Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 65 : Raja Permukaan


__ADS_3

Tepat diatas Pohon Drassilius yang terbentang seperti sebuah lapangan luas, udara mencekam mengerikan, tekanan energi kuat, dan bulan malam menerangi bumi.


Pada saat itu Oliver merasa sangat terhibur saat matanya memandang lurus tajam kearah seseorang yang dianggapnya layak sebagai hadiah atas kebebasan dirinya dari Gua.


Disebelahnya terlihat Warlen berdiri tegap dengan mata merah menyala yang mengeluarkan tatapan tajam penuh dendam saat memandang kearah Rize.


Sedikit terbesit dibenak Warlen saat-saat dirinya kembali mengingat dalang dari kematian Altares adalah Rize dan Jasper yang juga seorang Cursed Hero.


"Biar kutebak, kalian kemari untuk membebaskan Dryad bukan?" Goda Rize yang menyeringai memandang kearah Warlen, sambil mengetuk perlahan berurutan pedang besar itu menggunakan jemari-jemari tangan kirinya dari telunjuk sampai kelingking.


"Kalau sudah mengerti kenapa masih banyak tanya?" Ucap Warlen yang tak memiliki keraguan seraya mulai melangkah penuh percaya diri dengan perlahan mendekat kearah Rize.


"Kasarnya~" Ujar Rize dengan kedua mata yang memandang penuh hasrat, lidahnya menjilat menggoda telapak tangan kirinya sendiri dan berhenti diujung telunjuknya, sambil mengangkat pedang besar ditangan kanannya.


'Bagaimana cara wanita itu mengangkat bobot pedang yang lebih dari berat tubuhnya dengan satu tangan saja!?' Pikir heran Oliver seraya melemaskan jemari kedua tangannya dalam keadaan bersiap menggenggam.


"Grendinma." Pungkas Oliver merapalkan sihirnya bersamaan dengan dua buah pedang panjang seperti Nodachi yang terbuat dari metal muncul di kedua genggaman tangannya.


Nodachi yang digenggam oleh tangan kanannya memiliki corak unik, mata pedang yang berwarna kuning berkilau dengan ukiran bertuliskan Chaos.


Untuk pedang yang digenggam oleh tangan kirinya mempunyai warna biru kehitaman sebagai mata pedangnya, dan memiliki ukiran dengan tulisan Iremia.


"Oho~ Jadi inikah Grendinma milik Amber yang dirumorkan." Puji Rize dengan pipi yang memerah dan terpesona kearah senjata milik Oliver.


Warlen merasa sangat terkejut bersamaan dengan perasaan nostalgia ketika kedua matanya memandang kearah senjata yang sedang digenggam Oliver.


"H-Hei.. Oliver k-kau?" Ujar Warlen dengan mata yang terbuka lebar-lebar melihat Oliver bergerak sangat cepat seperti angin saat melewati dirinya.


TRANG!!!!


Terdengar nyaring suara dari kedua senjata yang berbenturan dengan kuat diiringi ledakan angin kuat berhembus disekitarnya, membuat seluruh Pohon Drassilius bergetar hebat.


Terlihat dengan jelas hembusan angin kuat itu seakan seperti senjata yang bahkan membuat luka goresan-goresan kecil pada tubuh Oliver hingga mengeluarkan darah.


"Tidak buruk juga." Sindir Rize yang tersenyum dengan perasaan terhibur saat mendapati serangan pedang besarnya ditahan Oliver dalam kondisi sedikit terluka.


Hal itu membuat Oliver terkejut bukan main, sebab kedua matanya tak dapat mengikuti pola serangan milik Rize yang mengayunkan senjata besarnya seperti sebuah ranting pohon.


'SEJAK KAPAN!?' Geram Oliver dalam batinnya sambil memandang kedua mata Rize yang pada saat itu terlihat berwarna merah menyala dengan wajah menyeringai mengerikan.


'Refleknya cukup cepat, tapi tak lebih cepat dari gadis kecil itu.' Besit Rize dalam benaknya yang kemudian menyeringai memandang Oliver bersamaan dengan jentikan jarinya.


