
...•Pagi Hari•...
...Kota Larden Bawah...
...[Kedai Makanan]...
Terlihat Garm, Freya, Audelia, Warlen dan Helena sedang duduk bersama disalah satu meja kedai makanan favorit Valkyrie.
Kami semua diam tanpa kata, sudah empat hari sejak pertempuran kami disana, namun duka kami atas kehilangan Valkyrie dan Miresk masih benar-benar menyayat hati kami.
Aku bisa melihat Freya yang selalu diam tanpa kata, selama empat hari ini, dia hanya memesan Parfait Buah Beri dan segelas Bir kesukaan Valkyrie selama dia masih hidup.
qaaaAudelia juga sama, dia hanya memesan secangkir teh sambil membaca buku milik Miresk yang diambil sebelum pemakamannya tiga hari yang lalu bersamaan dengan Valkyrie, judul buku itu bertuliskan Holy War.
Helena dan Garm selalu mencoba untuk mencairkan suasana, namun mereka selalu gagal, sedangkan aku sendiri, aku mendapati diriku yang sudah mengingat seluruh perjalanan hidupku di Benua Elzia ini.
Jasper yang juga adalah ayahku menyegel ingatanku dan sampai saat ini aku tak mengerti apa alasannya, aku sudah mengunjungi tempat Altares beberapa kali, namun aku tak bisa melihat dirinya lagi seakan menghilang.
Akan tetapi pemandangan di Reruntuhan itu sama sekali menjelaskan kalau ada pertempuran yang dahsyat telah terjadi disana sesaat setelah aku meninggalkannya untuk menyelamatkan rekan-rekanku, aku tak tau siapa yang Altares lawan, hanya saja aku berharap dia masih hidup.
Tak lama berselang Penduduk Kota Larden dihebohkan oleh seorang pria yang sangat mirip dengan Garm, aku melihat pakaiannya seperti seorang Tentara Kerajaan, sambil membawa dua Katana, yang satu cukup panjang dan yang satu cukup kecil.
......Pict From Google......
Aku melihatnya mendekati kami, dan tentu saja kami semua terkejut setelah Garm memanggil pria itu dengan sebutan Kakak, Pria ini-pun memperkenalkan dirinya dengan nama Maurer Garm Efriot.
Dia mengaku sebagai seorang Jendral dari Kerajaan Grizel, sebuah Kerajaan yang terletak di Selatan Benua Elzia, kerajaan yang didirikan oleh Linnete Grizel Eirini seorang Pahlawan ke 5 dan juga seorang Perempuan.
"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Garm sambil menatapnya
"Tidak.. aku mendengar berita tentang Kerajaan Duskford hancur sebulan yang lalu, kemudian aku mendengar tentang identitasmu yang diketahui oleh Kerajaan Zealos, bagaimana aku tidak khawatir." ucap Maurer sambil mengelus kepala Garm.
"Dan apakah kau Pahlawan ke10 yang dirumorkan itu?" Tanya Maurer padaku.
Akupun mengangguk dan berkata "ya.."
Secara tiba-tiba dia menodongkan Katana-nya kearah leherku dengan sangat cepat. Syut! bunyi dari katananya yang hampir menusuk leherku.
Seketika semua teman-temanku yang menyaksikan itu langsung bereaksi dan mengeluarkan senjata mereka.
"Kau lemah.." ucap Maurer sambil menatapku tajam.
"Kakak!! Apa yang kau lakukan!?" ucap Garm sambil menarik-narik Maurer.
"Tidak akan....."
.
"TIDAK AKAN KUSERAHKAN..."
.
"ADIKKU PADAMU!!!!" Teriak Maurer sambil menatapku tajam.
Terlihat seluruh temanku serta diriku terkejut kebingungan saat dia mengucapkan hal itu padaku, dan wajah Garm mulai memerah saat Maurer berkata seperti itu.
Akupun menatapnya sambil kehilangan rasa kagumku padanya, 'Padahal kukira dia sangat berwibawa..... Siscom' Meh~ ....
Kemudian Kami semua pun menjelaskan keadaan kami padanya.
Beberapa saat setelahnya. . .
Terlihat dia juga sudah duduk bersama kami disini, dan kenapa juga dia harus bersebelahan denganku....
"AHAHAHAHA! BEGITU YA! AHAAHAHA!" ucap Maurer sambil menepuk punggungku dengan sangat keras. Plak! Plak! Plak! suara dari tepukan tangan Maurer, disini terlihat Warlen hanya ikut tertawa bersama dengan Maurer sambil menahan rasa sakitnya.
