
...Tepi Laut Kota Taris...
Pagi Hari. . .
Tepian itu sedang memberikan banyak pemandangan keindahan seperti laut yang biru, deburan ombak kecil, beberapa biota laut yang naik ketepian, matahari dilangit biru, dan semilir angin.
Dibalik itu semua ada suasana kesedihan diatas Kapal Bajak Laut Warner yang bersandar didekat tepiannya. Kapten Nerine sedang berpamitan dengan seluruh awak kapalnya.
Seluruh awak kapal memberikan penghormatan terakhir pada kaptennya, Clidia Nerine. Orang yang paling mereka hormati sepanjang hidup mereka.
Clidia Nerine adalah orang yang mengomandoi mereka saat menjelajahi lautan 43 tahun lamanya. Nampak ada beberapa awak kapal yang menahan tangisannya untuk menghormati perasaan mantan kaptennya.
"B-Baiklah... S-semuanya!" Ucap Nerine yang sedang bersiap untuk memberikan pesan terakhirnya.
Terlihat Nerine sedikit gugup namun dia berusaha untuk memberikan yang terbaik pada mereka semua, kemudian.
"Mungkin saat ini kalian terlihat bahagia dihadapanku, namun aku tau perasaan kalian semua. Domino, Erige, Olbum, .... (Nerine menyebut satu-persatu nama awak kapalnya dan membuat air mata mereka mulai menetes.)
Semuanya... Terima kasih." Ucap Nerine yang menahan air matanya.
"Jangan pernah lupakan pedoman kita sebagai Bajak Laut Warner!" Lanjut Nerine, kemudian.
"Pelaut hanya menceritakan sebuah cerita TAPI!!!! BAJAK LAUT MENCIPTAKAN SEBUAH LEGENDA!!!!" Teriak Nerine dengan lantang bersama-sama dengan awak kapalnya yang menangis.
Terlihat Audelia dan Helena merasa sangat takjub sekaligus merinding kagum saat melihat Nerine yang berseru dengan awak kapalnya.
Mereka berdua merasa sudah berteman dengan sosok yang luar biasa. Namun bagi Helena, dia merasa sudah benar-benar kalah dari Clidia Nerine.
Nampak Azgul sedikit meneteskan air matanya. Dia mulai mengenang sesaat tentang perpisahannya, dikala dulu dia masih menjadi Kapten Bajak Laut Serigala Api.
Nampak juga Yun-Yun yang sedang sibuk dengan bola hitam dan tarik milik Azgul.
Seusai mereka bersorak-sorai melepas perasaan mereka, akhirnya mereka semua berpamitan untuk berlayar yang terakhir kalinya.
Mereka ingin melanjutkan impian dari mantan kaptennya yang belum terwujud yaitu, Benua baru selain Elzia. Serta bersama dengan Kapten Bajak Laut Warner yang baru, Domino.
Nampak Nerine menatap mereka semua berlayar dengan tegar, sampai akhirnya tak terlihat lagi dan kemudian dia membalikan badannya sambil berucap pada rekan-rekannya yang baru.
"Ayo..." Ucap Nerine sambil berjalan melewati mereka semua dan nampak terlihat ada air mata yang mengalir dipipinya.
Nampak Azgul, Helena, dan Audelia mengikuti langkah dari Nerine, serta Yun-Yun yang membawa kedua benda itu dengan esnya menyusul mereka.
"Sudah enam hari... eh? Tujuh?" Ucap Yun-Yun yang bingung.
Mereka semua melanjutkan tujuannya selama beberapa hari untuk mengumpulkan material-material yang dibutuhkan Yun-Yun dalam pembuatan senjata sucinya.
Sementara itu ditempat lain. . .
...Luar Kota Grizel Bagian Timur...
......Pict From Google......
Pada saat itu matahari tak terlihat karena tertutupi kabut dingin yang padat, nampak Warlen yang sedang berlumuran darah. Sedang bertarung seorang diri ditengah dinginnya tempat itu, bau dari es yang khas serta licinnya pijakan kaki.
