
...•Sore Hari•...
...Kota Zealos...
...[Tahta Kerajaan]...
Terlihat Daren sedang berjalan dengan perlahan ketahta kerajaan Zealos, dia datang menggunakan pakaian tuxedo hitam, lengkap dengan bunga mawar merah disaku bajunya.
Nampak banyak sekali orang-orang tua sedang mengenakan pakaian 'elder/penatua' , menunggu kedatangan Daren "Selamat datang Raja Zealos yang baru" ucap mereka kepada Daren sambil memberi hormat dengan membungkuk.
"Dengan begini seluruh Elder sudah sepakat dengan keputusan mereka" ucap Daren sambil memandang seseorang yang sudah dkunci didalam Guillotine.
^^^Guillotine adalah alat hukuman untuk memancung kepala seseorang yang sudah divonis hukuman mati.^^^
"Lakukan..." ucap Daren, kemudian, JRASH! Terdengar suara daging yang terpotong, dan DUK! Terdengar sesuatu yang jatuh, terlihat banyak darah yang mengalir dilantai, dan ada beberapa orang prajurit yang segera membersihkan semua itu.
'Seluruh orang yang menentangku sudah kubunuh, rakyatpun sudah percaya padaku, para elder juga mendukungku, sekaranglah saatnya aku untuk berkuasa atas kerjaan ini, dan tua bangka Uren juga sudah kubunuh, SEMPURNA!' kata hati Daren, kemudian "Hm.. bawa Helena padaku.." ucapnya.
^^^Uren Zealos Eirini seorang Raja yang juga merupakan ayah dari Daren dan Audelia.^^^
"BAIK, YANG MULIA!" ucap para Elder serentak, kemudian mereka pergi.
Terlihat salah satu prajurit melapor kepada Daren, "Maaf, Yang Mulia!" ucap Prajurit itu kemudian membungkuk.
"Lanjutkan..." ucap Daren kepada prajurit itu.
"Kami mendapat laporan, Tuan Putri Audelia sedang berada di gerbang selatan bersama beberapa pemberontak seperti yang anda katakan sebelumnya, Yang Mulia!" Jelas Prajurit itu.
"Jangan sebut dia Putri, sebagai Raja Zealos yang baru, aku bertitah bahwasannya Audelia Zealos Eirini akan dicabut gelarnya sebagai Putri Kerajaan, dan karena sudah membantu para pemberontak, dia harus dihukum mati" perintah Daren.
"Laksanakan! Yang Mulia!" jawab Prajurit itu kemudian pergi.
"Selanjutnya... kau Warlen" ucap Daren dalam senyumnya.
...
...
...Pict From Google...
...•Sore Hari•...
...Kota Zealos...
...[Lorong Kerajaan]...
Suasana sangat sepi, karena banyak prajurit yang sedang berjaga disetiap sudut gerbang kota setelah sinar cahaya itu, tak ada pencahayaan yang menyinari lorong itu.
Terlihat Helena yang mengenakan pakaian pernikahannya sedang berlari dengan terburu-buru, dia tak menggubris kain bajunya yang terseret dilantai.
'Aku harus cepat pergi dari sini! Aku harus cepat pergi!' kata batin Helena sambil berlari, dia merasa berlari menggunakan pakaian ini sangatlah melelahkan.
'Kalau tidak salah didepan sana ada patung ksatria, aku bisa menggunakan pedangnya untuk memotong pakaian ini' ucapnya dalam hati dan terus berlari.
Beruntung tak lama kemudian dia berhasil mencapai patung itu, dan merobek kain belakangnya, dia menancapkan pedang dibagian punggungnya untuk melepas seluruh pakaiannya.
'Memalukan! Aku harus berlari menggunakan pakaian dalam! Tapi tidak buruk juga, menggunakan pakaian yang panas seperti itu' kata hati Helena yang berlari sekuat tenaga.
"TUAN PUTRI HELENA!" terdengar suara prajurit dari arah belakang Helena.
'Sial! Kalau begini, 'Speed of Wind' muncul pusaran angin dikaki helena, yang membuatnya bisa berlari secepat angin, seratus meter dalam tiga detik.
Tak lama kemudian Helena sampai diruangan yang dia tuju, dia masuk kedalam ruangan itu dan kemudian mengenakan pakaian perangnya, serta mengambil busurnya.
"Fiery Souls!" ucap Helena, terlihat sebuah lingkaran sihir api yang membuatnya dapat berdiri di udara.