"Baiklah... aku akan bertanya ke intinya, seberapa kuat kau Tuan Pahlawan" tanya Maurer padaku.
"Kami semua kalah dari Jorgan..." ucapku padanya.
"Dia adalah Pahlawan Terkuat diantara Pahlawan yang ada, tentu saja kalian kalah" jawab Maurer sambil menjentikkan jarinya.
Kami semua terdiam setelah mendengar kenyataan itu.
"Kalian benar-benar kelompok yang buruk, bagaimana kalian bisa mengalahkan Lucifer bila seperti ini??" ucap Maurer sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau SIALAN!!!" ucap Audelia yang terbakar amarahnya kemudian menyerang Maurer dengan rapiernya. Syut! bunyi dari sabetan yang dilancarkan Audelia kearah Maurer, tapi Tep! Maurer menangkap ujung pedang dari Audelia hanya dengan kedua jarinya saja.
"Sebaiknya kau menjaga sopan santunmu, cebol.." ucap Maurer sambil memperhatikan Audelia.
Audelia yang mendengarnya pun semakin kesal dan mulai menarik lengan bajunya kemudian menginjak meja makan dengan satu kakinya lalu berteriak "KAU MAU BERKELAHI YA!!!"
Terlihat Helena dan Freya yang berada disampingnya menarik-narik Audelia agar tidak meninju wajah Maurer.
"Serasi sekali, wanita bar-bar dan wanita plin-plan saling bekerja sama untuk menenangkan wanita cebol. HAHAHAHAHA!" ucap Maurer sambil menunjuk Freya dan Helena.
^^^Bar-Bar \= Freya | Plin-Plan \= Helena^^^
"BRENGSEK!!!" ucap ketiga wanita itu bersamaan sambil menginjak meja makan.
"BIARKAN AKU MENGHAJAR KAKAKMU GARM!" teriak Audelia pada Garm.
"SIAPA YANG KAU SEBUT CEWEK BARBAR HAH!? GARM MAAFKAN AKU!" teriak Freya pada Garm.
__ADS_1
"Maaf Garm, rasanya aku ingin mencekik leher kakakmu." ucap Helena pada Garm.
Aku dan Garm hanya diam melihat Maurer menggoda mereka.
Kemudian mereka bertiga-pun meminju Maurer secara bersamaan, namun ternyata Maurer sudah berada dibelakang mereka dan mendorong mereka hingga terjatuh kearahku dan Garm. Gubrak! bunyi dari jatuhnya mereka bertiga.
"Berat.. KALIAN BERAT SEKALI!!!" teriakku pada mereka, tentu saja mereka semua menindihku termasuk Garm.
Mendengarku berkata seperti itu mereka semua malah melihatku dengan tatapan mengerikan dan malah menghajarku.
"Kenapa AKU!!??" Teriakku pada saat itu.
Terlihat Warlen dihajar habis-habisan karena perkataan BERAT.
^^^Ingat ya.. kata paling tabu buat cewek adalah kata BERAT BADAN.^^^
"AHAAHAHAHAHAHA!" Maurer yang tertawa melihat-ku dihajar oleh mereka.
Beberapa saat kemudian. . .
Situasipun kembali normal, namun hanya Warlen yang wajahnya gak normal.
Mereka semuapun duduk kembali dengan damai, namun dari tatapan mereka bertiga (Audelia,Helena, dan Freya), rasanya mereka sangat ingin meninju wajah Maurer.
'Kenapa aku yang dihajar, MAURER BRENGSEK!' ucapku dalam hati menatap Mauler yang terus saja tersenyum.
"Sudah-sudah" ucap Garm berusaha menenangkan mereka bertiga.
"Ti-" baru saja aku ingin berkata-kata, mereka berempat malah menatapku dengan tatapan mengerikan, 'Kenapa aku.......' batinku menangis.
"Baiklah!! Gadis-Gadis, sepertinya semangat kalian sudah kembali, dan aku punya solusi untuk kalian semua!" ucap Maurer dengan gaya yang glamour, seperti cowok-cowok Playboy.
"Entah kenapa aku sangat ingin meninjunya..." ucap Freya, kemudian Helena dan Audelia pun mengangguk.
