus tumbang, namun sebelum matanya tertutup dirinya sempat melihat ada seseorang yang berlari dari kejauhan.


Nampak Altares yang menyadari adanya orang asing memasuki wilayahnya langsung mengambil sikap waspasa, namun dirinya mengurungkan niat tersebut setelah mendengar orang itu meneriakkan nama Warlen.


Beberapa saat kemudian, nampak terlihat Warlen mulai membuka kedua matanya sedikit-demi-sedikit, dan hal pertama yang membuatnya terkejut ialah kehadiran Garm ditempat itu.


Warlen dapat menebak kalau sudah ada hal buruk yang telah terjadi, dia menyadarinya setelah memandang wajah Altares yang terlihat sedih setelah melakukan pembicaraan singkat dengan Garm.


"Garm!? Sebenarnya ada apa!?" Tanya Warlen yang baru saja beranjak dari tidurnya, secara spontan nampak Garm langsung memeluk Warlen dan mulai menangis sekencang-kencangnya.


Nampak Altares membuang wajahnya kearah langit dengan tatapan penuh arti saat mendengar Garm yang menangis dipelukan Warlen.


Namun melihat kondisi Garm yang sudah sangat kelelahan, Altares memukul belakang leher Garm untuk membuatnya pingsan agar dapat beristirahat.


Tentu saja Warlen yang menyaksikan hal tersebut nampak marah, dia mengecam tindakan Altares barusan, dan bahkan hampir berinisiatif untuk menyerangnya.


"Berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Lihatlah wanitamu, jangan terkecoh dengan penampilannya yang selalu terlihat kuat." Balas Altares yang nampak mengerti perasaan Warlen.


"Telapak kakinya memar, inti sihirnya hampir habis, tubuhnya terlihat seperti orang yang sudah tidak makan dan minum selama berhari-hari." Lanjut Altares sambil menatap tajam kearah Warlen.


"Lupakanlah.. Berikan obat ini padanya, kau harus mengunyahnya bersamaan dengan air minum dan memberikannya langsung kedalam mulutnya." Lanjut Altares diiringi dengan nafas panjangnya sambil memberikan beberapa obat yang berada didalam saku bajunya.


Nampak Warlen hanya terdiam dan menuruti perkataan Altares sambil mengambil obat yang diberikan padanya dengan cepat, tanpa pikir panjang setelah Warlen mengunyah obat itu dirinya langsung mencium Garm.


Setelah membiarkan Garm beristirahat, nampak terlihat Warlen langsung menghampiri Altares dengan perasaan penasarannya, dia menatap tajam bersiap untuk mendengar seluruh arti dari kejadian ini.


Altares sempat memperingatkan Warlen untuk mengendalikan emosinya sebelum membicarakan pesan yang sudah disampaikan Garm padanya.


Namun reaksi yang diberikan Warlen sangatlah berbeda setelah Altares memperingatkannya, Warlen terus memandang kearah Altares dengan tatapan tajamnya bagai binatang buas.


Melihat keadaan muridnya, Altares yang tak punya pilihan akhirnya mulai menjelaskan seluruh situasi yang saat ini sedang dialami oleh rekan-rekannya.


Pertama-tama Altares menjelaskan situasi Valkyrie yang saat ini sudah menyetujui sebuah kontrak pahlawan dengan Freya, kemudian.. bla.. bla.. bla..


Tentu saja Warlen merasa sangat bersalah setelah mendengar banyak hal buruk yang menimpa rekan-rekannya setelah melindungi dirinya dari berbagai cobaan.


Perasaannya sangatlah bimbang, darahnya mendidih, giginya mengerat kuat, tangannya mengepal kencang, namun tiba-tiba saja Altares menepuk pundaknya untuk menenangkannya.


"Warlen.. Ingatlah kau tidak sendirian, kami percaya padamu." Ucap Altares sambil berjalan kedalam kegelapan dan menghilang bagaikan kabut.


Nampak terlihat rasa bersalahnya yang memenuhi hatinya mulai meluap membuat air matanya mengalir diwajahnya, namun disisilain tekad dari orang-orang yang percaya padanya mulai membentuk semangatnya untuk menjadi lebih kuat.


Beberapa saat setelahnya, nampak terlihat Warlen sudah berada tepat disebelah Garm yang mulai membuka matanya perlahan-lahan.


