
...The Royal Palace of Elzia Empress...
...Pict From Pinterest...
Disuatu pagi, didalam salah satu tempat istana langit nan megah. Banyak sekali burung-burung yang berterbangan dilangit biru, matahari pagi yang menyegarkan tubuh sekaligus hembusan angin hangat mulai meniup kulit.
Dapat dilihat dipertengahan jalan itu, ada beberapa orang yang saat ini baru saja tiba ditengah-tengahnya. Mata mereka sangat dimanjakan oleh kemegahan tempat ini, seakan tak percaya akan ada tempat yang lebih luas dibandingkan sebuah kerajaan.
"Tempatnya luas juga." Terdengar ucapan seorang pria dengan rambut coklat kehitaman dengan nada yang murung. Dia memiliki mata berwarna merah ruby dan mengenakan baju zirah hitam, serta menggenggam sebuah sabit besar hitam datangannya. Dia sedang melihat sekitarnya, ia sungguh takjub dengan keindahan yang memanjakan matanya ini.
"Wajahmu dan kata-katamu benar-benar berbeda ya.. Untung saja jendral masa lalu kenalanmu itu membantu kita. Omong-omong, mana si gadis erotis?" Sahut seorang wanita berambut hitam ponytail, dengan bola mata seperti warna semangka. Dia mengenakan pakaian hitam ala pelayan, dan juga menggenggam sebuah busur yang terbentuk dari es. Dia saat ini sedang melihat kiri dan kekanan dengan wajah yang panik, mencari salah satu rekannya.
"Aku juga tak tau, kurasa dia salah masuk portal. Lagipula si tukang sarkas pirang dan si wanita tanpa semangat itu bersamanya." Balas seorang wanita berambut hitam yang lainnya, ia mengenakan penutup mata berwarna merah disebelah kiri matanya. Wanita ini juga memakai dua buah pin rambut berwarna emas, dan menggunakan pakaian yang serba merah. Dia mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya, seraya membalas perkataan wanita semangka itu.
"Release." Ucap pria berambut coklat itu, kemudian dapat terlihat senjata sabit hitam yang digenggam tangannya. Mulai bersinar menjadi warna merah terang yang lalu dari sinar itu membentuk rupa seseorang, dan memunculkan seorang gadis cantik berambut hitam twintails, gadis itu juga memiliki dua buah tanduk kecil berwarna merah dikepalanya.
"Kakak!! Kenapa sih!? Kok aku sama sekali tidak pernah dipuji!? Padahal aku sudah berubah menjadi dewasa!" Ucap marah gadis kecil ini seraya menatap sebal dan berpose kesal imut kearah pria rambut coklat yang berada dihadapannya. Dia merasa dirinya tak pernah dipuji disepanjang perjalanan mereka, padahal sudah dua tahun lamanya.
"....." Nampak sekali kakak laki-laki dari gadis kecil itu hanya membalas dengan tatapan kosong. 'Memang apa yang berubah dari dirimu?' Ucap benak pria itu seraya bertolak pinggang dan menatap heran kearah adiknya.
"Pegang tanganku." Balas pria itu yang kemudian menjulurkan salah satu tangannya kearah adiknya.
Nampak ketiga wanita berambut hitam itu langsung menyambar uluran tangan dan menatap si pria. Mereka menatapnya dengan mata yang berbinar-binar, seakan-akan ingin minta dipuji.
'Kenapa jadi begini.......' Ucap benak pria itu seraya menatap ketiga wanita yang saat ini sedang membalas tatapannya dengan mata penuh harapan dan raut wajah memohon.
Sontak saja pria itu melepaskan genggaman mereka seraya berbalik badan dan berjalan secara perlahan. Nampak ketiga wanita itu hanya menatap punggung dari si pria dengan perasaan terkejut dan sedih.
Namun ternyata pria itu sedang merangkai kata-kata didalam kepalanya, dan kemudian ia berbalik memandang ketiga wanita itu.
"Garm, kau cantik apa adanya. Aku tak pernah melihat ada wanita yang memiliki mata secantik dirimu, caramu berjalan, caramu berbicara, dan caramu bersikap. Walaupun kau itu terkadang nakal, akan tetapi aku benar-benar menyukainya." Ucap pria itu seraya menatap kearah wanita berambut hitam ponytail dengan senyuman.
