Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
11. Melancarkan Misi


__ADS_3

Kami berempat pulang ke rumah. Aku melihat wajah Audrey yang sangat gembira ketika ayah nya hadir dalam acara pemotretan dan wisuda yang di lakukan di aula sekolah.


Tidak di sangka juga, mas Dimas mau mendengar segala keluh kesah ku mengenai putri nya yang mulai membenci papa nya karena sifat cuek mas Dimas kepada darah daging nya sendiri.


'Mama senang kalau kamu senang,' batin ku puas sambil menatap Audrey yang riang gembira.


Di sisi lain, ada Sarah. Dia tampak tidak menyukai apa yang telah aku lakukan demi putri ku. Wajah nya itu loh, tampak begitu geram ketika kami bertiga berfoto.


Kurasa jika kami bertiga berfoto terhitung wajar, ada istri, suami kemudian anak. Apa dia ingin bergabung dalam potret wisuda anak ku? Tapi, aku ingat telah mengajak nya. Dia nya saja yang menolak.


Seminggu sudah berjalan setelah acara wisuda berlangsung.


Kini aku mulai melancarkan rencana ku.


Subuh pukul 3, Aku bangun dan tidak di sangka mas Dimas baru keluar dari kamar nya.


Aku mengikuti suami ku yang pergi ke dapur.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikuti ku?" suara mas Dimas mengintimidasi.


"Hem, apa aku boleh katakan sesuatu sama mas?" tanya ku.


Kening mas Dimas terlihat mengerut, "Mau bilang apa?" Mungkin suami ku merasa aneh karena aku selaku istri tertua nya berbicara se-Subuh ini.


"Kapan kita mendaftar Audrey ke SD Permata, Mas?" tanya ku pada suami ku.


Tapi Mas Dimas tidak menjawab, yang membuat ku mengeluarkan brosur penerimaan murid baru di sekolah Permata.


"Biaya pendaftaran nya masih di diskon sampai besok loh, mas. 30% lagi. Ayolah mas, ini demi putri kita," kata ku berharap.


Aku menggigit gigi dalam kekesalan. 'Sejak kapan aku mau tinggal serumah bersama mu dan madu mu yang menjengkelkan itu? Aku mau cerai tau!' batin ku berteriak.


Kebetulan Audrey baru berjalan keluar dari kamar. Malam-malam begini, tidak biasanya Audrey keluar kamar. Aku mendatangi nya, rasa khawatir menyelimuti ku, "Kenapa kamu keluar, Sayang?" tanya ku.


"Hem, aku mau pipis, Ma."

__ADS_1


"Oh hanya itu …" aku lega. "Kamar mandi nya di sini sayang." Aku menuntun Audrey masuk kamar mandi. Setelah pipis, Audrey malah berdiri menghadap Papa nya. Anak ku menatap mas Dimas dengan tatapan meminta belas kasihan.


"Pa," ucap anak ku, suaranya masih serak khas baru baru bangun tidur.


"Kenapa Audrey?" tanya mas Dimas dengan suara yang bersahabat.


"Audrey mau SD di SD Permata, Pa. Boleh kan?"


Demi apapun! Aku tidak pernah mengajari Audrey mengatakan 'kebohongan' itu, selama ini Audrey juga tidak pernah mengatakan 'niatnya' untuk sekolah di SD Permata. Aku katakan pun Audrey mau sekolah di SD Permata, nyata nya selama ini hanya karangan ku. Aku ingin jauh dari mas Dimas dan madu ku yang menyebalkan itu, serta lebih dekat dari Ayra. Mengingat sekolah swasta Permata berjarak seratus meter dari rumah Ayra.


Mas Dimas menatap singkat ke arah ku. Dia menghela nafas, "Baiklah, Papa akan segera mendaftarkan kamu ke SD permata."


Audrey memeluk Papa nya, "Terimakasih Pa! Audrey semakin sayang Papa!"


"Makasih mas," hanya itu yang bisa ku katakan meski hati ku berbunga-bunga saat ini.


Setelah berbincang singkat dengan suami ku, aku dan Audrey kembali ke kamar. Menutup pintu, dan duduk di ranjang.

__ADS_1


"Sayang, Mama mau tahu kenapa kamu tahu niatan Mama untuk menyekolahkan kamu di SD Permata?" tanya ku dengan berbisik.


__ADS_2