Bersamaan dengan jentikan jari itu, tiba-tiba muncul tekanan angin kuat dari pedang besarnya yang mendorong, menghempaskan, bahkan menyayat-nyayat tubuh Oliver seperti bilah tajam.


BLAAR!!!!!!


Terdengar suara ledakan uap kuat bersamaan dengan air yang turun dari langit seperti hujan, hal itu juga diikuti oleh banyak sekali bekas sayatan-sayatan menyerupai pedang ditanah sekitarnya.


"Aqua Broadsword." Geram Warlen dari balik kabut akibat ledakan uap dengan mata merah menyala seperti berlian yang bercahaya, hal itu juga diikuti oleh tekanan kuat disekitar dirinya.


'Pedang apa itu!?' Cetus Oliver didalam benaknya dengan mata terbuka lebar-lebar memperhatikan tindakan dari sahabat sepejeruangannya itu.


'Tunggu ada yang aneh!? Dimana!? Dimana Rize!?' Kejut Oliver yang kemudian menepis pikiran tentang sahabatnya, sambil mencari-cari keberadaan Rize dengan kedua matanya melihat sekeliling.


"Menyedihkan, benar-benar menyedihkan." Cemooh Rize yang nampak terlihat sedang berada diatas langit sambil memposisikan pedang besarnya seperti akan dilempar.


Matanya membidik kearah Oliver dan Warlen, tangannya menggegam kuat gagang pedang bersamaan dengan seluruh otot lengan miliknya yang mengencang.

__ADS_1


"Espada De Viento." Ucap Rize bersamaan juga dirinya melemparkan pedang super besarnya dengan sangat kuat kearah Oliver dan Warlen, lemparan itu diiringi banyak sekali bilah-bilah angin disekitarnya.


BUM!!!! Terdengar hantaman pedang besar Rize yang menancap kedataran batang Pohon Drassilius, diiringi oleh kemunculan sebuah kubah luas sekitar 100 meter berwarna merah berisikan banyak sekali bilah-bilah angin didalamnya.


Kedua bola mata Warlen yang kini menyerupai Red Diamond's Eye dapat melihat dengan sangat detail, seakan seluruh waktu bergerak lambat saat bilah angin itu menyerang kearah dirinya.


"Surface Lord of Chaos." Ucap Oliver yang kemudian menancapkan satu buah Nodachi kuning miliknya ketanah, bersamaan dengan munculnya banyak sekali jalur-jalur retak dan melebar disekitar dirinya.


Tak selesai sampai situ seluruh retakan itu tiba-tiba saja mengeluarkan gemuruh dengan suara yang luar biasa seakan bumi sedang mengamuk, mengguncang, dan menggoyangkan tubuh dari Pohon Drassilius.


BUM!!!!!!!


Dari celah jalur retakan itu mengeluarkan sinar-sinar yang berwarna kuning, bersamaan dengan semburan pasir keatas dan membentuk menyerupai sebuah dinding tipis sebagai pelindung.


'A-Apa yang sedang dilakukan Oliver?' Pikir Warlen yang masih kerepotan menggerakan badannya menghindari serangan demi serangan bilah angin pada saat itu.


'Sialan! Kenapa Red Diamond's Eyes ku tidak bekerja!?' Lanjut benak Warlen yang berusaha menghilangkan serangan beruntun seluruh bilah angin milik Rize didalam kubah itu.


"Hmh~" Goda Rize yang nampak baru saja menapakan kakinya tepat diatas gagang pedang besarnya, dia menyeringai dengan pipi merah merona bersamaan lidahnya yang menjulur keluar penuh hasrat.


"Surface Lord of Irema." Nodachi kuning Oliver sekali lagi membuat gemuruh seisi Pohon Drassilius, dirinya berkeinginan untuk menyelesaikan pertarungan ini secepatnya.


Nodachi biru ditangan kiri Oliver mengeras, menipis, dan menajam bagaikan sebuah mineral terbaik didunia yang digunakan sebagai bahan baku untuk membuat pedang.


Badannya membungkuk dengan tangan kiri yang menggenggam gagang pedang Nodachi Irema lurus kebelakang, mata tajam senjatanya menghadap keatas sekaligus terlihat ada getaran-getaran kuat seperti gelombang disekitarnya.


