Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 7 (R) : Reuni Terakhir


__ADS_3

...•Malam Hari•...


...Didalam sebuah rumah...


4 Jam Sebelum Penyerangan. . .


Terlihat seorang pria pendek berkulit sawo matang. Mengenakan kaos kutang putih, celana pendek selutut bernoda tanah, kupluk merah dikepalanya, otot ditangannya yang sebesar bola baseball, wajahnya yang terlihat kasar dan jenggotnya yang panjang.


Sedang duduk dibangku meja makan bercahayakan lampu minyak diatas meja seperti menunggu kedatangan seseorang.


...Orland The Dwarf...



......Pict From Google......


Dihadapannya juga nampak seorang pria berkulit putih bersih, berwajah wanita dengan kuping lancip dan matanya yang berwarna semangka, rambutnya berwarna hitam panjang bergaya ponytail dengan poni, dan berpakaian setelan jas pelayan yang berwarna hitam.


...Garm The Elf...



......Pict From Google......


Terlihat juga Daren sedang memoles baju zirahnya yang berada diatas meja sedang duduk bersebelahan dengan pria kuping lancip.


Sambil menghela nafasnya Daren berkata.


"Tuan, apakah ini tidak terlalu berlebihan?"


Ucap Pria didepannya sedikit kesal. "Tuan? Seperti biasa. Yah, kau memang mirip dengan ayahmu sedikit rewel dan kaku, Pangeran Daren."


Daren yang mendengar itu terlihat kesal "Aku tidak ingin disamakan deng-"


Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya pria berkuping lancip disampingnya langsung memotong dan menyeloteh. "Aku setuju denganmu Kerdil (Dwarf), menambahkan kata 'Tuan' bagi kerdil sepertimu akan menggelitik telingaku."


Pria dengan kupluk merah itupun terlihat marah lalu BRAK! Suara gebrakan meja, dan kemudian memelototi pria kuping lancip. "KAKEK TUA!! SIAPA YANG KAU PANGGIL KERDIL HUH!!??" Ucapnya kesal.


Pria berkuping lancip yang terlihat marah juga ikut menggebrak meja. BRAK! Ikutan Melotot. "SIAPA YANG KAU PANGGIL KAKEK TUA HUH!?!? KERDIL.." Balasnya kesal.


Mereka berdua akhirnya saling pelotot-pelototan, dan terlihat keduanya bersiap untuk memukul satu sama lain. Kemudian DUAR! Suara dari bentur pukulan mereka.


"INGIN BERKELAHI YA!? HUH!?" Ucap mereka berdua bersama-sama.


Klontang! Klontang! Bunyi besi yang jatuh. Terlihat Daren sedang menatap depresi baju zirahnya yang terjatuh.


Tak lama kemudian Krieet! Suara pintu terbuka yang terbuka, dan dari pintu itu terlihat Alexander yang berpakaian zirahnya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Alexander sambil menatap mereka kosong.


"APAKAH KAU BUTA HUH!?" Teriak mereka berdua pada Alexander.


Terlihat Daren memeluk zirahnya dengan tatapan sedih sambil mengelus-ngelus permukaanya. 'Maafkan aku sayang.' Ucpanya dalam hati.


Beberapa saat kemudian. . .

__ADS_1


Terlihat Alexander sudah bergabung bersama mereka. "Baiklah, bagaimana pendapat kalian dengan dirinya? Garm, Orland, dan juga Daren." Tanya Alexander dengan raut wajah serius.


"Yah. Aku memang tidak mengerti tentang dirinya. Bisa kubilang dia orang yang sedikit licik namun juga bisa dipercaya." Balas Orland bersilang tangan.


Terlihat Garm dan Daren mendengarkan.


"Ho.. Bisa dibilang pria ini cukup cerdik namun juga naif." Ucap Alexander


"Bagiku dia hanya seseorang yang terlalu naif." Cetus Garm.


"Tidak. Masih terlalu dini bagi kita untuk menyimpulkan hal ini." Balas Orland sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa maksudmu Tuan... eh, Orland?" Tanya Daren yang bingung.


Orland melirik Daren dan menghela nafas. "Huff.. bukankah kau mengetahui siapa ayahnya?"


