Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 56 : Dua Gadis Kecil


__ADS_3

"A-Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Warlen dengan wajah yang terheran-heran, dirinya bingung ketika melihat Yun-Yun yang tiba-tiba saja datang ke Reruntuhan Valhalla.


Kemudian Warlen juga sempat memperhatikan Celie yang sangat bertolak belakang sifatnya dengan Yun-Yun, namun pahlawan kesepuluh itu sedikit gelagapan saat berhadapan dengan Celie.


"Yun-Yun... Siapa dia?" Tanya Warlen seraya melirik kearah Yun-Yun dan kemudian Celie, dia sempat melihat kearah sekitar mencari-cari rekan-rekannya. "Omong-omong, dimana Nerine dan yang lain?" Lanjut Warlen.


Yun-Yun hanya mengatakan dor duar lalu perang, membuat Warlen malah semakin bingung dengan jawabannya. Sedikit berbeda dengan Celie yang langsung menggenggam lalu menarik tangan Warlen, dan kemudian berlari ke suatu lokasi dibelakang barisan prajurit itu.


Warlen hanya menatap heran kearah Celie sembari mengikuti arah tarikan tangan mungil gadis kecil ini. Tepat dibelakang mereka terlihat juga Yun-Yun yang mengikuti dengan berjalan pelan, seraya melebarkan kedua tangannya seperti sebuah pesawat.


•••


Sementara itu ditempat yang tak jauh dari tempat Warlen, Celie, dan Yun-Yun.


Tepatnya disebuah perkemahan milik Kerajaan Alphatheria, dapat terlihat ada anggota wanita dari Kelompok Warlen yang sedang bersama dua orang pria asing.


Mereka semua saat ini sedang membicarakan sesuatu yang penting, hal itu dapat dilihat dari raut wajah Nerine, Zarin, Jevanna, Garm, Mopelina dan juga Gerina, ketika mendengar perkataan demi perkataan dari salah satu pria itu.


"Seperti yang sudah kukatakan saat ini Alphatheria akan berperang dengan Zealos." Jelas Pria berambut biru cukup lantang dengan penutup mata disebelah kanan matanya, kulitnya cukup gelap dan memakai anting berwarna biru seperti es di kedua telinganya.


"Hentikan Pangeran Enzo, biar aku saja yang jelaskan. Caramu berbicara cukup kasar sehingga mereka belum mengerti inti masalahnya." Tegur Pria berambut pirang sedikit panjang dengan anting hijau yang terpasang dikedua telinganya.


"Masa bodoh lah, lagipula aku hanya menjalankan tugas yang diberikan." Balas Enzo dengan nada kesal seraya bangkit dari tempat duduknya. "Aku mau keluar dulu, Caspian." Ucap Enzo seraya berjalan keluar tenda prajurit.


...Dwarf...


...Enzo Frell Eirini...


...Prince of The Alphatheria Kingdom...



..._____________________________________________...


...High Elf...


...Caspian Griffith Eirini...


...Prince of The Alphatheria Kingdom...



..._________________________________________...


•••


Singkat saja, setelah Pangeran Enzo keluar dari tenda, para gadis-gadis itu mulai bergumam kesal. Mereka sedikit tak menyangka dengan sikap pangeran yang berasal dari Kerajaan Frell itu ternyata cukup kasar, bahkan Pangeran Enzo tidak sedikitpun menyambut mereka saat pertama bertemu didalam tenda.


"Sudah-sudah.. Pangeran Enzo memang seperti itu. Dirinya sudah terkenal menyebalkan sejak dulu, ahahahaha." Ujar Caspian tersenyum tipis yang berusaha menenangkan ungkapan hati dari gadis-gadis kesal dihadapannya.


"Jadi.. saat ini Kerajaan Alphatheria akan berperang dengan Kerajaan Zealos, seperti penjelasan yang baru saja kalian dengar dari Pangeran Enzo." Lanjut Caspian dengan nada yang sedikit tegas, dia melirik dan menatap tajam satu persatu gadis dihadapannya.


"Aku mengerti maksud dari Pangeran Kasar itu. Akan tetapi, kenapa mendadak sekali? Apakah ada yang terjadi?" Tanya Garm dengan perasaan yang curiga tertampil diraut wajahnya. Dia mengerutkan keningnya dan menyentuh bibirnya, dirinya saat ini sedang berpikir panjang.


"Akan kujelaskan semuanya dari awal.." Caspian-pun mulai menjelaskan semuanya dari awal, walau banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis-gadis itu, dia tetap menjawab semuanya dengan jelas.

__ADS_1


Caspian mengatakan kalau saat ini Zealos sudah benar-benar menyatakan deklarasi perangnya pada Alphatheria, bahkan pihak dari Kerajaan Alphatheria tidak mengetahui tujuan utama dari Raja Zealos itu, Daren Zealos Eirini.