Bersamaan juga gagang pedang Nodachi Chaos miliknya yang menusuk tanah dengan mata tajam menghadap lurus kedepan, nampak digenggam secara terbalik menggunakan bagian bawah genggaman tangan kanannya seperti penopang tubuh.


Oliver mengeratkan rahangnya, mengambil nafas panjang yang terasa berat, matanya tajam memandang seluruh target serangannya, dan tekanan disekitarnya semakin berat serta menguat.


Bersamaan dengan Irema Nodachi-nya yang kemudian berayun dari belakang keatas lalu kedepan seperti lekungan jam 15.00 berbalik arah ke jam 09.00 .


Teknik serangan Oliver berlangsung sangat cepat, bahkan mata orang biasa tak mungkin dapat melihat kecepatan tebasan kedua senjata itu.


SRAT! Terdengar bunyi tebasan bersamaan dengan terbelahnya permukaan Pohon Drassilius yang memanjang sampai jauh, meninggalkan sebuah garis lurus ditubuh Rize dan senjata besarnya.


TRANG! Terdengar bunyi dari kedua pedang Nodachi Oliver yang bertemu satu sama lain menandakan bahwa serangan pamungkasnya telah usai dilakukan.


Seketika itu juga seluruh bilah angin dan kubah yang sebelumnya sudah mengurung mereka berdua menghilang bersamaan dengan selesainya serangan Oliver.


BRUK!! DUM!!! Suara dari tubuh Rize dan bagian pedang besarnya yang terbelah terjatuh menghantam permukaan Pohon Drassilius disertai dengan guncangan kuat.


Oliver nampak kelelahan setelah mengeluarkan teknik terkuatnya, dia tahu betul kakinya tak lagi kuat menahan beban tubuhnya, dan kini dia menancapkan pedangnya sebagai penopang agar badannya dapat berdiri tegak menatap musuhnya.


DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!


Telinganya mendengar ada seseorang berlari menghampirinya, dirinya menoleh kearah suara itu sambil melihat dengan mata buram yang kian mulai menutup kearah sahabatnya.


"OLIVER!" Teriak Warlen yang seketika itu juga langsung menopang tubuh sahabatnya sekaligus memeluknya agar tak terjatuh dengan perasaan penuh tanya.


...•••...


Dalam keadaan tak sadarkan diri Oliver sempat bermimpi tentang masa kecilnya, pada jaman dulu tepatnya berapa puluh tahun yang lalu di Benua Elzia.


Didalam Istana Kerajaan yang bernama Lionosia, nampak terlihat ada seorang wanita berambut hitam dengan mata merah menyala seperti ruby sedang duduk bersilang kaki diatas kursi tahta.


Wajahnya terlihat menawan mempesona, kulitnya putih bagaikan susu, bibirnya merah seperti bunga mawar, dan tubuhnya elok layaknya seorang wanita yang sempurna.

__ADS_1


Pakaiannya berwarna hitam panjang seperti dress anggun yang mewah bergaya bangsawan dengan riasan bulu burung-burung gagak berbaris rapi mempercantik lekuk tubuhnya.


Sebgaian dari pakaian itu nampak terbuka memperlihatkan sebagian tubuhnya yang menonjolkan kebanggaan dirinya sebagai wanita.


DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!


Nampak dari pintu masuk ruangan itu ada seorang prajurit iblis bertanduk dengan sayap kelalawar berlari tergesa-gesa sambil membawakan seorang bayi laki-laki.


"Yang Mulia Ratu! Maafkan kami, kami hanya berhasil menemukan anak ini. Dia berasal dari Desa Povun yang dua hari lalu dihancurkan Lucifer." Ucap Prajurit itu sambil berlutut sembari menyerahkan bayi itu kedepan dengan kedua tangannya.


Sepuluh tahun kemudian, nampak bayi laki-laki itu kini sudah beranjak dewasa dan sedang berjalan-jalan dilorong istana sambil perlahan memandangi halaman taman dari balik jendela kaca.


"Oliver kemarilah, dia adalah adikmu." Panggil lembut wanita cantik berambut hitam sambil menggendong seorang bayi yang ada diantara tangannya.