Tidak membuat dirinya kesulitan menghadapi kedua kakak-beradik itu, mereka bekerja sama untuk melatih kesiapan diri Warlen, agar dapat menghadapi musuh yang lebih kuat dari dirinya kelak.
Sudah seminggu lebih empat hari Warlen terus berlatih, hari demi hari tak jua membuat api semangatnya runtuh. Dia berlatih dan terus berlatih demi melindungi semua rekan-rekannya.
Tak sedikit yang sudah dia capai, selama masa pelatihannya dirinya terus dan terus menerus berkembang seperti seekor naga yang buas.
Tinjunya yang berdarah akibat pukulan keras yang bertubi-tubi, zirahnya yang meninggalkan banyak goresan, kakinya yang terus menahan es yang licin dan paru-parunya yang membeku.
Tidak menahan semangatnya untuk terus melangkah dan melangkah. Dia melawan rasa takutnya akan kematian, dia melawan rasa sakit yang sedang dialaminya, dan dia melawan perasaan bersalah pada dirinya.
Dengan 'Dark Iron Fist' dan 'Eagle's Eye' yang diaktifkannya, Dengan reflek super miliknya, serta element air dan tanahnya. Dia membuat kerja sama dari kakak beradik itu terpecah.
Garm yang kesulitan menembak dengan panahnya dan Maurer kesulitan mendekatinya. Kecepatannya terus bertambah seiring dengan pertarungan mereka.
Serangan cepat beruntun Maurer yang sebelumnya sudah melukai tubuhnya sekarang tak lagi sanggup untuk menjangkaunya.
Begitupun juga dengan Garm, semua anak panah yang dilepaskannya selalu tak sampai kepadanya, serta kemampuan unik miliknya selalu meleset ketika hampir mengenainya.
Sampai tiba-tiba saja Warlen berkata "Hundo."
Kemampuan yang sama seperti Jorgan, belum sampai satu kedipan mata dari Garm. Warlen sudah berpindah tempat tepat didepan Maurer dan bersiap untuk memukulnya.
Maurer berhasil menepis serangannya dengan kedua pedangnya yang pendek dan panjang. Dengan sebuah celah yang terlihat, Garm melompat dan melepaskan anak panahnya kearahnya.
Woosh! Suara dari tembakan anak panah Garm.
Namun baginya yang sudah seminggu lebih empat hari semenjak latihannya, tahu betul serangan kerja sama mereka berdua. Dan dengan cepat dia membalikkan keadaan.
"Lightning Electro Blink." Ucap Warlen yang tiba-tiba saja menghilang menyisakan aliran listrik dan petir ditempatnya sebelum melesat.
__ADS_1
Mereka berdua sungguh terkejut kehilangan jejaknya, lalu tiba-tiba saja dirinya sudah berada di hadapan Garm yang sedang melayang diudara seperti kilat.
Dia berputar dan menendang tubuh Garm kebawah dengan setengah tenaga miliknya, belum selesai sampai situ Warlen mengucapkan satu kalimat lagi. "Pitfall."
Sebuah jebakan yang sebelumnya dipersiapkan oleh dirinya, muncul kilatan listrik hitam yang menjalar kesegala arah dan petir merah terang yang menyambar kearah Maurer dengan cepat.
Maruer yang terkejut mendadak langsung menggunakan sihir miliknya untuk menghalau jebakan yang dia tinggalkan, namun sayangnya Maurer berhasil meloloskan diri.
Namun dirinya yang sudah memprediksi gerakan Maurer memasang jebakan yang kedua untuknya.
Sontak dibawah kaki kanan Maurer muncul sebuah lubang berukuran kecil yang kemudian menjebloskan dan menjerat kakinya disana.
Dia yang melihat adanya sebuah kesempatan, menapakkan kakinya horizontal diudara bersiap untuk melompat kearah Maurer "Air Force." BAM! Dia melesat dengan cepat kearah Maurer sambil mengepalkan tangannya.
"Aku menyerah..." Ucap Maurer sebelum dirinya terkena tinju dari Warlen.