"Dengar! Plin-Plan dan Cebol, kalian berdua pergilah ke Kota Taris yang ada di Timur Laut, disana ada seorang temanku yang bernama Yun-Yun, seorang monster dwarf yang juga seorang pandai besi paling terkenal di Benua Elzia, mintalah padanya untuk membuatkan kalian Senjata Suci yang sempurna" ucap Maurer sambil menunjuk mereka dengan gaya glamournya.
"APA!? YUN-YUN! JADI DIA BENAR-BENAR ADA!!" Ucap Audelia dan Helena yang terkejut mendengar nama itu.
"Memangnya siapa yang menciptakan Senjata Suci itu??" Tanya Maurer sambil memperhatikan mereka berdua.
"Kau Cewek Bar-Bar..." ucap Maurer sambil menunjuk Freya.
"Apa!?" Jawab Freya ketus.
"Pergilah ke Goddess Temple yang berada di Timur Tenggara, berlatihlah disana... aku yakin pasti kau akan mendapatkan sesuatu setelah dari sana, itupun jika kau beruntung." ucap Maurer sambil meminum kopi miliknya.
"Kau menyuruhku untuk bunuh diri!?" Tanya Freya yang kesal mendengar perkataan Maurer.
"KAKAK! KAU KETERLALUAN!" Teriak Garm pada Maurer.
"Goddess Temple adalah tempat bagi para orang biasa yang ingin mendapat kekuatan dahsyat setara Pahlawan, namun jika mereka tidak layak, maka mereka akan langsung mati setelah mendapatkan kekuatan mereka, dan sampai saat ini tidak ada yang pernah berhasil untuk mendapatkannya" ucap Helena sambil menjelaskan hal itu pada kami.
"Apa!? AKU TIDAK PERNAH TAU ADA HAL SEPERTI ITU!?" Teriakku pada Helena sambil kebingungan mendengar penjelasannya.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana kuil itu ada, namun kuil itu sudah ada sebelum Pahlawan Jorgan lahir ke Benua Elzia, akan tetapi rumor yang beredar disana ada beberapa penjaga yang sangat kuat, kau harus mengalahkan mereka semua jika ingin mendapatkan kekuatan Dewa." ucap Audelia sambil memperhatikan Freya.
'Kenapa Michael tidak pernah memberitahukannya padaku!?' tanya batinku sambil melihat Freya cemas.
"Tidak.. kau salah, Ada seseorang yang berhasil melewati itu semua, Jorgan Vinziala Eirini, itu terjadi sudah lama sekali, dari rumor yang beredar Jorgan membawa salah satu Malaikat Surga ke Benua Elzia, namun saat peperangan yang terjadi ratusan tahun lalu, dia malah memindahkan kekuatan Dewa Perang kedalam tubuh istrinya Althea Vinziala." Jelas Maurer kepada kami.
"Tidak mungkin, sebenarnya sekuat apa dirinya!?" tanyaku dengan rasa terkejut bercampur rasa tidak percaya diri.
"Akupun tidak tau, mungkin lebih kuat dari Lucifer... Akan tetapi karena alasan tertentu dia membelot kearah Lucifer dan menjadi seorang Cursed Hero" Jelas Maurer.
"OMONG KOSONG! KAKEKKU SUDAH MATI RATUSAN TAHUN YANG LALU! TIDAK MUNGKIN DIA MASIH HIDUP!!" Teriak Freya yang menarik kerah baju Maurer.
"Ooh.. apakah kau sudah melihat minyak di Monumen Patung Pahlawan Kerajaan Duskford itu terbakar?" tanya Maurer sambil menatap Freya tajam.
Kondisi semakin panas, namun Freya melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Maurer dan duduk kembali.
Terlihat teriakan Freya menarik perhatian Penduduk Kota Larden, sampai akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat ke Kamar Freya, dalam perjalanan Freya terlihat diam saja dan sangat terpukul.
......Didalam Kamar Freya......
Terlihat Freya masih termenung disebelahnya ada Audelia yang terdiam, mereka duduk di ranjang Freya, Helena yang masih terlejut dan Garm disampingnya, mereka berdua duduk diranjang milik Helena. (Sebelumnya milik Valkyrie). Aku dan Maurer duduk didekat Pintu, menggunakan kursi mewah milik Freya.
"Jelaskan padaku.." ucap Freya sambil termenung.
"Monumen Patung itu dibuat oleh Hephaestus seorang Dewa yang juga seorang pandai besi" Jelas Maurer pada Freya.
"Apa hubungannya dengan ini semua.." ucap Helena sambil menatap tajam Maurer.
