
...Reruntuhan Kota Larden...
Malam hari itu. . .
Susana disana cukup dingin sampai-sampai bisa menusuk tulang, bulan hanya menampakkan setengah wujudnya dilangit yang penuh bintang, bersamaan dengan angin yang terus membawakan suara sunyi ketelinga.
Dibawah batu besar yang menutupi Marie Larden, terdapat kedua orang pria yang saat ini sedang berlatih tanding bersama. Mereka berdua saling bertukar kekuatan, demi tujuan untuk meningkatkan kemampuan.
'Bocah ini seperti monster. Baru saja beberapa kali melihat pergerakanku. Dia sudah bisa mengikuti kecepatan rapalan sihirku, mau berapa kalipun aku bertukar tempat, dia bisa membacanya.' Ucap benak Altares yang merasa senang setelah bertemu dengan murid seberbakat ini.
Altares terus-terusan mengelak kesana-kemari untuk bertukar tempat dengan pasukannya agar bisa merapalkan mantra.
Wuzh...Wuzh...Wuzh...
Dia terus menerus melakukannya seraya merapalkan beberapa mantra dan kemudian dari darah miliknya yang dia jatuhkan ke tanah muncul sebuah golem daging raksaksa berwarna coklat.
"COLLOSSUS!" Teriaknya seiringan dengan munculnya golem itu.
...The Golum...
...Pict From Google...
'Aku sudah melihatnya berkali-kali dari awal kami bertanding sampai saat ini. Tapi APA ITU!?' Pikir Warlen yang terkejut seiringan dengan kemunculan golem itu.
Dia merapalkan mantra yang membuat bebatuan disekitarnya terangkat dan melapisi tangannya dengan sempurna berbarengan dengan cahaya sinar merah ditangannya.
"Dark Red Earth Fist!" Ucapnya seraya melesat kearah golem milik gurunya yang besar itu. Dia merasa dirinya seperti seekor semut saat menatap keatas memandang wajah dari golem itu.
Tak kehabisan akal. Warlen meninggikan area tempatnya berpijak menggunakan element tanahnya yang kemudian meninggi seperti sebuah pilar dan berkata. "Earth Pillar!"
Altares yang memperhatikan muridnya melesat keatas sempat berpikir sejenak. 'Pergerakan dan keputusannya sudah cukup cepat, tapi dia masih terlalu naif.'
"Set!" Ucap Altares membentuk sebuah segel menggunakan kedua tangannya seraya merapalkan beberapa mantra dimulutnya, yang kemudian memunculkan aura abu-abu disekitar dirinya.
"Siergoni!" Lanjut Altares seraya dengan segel tangannya yang berubah sekaligus dengan munculnya beberapa mayat hidup dari lapisan kulit golemnya.
"Undead's Army!" Mantra ketiga milik Altares yang kemudian banyak sekali mayat hidup berjatuhan dari kulit golem itu menghujani muridnya sendiri, Warlen.
"Down!" Belum selesai sampai situ Altares memerintahkan golem raksaksanya untuk menjatuhkan tubuh besarnya kearah Warlen.
"Grey Inferno!" Altares masih melanjutkan rapalan mantra serangan miliknya yang membuat hujan mayat hidup itu mengeluarkan aura api berwarna abu-abu dari tubuhnya.
'Cih! Apa apaan ini?! Dia sama sekali tidak menahan diri!' Ucap benak Warlen yang sedang berusaha menghindari tubuh pasukan undead milik gurunya yang berjatuhan dari langit.
Warlen yang merasa terdesak seketika saja merapalkan sihir pada mata miliknya. Warna matanya berubah menjadi warna merah yang kemudian bisa membuat dirinya memproyeksikan pergerakan dari gurunya sekaligus hujan mayat hidup itu. "Perfect Vision!"
Namun Warlen malah dikejutkan ketika melihat golem besar milik gurunya mulai menjatuhkan diri kearahnya.