"Cepat atau lambat pasti kita juga akan berperang dengan mereka, mata dibayar dengan mata." Ucap Garm dengan tatapan mata yang tajam dan masih memakai pose berpikirnya.


"Kau benar, semua orang sudah mengetahuinya. Daren adalah pembunuh dari Raja Alexander, dan juga orang yang melakukan ikatan kontrak dengan iblis." Balas Caspian seraya menatap kearah Garm dan kemudian Zarin.


Caspian sempat terkejut sungkan karena merasa bersalah dengan perkataannya, dirinyapun langsung melanjutkan ucapannya sambil tersenyum lembut kearah Zarin. "Tapi tak semua iblis itu jahat kok, ada juga yang baik seperti Nona Zarin dan juga Ratu Lilith."


"Ah.. Tidak apa-apa.. Aku mengerti.." Balas Zarin dengan malu dan kepala menunduk, dia merasa sedikit senang saat Caspian berkata seperti itu. Zarin menganggap kalau Caspian adalah orang yang memiliki sifat toleransi, sebab tak sedikit dari penduduk Benua Elzia yang membenci Ras Iblis.


Caspian terus melanjutkan penjelasannya secara garis besar, Daren mempunyai beberapa alasan yang diduga menjadi pemicu dari penyerangan gerilya sebelumnya. Walaupun salah satu dari alasannya cukup dangkal, Daren hanya ingin Helena menjadi istrinya.


"Aku paham.. Jadi pada intinya, kita akan berperang?" Gumam Nerine dengan mata yang sedikit menyipit menatap tajam kearah Caspian.


"Lelaki gila! Hanya karena ingin mempersunting wanita sebagai istrinya." Ucap Jevanna dengan nada yang sedikit meninggi.


"Tidak, bukan hanya itu saja. Mungkin saat ini kita mengira demikian, tapi bisa juga ada hal lain yang membuat Daren bersikeras ingin mendapatkan Helena." Balas Gerina seraya menepuk pundak Jevanna, bermaksud menenangkannya.


"Oh iya.. Dimana Pahlawan Kesepuluh itu?" Tanya Caspian yang kemudian melirik kearah pintu masuk tenda itu, sebab dia merasakan adanya firasat yang tidak enak.


Nampak juga Mopelina menoleh kearah pintu masuk tenda itu dengan wajah datarnya dan nada bicaranya yang datar, "Aku... pikir... kita... harus... keluar..." Ucapnya dengan lemah lembut.


...•••...


Sementara itu ditempat lain diluar tenda itu, terlihat Warlen, Celie, Yun-Yun dan juga Pangeran Enzo sedang bertukar kata, kemudian entah apa yang terjadi, mereka berdua mulai melempar ejekan sampai akhirnya Warlen dan juga Enzo saling jengkel.


Mereka terlihat saling tatap menatap seakan menunggu momment yang pas untuk saling menyerang, disebelah mereka berdua terlihat juga Celie dan Yun-Yun yang saling menatap memperagakan Warlen dan Enzo.


Enzo memposekan gaya bertarung tangan kosongnya dan bergoyang-goyang seperti seorang petinju. Dia juga sempat mundur selangkah kebelakang sebelum melakukannya dan berucap kesal. "Maju Kau! Bocah!"


Celie juga ikut-ikutan memperagakan gerakan Enzo, tapi agak sedikit berbeda. Celie mendongak sesaat, dan memanggil Yun-Yun dengan tangannya layaknya Bruce Lee lalu berucap imut seperti anak kecil yang sombong. "Cinih! Maju!"


"Ayuk!" Balas Yun-Yun yang kemudian memperagakan lompatan-lompatan taekwondonya seperti Warlen, dia juga sempat menendang-nendang dengan teknik rundhouse kick kearah angin berlagak sombong.


"Bisakah kau berhenti meniruku..." Enzo bergumam jengkel dengan decakan lalu melirik dan menunjuk-nunjuk Celie. Enzopun kehilangan semangatnya untuk bertarung.


Nampak juga Warlen merasakan hal yang sama seperti Enzo dan pada akhirnya mereka berduapun memutuskan untuk tak bertarung, namun tiba-tiba saja Yun-Yun menyerang Celie dengan tendangan taekwondonya.


DUAK!!


"Heh.. Boleh juga kau Pahlawan Kecil Kesepuluh.." Ledek Celie yang berhasil menangkis serangan dari Yun-Yun dengan lengan tangannya, bahkan menangkap kaki mungil Yun-Yun.


Celie kemudian melemparkan kaki Yun-Yun keatas sehingga Yun-Yun kehilangan keseimbangan, dimoment itu Celie langsung melancarkan serangan dengan tangannya kearah ************ dari Yun-Yun.


DUAK!!


Walaupun dalam kondisi yang tak seimbang, serangan itu berhasil ditangkis oleh Yun-Yun. Gadis kecil itu menepis serangan dari Celie dengan cara menendang tangan Celie menggunakan satu kakinya yang masih terbebas.