"Nerine, aku sudah mengenal dirimu sejak dulu, mungkin ada beberapa hal yang masih belum kuingat. Aku juga tidak tau harus memulai dari mana, akan tetapi ada dua hal yang tak akan pernah bisa kulupakan. Kecantikan rambut hitammu dan juga senyum indahmu saat bahagia." Puji pria itu seraya menatap kearah wanita yang mengenakan dua pin rambut emas dan pakaian serba merah.
"Zarin, aku minta maaf jika sudah menjadi kakak yang tak baik. Hanya saja ketika aku melihat kearah adikku, mataku tak pernah bisa berpaling dari wajahmu yang lucu itu. Aku tak bisa memendam perasaan ini, mungkin diriku akan terdengar menjijikan. Tapi aku selalu melihatmu sebagai seorang gadis cantik, dan menganggapmu sebagai seorang wanita." Puji pria itu seraya menatap kearah gadis kecil bertanduk merah itu dengan tatapan yang lembut dan senyuman.
Seusai pria itu memuji mereka dengan serangkaian kata-kata indah, dia kembali berbalik badan lagi dan berjalan pergi sambil berharap kalau kata-kata itu akan membuat mereka senang.
'Kuharap mereka senang, lagipula itu memang perasaanku sebenarnya. Kecuali perasaanku tentang adikku, aku selalu menganggapnya sebagai adik.' Pikir pria itu seraya berjalan pergi kearah bangunan besar ditengah-tengah istana itu.
Nampak sekali Garm, Nerine, dan Zarin hanya menatap punggung pria itu dengan senyum bahagia. Mereka semua berlari kearah pria itu, melompat dan memeluknya sambil mengatakan hal yang sama.
"AKU MENCINTAIMU WARLEN!!!"
"AKU MENCINTAIMU KAKAK!!!"
...•••...
Sementara itu ditempat tertinggi bangunan istana, nampak seorang wanita cantik berambut hitam bertudung dan bertanduk sedang berediri mengintip kearah mereka berempat dibalik jendela kaca.
Tepat didalam ruangannya berdiri, terlihat juga ada tiga orang wanita lainnya yang berambut biru laut memakai kimono, berambut pirang ponytail memakai selendang merah, dan wanita berambut hitam ponytail memakai pakaian ala pemanah jepang.
Ketiga wanita itu nampaknya sedang bersantai minum teh ditemani oleh seorang wanita lain yang berambut oranye kemerahan dan mengenakan pakaian yang serba merah.
"A-A-Apakah ini tidak apa-apa? Nona kaisar Gremory Elzia." Tanya Wanita berambut biru itu dengan wajah yang gugup.
Dia takut, sebab sebelumnya mereka bertiga masuk kedalam portal yang kemudian mereka turun dari atas langit langsung menuju kearah tahta sang kaisar.
Menyebabkan atap dari tahta kekaisaran itu bolong karena sihir milik wanita berambut hitam ponytail, yang pada saat itu menahan tubuh mereka bertiga agar tak menghantam daratan dengan keras.
"Tak apa, beristirahatlah dulu. Besok kalian harus memperbaiki langit-langit tahtaku." Balas Kaisar Gremory padanya sambil menatap kearah wanita berambut hitam ponytail yang memakai pakaian pemanah.
Tak disangka-sangka hal konyol malah terjadi, terlihat kedua wanita bergaya ponytail dengan rambut hitam dan pirang berdiri lalu bersujud sempurna kearah Kaisar Gremory.
"Saya... minta... maaf..." Ucap wanita berambut hitam ponytail itu dengan nada yang lemah lembut. Dia merasa bersalah atas kerusakan yang telah disebabkannya. Wanita ini tidak menunjukkan ekspresi apapun, seakan tak terjadi apa apa.
"Maafkan saya." Ucap wanita berambut pirang ponytail, ia merasa bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuatnya. Walaupun wajahnya sekarang berkeringat dingin, ia tetap bersujud dengan sungguh-sungguh.