'Loh? Kok rasanya raksaksa itu semakin merendah?' Ucap benaknya seraya menatap heran keatas.
Grek! Grek! Grek! Grek!
"GURU BRENGSEK RAKSAKSA INI AKAN BENAR-BENAR MENIMPAKU!" Teriak Warlen yang panik menatap kearah Altares.
'Cih! Aku harus pergi sambil menghindari mayat hidup ini.' Pikirnya seraya mulai mempersiapkan dirinya.
Warlen yang panik merapalkan mantra untuk menciptakan lapisan es diatas kepalanya seperti payung. Dia melakukannya untuk melindungi dirinya dari hujan mayat hidup yang berjatuhan kearahnya. "ICE WALL!"
Tak berhenti sampai sana. Warlen terus merapalkan pelindung keduanya yang terbentuk dari tanah dan melapisi lapisan es miliknya. "EARTH WALL!!"
Belum selesai Warlen merapalkan mantra ketiganya. Tiba-tiba saja ada salah satu mayat hidup itu yang terjatuh tepat disamping dirinya, dengan aura yang berbeda dari sebelumnya.
'Entah kenapa kali ini aura yang keluar dari tubuh mayat hidup itu berbentuk air abu-abu, padahal sebelumnya berwarna api abu-abu.' Pikir perasaan Warlen yang merasa sangat buruk ketika melihat mayat hidup didekatnya itu.
"Grey Water Explode." Ucap Altares dengan senyum kecil yang kemudian membuat mayat hidup itu mulai meledak-ledak, mengeluarkan air beracun bertekanan tinggi menghantam pelindung milik Warlen sampai hancur.
DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!
Warlen terhempas sangat kuat akibat ledakan air tersebut. Nampak juga pakaiannya yang sudah compang-camping dan tubuhnya yang berdarah-darah akibat sayatan dari air yang melukainya.
'Ini gila! guru benar-benar kuat!' Belum selesai dia memuji gurunya. Dia malah panik saat melihat raksaksa itu akan jatuh menimpa dirinya.
'EH RAKSAKSA ITU AKAN JATUH KEARAHKU!! AKU AKAN MATI! KENAPA AKU TIDAK BISA BERGERAK!? AIR APA INI!?' Ucap benaknya yang panik seraya menatap gurunya dengan perasaan sebal.
"GURU!! KAU INGIN MEMBUNUHKU YAAAA!?" Terak Warlen disaat-saat terakhir.
Namun tiba-tiba saja Altares sudah berpindah tempat dengan salah satu mayat hidupnya. Dia saat ini berdiri tepat dihadapan Warlen seraya menahan raksaksa itu dengan salah satu tangannya.
PLOP! Wussshh! Ssssh~ ssh~ Bunyi dari golem raksaksa itu yang menghilang didalam kabut seusai Altares menyentuh bagian tubuhnya.
"Kau itu berisik sekali ya." Tegur Altares yang sedang tersenyum menahan tawa seraya melirik Warlen dengan tatapan mengejek.
"A-APA!? Aku tak menyangka guru tak akan menahan diri. Tapi bagaimana guru tiba-tiba sampai disini? Sedangkan tak ada salah mayat hidup yang berada disekitarku." Tanya Warlen dengan nafas lega yang mengetahui dirinya tidak jadi pergi ke alam baka.
"Aku hanya berpindah tempat dengan mayat hidup milikku. Lagipula sejak tadi aku sudah menahan diri, aku tak menggunakan mayat hidupku yang bersembunyi dibawah tanah." Jawab Altares seraya memanggil pasukan mayat hidup miliknya yang bersembunyi dibawah tanah.
Warlen sangat terkejut karena tidak menyadari ada undead yang bersembunyi dibawah kakinya. Sejak saat itu dia merasa sangat mustahil bisa menang melawan gurunya.
...Mayat Hidup...
...Pict From Google...