"Hm??????" Ejek Yun-Yun dengan nada yang sombong sambil melakukan peregangan pada kakinya, dia juga sempat menendang-nendang angin.


•••


"Hei.. Lebih baik kita hentikan mereka.." Ucap Enzo yang berbicara pada Warlen seraya menatap jengkel dan menunjuk kearah Celie serta Yun-Yun.


"Mau bagaimana lagi... Huft~" Balas Warlen seraya menghela nafas panjang sekaligus menaikkan pundak dan mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


•••


"Pertarungan kita baru dimulai sekarang!" Teriak imut dari Celie sambil menunjuk Yun-Yun dengan tegas tapi lucu.


Yun-Yun hanya mengangguk dan berkata "Ou!" dengan nada yang imut dan datar, kemudian menunjuk Celie dengan cara yang sama seperti Celie.


Mereka berduapun mulai melesat dengan cepat kearah satu sama lain, namun Warlen dan Enzo sudah berada ditengah-tengah mereka lalu menahan serangan mereka berdua.


"Hei.. anak kecil dilarang berkelahi!" Tegur Enzo dengan nada yang sedikit meninggi sambil memegangi tangan Celie.


"Maaf gadis kecil..." Tegur Warlen secara lembut dan juga menggendong Yun-Yun untuk menahan serangan itu.


Nampak terlihat Celie menangis karena teguran dari Enzo yang meninggi, bahkan Yun-Yun juga ikut menangis karena hal itu, sampai-sampai Warlen dan Enzo malah gelagapan panik.


Bisa dibayangkan Celie saat ini meronta-ronta berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Enzo sambil menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "HUAAAA!!! PANGERAN JAHAAAAAT!!!!! HUAAAAA" Celie berteriak dan terus melanjutkan usahanya.


Disisilain ada juga Yun-Yun yang merengek-rengek sambil memukul-mukul punggung Warlen dengan kuat, bahkan menyebabkan zirah dari pahlawan kesepuluh itu sedikit penyok. "Tu...runkaaaaan!" Suara teriakan Yun-Yun diikuti juga dengan tangisannya, dan terus memukul zirah Warlen.


Tangisan keduanya membuat Garm, Nerine, Mopelina, Zarin, dan Gerina keluar dari dalam tenda bersamaan juga dengan Caspian, mereka semua keluar dengan tergesa-gesa karena terkejut.


Seusainya mereka keluar dari dalam tenda, dapat terlihat hanya Caspian saja yang bertepuk jidat dan menggelengkan kepalanya, kecuali para gadis-gadis anggota kelompok Warlen itu.


Gadis-gadis itu terlihat sangat jengkel ketika melihat dua orang pria remaja yang pada saat itu sedang menjahili Celie dan Yun-Yun hingga menangis, mereka semua mengira kalau Warlen dan Enzo adalah penjahatnya.


"KAKAK!!! APA YANG KAU PERBUAT!?" Teriak Zarin dengan suara yang lantang sambil menunjuk seraya menatap tajam kakaknya. Dia merasa cemburu dan sangat marah karena Warlen tidak pernah menggendongnya seperti itu.


"Oh~ Ya ampun.. Kalian berdua cukup bernyali." Sindir Gerina sambil membuka kipas lipat bermotif biru dengan corak bunga dan menutupi mulutnya, dia mengambil kipas itu diatas meja yang tergeletak didalam tenda.


"Tak apa! Tidak perlu malu jika mempunyai selera yang menyimpang!" Seru Jevanna yang pada saat itu melemparkan tanda jempol keatas pada kedua pria remaja itu.


"Kalian... Pedo---" Belum juga sempat Nerine berucap, perkataannya langsung dipotong oleh Enzo dan Warlen secara kompak. "AKU TIDAK SEPERTI ITU!" Teriak keduanya bersamaan yang membuat Nerine terkejut lucu.


Namun tiba-tiba saja terlihat sebuah anak panah yang dialiri petir berwarna merah terang melesat kearah Pangeran Enzo dan Warlen dengan cepat, WOOOSH!! Sontak langsung membuat kedua pria itu kaget bukan kepalang lalu melompat kebelakang menghindarinya.


"Aku... kesal..." Ucap Mopelina dengan nada yang lembut dan juga perlahan, dapat dilihat juga saat itu dialah orang yang menembakkan anak panah petirnya kearah mereka berdua.


Nampak semua orang termasuk para prajurit menatap kearah Mopelina dengan perasaan yang merinding ngeri, sebab dirinya mengucapkan perasaannya tapi ekspresinya masih saja datar.


"Apa?" Tanya Mopelina yang merasa aneh dengan tatapan mereka semua, bahkan prajurit-prajurit disana sontak langsung memulai aktifitasnya seperti ; membersihkan tenda ; memotong kayu bakar, dll.


•••


Lanjut di BAB selanjutnyaa...


...Celie...



..._________________________________...


...Yun-Yun...



...____----------------____...

__ADS_1


__ADS_2