TRANG! Bunyi dari kaca jendela Helena yang dia pecahkan.
Terlihat Helena yang melompat keatas dan menghentakan kakinya diudara untuk melesat kearah gerbang selatan.
persis kyk gambar ini pas lompatnya.
...
...
...Pict From Google...
...Devil May Cry Game...
__ADS_1
Sementara itu di Tahta Kerajaan Zealos, nampak salah satu Prajurit melaporkan tentang gaun pengantin milik Helena, akan tetapi Daren hanya tersenyum, "Biarkan dia pergi.." ucap Daren, lalu prajurit itupun pergi meninggalkan Daren setelah memberi hormat padanya.
'Baiklah, sekarang kesetiaanmu akan diuji, Jorgan...' ucap Daren dalam hatinya yang merasa puas dengan tahta kerajaan yang berada ditangannya sekarang.
...•Sore Hari•...
...Kota Zealos...
...[Gerbang Selatan]...
Suasana semakin mencekam, hujan turun semakin deras, petir-petir pun mulai bergemuruh, diatas jembatan itu, terlihat banyak sekali noda darah yang sudah bercampur dengan air hujan.
Audelia sudah kehabisan kekuatan sihirnya, dia mulai merasakan efek samping dari penggunaan inti sihir yang berlebihan pada tubuhnya.
Badannya dipenuhi lebam, mata kirinya sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena pukulan demi pukulan yang dilancarkan Jorgan.
Tangan kanannya patah, dan nafasnya terengah-engah akibat penggunaan inti sihir berlebihan miliknya, kondisinya diperburuk dengan mata kirinya yang mulai rabun.
Terlihat Freya yang tak sadarkan diri akibat inti sihir yang dia gunakan sudah sangat melampaui batas, sambil menyentuh pipi dari kepala Valkyrie yang sudah terlepas dari tubuhnya.
Nampak juga Miresk yang terbaring dengan tenang dibawah bebatuan itu, dengan posisi berdoa, dan bekas air mata dipipinya yang mengeluarkan darah.
Namun diantara mereka semua, masih ada seorang Cursed Hero, Jorgan Vinziala Eirini yang masih berdiri tegak tanpa terluka setelah dikepung oleh mereka.
^^^Cursed Hero adalah seorang pahlawan yang dulunya pernah mati ditangan Lucifer dan dibangkitkan kembali, atau seorang pahlawan yang menjual jiwanya pada Lucifer demi kontrak yang sudah disepakati.^^^
"Meskipun kau dihidupkan kembali itu tidak akan merubah kenyataan" ucap Jorgan sambil menatap tajam kearah Audelia.
"Memangnya kenapa? Aku tidak akan menyerah hanya karena ini" ucap Audelia yang berusaha untuk berdiri menggunakan rapiernya sebagai penopang.
"Nyawa dari teman Arch Bishop-mu itu akan terbuang percuma" jawab Jorgan sambil menyusutkan tombknya menjadi serpihan kecil dan mengembalikannya saku bajunya.
Hujan yang sebelumnya mengguyur deras dari langit mulai berhenti, awan-awan yang sebelumnya menghitampun menghilang.
Bulan purnama menampakkan dirinya dilangit, cahayanya menyinari kota benua Elzia dengan indah, bintang-bintang mulai bermunculan memperlihatkan sinarnya yang berwarna-warni.
Seorang Cursed Hero yang sedang berada diantata mereka-pun mulai menyimpan kembali tombaknya, dan menatap kearah langit sambil memikirkan sesuatu yang sangat dia rindukan.
...•Malam Hari•...
...Kota Zealos...
...[Gerbang Selatan]...
"Bisakah kau menyingkir" ucap Jorgan sambil menatap kearah Freya yang tak sadarkan diri, berada tepat dibelakang Audelia.
"Maaf saja.. aku tak akan menyingkir" jawab Audelia sambil menggenggam senjatanya, kakinya sudah bergetar tak kuat menahan beban tubuhnya untuk berdiri.
"Hm..." gumam Jorgan sambil menarik nafasnya dalam-dalam
" 'Judex' " ucap Jorgan kemudian muncul pusaran angin bertekanan tinggi ditangannya bersamaan dengan serpihan permata putih kecil, seperti pasir yang tajam, yang berputar dengan mengikuti arus angin ditangannya.