'Ini diluar akal sehatku sebagai manusia. Seseorang bisa mengendalikan lebih dari seratus ribu pasukan undead dan tengkorak. Aku benar-benar masih tidak percaya dengan ucapannya yang menahan diri ketika bertarung melawanku. Seberapa kuat orang ini?' Tanya Warlen dengan mata yang berkeliling memperhatikan sekitarnya.
Namun Warlen tidak menggubris hal itu. Dia hanya berpikir tentang keselamatannya yang baru saja hampir melayang mengantarkan nyawanya ke alam baka.
Tak selang beberapa lama. Altares menghilang didalam kabut seraya mengucapkan pesan untuk muridnya. "Istirahatlah selama dua jam."
'AKU LUPA AKU BELUM BISA BERGERAK!' Pikir Warlen yang panik dan terbaring lemah diantara mayat hidup yang menatapnya dengan keheranan.
"Guru! Aku tidak bisa bergerak! GU-Blrrbrrrrblb!" Belum selesai Warlen berucap, terlihat salah satu dari mayat hidup itu menuangkan air minum kemulutnya.
Disamping dirinya juga ada mayat hidup yang dengan semangat membaranya membawakan makanan hewan kecil sudah masak kepada Warlen nan terbaring lemah karena keracunan.
Malam itu dilewati oleh Warlen dengan tubuhnya yang tidak bisa bergerak. Namun para mayat hidup disekitarnya melayaninya dengan cukup baik atau lebih tepatnya seperti sedang menyiksa seseorang.
Sementara itu di tempat Orland. . .
...•Dini Hari•...
...[Perbatasan Kota Vinziala]...
...Lembah Logam...
Terlihat jasad dari seorang pria bertubuh kecil dan lengan yang berotot sudah tak bernyawa dengan anggota badan yang sudah tidak utuh.
Didepan jasad itu ada seorang pria bertubuh tinggi dengan tangan kiri yang patah, menggenggam tombak yang sudah dibanjiri oleh darahnya seraya menatapnya.
__ADS_1
"Dengan ini kontraknya selesai." Ucap pria bertubuh tinggi itu yang kemudian mengayunkan tombaknya memenggal kepala jasad itu.
JRASH! Bunyi dari tombak yang memotong leher pria itu hingga putus. Terlihat banyak sekali rambut wajah dengan noda darah yang ikut berterbangan diantara ujung tombak itu.
Tak lama berselang ada sesosok pria dengan rambut merah datang dari belakang pria itu dan mulai menyerang melesat pria yang berambut hitam itu dengam tersenyum lebar puas.
Belum sempat si rambut merah menyerang si rambut hitam. Tiba-tiba saja keluar tembok permata putih dari bawah tanah yang menghalangi jalur pria berambut merah.
Beruntung si rambut merah dengan sigapnya menahan lesatannya dan SRING! Bunyi dari dua bilah pedang yang muncul bersamaan dengan api dari tangan pria berambut merah.
Pria berambut merah itu menggunakan kedua pedangnya yang kemudian menusuk dinding permata itu. Dia melakukannya untuk menahan tabrakan dirinya dengan dinding itu.
...Jorgan Vinziala Eirini...
...Cursed Hero...
...
...
...Pict From Google...
...Genshin Impact Zhong Li...
"Berhentilah berbuat konyol, Jasper." Sahut Jorgan dengan mengancamnya yang kemudian membuat dinding permata itu mengeluarkan bagian yang meruncing kearah lehernya.
A/N : Jasper/Yamada Kentaro adalah ayahnya Warlen Lilith Eirini/Sakamichi Kentaro.
...Jasper Viuz Eirini...
...Cursed Hero...
...Pict From Google...
Jasper menghilangkan kedua bilah pedangnya dan mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.
"Seperti biasanya. Kau sangat dingin, Jorgan." Sahutnya yang kemudian ingin menggerakan badannya.
Namun SRING! Bunyi dari permata yang meruncing kesegala tubuhnya.