Warlen yang menyadari hal itu langsung mengambil, dan memberikan setusuk daging panggang yang sudah matang pada Garm sambil berucap. "Garm, makanlah ini."


Garm yang memang belum makan selama berhari-hari-pun langsung menyantap daging-daging itu dengan lahapnya, namun disisi lain dirinya merasa bimbang dengan pesan yang harus disampaikan pada Warlen.


"Warlen.. Ak-" Belum sempat Garm menyelesaikan kalimatnya, secara tiba-tiba Warlen langsung memotong ucapannya sambil memandang kearah api unggun. "Tidak usah kau ceritakan, aku sudah mengerti situasinya."


"Setelah kau memulihkan tubuhmu, kita akan langsung pergi menuju Zealos." Ucap Warlen sambil menatap penuh emosi yang tak dapat dijelaskan melalui pandangan matanya kearah api unggun.


Garm terlihat tak dapat membalas kata-kata Warlen, nampaknya untuk sekarang dirinya hanya bisa terdiam dengan raut wajah sedih sambil memakan makanan miliknya.


Namun perasaan penasaran yang berada dalam hatinya sudah tak terbendung lagi, Garm sangat bingung dengan perubahan penampilan Warlen yang terlihat benar-benar berbeda.


"Kekuatan alamiku berangsur-angsur mulai membaik, itu sebabnya aliran inti sihir milikku juga berubah, dan ini memanglah wajah asliku." Jawab singkat Warlen yang menyadari perasaan penasaran Garm.


Beberapa saat kemudian, nampak Warlen dan Garm berpamitan pada Altares untuk pergi ke Kerajaan Zealos, disela-sela hal itu terlihat Altares sempat berbisik memperingatkan Warlen agar tidak menggunakan kekuatan amukannya.


Tak lupa juga Altares memberikan hadiah pada Warlen berupa sebuah harta langka yaitu baju zirah berwarna hitam yang pernah ditempa oleh pandai besi terbaik di Benua Elzia.


Setelah perpisahan singkat tersebut, nampak Altares merasakan hawa kehadiran seseorang yang teramat sangat kuat sedang mengawasi mereka.

__ADS_1


Altares sedikit merasa lega, sebab saat ini hanyalah dirinya seorang yang dapat merasakan hawa mencekam orang tersebut.


Sementara itu, terlihat Warlen dan Garm sedang berbincang satu sama lain.


"Garm berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai di Kerajaan Zealos?" Tanya Warlen dengan pandangan mata tajamnya, terlihat juga Warlen sudah mengenakan armor berzirah hitam.


"Butuh waku 6 hari dari sini untuk sampai disana, dan kurasa... kita tidak akan sampai tepat waktu." Balas Garm yang mulai pesimis dengan kondisi rekan-rekannya.


"Kuharap kita tepat waktu.." Balas Warlen yang kemudian mulai memeluk Garm dengan erat sambil berbisik kecil ditelinga panjangnya. "Jangan lepaskan pelukanku."


Tentu saja hal itu membuat Garm tersipu malu, sebab disetiap kata-kata Warlen, dirinya dapat dengan jelas merasakan nafas Warlen yang terasa berat berhembus disekitar telinganya.


"Guru.. Aku pergi.." Salam perpisahan Warlen sambil melirik kearah Altares dengan tatapan kuat dan penuh percaya diri.


Terlihat sepasang sayap besar dengan warna hitam pekat membentang luas tepat dibelakang punggung Warlen, dirinya menamai kekuatan ini dengan nama Wings of Diablo.



BLARRRR!!!!!


Suara dari Warlen yang melesat dengan kecepatan supersonic kearah Kerajaan Zealos membuat seluruh jalur yang dilewatinya penuh dengan ledakan akibat tekanan gesek, sampai-sampai hancur lebur.


' Apakah dirinya memang sekuat ini? ' Terbesit kata hati Garm yang memandang kagum dan juga terpesona saat melihat kekuatan luar biasa yang diperlihatkan oleh Warlen.


Sementara itu, Altares nampak memandang dengan tajam kearah bebatuan yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dirinya juga terlihat mengeluarkan aura inti sihir disekitarnya.


