
Audrey tampak sulit menjawab yang ketika ku perhatikan, Audrey menatap ku dengan takut seolah sudah melakukan kesalahan.
"Sayang, jawab saja. Mama tidak akan marah," kata ku berjanji.
"Audrey … tadi sudah bangun sewaktu Mama bangun. Dan Audrey dengar perbincangan Mama dan Papa, karena Audrey tahu mama selalu menangis kalau Papa menolak, jadi nya Audrey berusaha menyakinkan Papa supaya menyekolahkan Audrey di SD permata. Maafkan Audrey ya Ma. Audrey jadi anak nakal karena mendengar percakapan orang tua." Anak ku menjelaskan sambil menangis. Anak ku malang, anak ku sayang. Dia benar-benar berbakti pada aku selaku Mama nya dengan menuruti segala perintah ku.
Karena sangat sayang, aku menghapus air mata putri ku kemudian memeluk nya, "Yang kamu lakukan bukan kesalahan Sayang. Kamu sudah membantu Mama, bukan memalukan Mama. Terima kasih ya, Mama beruntung mempunyai anak sepeka kamu."
Setelahnya aku menidurkan Audrey. Anak ku menangis kesegukan sampai kembali tidur.
"Bagaimana cara mengatakan nya ya?" aku bingung sendiri. Setelah mas Dimas mau mendaftarkan Audrey ke SD permata, aku kembali berpikir tentang uang untuk sekolah Audrey dari SD sampai SMA. Itu 150 jutaan. Apa Mas Dimas akan memberikan nya secara cuma-cuma?
****
__ADS_1
Pagi-pagi setelah sarapan pagi, aku mengajak mas Dimas mendaftarkan Audrey ke sekolah Permata.
"Mas, kita ku rasa kita bisa langsung pergi ke sekolah nya. Sekarang kan sudah jam tujuh," kata ku bersemangat.
"Mana ada pendaftaran jam tujuh, biasa nya jam delapan atau tidak sembilan," jawab Mas Dimas menolak.
"Ada mas, lihat lah brosur nya," aku menunjuk brosur yang menunjukkan 'kantor tata usaha buka jam tujuh pagi sampai 4 sore'.
Aku mengalihkan pandangan ke sumber suara yaitu Sarah. Belum mas Dimas menjawab, si setan laknat yang satu itu kembali datang dan berbicara. Huh!
"Mas mau pergi ke kantor tata usaha sekolah baru Audrey untuk mendaftar," jawab Mas Dimas untuk Sarah.
"Jadi waktu check up bayi kita? Bukan nya mas mau antar aku buat ketemu dokter pagi ini ya?!" terdengar suara cempreng Sarah yang tidak terima.
__ADS_1
"Gimana ya mau bilang nya … padahal semua nya penting." kelihatan sekali Mas Dimas kebingungan dengan dua pilihan yang mengharuskan dia menghadiri salah satu nya.
"Mas harus ikut aku check up kandungan! Bayi kita sudah tiga bulan dalam perut aku loh Mas, masa kamu tidak mau melihat perkembangan nya?"
Ho ho ho ho …! Si kampret Sarah mulai memaksa. Dengan begitu aku tidak bisa diam saja.
"Masalah kandungan kamu bisa datang ke dokter sendiri dan check up sendiri. Bukan sekali saja Mas Dimas melihat bayi dalam kandungan. Tapi tiga kali! Bisa di bilang mas Dimas sudah bosan melihat nya. Iya kan mas?" kata ku dengan percaya diri. Wanita pencipta masalah ini manja nya sudah kelewatan sampai aku muak melihat nya.
"Tapi ini bayi pertama kami. Ayo mas! Jangan ketipu sama kemauan nya. Mas harus lihat bayi kita. Menurut google bayi 3 bulan sudah tercipta indra dan bentuk tubuh nya. Mas tidak boleh melewatkan nya!" Sarah menarik tangan Mas Dimas hingga pergi jauh dari hadapan ku.
Melihat aksi si kampret Sarah membuat ku menggerutu.
"Seenak jidat nya saja mengatur mas Dimas. Padahal aku istri tertua nya mas Dimas. Mana mas Dimas lebih pro sama si sialan itu lagi! Argh! Entah kapan waktu emas di mana aku tidak melihat nya lagi.
__ADS_1