Daren nampak terkejut mendengar pertanyaan Orland, dia sudah mengetahui siapa ayahnya dan kemudian terdiam.


Terlihat Garm sedikit kesal dengan ucapan Orland, kemudian. "Siapapun ayahnya, dia hanya anak polos yang tidak mengerti apa-apa." Balas Garm.


"Ahahaha! Tak kusangka! Seseorang sepertimu akan membelanya. Dielnor Garm Sang Pemanah Berdarah Dingin dari Efriot." Cetus Orland sambil melirik tajam kearah Garm.


^^^Efriot merupakan sebuah hutan yang terletak paling barat dari Kerjaan Duskford. Juga tempat tinggal para Elf pelarian yang tidak setuju dengan aliansi ke 3 ras.^^^


^^^Mereka membuat kontrak dengan Ras Iblis agar tidak dibinasakan dengan mengirimkan beberapa persembahan seperti anak-anak bayi dan juga perempuan.^^^


^^^Ada sebuah kelompok khusus yang dibentuk bernama Helbinez. Setiap anggotanya diberi manta sihir khusus agar tetap patuh tanpa pikir panjang.^^^


^^^Mereka adalah kelompok yang ditugaskan oleh Raja Efriot untuk melakukan penculikan terhadap anak-anak dan perempuan dari ras lain.^^^


^^^Dan bagi penduduk Ras Efriot yang ingin berpindah ke aliansi 3 ras. Mereka akan dibinasakan. Dari kelompok tersebut terdapat pemanah yang paling ditakuti dan namanya adalah Dielnor Garm Efriot.^^^


Orland dan Garm pun saling membuang muka cemas dan tidak ingin menatap Alexander. Terlihat Daren juga merasa takut kepada Alexander. 'O..orang ini sekuat ayahku.' Ucap benak Daren.


Suasana pun mulai tenang kembali.


"Jadi.. apa maksud dari perkataanmu? Garm." Tanya Alexander.


"Aku sudah hidup selama ratusan tahun sebagai Sang Pemanah Pembunuh. Tiada hari tanpa membunuh ; Manusia dan Dwarf, bahkan rasku sendiri. Aku sudah berada dibawah kendali mereka. Akan tetapi kenapa kau menolongku disaat aku ingin menculik Helena saat itu?" Jelas Garm seraya menatap Alexander dengan penuh makna.


'APA!!!!??A-Aku baru pertama kali mendengarnya!' Kata hati Daren yang terkejut saat mendengar pengakuan Garm.


"Kau terkejut bocah?" Ucap Orland sambil menatap Daren yang terkejut.


Terlihat Alexander yang dihadapkan pertanyaan itu terlihat sedikit sadar sambil berkata. "Aku selalu ingat dengan apa yang diajarkan ayahku. Setiap mahluk yang bernyawa dan berakal memiliki tatapan dengan perasaan yang berbeda."


"Dan saat pertama kali aku bertemu denganmu, yang aku lihat hanyalah 'penyesalan' " Lanjut Alexander sambil menatap mata Garm dengan kuat dan lembut.


Terlihat Garm yang mendengar hal itu merasa lega dengan perkataan Alexander dan sedikit meneteskan air mata dan Orland yang menyaksikannya jadi mengerti maksud dari Garm.


"Ah.. Aku mengerti maksudmu Garm. Lagipula tatapan matanya mirip dengan Alexander. Jadi kita bisa percaya dengan bocah yang bernama Sakamichi Kentaro. Benar, kan?" Cetus Orland sambil melirik Garm.


Daren sedikit merasa sedih akan situasi ini yang dilihatnya saat ini. Mengingat rekan-rekannya dulu yang terbunuh oleh Yamada Kentaro/Jasper.


Alexander yang melihat dan mengetahui perasaan Daren, memanggilnya untuk keluar rumah sebentar. Kemudian Alexander keluar lebih dulu sambil memanggil Daren.

__ADS_1


Terlihat Garm dan Orland hanya tersenyum melihat Daren yang kebingungan dipanggil Alexander.


...Diluar rumah...


Terlihat Alexander sudah bersama dengan Daren. Pada awalnya Alexander menatap Daren dengan tajam tapi kemudian tersenyum dan tertawa. "Ahahahaha! Tidak usah terlalu tegang." Ucap Alexander.