Tak lama kemudian, wanita berambut biru juga ikut bersujud bersama mereka berdua. Dia merasa dirinyalah yang paling bersalah, dikarenakan dia yang menarik mereka menuju portal yang berbeda dari Warlen dan kawan-kawan.
"Kalian benar-benar lucu yah.." Cetus seorang wanita berambut hitam yang memakai tudung itu sambil tersenyum kecil melihat kearah ketiga wanita itu.
"Sudahlah kalian ini, aku hanya bercanda. Lagipula aku tak akan benar-benar menyuruh kalian, bukan begitu Amber?" Sahut wanita berambut kuning itu seraya menatap kearah temannya dengan senyum menggoda.
__ADS_1
...Empress Gremory Elzia...
...Pict From Pinterest...
...____________________________________...
...Amber Lilith Eirini...
...Pict From Pinterest...
...Art By : Sa Yuki...
..._____________________________________...
"Yaaaah.. Mungkin saja benar atau mungkin saja tidak? Hahahaha~" Balas Amber dengan santainya yang berjalan pergi meninggalkan mereka, ia berencana untuk menemui kedua anaknya, Warlen dan Zarin.
Tak lama setelah Amber pergi, Kaisar Gremory akhirnya memerintahkan ketiga wanita itu untuk membersihkan seluruh ruangannya, dan tentu saja ketiganya terpaksa mengangguk.
"Kalian bertiga.. Jangan sampai ada debu sedikitpun yang menempel ruanganku, kalian mengerti!? Satu lagi, pakailah baju pelayan yang ada di istana ini." Perintah Gremory yang bertolak pinggang pada mereka seraya menunjuk kearah lemari disebelahnya, dan kemudian berjalan pergi menyusul Amber.
...•••...
Beberapa bulan sebelumnya, kelompok Warlen yang berjumlah delapan orang termasuk dirinya sendiri, dilatih oleh Hans De Brofed yang juga seorang jendral masa lalu. Dia adalah orang terkuat di Benua Elzia setelah Jorgan Vinziala Eirini, dan saat ini dia selalu menggunakan sisa kekuatan uniknya untuk memperpanjang umurnya.
Reverse Age
Kekuatan unik milik Hans De Brofed, dia menukar inti sihirnya dengan umurnya selama ratusan tahun. Dikatakan umurnya akan habis dibulan ini, dan dia akan beristirahat dengan tenang di tempat tinggalnya Reruntuhan Valhalla.
Mereka semua diantarkan oleh Hans De Brofed menuju ke istana awan seusai menjalani ujian mereka di Heaven's Temple. Akan tetapi dikarenakan Garm, Warlen, dan Nerine sudah memiliki Guardian. Ujian itu hanya diambil oleh Gerina, Mopelina, dan Jevanna.
Heaven's Temple
Kuil surga atau disebut sebagai Heaven's Temple, adalah tempat bagi seseorang untuk mendapatkan malaikat pelindung.
Sama seperti Freya Duskford Eirini yang pernah menjalani ujian berat di Goddess Temple pada saat mendapatkan Valkyrie Freyja yang sekarang menjadi Guardian-nya.
Akan tetapi yang berbeda hanyalah jenis guardiannya, Goddess Temple memberikan guardian dewa-dewi, Heaven's Temple memberikan guardian malaikat.
...•••...
...Pict From Pinterest...
Sementara itu, nampaknya kelompok Warlen yang berisikan Nerine, Garm, dan Zarin sudah sampai dibagian terdalam istana langit itu.
Tempatnya megah tak ada satupun penjaga, suara langkah kaki terdengar menggema saat berjalan didalamnya.
Warlen takjub melihat sekelilingnya, namun didalam lubuk hatinya, dirinya selalu mempersiapkan diri untuk bertemu ibunya dan takdir yang sudah menunggunya didepan mata.
"Kakak... kenapa melamun?" Tanya Zarin yang sedikit cemas menatap kearah kakaknya seraya melihat kearah tahta kerajaan megah itu.
"Tak ada apa-apa.. Apakah kau siap?" Balas Kakaknya menyadari kalau takdir dirinya akan ditentukan dari sini. Dia tau kalau sekarang adalah sebuah awal dari kebenaran yang sudah ia cari selama ini.