"Kutanya sekali lagi, bisakah kau menyingkir?" Tanya Jorgan sambil melihat Audelia dengan tatapan tajam.
"Heh, aku sudah pernah mati sekali, untuk mati yang kedua kali menurutku tidak begitu buruk" jawab Audelia dengan tatapan mengejek dan sedikit tersenyum.
Setelah mendengar jawaban dari Audelia, Jorgan langsung melesat kearah Audelia dengan kecepatan yang sangat tinggi, Audelia sadar kali ini dia akan benar-benar mati, namun dia sudah benar-benar bersiap untuk itu semua.
Ziror! Muncul uap panas ditubuh Audelia, Zan Fury! Nampak dikakinya sudah ada api ungu yang menyala.
'Oh.. sihir yang sama.' kata batin Jorgan.
Kemudian terlihat Jorgan sudah berada tepat dihadapan Audelia dengan posisi badan sedikit membungkuk, lalu menghentakan kaki kanannya yang berada didepan sedikit kebawah dan kaki kirinya yang tegak lurus, serta mengeratkan kepalan dan menarik tangan kirinya kebelakang dengan bentuk siku-siku, tangan kanannya digunakan untuk mencengkram pundak Audelia.
'Dengan ini lehernya akan hancur' ucap Jorgan dalam hati, dan melancarkan serangannya.
Audelia berhasil menghindari serangan tangan kiri dan cengkraman tangan kanan dari Jorgan, dengan bergerak lebih cepat darinya, dan dia melesat kebalakang Jorgan dengan posisi sedikit membungkuk untuk bersiap melompat, Audelia berpikir dia dapat menggunakan rapiernya untuk menusuk Jorgan di bagian kepalanya yang tidak tertutupi armor.
Jorgan yang sudah mengerti pola serangan Audelia, menghentakan kaki kirinya yang ada dibelakangnya, kemudian muncul permata yang meruncing dan sangat cepat dari bawah tanah langsung mengarah pada tubuh Audelia.
Audelia yang melihat serangan itu sama sekali tidak bisa menghindarinya, dengan perlahan dia bisa melihat permata yang tajam itu mengarah ke tubuhnya, dia merasa ini adalah akhirnya.
Terlihat seseorang dengan pakaian yang berwarna hijau, dan rambut merah panjang berlari kearah Audelia dengan sangat cepat sambil menggendong tubuh Freya dipundak kirinya.
Jorgan menyadari kedatangan orang itu dan mereka sempat bertatap muka, saat orang itu melewati Jorgan dengan cepat untuk menolong Audelia.
Nampak Jorgan hanya membiarkannya lewat begitu saja, dan terlihat orang itu berhasil menggendong dan menarik Audelia dengan tangan kanannya.
Terlihat orang itu berhenti didepan Miresk, nampak diraut wajahnya dia sedikit sedih melihat tubuh Miresk yang sudah kaku tak bernyawa, kemudian dia menurunkan Freya dan Audelia dengan perlahan.
Nampak Audelia sangat kaget melihat orang ini, wajahnya dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam melihatnya.
"Oh, Helena..." ucap Jorgan sambil melihat punggung Helena, 'ternyata dia sudah dewasa' kata hati Jorgan sambil memperhatikannya.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Helena sambil melihat tubuh Miresk.
"...." nampak Jorgan tidak menjawab pertanyaan Helena dan terdiam sambil melihat kearah gerbang, 'apakah mereka masih belum selesai?' kata batin Jorgan.
Nampak beberapa prajurit penjaga gerbang menghampiri Jorgan, "T-Tuan Jorgan, kami mohon maaf, hanya ada beberapa persembahan yang bisa kami bawakan" ucap salah satu prajurit yang kemudian membawa duapuluh gerobak berisikan sepuluh gentong kayu yang berdarah-darah.
Audelia yang melihat itu benar-benar terkejut, dari raut wajahnya dia sangat kebingungan dengan perlakuan para Prajurit itu terhadap Jorgan.
Nampak Helena mengetahui pertanyaan yang ada dipikiran Audelia.
Helena-pun menjaskan situasinya pada Audelia.
Daren telah membunuh Raja Uren, dia menggunakan propaganda ke seluruh Rakyat Zealos untuk menyingkirkannya.
Banyak dari elder yang resah karena hampir semua Penduduk Zealos menyuarakan ketidakpuasannya terhadap keputusan Raja Uren yang memberikan perlindungan kepada masyarakat Duskford dan Vinziala.