Terlihat Daren hanya berusaha menampilkan senyumnya.


Alexander pun menatap Daren dengan lembut, kemudian dia mulai menjelaskan maksud dari panggilannya. "Baiklah. Aku akan langsung saja, Daren. Aku sangat mengenal dirimu dan juga berteman dengan ayahmu. Aku mengetahui kejadian yang terjadi dengan kelompok kalian pada saat itu dan juga perasaanmu kepada Helena.


Mungkin aku adalah ayah yang terlalu naif dan bodoh bila memaksakan anakku menikahimu, tapi disisi lain aku percaya kepadamu dan mungkin ini permintaan egois untukmu. Tapi sebagai seorang Ayah aku tetap khawatir terhadap Putriku. Bisakah kau menjaga Helena saat aku sudah tiada?" Jelas Alexander.


"Raja Alexander apa maksud anda? Apakah anda sedang sakit keras?" Tanya Daren yang cemas.


"Tidak-tidak, bukan seperti itu. Setidaknya aku ingin putriku berada ditangan yang tepat. Aku ingin kau menggantikanku disaat aku sudah tiada." Balas Alexander sambil tersenyum.


"Menggantikan anda? Apa maksud anda?" Tanya Daren yang masih belum mengerti.


Terdengar suara Garm yang tiba-tiba berada diatas rumah. "Alexander ingin kau membimbing dan menlindungi Helena." Cetus Garm.


Terdengar juga suara Orland yang membuka pintu. "Dan Alexander ingin kau menerima keputusan hati Helena yang tidak memilihmu." Lanjut Orland.


Terlihat Alexander yang sedikit terkejut melihat mereka. 'Kenapa kalian mengatakannya!? Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Padahal aku sudah berusaha selembut mungkin.' Ucap hati Alexander yang kesal.


"Kalian memang kompak disaat-saat situasi begini, ditambah lagi kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran kalian." Tanya Alexander.


"Yah, Garm sudah mengembangkan beberapa sihirnya, dia juga yang membantuku berubah bentuk dengan tubuh Pria Tua saat bertemu Sakamichi dihalaman istana." Jawab Orland.


"Dan orang yang merencanakan ini semua adalah kau Alexander!" Lanjut Garm sambil menunjuk-nunjuk Alexander.


"Tapi benar-benar tidak terpikirkan olehku. Kau bisa merubah wujudnya." Ucap Alexander sambil menatap kearah Garm, lalu Orland.


Tiba-tiba terbesit pertanyaan dalam pikiran Alexander. 'Jika Orland bertemu dengannya di halaman istana, lalu siapa yang menghancurkan salah satu ruangan tamuku waktu itu?' Pikir Alexander.


Ctik! Terdengar suara jentikan jari Daren. "Aku juga sudah bertemu dengannya. Aku mengunjungi kamarnya kemarin!" Cetus Daren.


Mendadak Garm mengeluarkan hawa membunuhnya. "Ternyata kau yang merusak ruangan itu, Daren!?"


Tanya Garm sambil menatap Daren kesal.


"Hah? Kau kenapa em.. nona.. tuan..?" Tanya Daren yang bingung.


'Ah! Benar juga Garm menggunakan sihirnya selama 4 jam tanpa henti untuk memperbaiki ruangan itu, lalu pingsan.' Ucap benak Alexander yang #Sweatdrop.


Orland menanggapi mereka berdua dengan tertawa-tawa sambil berucap. "AHAHAHAHA! Padahal kau mengaku seorang pria tapi suara dan rupamu seperti wanita. Aku penasaran."


Terdengar Garm sedang marah-marah, Orland hanya tertawa-tawa dan Daren yang memiliki beberapa benjolan dikepalanya. Nampak Alexander tersenyum menyaksikan kehangatan yang dirasakan saat melihat mereka.


'Kuharap kau ada disini dan berkumpul bersama seperti dulu, Izumi Kentaro. Tidak, kurasa nama itu tidak cocok denganmu, setelah aku membaca tulisan dan mengingat-ingat dengan jelas, namamu adalah Amber Lilith.' Ucap Alexander dalam benaknya sambil menatap langit.


END.


_______________________________________


Pesan Penulis :

__ADS_1


Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.


Terima Kasih.


__ADS_2