"Apa aku menyuruhmu untuk bergerak?"Balas Jorgan dengan tatapan mata mengancam.
"Oh! Ayolah!" Sahut Jasper kemudian menghilang diantara api yang keluar dari tubuhnya. Dia kemudian berpindah tempat yang kemudian muncul tepat disebelah Jorgan.
"Apa yang kaulakukan? Berduka atas kepergian temanmu?" Tanya Jorgan seraya menatap temannya itu dengan penuh kecurigaan.
"Kasar sekali! Hahaha! Tak kusangka kau bisa mengalami luka saat menghadapi cecunguk ini, Jorgan." Sahutnya seraya mengejek Jorgan.
"Jangan bercanda. Aku hanya lengah. Jika kau ingin aku membunuhmu dalam kondisi ini, akan kulakukan sebelum kau menyadarinya." Balas Jorgan menatap tajamnya seraya menyimpan tombak yang ada ditangannya.
SRING! Bunyi dari tombaknya yang menyusut lalu berubah menjadi permata kecil sekaligus masuk kedalam saku bajunya.
"Ooh~ Aku kemari hanya ingin mengambil kepala ini untuk hadiah. Satu lagi, apakah kau sudah menghancurkan gauntletnya?" Ucap Jasper seraya mengambil potongan kepala itu. GREP!
"Lakukan saja sesukamu, kau bisa lihat sendiri (Gauntlet). Aku pergi." Balasnya yang kemudian meninggalkan lokasi itu dengan memasukan dirinya kedalam tanah.
"Benar-benar dingin sekali dia itu! Tapi tetap saja sifatnya membuatku merinding. Wah~ Sudah hancur berkeping-keping rupanya (gauntlet). Semoga mereka menyukai hadiah yang akan kubawakan, bukankah begitu Orland Biorgon?" Ucapnya seraya tersenyum lebar memandang kearah potongan kepala milik Orland dan kemudian menghilang didalam api. Wush!
Esok Hari. . .
...Kota Larden Bawah...
...[Kamar Freya]...
Nampak suasana sedikit ramai dengan kehadiran Audelia dan Garm yang menginap dikamar itu, mereka berbagi ruang diatas ranjang kayu yang sempit. Audelia tidur bersebelahan dengan Freya. Garm tidur bersebelahan dengan Valkyrie. Sementara Miresk memilih menyewa kamar lain untuk bermalam.
Tak lama berselang bunyi dari lonceng kota yang menandakan matahari sudah terbit pun berbunyi. DONG! DONG! DONG!
Terlihat Freya menggunakan pakaian tidurnya yang berwarna merah dengan baju sepinggang dan celana pendek bangun lebih dulu dari mereka yang kemudian membangunkan Audelia disebelahnya yang masih menggunakan baju bangsawannya.
Seusai keduanya terbangun mereka berdua pergi keluar kamar untuk membersihkan diri di pemandian air panas.
Jeglek! Bunyi dari pintu kamar Freya.
Didalam kamar masih ada Garm yang hanya menggunakan pakaian dalam berwarna hitam nampak terbangun akibat bunyi pintu itu. Dia menatap kearah Valkyrie yang berada disampingnya dengan cemas.
Diapun mulai memeriksa panas tubuhnya dengan menyentuh kepala dengan tangannya, yang membuat Valkyrie terbangun dengan perasaan terkejut karena melihat dirinya dan Garm yang hanya menggunakan pakaian dalam.
SRET! Suara dari selimut yang ditarik oleh Valkyrie kemudian menutupi tubuhnya.
"AP-AP-AP-APA YANG KAU LAKUKAAAAAAAAAN!?" Teriak Valkyrie dengan wajah memerah karena malu dan panik seraya memperhatikan lekuk tubuh Garm.
". . . . ." Garm terdiam melihat reaksi dari Valkyrie yang menurutnya sudah salah paham, kemudian dia berdiri dan mengenakan pakaian pelayannya bergegas untuk menyusul Freya dan Audelia di pemandian air panas.