Para elder khawatir kalau suatu saat nanti para Penduduk Zealos akan mulai mengarahkan senjata mereka ke Istana Kerajaan.
Beberapa elder mengutarakan pemikiran mereka tentang kondisi Penduduk Zealos dihadapan Raja Uren, akan tetapi tak sedikit dari mereka yang berakhir keluar Istana.
Raja Uren beranggapan kalau para pengungsi adalah korban dari kekejaman iblis, dan tak perlu ada yang harus disesalkan dengan keputusan ini, mereka harus dilindungi.
Raja Uren sama sekali tidak menyukai pemikiran para elder yang mulai menentang perintah dirinya, dia mencopot beberapa elder yang tidak sependapat dengan dirinya.
Raja Uren selalu memberikan penjelasan atas tindakannya dihadapan semua Penduduk Zealos yang kian memanas.
Tapi itu semua percuma, provokasi yang berkelanjutan dari Daren dan beberapa elder yang sudah dikeluarkan dari istana semakin meluas.
Seperti kain basah yang terus menerus dibakar pasti akan terbakar juga.
Sampai akhirnya kondisi mulai memanas dan timbul kerusuhan dimana-mana, Penduduk Zealos menuntut Raja Uren untuk mundur dari tahtanya dan dihukum mati atas pengkhianatannya yang melindungi para pengungsi.
Seluruh elder yang masih berada di istana sudah tidak sanggup untuk menahan kemarahan Penduduk Zealos, dan mereka sepakat untuk mempercepat kenaikan Daren menjadi Raja.
Daren memang sudah merencanakan semuanya dari awal, dan dengan waktu yang sangat cepat Raja Uren akhirnya mundur dari jabatannya, dan dieksekusi mati didalam istana.
Prajurit yang melaksanakan hukuman mati itu berjalan kebalkon istana dengan membawa potongan kepala dari Raja Uren, untuk ditunjukan kepada Penduduk Zealos dan mengabarkan bahwa Daren sudah menjadi Raja Kerajaan Zealos.
Daren juga berjanji pada Helena, dia akan memindahkan seluruh Penduduk Duskford dan Vinziala kesuatu kota yang sudah disiapkan olehnya dengan aman, semuanya akan dia lakukan jika Helena bersedia menjadi istrinya.
Tapi semuanya hanya omong kosong, Helena sempat melihat pembantaian para pengungsi yang dilakukan oleh Prajurit Kerajaan Zealos, di Kota Selatan.
^^^(Kota Selatan adalah tempat tinggal para pengungsi)^^^
Cursed Hero yang datang kesini awalnya ditakuti, tapi dia datang tanpa menunjukan perlawanan sedikitpun, dan kemudian banyak para penjaga yang melaporkan hal ini pada Daren.
Namun para prajurit dan penduduk Zealosl berasumsi, bahwa tujuan dari Cursed Hero kesini adalah untuk meminta persembahan dan jika memberikan persembahan kepada Lucifer, maka kota mereka tidak akan diserang selama seratus tahun kedepan.
Daren-pun membenarkan asumsi yang disampaikan padanya, karna itu memang kenyataanya, yang pada akhirnya dia memerintahkan prajuritnya untuk membunuh para pria dan menyerahkan para wanita, juga anak-anak sebagai persembahan.
Kerajaan Zealos juga sudah tidak menganggap Audelia sebagai seorang Tuan Putri, dan saat ini mereka menganggapmu sebagai pengkhianat yang harus dihukum mati.
Jelas Helena pada Audelia.
Sangat terlihat ekspresi Audelia yang sangat terkejut mendengar semua itu.
"Da-darimana kau... mendapatkan semua informasi... itu...?" Tanya Audelia
"Tidak penting bagaimana aku mendapatkan informasi itu, yang utama adalah kau harus menyembuhkan dirimu." ucap Helena dengan tatapan lembut kearah Audelia.
"Dan aku juga tak menyangka, kalau Cursed Hero yang menjijikan itu adalah dirimu, Jorgan.." ucap Helena sambil menatap kearah Jorgan dengan hawa yang mengerikan.
...
...
...Pict From Google...
...Dota 2 Windranger...
"Oh.. menakutkan" ucap Jorgan menatap kearah Helena dengan tajam.
_______________________________________
BAB VII PART 2 : HIS ANGER
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih
__ADS_1