"Adikku?" Tanya Oliver yang berjinjit dengan perasaan bingung sambil berusaha untuk mengintip kearah wajah bayi itu dari jarak dekat.


"Namanya adalah Warlen Lilith Illusia." Ucap Amber dengan senyuman lembut yang membungkukkan badannya memperlihatkan Warlen kecilnya pada Oliver.


"Warlen, hmph!" Ceria Oliver dengan senyuman bahagia sambil mencubit pipi Warlen lembut karena gemas.


"H-Hei! Jangan kasar begitu! Adikmu menangis-kan?!" Omel Amber dengan wajah paniknya sambil menjewer-jewer kuping Oliver, diiringi oleh suara tangisan Warlen dilorong Istana itu.


...•••...


Sementara itu dimasa sekarang, nampak Warlen sedang memasang raut wajah waspada sambil memperhatikan sekelilingnya sembari mencari-cari keberadaan musuhnya.


Tepat sisebelah dirinya terlihat Oliver yang terbaring dengan posisi menghadap kesamping kanan tak sadarkan diri karena kelelahan.


Mata Warlen melihat kekiri dan kekanan, cengkraman tangannya seakan tak bergerak saat menggenggam Aqua Broadsword miliknya.


PLASH!!! PLASH!!! PLASH!!! PLASH!!! Tiba-tiba terdengar bunyi benturan pedang yang tiada henti bersamaan dengan ayunan super cepat Aqua Broadsword Warlen.


"Menarik kalian berdua menarik." Ucap Rize dari kejauhan dengan raut wajah marah dan bekas noda darah basah yang keluar dari mulutnya sampai dagu, bersamaan juga luka memar membiru bergaris lurus menyamping ditubuhnya.


"HAHAHAHA! Apakah kekuatan yang diwariskan Amber padamu hanya segini saja!?" Teriak dan tawa marah Rize yang menyeringai menatap kearah Warlen dengan mata terbuka lebar-lebar.


"Sudah lama sekali aku tak pernah terluka, sensasi ini.. luar biasa.. aaah~ Aku menginginkannya." Goda Rize sambil memeluk dirinya sendiri dengan pipi merah merona dan lidah yang menjilati darah didagunya, layaknya seorang wanita penuh hawa nafsu.


"Katakan.. Kenapa kau membunuh Altares." Tanya Warlen dengan perasaan penuh kebencian, tangannya mengepal kuat, matanya memandang dengan mengerikan bagaikan hewan buas, dan tekanan udara disekitarnya semakin terlihat berkecamuk.


"Aaaaah~ Tatapan itu.. tatapan itu.. membuatku semakin terangsang." Balas Rize dengan tatapan mata penuh hawa nafsu bersamaan juga dengan tubuhnya yang terasa memanas.


"CEPAT KATAKAN!" Bentak Warlen yang semakin geram melihat tingkah laku Rize, kepalan tangannya kini berdarah sebab kukunya sudah menembus kulit dan juga dagingnya.


"Karena sudah membuatku panas~ Kakak baik ini akan menghadiahimu jawabannya." Balas Rize yang kemudian membungkuk kedepan dan menjilat jari telunjuknya perlahan-lahan dengan penuh goda.


"Hm~ Hm~ Kakak tau apa yang kau pikirkan.. Bingo!!! Kau benar! Jasperlah pelakunya." Lanjut Rize sembari menarik tangannya ketas dan meregangkan tubuhnya seraya melompat dengan sengaja untuk menggoyangkan boing-nya.


"La Espada~ Gigante~ Del Vacío!!!!" Tiba-tiba saja Rize berteriak dengan nada yang menggoda sambil memandang Warlen tajam.


Kemudian tampil banyak sekali ruang-ruang hampa tepat dibelakang Cursed Hero itu, dan dari dalamnya muncul pedang-pedang super besar yang mencuat keluar.


"Serang mereka Balmung." Perintah Rize yang kemudian menunjuk kearah Warlen dan juga Oliver dengan mata merah menyala mengerikan.


...………………………………………...


LANJUT BAB SELANJUTNYA!!!

__ADS_1


__ADS_2