"Kebiasaan menguntit itu tidak baik, benarkan Jasper?" Ucap Altares sambil memandang kearah bebatuan didepannya dengan hawa membunuh yang kuat.


Clap! Clap! Clap!


"Seperti yang diharapkan dari seseorang yang sudah pernah membunuh pahlawan." Jawab Jasper yang keluar dari balik bebatuan itu sambil menepuk tangannya.


...Jasper Viuz Eirini...



...Pict From Google...


"Apa yang sedang kau incar sebenarnya." Balas Altares yang seketika itu juga langsung memanggil seluruh pasukan tengkorak serta mayat hidup miliknya dari bawah tanah.


"Masih saja dingin seperti dulu, mari kita meriahkan pestanya, ALTARES!!!!" Balas Jasper yang menyeringai dengan tatapan tajam mata merah menyala, dan kemudian melesat kearah Altares.


...•••...


...•Pagi Hari•...


...Kota Zealos...


...[Gerbang Selatan]...


...Gerbang Selatan Zealos...



...Pict From Google...


Terlihat Freya, Audelia dan Miresk baru saja tiba dijembatan itu diikuti dengan beberapa pedagang yang membawa barang dagangannya memasuki Kerajaan Zealos.


' Kenapa suasana Kerajaan Zealos terlihat sangat berbeda dari sebelumnya? ' Terbesit tanya didalam hati Audelia yang merasa bingung dan tidak tenang saat melihat keadaan tanah kelahirannya.


"Miresk, apa yang terjadi disini?" Tanya Audelia sambil memandang kearah Kerajaan Zealos yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Maaf Audelia, aku juga tidak mengetahui keadaan kerajaan saat ini, hanya saja... perasaanku sangat tidak nyaman berada ditempat ini." Balas Miresk dengan raut wajah yang terlihat cukup terkejut saat memandang kondisi Kerajaan Zealos.


"Fokus saja pada tujuan utama." Balas Freya yang menepuk pundak Audelia dan Miresk. ' Valkyrie, kau bisa mendengarku? ' Tanya Freya dalam batinnya.


'Y-y-ya.. aku dapat mendengarmu. ' Jawab Valkyrie yang nampaknya terlihat gugup dalam batin Freya.


Berapa waktu sebelumnya, Freya menawarkan Valkyrie untuk menanamkan kontrak pahlawan dalam dirinya, sebab seorang Archangel tak dapat hidup didunia itu tanpa memiliki tuan.


' Kau siap? Valkyrie? ' Tanya Freya dalam batinnya sambil memandang teguh lurus kedepan tepat kearah gerbang Kerajaan Zealos.


' Ya.. aku siap! ' Balas Valkyrie yang nampak terlihat sedang fokus menyalurkan inti sihirnya keseluruh tubuh Freya.


"Time Dil-" Belum sempat Freya merapalkan mantranya, nampak terlihat Miresk dan juga Audelia menghalangi Freya untuk maju menyerang ke Kerajaan Zealos.


"Apa yang kalian lakukan!?" Tanya Freya yang terkejut saat memandang kedua tangan orang itu yang menghalanginya.


"Kita ganti rencana, sepertinya mereka memiliki pendukung yang luar biasa kuat." Balas Audelia dengan perasaan ngeri sambil memandang kearah pria bertombak tepat didepan Gerbang Selatan.


Nampak terlihat Miresk dapat merasakan tekanan kekuatan yang benar-benar luar biasa dahsyat saat memeriksa aliran inti sihir milik pria bertombak itu.


Pria bertombak itu sepertinya menyadari keberadaan mereka bertiga, namun dirinya tidak menyerang dan hanya melirik mereka dengan tatapan mata yang bercahaya emas.


"SIAL!" Ucap Audelia yang panik ketika merasakan tekanan mengerikan, saat matanya bertatapan dengan mata milik pria bertombak itu.


"Ratu Frey-" Belum sempat Miresk menyelesaikan kata-katanya, dirinya nampak terkejut saat melihat raut wajah Freya yang terlihat benar-benar marah memandang pria bertombak itu.


Nampak Freya benar-benar terkejut saat menatap sosok pria itu dalam-dalam, matanya menatap tajam penuh kebencian, dia mengeratkan giginya dengan kuat, dan dalam hatinya hanya terucap kata-kata BUNUH.