"KE-KE-KENAPA!?" Teriakan Valkyrie dari dalam kamar itu yang terdengar sampai keluar kamar.
...Kota Larden Bawah...
...[Pemandian Air Panas]...
Terlihat Freya dan Audelia sudah lebih dulu masuk kedalam kolam pemandian air panas, kira-kira begini.
...
...
...Pict From Google...
Tak lama berselang Garm pun ikut masuk kedalam pemandian itu dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Audelia nampak terkejut melihat kulit Garm yang terlihat sangat halus seperti susu.
Namun Freya malah menggodanya "Tempat ini hanya untuk wanita." Ucapnya sambil tersenyum kecil kearah Garm.
Garm yang merasa tersulut emosinya langsung melompat kearah Freya dan memainkan b**oing milik Freya keatas dan kebawah. Freya akhirnya merintih karena permainan tangan Garm yang luar biasa. Nampak Audelia melihat mereka dengan tatapan kosong.
Tak lama berselang Valkyrie juga baru saja tiba disana, yang kemudian menatap kosong Garm yang sedang bermain-main dengan Boing Freya. Dia yang masih kesal karena hal tadi tidak berkomentar apa-apa dan langsung masuk kedalam kolam pemandian.
Nampak Audelia memperhatikan Boing Valkyrie seraya berkata. "Senjatamu Berbahaya." Cetus Audelia sambil memperhatikan Boingnya yang Bergoyang-goyang.
Dengan akal bulus Garm. Dia tersenyum jahat dengan menggoda Valkyrie. "Mungkin Senjata milikmu bisa membuat Warlen bahagia!" Sahutnya seraya memainkan boing Freya.
Tak lama setelahnya Garm dijitak Freya karena sudah sedikit kelewatan. PLETAK! Suara dari jitakannya yang memunculkan benjol sebesar bola ping-pong dan membuat Garm mulai mengapung kesana-kemari dengan posisi terbalik.
...Kota Larden Bawah...
...[Kedai Makanan]...
__ADS_1
Terlihat Miresk sedang duduk disalah satu meja kedai itu sambil meminum kopi dan membaca kitab Holy Warnya seorang diri.
Tak lama berselang, nampak seorang pria berambut merah dan zirah merah yang membawa sebuah kotak kado berwarna merah mendekati Miresk. "Permisi, apakah ada wanita yang bernama Freya disini?"
"Maaf.. Aku tidak mengenalnya." Jawab Miresk sambil membaca bukunya seakan tak peduli, sedari awal dirinya sudah berwaspada terhadap kedatangan pria ini.
Terlihat pria itu tersenyum dan meletakkan kotak kado itu diatas meja.
"Sampaikan salamku. . . Arch Bishop." Balas pria itu berbisik ditelinga Miresk.
Miresk dikejutkan dengan ucapan dari pria misterius itu, dirinya langsung berbalik badan bersiap untuk menyerang, namun tak disangka-sangka hawa keberadaan orang itu tiba-tiba saja menghilang.
Miresk yang masih cuiga dan merasa waspada akan keamanan dirinya juga rekan-rekannya memutuskan untuk memeriksa aliran inti sihir dari kotak mencurigakan itu dengan kekuatan matanya.
Namun seusainya memeriksa, dirinya merasa sedikit lega, sebab disekitar kotak itu sama sekali tidak ada aliran inti sihir. Miresk yang masih penasaran dengan isi dari kotak tersebut mulai mengangkatnya dan memeriksanya sekali lagi.
Dari balik kerumunan, pria misterius itu mulai tersenyum lebar sambil bergumam dan menghilang ditengah-tengah api. "Akhirnya kau bertemu dengan temanmu di alam baka, benarkan Alexander? HAHAHA!"
Banyak kerumunan yang gaduh dan juga terkejut ketika melihat pria itu menghilang ditelan oleh api, sebab memakai inti sihir didalam kota selain untuk menyembuhkan itu sangatlah dilarang.