Warlen yang mendengarnya sontak langsung berusaha untuk menghentikan hempasannya, namun usahanya gagal dan akhirnya mengarahkan tinjunya kesebelah Maurer.
BLAAAAAR!!!! Nampak Warlen mengarahkannya ke lantai es itu dan membuatnya retak hingga turun gundukan salju dalam jumlah yang banyak dari atas bukit dekat mereka berada.
"Ah.. Sial.." Ucapku kecil sambil menatap keatas bukit itu.
Melihat itu Maurer sempat ingin berbicara, namun "Kau melakukan-" BRUBRUBRUBUGH! Suara dari salju yang menimbun Maurer dan Warlen. Brug! Salju terakhir yang jatuh.
Nampak Garm yang baru saja kelihatan sedang memegangi punggungnya, sambil mencari keberadaan mereka berdua.
'Sakit sekali, tak tanggung-tanggung. Beruntung aku sempat menggunakan mode Assassin, jika tidak mungkin aku akan berjalan bungkuk seumur hidup.' Ucap benak Garm sambil keheranan tak menemukan mereka.
"WARLEN, KAKAK! KALIAN DIMANA!?" Teriak Garm dengan kuat, 'Sejak kapan ada timbunan salju disini?' Tanya Garm dalam hatinya sambil memperhatikan gundukan salju itu.
Dan tiba-tiba saja TOING! Muncul kepala Maurer dari gundukan salju itu dan menyebabkan Garm terkena shock terapy, kemudian berteriak sekencang-kencangnya lalu pingsan.
Maurer yang terkejut melihat Garm yang pingsan langsung berteriak, namun "DIELNOR!!! DIEL-----" BRUBRUBRUBRUGH! Nampak Salju menimbun dirinya lagi.
Setelahnya Maurer keluar dari salju yang menimbunnya, dia keluar sambil menggendong Warlen dan menghampiri adiknya, lalu menggendong adiknya dan membaringkan Warlen.
"Keluarlah. Aku tau kau disana, Zarin. Bantu aku menggendong mereka." Ucap Maurer sambil memandang ke kalung Warlen, kemudian.
Muncul cahaya berwarna hitam pekat dari kalung itu dan nampak sosok seorang gadis remaja berambut hitam serta mata yang berwarna merah sekaligus dua tanduk kecil dikepalanya.
"Baiklah, Kakek Tua." Ucap Zarin yang kesal.
"Sejak saat itu sifatmu benar-benar berubah ya!?" Cetus Maurer kesal.
"Merepotkan saja, dasar kakak bodoh." Ucap Zarin sambil melihat Warlen yang tertidur lelah.
...Pict From Google...
...Art By : MX Shimmer...
Beberapa saat kemudian. . .
Seusai Maurer dan Zarin menolong mereka berdua, keduanya membawa mereka ke kediaman Maurer. Mereka menempatkan Warlen dan Garm disatu kamar dengan kasur yang terpisah, kemudian Maurer pergi dan meninggalkannya.
Zarin masih tetap berada dikamar itu untuk melihat wajah dari kakaknya yang selama ini dia rindukan.
"Maafkan aku kakak, selama ini aku tidak pernah bisa membantumu." Ucap Zarin sambil mencium kening kakaknya dan kemudian tertidur disampingnya.
Aku mendengar apa yang kau katakan Zarin, dan saat ini semua ingatanku hampir pulih seutuhnya.
Hanya saja jika aku paksakan untuk mengingat semuanya muncul kilat kecil yang menyakitkan kepalaku.
'Sudah berapa lama ya, sejak aku pergi ke Kota ini dan mengetahui tentang kebenarannya.' Pikirku sambil merangkai semuanya.
'Kalau tidak salah, sudah 19 hari sejak kami berpisah. Trio BarPlinBol apa kabar mereka ya.' Pikirku sambil melihat cemas kelangit-langit yang terbuat dari kayu itu.