"Dewa-Dewi dan Malaikat bekerja sama untuk menyingkirkan Lucifer." ucap Maurer sambil menatap lampu minyak dilangit-langit.
"Apa maksudmu Maurer?" tanyaku padanya sambil menatap tajam matanya.
"Tidak.... Tidak ada, aku hanya bergurau saja, Hahahahaha!" jawab Maurer pada kami kemudian dia tertawa seakan meminta kami untuk melupakan perkataannya.
"Pahlawan didunia ini ada dua jenis, Pahlawan yang menggunakan kekuatan Malaikat, dan Pahlawan yang menggunakan kekuatan Dewa" jelas Maurer pada kami.
"Kalau tidak salah.. nama Malaikat Agung yang menjalin kontrak dengan dirimu adalah Valkyrie bukan?" tanya Maurer pada Freya.
"Ya, seperti yang kubilang tadi... aku tidak tau mengapa aku masih bisa menggunakan kekuatannya" jawab Freya pada Maurer.
"Kakak.." ucap Garm seakan tidak ingin membahas Valkyrie dihadapan kami.
__ADS_1
Maurer-pun mengangkat tangannya kearah Garm dengan Getsure It's Okay Sign, seakan-akan Maurer mengerti maksudnya.
"Pergilah ke Goddess Temple, mungkin kau bisa bertemu dengan Valkyrie, pada dasarnya dia adalah Seorang Dewi dan bukan seorang Malaikat." Jelas Maurer pada kami.
Penjelasan itu membuat kami semua terkejut, aku sendiripun tidak mengerti kenapa orang ini benar-benar mengetahui segala hal yang tidak kami ketahui.
"Dari mana kau mendapat semua informasi ini, Maurer..." tanyaku padanya sambil menatap tajam dirinya.
"Tenanglah kawan, aku punya kenalan seseorang yang sangat baik pada kalian, hm... Archangel Michael" ucap Maurer sambil menatapku dan tersenyum mengejek.
"BRENGSEK! KAU MEMPERMAINKANKU!" Teriakku yang tak percaya pada perkataanya.
"Tenanglah... Aku sudah berumur lebih dari 800 Tahun sebelum Perang Suci atau Holy War pecah di benua ini, tentu saja aku mengenal dirinya." Jelas Maurer sambil menatapku.
"Holy War?" Tanya Audelia pada Maurer sambil memperlihatkan buku milik Miresk yang ada padanya.
"WAH! Ini adalah buku yang sangat langka! didalamnya terdapat seluruh catatan rahasia Benua Elzia, bahkan penjelasan tentang inti sihir juga element seharusnya ada didalam buku ini" jelas Maurer setelah melihat buku ini.
"Tidak... ada banyak sekali lembar yang sobek seperti dirobek oleh seseorang" ucap Audelia sambil memperlihatkan lembaran yang sobek pada buku itu.
"Hm... sepertinya penulis buku ini tidak ingin orang-orang Benua Elzia mengetahui kebenaran." Jawab Maurer sambil memperhatikan lembaran yang sobek itu.
"Yah.. kalau begitu segala sesuatu yang ada di Benua Elzia ini hanyalah asumsi dari orang-orang yang ada di Benua Elzia ini, seperti Inti Sihir dan Element, juga yang lainnya" ucap Maurer sambil berdiri dari kursinya.
"Omong-omong dari mana kau mendapatkan buku ini?" tanya Maurer sambil melihat Audelia.
"Sahabatku Miresk menemukan buku ini di Reruntuhan Valhalla dalam perjalanannya untuk menjadi seorang Arch Bishop, beberapa waktu lalu" jelas Audelia.
"Hm... okay, aku tidak akan bertanya lebih jauh tentang hal itu, sekarang putuskan apa yang akan kalian lakukan, diam ditempat atau bertambah kuat?" Tanya Maurer kepada kami.
"Aku terima saranmu." ucap Helena sambil melihat telapak tangannya.
"Aku tidak ingin menyianyiakan nyawa Miresk, oleh karen itu aku juga akan terima saranmu." Jawab Audelia sambil menggenggam rapier miliknya.
Terlihat hanya Freya yang diam setelah mendengar penjelasan Maurer, kemudian dia bertanya "Apakah aku benar-benar bisa bertemu dengan Valkyrie?" tanya Freya sambil menatap Maurer tajam.
Maurer-pun menjawab pertanyaan Freya dengan senyuman sambil berkata "Jika kau berpegang teguh pada pendirianmu aku yakin kau bisa bertemu dengan dirinya lagi" Jawabnya.