Miresk menyadari adanya inti sihir yang teramat gelap dan juga kuat sedang berada disekitarnya, letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya.
Miresk langsung berlari mengikuti jejak inti sihir milik pria misterius itu yang sedikit-demi-sedikit mulai menghilang ditelan udara, sampai pada akhirnya dia menyadari jejak itu mengarah ketengah-tengah kerumunan orang.
"Cursed Hero! Jasper Eirini.." Miresk dengan perasaan tak percaya dan terkejut setelah menyadari jejak inti sihir kuat yang tertinggal tepat ditengah-tengah kerumunan itu.
Beberapa saat setelah hal itu terjadi, berita tentang seorang pria yang menghilang bagai ditelan api mulai tersebar dan menjadi pembicaraan panas diseluruh Kota Larden.
...Kota Larden Bawah...
...[Pemandian Air Panas]...
"Lebih baik kita mengunjungi Orland di Lembah Logam." Ucap Freya yang cemas didalam hatinya, namun juga sambil bersantai membersihkan tubuhnya.
"Aku setuju." Jawab Audelia sambil membersihkan rambutnya, dan juga sesekali memperhatikan lekuk tubuhnya didepan kaca.
"Ap-apa kamu tidak khawatir dengan Helena?" Sahut Valkyrie yang masih berendam dikolam pemandian, perasaannya pada Freya masih sungkan sebab pernytaannya dikamar tempo lalu.
"Khawatir ya... Tentu saja, namun dia itu kuat, bahkan orang terkuat setelah diriku dan suamiku, untuk saat ini yang bisa kulakukan hanyalah percaya padanya." Jawab Freya sambil memandang kearah kaca dihadapannya dan berusaha tersenyum melihat wajahnya sendiri.
"Mendengarmu berkata seperti itu, aku malah semakin khawatir. Helena terlalu naif dalam mengambil keputusan seperti dirimu, dan juga seperti Alexander." Jelas Garm yang pada saat itu menatap kearah langit-langit Kota Larden.
"Perasaan diselamatkan ya, berhutang budi, balas dendam, ambisi, kematian. Terkadang aku tak habis pikir, kenapa dunia ini begitu rumit." Jawab Freya sambil menghela nafasnya, dan melanjutkan jawabannya. "Apapun pilihannya aku akan terus mendukungnya, kau mengerti maksudku, Garm?"
Nampak Garm hanya tersenyum mendengar jawaban Freya, dan kemudian dirinya juga mulai berbincang-bincang dengan Valkyrie untuk meluruskan kesalahpahamannya.
Garm hanya ingin memerika kesehatan Valkyrie yang tiba-tiba saja memburuk, sebab itu juga dia tak pernah jauh dan selalu berada didekatnya.
Audelia juga nampak meminta maaf, dirinya merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Valkyrie, begitupun juga Garm yang ikut meminta maaf kepada Valkyrie.
Disela-sela hal itu, Freya menjelaskan situasinya kepada Valkyrie dan nanti akan memperkenalkan seorang Arch Bishop yang sudah merawat kondisinya.
Bahkan setelah mendengar penjelasan Freya, Valkyrie sendiri masih tidak dapat mengingat apapun yang sudah terjadi dengan dirinya kemarin.
Hanya saja Valkyrie merasa ada yang aneh dengan aliran inti miliknya, sebab dirinya masih bisa merasakan aliran inti sihir milik Warlen walaupun sudah terputus kontrak selama beberapa hari.
Valkyrie mengatakan seperti ada aliran inti sihir milik orang lain selain miliknya dan Warlen yang masuk kedalam tubuh pahlawan itu, menurutnya ini adalah kasus yang pertama kali bagi seorang malaikat pelindung melihat seseorang memiliki lebih dari 2 inti sihir yang berbeda.