Aku merasa khawatir pada mereka, tak ada kabar apapun selama ini, dan juga sekarang aku memiliki adik perempuan.
Sesaat setelah aku sampai dikota ini, aku berkencan dengan Garm. Kami berdua berjalan-jalan bersama sambil tertawa dan bercanda seperti sepasang kekasih.
Di hari kedua aku pergi dengan Maurer kesuatu tempat yang tak pernah kukunjungi, tempatnya cukup menyeramkan. Banyak sekali monster dan iblis yang bersemayam ditempat itu.
Maurer menyuruhku menghabisi semuanya seorang diri. Aku terus bertarung dan bermalam ditempat itu seorang diri.
Aku butuh waktu selama dua hari untuk menghabisi mereka semua, Maurer bilang kalau ini latihan untuk menghadapi rasa takutku.
Dihari kelima aku bertemu dengan kenalan lama Maurer, Hans De Brofed. Tapi tak kusangka ternyata dia membuka sebagian ingatan dari diriku yang disegel ayahku.
Aku mulai mengingat kenangan masa lampau dari ibuku, sesaat setelah Hans membuka ingatanku. Aku sekarang tahu alasan Michael yang tidak memberikanku jawaban seutuhnya.
Beberapa ribu tahun yang lalu saat pertama kali Lucifer menciptakan dunia ini, dia sering datang turun ke Benua Elzia untuk membantu para mahluk hidup yang sudah dibuat olehnya. Termasuk juga ibuku, Amber Lilith Ilusia.
Namun seiringan dengan waktu yang berlalu sifatnya semakin berubah menjadi sombong, dia berniat untuk melengserkan tahta Sang Pencipta, dan mulai memikirkan sebuah rencana.
__ADS_1
Lucifer akhirnya menemukan sebuah rencana yang sangat menggiurkan, dan mulai berkomplot dengan beberapa Dewa-Dewi jahat yang sepemikiran dengan dirinya.
^^^NOTE : Lucifer dan Dewa-Dewi bakal disingkat jadi Yang Jahat.^^^
Yang Jahat menciptakan monster jahat dan iblis didunia itu untuk menakut-nakuti seluruh mahluk hidup yang ada disana, hingga ribuan tahun lamanya mereka hidup dalam ketakutan.
Sampai akhirnya Yang Jahat turun kedunia itu dengan dalih sebagai penyelamat mereka.
Dengan tipu muslihatnya, Yang Jahat menjanjikan secercah harapan pada seluruh mahluk berakal yang tinggal didunia itu.
Y**ang Jahat berjanji akan memberikan sebuah kekuatan selama ribuan tahun yaitu, inti sihir sebuah kekuatan untuk bertempur melawan monster dan iblis serta menjaga penampilan mereka dimasa remajanya semasa hidup.
Sampai akhirnya seluruh mahluk berakal itu menyetujuinya dan membuat sebuah kontrak dengan Yang Jahat.
Beberapa ribu tahun berlalu setelah Yang Jahat turun ke dunia itu.
Sampai pada suatu hari akhirnya Yang Jahat turun kedunia itu untuk yang kedua kalinya, dengan menagih kontraknya pada seluruh mahluk berakal itu.
Yang Jahat menyerap seluruh inti sihir dari seluruh mahluk hidup yang ada didunia itu seperti peternakan sampai mereka semua mati tak tersisa.
Dengan tujuan untuk memperkuat diri mereka sekaligus menyerang pemimpin tertinggi mereka masing-masing dengan cara bekerja sama.
Namun Yang Jahat membuat kesalahan dalam perjanjiannya, mereka tidak mengira akan ada generasi penerus mereka yang terlahir sudah memiliki inti sihir yang lebih kuat dan padat.
KarenaYang Jahat tak ada waktu lagi, serta Sang Pencipta sekaligus Dewa-Dewi Tertinggi yang mengendus rencana mereka.
Oleh karena itu Yang Jahat hanya bisa memberikan dua kutukan pada seluruh mahluk berakal yang memiliki inti sihir darinya dan takkan pernah hilang walaupun Yang Jahat mati sekalipun.