Adiknya hanya mengangguk bermaksud sudah siap kearah kakaknya, disamping gadis kecil itu terlihat Nerine dan Garm sedang melihat kebingungan keatas langit-langit dari tahta itu yang bolong.
"Hei.. Nerine. Kuharap kau tidak berpikiran yang sama denganku." Cetus Garm yang panik dan kebingungan seraya melihat kearah bolongan itu. Dia memikirkan ketiga nama wanita yang saat ini tak bersama dengan mereka.
"Seharusnya aku yang bilang begitu." Balas Nerine yang saat ini menelan ludah ketika melihat kearah bolonyan itu. Mata mereka berdua saat ini mematung panik, keduanya tak tau apa yang sedang terjadi pada rekan mereka.
Tak lama kemudian terlihat ukiran dibatu yang melengkung itu mulai menyala layaknya kobaran api, seisi ruangan yang sebelumnya hangat tiba-tiba menjadi panas.
Lalu ditengah-tengah kursi tahta itu turun sebuah bola api besar yang turun dari langit, membuat ketiga wanita itu dan Warlen terpaksa menggunkan kekuatan mereka untuk melindungi diri.
Seiring waktu dapat dilihat bola api itu mulai membentuk tubuh seorang wanita cantik, pipinya bertato, rambutnya oranye bagaikan api, bajunya merah seperti darah dan hawa disekitar dirinya bersuhu tinggi, bahkan bisa memerahkan sebuah besi jika hanya terkena udaranya.
'Jadi dia.. Kaisar Gremory Elzia.' Ucap benak Warlen seraya menahan tekanan suhu udara yang semakin meningkat, bayangan kobaran api dimatanya dan wajahnya nampak sangat terlihat jelas. Dia menatap kearah Sang Kaisar Api Benua Elzia.
...Empress Gremory Elzia...
__ADS_1
...Pict From Pinterest...
...•••...
"Gremory, sudah kukatakan jangan kasar pada mereka." Sahut suara dari seorang wanita yang terdengar didalam ruangan itu, dan kemudian mendadak muncul banyak sekali bayangan merah terang disamping kaisar itu.
Dari bayangan itu mulai membentuk tubuh seorang wanita cantik lainnya yang menepuk pundak dari Gremory. Wanita itu memiliki rambut yang berwarna hitam, mata merah ruby menyala, serta pakaian yang serba hitam.
"Aku hanya ingin memamerkan kekuatanku. Jangan suka menggangguku, Amber." Balas Gremory seraya menoleh dan melirik kearah wanita itu dengan jengkel.
Dapat dilihat kedua kakak beradik itu mulai tertegun menatap kehadiran sang ibunda yang sudah lama tak mereka lihat.
Air mata yang mulai membasahi pipi dari gadis kecil itu mengalir deras, jantungnya berdegup-degup dengan cepat, dan ia mengepal tangannya erat-erat.
"IBUUUUU!!!!!!" Terdengar teriakan rindu dari seorang gadis kecil yang selama ini sudah terpisah dari orang tuanya. Seiring dengan langkah kaki gadis kecil itu yang kian mencepat, dapat dilihat kobaran api yang membara itu mulai menghilang diudara.
Gadis kecil itu melompat, memeluk dan menggenggam erat wanita disebelah kaisar itu, dirinya tak dapat berucap, matanya terpejam, suara tangisannya seakan mengungkapkan perasaannya yang sangat merindukan sosok ibunya.
Tentu saja hal itu disaksikan oleh Warlen yang saat ini sedang kebingungan, ia merasa tak pernah mengenal sosok ibunya dan tak bisa berekspresi apapun.
Akan tetapi dirinya merasa tak asing dengan pandangan mata dan suara lembut keibuan yang ia rasakan.
Nerine dan Garm sekarang sedang menepuk pundak dari Warlen, kedua gadis itu berusaha untuk menenangkan hati dari pria yang sedang gundah itu.
...•••...
...Empress Bedroom...
...Pict From Pinterest...
Sementara itu ditempat lain, didalam ruangan kamar Kaisar Gremory Elzia, Istana Langit.