Freya-pun mengangguk dan mengerti maksud dari Maurer, pada akhirnya kami semua sepakat untuk berpencar kejalan kami masing-masing dan bertambah kuat sampai nanti kami bertemu lagi.
Aku lega melihat teman-temanku sudah semangat lagi, tapi ada yang mengganggu pikiranku, sambil melihat kearah Garm.
"Garm.... em... begini... sebenarnya berapa umurmu?" tanyaku pada Garm dengan grogi.
Terlihat Garm hanya diam saja mendengar pertanyaan itu, dan menatapku dengan tatapan kesal, entah kenapa Trio BarPlinBol ini juga melihatku dengan tatapan kesal.
"AH! Kalau tidak salah Garm berumur 5-" belum selesai Maurer berbicara, BUAGH! Pukulan tinju dari Garm melayang ke arah wajahnya.
Entah kenapa banyak sekali kata-kata tabu untuk seorang wanita, 'Aku akan lebih berhati-hati' kata batinku sambil menelan ludah dan menutup mulutku, berharap aku tidak dihajar oleh mereka.
Kemudian. . .
"Seperti apa hubunganmu dengan Archangel Michael?" tanyaku pada Mauler.
"Yah.. cukup rumit, singkatnya dia sudah seperti ayah angkatku" jawab Maurer pada kami.
"Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal itu lebih jauh lagi.. hanya saja...." ucapku yang masih curiga dengan perkataannya tentang Dewa-Dewi dan Malaikat yang bekerja sama.
"Hanya saja??" Tanya Maurer sambil melihatku curiga, dia menatapku seakan aku tidak boleh mengetahuinya.
'Aaaah... aku mengerti...' tatapku melihatnya dingin, "Tidak-tidak apa apa... omong-omong bagaimana denganku?" tanyaku pada Maurer.
"Kau dan Dielnor (Garm) harus ikut denganku ke Grizel, aku akan mengajarimu banyak hal dan kau harus menjadi pria yang kuat untuk menikahi adikku!" Jawab Maurer sambil menunjukku dengan jari telunjuknya kemudian melangkah keluar kamar, Krieet! Jeglek! bunyi pintu kamar yang terbuka dan tertutup.
Nampak kami semua yang berada didalam Kamar Freya ricuh dengan apa yang dikatakan oleh Maurer, Freya menghajarku sambil berkata "Laki-Laki Brengsek" , Helena menghajarku sambil berkata "Kau pengkhianat", Audelia malah ikut menghajarku sambil berkata "Aku masih tidak lupa dengan kata BERAT yang kau katakan" dan Garm malah mengompori mereka dengan berkata "Aku baik-baik saja jika itu dirimu".
'Kenapa harus aku, PRIA BRENGSEK!' ucapku dalam hati kemudian aku berkata "Tolong aku...."
......Diluar Kamar......
Nampak Maurer sedang berbicara dalam hatinya, 'Michael, kenapa kau baru menghubungiku sekarang setelah ratusan tahun lamanya?'
'Maafkan aku, Maurer, hanya saja ini saat yang tepat untuk meminta pertolonganmu' balas Michael dalam batin Maurer.
'Jadi menurutmu dia adalah Pahlawan yang menarik?' tanya Maurer dalam batinnya sambil tersenyum.
'Bisa dibilang seperti itu, hahahaha' balas Michael dalam batin Maurer.
'Setidaknya aku sudah bisa membayar hutang budiku padamu...' jawab Maurer.
'Yah, sihir yang kutanamkan padamu ratusan tahun yang lalu itu-' belum sempat Michael menyelesaikan kalimatnya, Maurer memotong perkataan Michael 'Sudahlah.. lagipula jika waktu itu dirimu tidak ada, mungkin saja aku sudah mati, Terima Kasih.. aku senang bisa mendengar suaramu lagi.. Ayah' jawab Maurer sambil meneteskan air mata.
'Ahahaha, sepertinya sihirnya akan habis, aku senang kau baik-baik saja MaurEL' Jawab michael kemudian sihirnya pun menghilang.
Terlihat Maurer masih meneteskan air matanya sambil berkata "Sudah kubilang namaku Maurer bukan MaurEL, ayah angkat bodoh"
^^^Kata EL adalah singkatan dari Elohim atau Allah Yang Kuat, Allah Yang Berkuasa.^^^
______________________________________________
BAB VIII PART 2: THE PAST
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
__ADS_1
Terima Kasih