Kutukan Pertama : umur yang sangat panjang untuk merasakan kesengsaraan serta siksaan dari monster dan Iblis.
Kutukan Kedua : tidak akan pernah bisa berkembang biak.
Setelahnya Holy War (Perang Suci) pecah ditengah-tengah benua ini. Beruntung mereka semua dapat menggagalkan rencana dari Yang Jahat dan mematahkan kutukan yang kedua berkat bantuan dari Archangel Michael.
...Battle Scene...
...
Pict From Google...
Seusai perang itu terjadi dan Yang Jahat gagal, mereka semua terpecah belah karena gesekan internal sampai pindah ke benua-benua lain, salah satunya adalah benua yang saat ini dikuasai oleh Lucifer, Benua Elzia.
^^^NOTE : Sang Pencipta dan Dewa Dewi Tertinggi disingkat Yang Kuasa.^^^
Dewa-Dewi Tertinggi mengirimkan kandidat terbaiknya, begitupun dengan Surga yang mengirim Archangel Michael saat itu.
Besarnya gesekan yang terjadi hampir menghancurkan keseimbangan lapisan inti sihir serta bisa membinasakan dunia ini.
Dan Yang Kuasa tidak menginginkan itu terjadi, mereka sangat sayang kepada mereka yang masih hidup didunia ini.
Sampai akhirnya Sang Pencipta menunjuk seorang pahlawan pertama yang dinobatkan oleh Surga, Jorgan Vinziala Eirini. Orang yang pertama kali diberikan kekuatan Element bersamaan denhan Guardian Angelnya, Gabriel.
Serta salah satu pengamat mereka yang berasal dari Dewa-Dewi, yang namanya tidak pernah tercatat didalam apapun, serta asal-usulnya yang tidak pernah diketahui.
Kaisar Ratu Api Gremory Elzia, Seorang wanita yang memiliki tugas penting dari Dewa-Dewi dan orang yang telah menulis catatan Holy War, sekaligus memiliki tugas untuk memperluas ruang dari inti sihir dunia ini.
Dikatakan dia adalah orang yang sangat kesepian, dan tinggal sendirian di Istana Awan. Ibuku saat ini tinggal bersama dengan Gremory beberapa ratus tahun seusai berperang dengan Michael.
Ibuku bertemu dengan Ayahku yang juga pahlawan ke sembilan saat mereka bertarung dulu, ayahku berhasil mengalahkan Ibuku saat itu.
Namun Ayahku jatuh cinta pada ibuku, entah apa yang dilakukan ayahku. Dia berhasil merayu ibuku dan kemudian mereka menikah, lalu mempunyai anak yaitu diriku dan adikku.
Ibuku tidak ingin kami hidup dengan tatapan dan tangan yang haus akan darah, oleh sebab itu akhirnya Ibuku memilih untuk memihak seluruh mahluk hidup yang diserang Lucifer.
Ayahku yang mengetahui kebenaran dunia ini, membelot pada Lucifer untuk menjadi lebih kuat demi membalas dendam dalam hatinya. Ayahku menginginkan inti sihir yang berlimpah.
Orangtua dari ayahku dibunuh oleh manusia dengan keji saat terjadinya perang untuk pembagian wilayah kerajaan yang dulu pernah terpecah di benua ini.
Awalnya kupikir semua yang kuketahui sudah benar dan tak ada yang salah, namun sekarang aku mengetahui beberapa hal yang benar-benar membuatku semakin ingin berjuang.
"HOAAAAAM~" Sepertinya aku masih terlalu lelah.
'Zarin.. Kakak akan menjagamu sekuat tenaga.' Pikirku sambil melihat Zarin yang terlelap disebelah kasurku, kemudian akupun tertidur pulas.
Sementara itu ditempat lain. . .
Nampak Freya dan Valkyrie sedang bertarung dengan banyak Prajurit Kerajaan!!
END
_____________________________________________
Jika ada kesalahan saya minta maaf ya.
__ADS_1
Author : Ardenata.