Dapat dilihat ada ketiga orang wanita yang saat ini sedang mengenakan kostum pelayan istana, seraya membersihkan beberapa perabotan didalam ruangan itu.
"Aku... Minta... Maaf... " Ucap salah satu wanita itu yang berambut hitam dengan nada lembut dan lemah, seakan tak ada semangat. Walaupun dia meminta maaf wajahnya sangat datar, dirinya memang seperti itu sejak dulu.
"Ya aku tahu ucapanmu sangat lembut dan bernada, aku juga mendengarmu dari tadi. Kau adalah orang pertama yang pernah merasuki pikiranku dengan kata-kata maafmu. Kau dengar aku, Mopelina?" Ucap wanita berambut pirang ponytail itu seraya melirik jengkel kearah Mopelina yang saat itu sedang mengelap-elap vas besar.
"Maafkan... Aku... Jevanna..." Balas Mopelina seraya menatap datar kearah Jevanna. Mata dari Mopelina seakan memohon ampunan pada gadis pirang itu yang saat ini sedang merapikan tempat tidur dari sang kaisar.
"Sudah kukatakan berkali-kali, bahkan sejak satu setengah tahun lalu. Wajahmu dan suaramu akan membuat orang salah paham." Balas Jevanna seraya menatap Mopelina dengan perasaan yang semakin sebal.
"Kalian~ Kerja yang benar ya! Aku tidak mau ada sedikitpun kotoran yang tertinggal! Kalian mengerti?!" Sahut wanita berambut biru yang pada saat itu memperagakan cara Kaisar Gremory memerintah.
"Hamba mengerti, nona Gerina yang tak mengerjakan apa-apa dan hanya menatap kami membersihkan ruangan ini. Bahkan nona Gerina juga sempat mengingatkan perintah dari Kaisar, tindakan yang sungguh terpuji. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada nona Gerina yang tak berguna." Balas Jevanna seraya memberi hormat dan bersikap ala pelayan. Mulutnya memang selalu seperti itu saat mengekspresikan perasaan hatinya, ia seperti ini setelah belajar dari mantan komandannya Jendral Maurer.
Nampak Gerina sedikit sebal dengan ucapan Jevanna, dan kemudian dia akhirnya mulai ikut membersihkan juga. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar bunyi pecahan dari vas yang baru saja dipegang oleh Gerina.
PRANG!
"AAAAAAAA~ Aku tak sengaja!!!! Bagaimana ini??? Jevanna??? Mopelina????" Tanya Gerina yang kebingungan sambil berjalan terseok-seok, karena vas itu akan terjatuh menimpa kakinya dan malah ditendangnya sampai pecah.
Saat ini dapat terlihat Gerina yang panik menggoyang-goyang tubuh dari Jevanna. Wajah dari Jevanna tampak depresi ketika mengetahui dirinya sedang berada diantara dua orang yang merepotkan. Mopelina juga sepertinya sedang menatap kearah kedua wanita itu dengan tatapan datar.
"Aku... minta... maaf..." Ucap Mopelina sekali lagi yang membuat Jevanna semakin depresi.
Pagi hari itu dilewati oleh Warlen dan kelompoknya yang bertemu dengan Amber serta Kaisar Gremory, dan disisi lain terlihat ada tiga orang wanita yang mengenakan kostum pelayan sedang membuat kekacauan diruang tidur Kaisar.
...•••...
Sementara itu disuatu tempat, terlihat seorang wanita berambut putih dengan mata yang berwarna biru sedang menatap kesecarik kertas diatas meja tahtanya.
Wajahnya terkejut bahagia, jantungnya berdegup kencang, dan keringat seibiji jagung mulai turun membasahi wajah cantiknya.
"Kau berhasil, Warlen!" Ucap wanita berambut biru itu seraya mengeratkan kepalan tangannya dan kemudian menggebrak meja.
BRAK!
Dapat terlihat hasil dari gebrakan meja itu, membuat satu orang gadis manis yang bersama wanita itu terkejut seraya meratapi Parfait Buah Berinya yang terjatuh.
END. .
...___________________________________________...
__ADS_1
Pesan Penulis :
Update akan dipercepat!!!