
Kami bertiga makan kue-kuean yang dibeli mas Dimas.
Canda tawa mengiringi, apalagi saat Audrey bercerita dia bisa menjawab pengurangan tiga bilangan dan mendapat nilai 100 oleh gurunya.
"Wah, hebat sayang. Tingkatkan belajarnya ya," kataku memuji Audrey. Teringat jika pengurangan adalah masalah terbesarnya sejak awal. Tiba-tiba Audrey bisa mengurangi angka bahkan sampai tiga bilangan, bukankah suatu hal yang mengejutkan?
"Papa akan beri hadiah, tapi besok ya?"
Audrey memperlihatkan senyum. "Makasih Ma, Pa. Kalian yang terbaik! Audrey senang deh, punya kalian berdua." Audrey memeluk Mas Dimas terlebih dahulu kemudian memelukku.
Audrey kembali duduk diapit kami berdua. Tapi wajahnya tiba-tiba kembali murung. "Kenapa sayang?" tanyaku prihatin.
"Iya, kenapa Audrey? Ada yang salah?" Mas Dimas ikutan bertanya. Kami berdua sama sama menyentuh bahu Audrey, tapi dengan sisi berbeda.
"Pa," ucap Audrey sambil menatap ke arah mas Dimas.
Mas Dimas nya terlebih dahulu melihatku, kemudian berbicara, "Kenapa Audrey?"
"Tadi Papa bilang Papa mau beri Audrey hadiah kan?" tanya Audrey.
"Iy–ya. Papa akan beri apapun yang Audrey pinta!" balas Mas Dimas dengan yakin.
__ADS_1
"Audrey, mau kita tinggal serumah lagi Pa, Ma. Kan Mama Sarah sudah pergi, dan Papa sudah tidak terpengaruh lagi. Jadi Audrey mau Papa tidur di kamar yang sama dengan Audrey dan Mama. Audrey senaaaaang sekali kalau Papa dan Mama bersama lagi!"
Aku menghela nafas. Lemas mendengar kerinduan hati Audrey.
'Andai kamu tahu, sayang. Papa dan Mama tidak bisa tidur sekamar …' batinku berbicara. Tapi tidak mungkin mengatakannya pada Audrey.
Karena alasan kami menyembunyikan status perceraian ini untuk menjaga kesehatan mental dan sosial Audrey. Terdapat begitu banyak anak yang jadi 'anti sosial' karena salah satu orangtuanya tidak bersama mereka.
Namun sekarang? Kami tidak–
"Papa akan tidur bersama Audrey dan Mama malam ini."
DEG!
*****
Seusai makan kue-kuean, dan Audrey sedang kusuruh membeli kecap yang habis di warung sebelah, aku memutuskan berbicara empat mata dengan mas Dimas.
"Mas!"
"Apa?" Mas Dimas menunjukkan keterkejutannya karena aku meneriakinya.
__ADS_1
"Kenapa Mas tidak menolak? Kita kan sudah berpisah, Mas! Apa Mas mau kita jadi berzina kalau tidur seranjang? Atau, Mas sengaja memanfaatkan Audrey supaya bisa tidur bersama aku ya?! Ingat ya, Mas. Aku sudah berbesar hati tetap membiarkan mas Dimas dekat-dekat Audrey setelah perpisahan. Aku mohon Mas jangan menyalahgunakannya …" tidak terasa air mata ini mengalir, aku terlalu takut dengan dosa.
Dan dekapan Mas Dimas sambil mengelus kepalaku membuat jantung ini lagi-lagi berdisko lebih asik.
Huh.
Aku akui rasanya hangat dan menyenangkan. Tapi aku sadar, ini kesalahan. Jadi aku memberontak.
"Lepas Mas!" ucapku kesal.
"Maaf …" hanya itu yang dikatakan Mas Dimas.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Aku pergi ke dapur untuk melanjutkan masakan yang sempat tertinggal karena marah.
"Ma, ini kecapnya."
"Makasih sayang …" kataku sambil menunjukkan senyum. Tapi wajah Audrey tampak murung.
Kecilkan api, dan mensejajarkan tubuh dengan Audrey, "Kenapa kamu murung, sayang?"
"Hem, itu Ma. Papa pergi dari rumah waktu Audrey mau masuk ke rumah, terus papa bilang, Papa ada urusan. Papa tidak pergi malam ini kan? Maksud Audrey, Papa tidak berbohong karena malam ini kita akan tidur satu kamar kan?"
__ADS_1
Aku terdiam setelah mendengar cecaran pertanyaan dari Putriku.