Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
62. Nakal


__ADS_3

Audrey.


Dia menghilang dari hadapan Mia setelah Mia mengantar anak perempuan yang sempat diklaim Mia sebagai anaknya.


Audrey menghilang karena sakit hati, kesal karena seorang anak yang mirip dengannya.


"Drama apa lagi ini coba?!" gerutu Audrey sambil berjalan. Merasa cemburu? Ya! Audrey bahkan seperti kebakaran jenggot. Amarah memuncak di dadanya, dan ia kesal sejadi-jadinya pada sang Mama.


Saat berjalan, Audrey melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 7. Matanya berbelalak, sempat merasa khawatir karena akan terlambat, tapi tiba-tiba teringat jika, 'Bertemu Papa saja kali ya? Kan hanya ini kesempatan istimewa!'


Anak itu pergi menjumpai tante Ayra, dan buru-buru meminta ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Siapa yang mau kamu hubungi, nak?" tanya Ayra sedikit cemas.


Audrey mengggeleng, "Ini darurat tante!" jawab Audrey yang masih terpaku pada ponsel Ayra. Di saat yang sama, telepon diangkat.


"Pa, Audrey mau ke rumah. Jangan lupa jemput di halte dekat perumahan kami ya. Audrey menunggu."


Anak itu nekat bertemu Papanya. Dia berharap bisa tinggal bersama selamanya. Bersama sang Mama, malah sangat menyebalkan.

__ADS_1


Sedangkan Ayra yang sedaritadi memperhatikan Audrey yang sungguh aneh kali ini.


"Sudah hpnya?" tanya Ayra setelah Audrey menyerahkan ponsel itu padanya.


"Sudah tante."


"Baguslah, tapi bukannya hari ini kamu masuk sekolah? Mama belum antar ya?" tanya Ayra lagi karena belum tahu masalah di rumah kakak kandungnya itu.


"Audrey bisa ceritakan lain waktu, Audrey pergi dulu ya!" anak itu segera berlari keluar dari rumah sang tante. Berkali-kali Ayra memanggil dan mencoba mengikuti, Audrey tidak kunjung berbalik badan.


Di saat yang sama, Mia sedang menuju rumah Ayra, kebingungan akan keluarnya Audrey dari rumah Ayra, membuat Mia menghampiri adiknya tersebut.


"Dek!" Mia memanggil Ayra.


"Audrey baru masuk rumahmu, ya?" tanya Mia dengan terengah-engah.


Ayra mengangguk, "Baru saja. Tapi anak itu berlari terlalu cepat sampai aku tak bisa menggapainya. Kira-kira dia mau kemana?"


Mendengar itu, Mia berkacak di pinggang. "Anak itu menjadi sangat pembangkang!" katanya yang menyimpan kekecewaan.

__ADS_1


"Kira-kira Audrey jadi sperti itu kenapa ya kak?" tanya Ayra penasaran.


"Smenjak Papanya datang yang niatnya mau kasih suprise ke aku."


"Kapan? Kakak belum pernah cerita sama aku," singgung Ayra.


"Kejadiannya semalam. Aku udah tetapkan hati untuk jadi janda tapi bahagia daripada punya suami tapi menderita-sesuai kiriman videomu beberapa waktu lalu."


Ayra mengangguk paham atas penjelasan singkat kakaknya itu. Ia senang berhasil mengubah mindset Mia.


"Tapi apa aja yang Audrey buat di rumahmu?" tanya Mia.


"Dia pinjam hpku terus telepon seseorang. Setlah selesai nelpon, ya dia kabur, bahkan aku tanyakan masalah sekolah aja dia ga jawab. Aku hanya khawatir sama dia, makanya milih kejar. Tapi larinya kekencangan, apalagi kamu tahu aku lagi hamil."


Mia menghela nafas karena merasa bersalah, "Sorry ya udah buat kamu ikutan cemas."


"Tidak masalah, namanya juga anak-anak."


"Huh, iya. Tapi firasatku dianya mau pergi ke rumah Papanya. Aku pergi dulu ya, jaga kandunganmu." Mia segera pergi dari hadapan Ayra dan menyusul anak nakalnya tersebut. Tidak peduli rasa lelah yang semakin memperlambat geraknya tersebut.

__ADS_1


*********


Hallo pembaca. Apa kalian mau Author buatkan cerita Ayra dan suaminya? Coba komentar ya... ^⁠_⁠^


__ADS_2