"Aku mengerti, untuk saat ini lebih baik kita kesampingkan hal itu. Semakin kau pikirkan, semakin dirimu tak bisa menemukan jawabannya." Ucap Audelia sambil menatap kearah Valkyrie dengan perasaan yang sedikit heran.
Beberapa saat setelah mereka berdiskusi panjang. . .
"Sudah diputuskan, kita akan pergi ke Lembah Logam." Ucap Freya singkat.
"Tunggu! Sebelum itu, apa tujuanmu yang sebenarnya Putri Audelia?" Tanya Garm menatap Audelia dengan perasaan curiga.
"Kurasa ini sudah saatnya, namaku Aud-" Belum sempat Audelia menyelesaikan kalimatnya.
Garm langsung memotong. "Langsung saja."
"A-Ahem. . Tujuanku hanya satu, menyingkirkan kakakku dan menjadi seorang Ratu di Kerajaan Zealos." Jawab Audelia dengan tegas dan berdiri menatap mereka semua.
"Kau menukar informasi ini hanya untuk ambisimu sendiri? Kuperingatkan sekali saja. Jika dirimu berubah dan menjadi seperti kakakmu, jangan pernah berharap mayatmu akan utuh." Balas Garm dengan tatapan mengancamnya.
"Aku ikut denganmu." Balas Freya sambil mengangkat tangannya.
"Terima Kasih.." Ucap Audelia sambil membungkukkan badannya, dan kemudian melirik kearah Valkyrie.
"Ha-ha-hatchi!!!" Suara bersin Valkyrie yang cukup lucu dan juga imut.
Ketiganya menatap Valkyrie sambil memikirkan hal yang sama 'Santai sekali~ Aku baru tau ada malaikat yang bisa terkena flu'
"Sebaiknya kita kembali ke penginapan." Ucap Freya, lalu Garm dan Audelia mengangguk sambil berkata "HEM-HEM!"
Ha-ha-hatchi! suara bersin Valkyrie diikuti dengan sesuatu yang berwarna hijau keluar dari lubang hidungnya.
Beberapa saat kemudian. . .
Nampak mereka berempat sudah keluar dari pemandian itu...
...Kota Larden Bawah...
...[Kamar Freya]...
Nampak Freya sedang berganti pakaian, Valkyrie menggunakan sihir untuk mengganti pakaiannya, juga Garm dan Audelia sudah mengenakan pakaian mereka setelah keluar dari pemandian.
Tak lama berselang... Terdengar bunyi ketukan pintu kamar Freya dari luar. TOK! TOK! TOK!
"Tunggu sebentar!" Ucap Garm yang masih memperhatikan Freya mengganti pakaiannya, kemudian TOK!! TOK!! TOK!! Terdengar bunyinya semakin kencang.
"Tch!" Gumam Garm yang ingin membuka pintu, kemudian dihalangi oleh Audelia "Biar aku saja, pengguna Rapier lebih cepat menyerang dibandingkan pemanah." Ejek Audelia sambil menahan Garm.
Audelia pun beranjak untuk membuka pintunya, Krieet! Bunyi dari pintu yang terbuka kemudian SRING! Rapier Audelia yang sudah hampir mengarah keleher orang yang didepan pintu itu.
"JIKA KAU ING.... MIRESK!?" Ucap Audelia yang terkejut.
Terlihat Miresk sedang membawa kotak kado berwarna merah itu bersamanya, disaat yang bersamaan juga nampak dari bawah kotak itu mulai meneteskan darah dan membasahi bajunya.
Sementara itu ditempat lain...
...•Siang Hari•...
...Kota Larden Atas...
...[Padang Pasir]...
Terlihat Pria dengan zirah merah dan rambut merah itu sedang tertawa sangat keras. "HAHAHAHAHAHA! Kuharap kalian senang melihat kembali teman kalian!" disekelilingnya juga banyak sekali monster kelajengking yang sudah terpanggang dan mati.
______________________________________
Pesan Penullis :
__ADS_1
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih