Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
56. Lamaran Kembali


__ADS_3

"Mama sangat marah padamu jika menjawab asal-asalan bahkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya!" Aku berjongkok di hadapan Audrey. Menatap tajam anakku karena yang namanya kebiasaan berbohong tidak boleh dikembangbiakkam.


"Mama minta kamu katakan sebenarnya, apa alasan kamu bersekongkol dengan Papamu? Juga sejak kapan kamu jadi suka berbohong seperti ini pada Mama? Apa karena Papamu?"


Audrey melirik Papanya.


"Jangan lihat Papa!" ucapku melarang.


"Papa yang minta," balas anakku dengan suara gemetar.


"Katakan dengan jelas!"


"Papa ... Papa yang bilang sama Audrey!"


Baru sebentar, Audrey sudah menangis. Aku jadi merasa kasihan dengan air matanya itu. Tapi ketegasan tetap ketegasan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau ikut-ikutan bersekongkol dengan Papamu? Apa yang dia katakan?" aku bersedekap, memandangnya dengan marah padahal hati ini sudah teramat kasihan dengan air mata Audrey.


"Papa mau ..."


"Ini, aku memberi ini." Baru saja Audrey bicara, Mas Dimas berbicara sambil menyodorkan sesuatu di tangannya.


Itu apa? aku bertanya dalam hati. Sebenarnya apa maksud semua ini.


"Bisa kamu berdiri?"


"Mau ngapain sih mas?!" tanyaku kesal karena merasa aneh.


Tiba-tiba saja mas Dimas berlutut di hadapan dan menyerahkan kotak cincin yang sembunyikan di tangannya.


Mataku berseri-seri, jantung berdetak kencang karena merasa di spesialkan.

__ADS_1


"Mas ..." Aku mendesis, antara perasaan tidak percaya, senang, terkejut membuat air mataku menetes.


"Aku mau meminangmu kembali, tapi pemberian cincin ini hanya lambang ketulusanku untukmu. Maaf pernah membuatmu terluka. Aku benar-benar bodoh memilih pasangan saat itu, tapi aku janji dengan segenap jiwa dan raga, hanya kamulah, Mia … yang terbaik diberikan Pencipta sebagai pendampingku. Maukah kamu menerimaku sebagai suami di pernikahan kedua dan terakhir?"


Manis sekali kata-katanya … Aku sangat terpukau.


"Ma, terima! Terima! Terima!" suara Audrey yang melengking serta tepukan dan hentakan kakinya itu seperti memeriahkan keadaan.


"Ayolah Ma. Terima!" Audrey sampai mendekatkan tanganku ke cincin yang ditampilkan mas Dimas.


Tentunya kecerdasnku menghilang, turun menjadi 0. Sungguh bingung dalam menentukan langkah.


"Aku tidak memiliki apapun lagi selain kamu dan putri kita, aku hanya pria miskin yang beruntung pernah meminangmu menjadi Istri. Kamu Mia, adalah bidadari tanpa sayap yang mengubah kehidupanku. Memang awal kita menikah adalah perjodohan, dan perjodohan itu mempertemukan aku dan kamu yang tidak saling mengenal. Orangtua kita tidak salah menyatukan kita. Saat bersamamu, aku menemukan lebih banyak pelajaran bagaimana seharusnya menjalani hidup. Dan aku tahu, aku memiliki sebuah kesalahan yang terlalu besar untuk dimaafkan. Tetapi kamu, dengan hati yang besar menerimaku kembali untuk dekat dengan putri kita Audrey. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk kesetiaanmu. Walau ada pria masalalu yang berusaha mengambilmu dariku, tetapi kamu tetap memilihku. Rasanya, tidak ada wanita lain yang memilki kesabaran sebesarmu. Rata-rata dari mereka akan menghilangkan pria yang telah menyakiti hati mereka dari pikiran. Tapi kamu berbeda. Sekarang aku memintamu menjadi istriku lagi dalam pernikahan yang kedua, tapi kembali lagi. Semua terserah kamu dalam memilih."


"Mama... Terima lah." Suara Audrey sedaritadi terus menyemangati ku untuk mengatakan ya dan menerima mas Dimas kembali. Dari matanya, aku melihat mas Dimas begitu serius dengan ucapannya.

__ADS_1


Aku harus katakan apa ya?


__ADS_2