...Jorgan Vinziala Eirini...



...Pict From Google...


...Genshin Impact Zhongli...


"Tak mungkin..... INI MUSTAHIL!? TAK MUNGKIN!!!!!! KAKEK!!" Teriak keras Freya disertai perasaan terkejut dan juga pandangan mata yang mengerikan menatap kearah Jorgan.


Teriakan Freya benar-benar membawa dampak buruk bagi kedua rekannya, seluruh penjaga gerbang selatan yang sebelumnya lengah kini menyadari keberadaan mereka.


"Ratu Freya lebih baik kita pergi dari sini!" Ucap Audelia yang benar-benar cemas menyaksikan tindakan gegabah Freya sambil menahan lengan rekannya itu sekuat tenaga.


"Lepaskan atau kutebas kedua tanganmu sekarang!" Ancam Freya dengan tekanan luar biasa mengerikan sambil berjalan secara perlahan menyeret tubuh Audelia yang menahan dirinya.


Nampak Audelia merasa sangat terkejut dengan perubahan sikap Freya yang benar-benar mendadak, diapun melepaskan eratan tangannya dan seketika itu terdiam.


Miresk yang sadar bahwa dirinya tak dapat berbuat banyak pada saat itu hanya bisa menyaksikan perselisihan keduanya dengan penuh rasa bimbang.


Sementars itu, nampak terlihat langkah kaki Freya yang berangsur-angsur mengeluarkan tekanan kuat sampai-sampai membuat beberapa kerikil disekitar kakinya mulai berterbangan keudara.


Terdengar nafas panjang dari Freya yang membuat seluruh gerbang bagian selatan terasa hening untuk beberapa saat, dan kemudian memandang Jorgan dengan mata biru menyala mengerikan.


"Time Dilation." Ucap Freya yang tiba-tiba saja bergerak dan melesat dengan sangat cepat, bahkan sampai-sampai membuat Miresk, Audelia dan seluruh penjaga Gerbang Selatan tak dapat merasakan keberadaannya.


Akan tetapi nampak terlihat dengan jelas Jorgan terus menatap kearah jembatan menggunakan matanya yang berubah menjadi seperti berlian.


Tanpa disadari oleh semuanya, tiba-tiba saja Freya sudah berada tepat dihadapan Jorgan dengan kecepatan yang sangat tinggi sambil menggenggam dan mengayunkan senjatanya, Valkyrie's Fang.


Freya benar-benar sadar bahwa serangan ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membunuh Jorgan dalam sekali serang, dirinya-pun langsung mengarahkan senjatanya tepat dileher Jorgan.


Namun siapa sangka, tiba-tiba saja Jorgan menoleh dan menatap tepat kearah mata Freya dengan tatapan dingin sambil menghunuskan tombaknya yang mengarah tepat ketubuh Freya.


JRASH!!!!!!


Terdengar suara tombak yang sudah berlumuran darah menembus tubuh Freya tepat diperutnya sampai kebelakang, bersamaan juga dengan ayunan tombak yang menghempaskan tubuh Freya hingga menabrak bebatuan tepat dibelakang Audelia dan Miresk.


BRAAAK!!!!


Miresk yang tidak berpikir panjang langsung berlari kearah Freya dengan perasaan cemas, namun ketika dirinya tiba dan melihat kondisi Freya, itu benar-benar sangat buruk.


Freya tak sadarkan diri, dari mulut dan lubang ditubuhnya terlihat banyak sekali darah yang nampak terus menerus keluar tanpa henti, bersamaan dengan hal itu, suhu tubuhnya juga mulai menurun.


Nampak terlihat Miresk yang terus menerus menggunakan sihir penyembuhnya pada Freya, akan tetapi hal itu sama sekali hampir tak membuahkan hasil.


Disisi lain, sangat terlihat jelas Audelia merasakan takut yang teramat sangat, hal itu membuat tubuhnya gemetar, sebab matanya dan perasaannya memandang kearah pahlawan terkuat di Benua Elzia, Jorgan Vinziala Eirini.


"Jadi... apakah kau juga ingin menyusul kematiannya?" Ucap Jorgan yang memandang kearah Audelia sambil mengeluarkan tekanan mengerikan.


______________________________________________


Pesan Penullis :


Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2