Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
51. Berubah-ubah


__ADS_3

POV Tessa.


Entah mengapa aku gugup. Tidak menyangka saja, akan semobil dengan majikan tampan yang sejak dulu sudah kukagumi.


Samuel orangnya tegas, tapi ada tatapan rindu dan cinta mendalam saat pertama kali kami bertemu. Dengan menyebut aku sebagai Mia, aku langsung paham mengapa aku yang bukan siapa-siapa ini menjadi pelayan pribadi tanpa pengetesan yang jelas.


Aku mirip dengan kekasih yang dicintainya. Hem, begitulah kesimpulanku.


Hanya saja, hingga detik ini aku tidak percaya sudah menjadi pelayan pribadinya. Melayani segala kebutuhannya, seperti istri. Hehehe, istri. Ayolah, aku tidak munafik, aku ingin menjadi istrinya. Apalagi Samuel baru diputuskan kekasihnya kan? Siapapun yang melihat Samuel akan berdebar. Dia orang yang sangat lembut walau suka menyuruh.


Saat mengingat segala hal yang terjadi seminggu ini, aku teringat satu hal. 'Baju!'


Aku menoleh melihat Samuel yang segera melirikku.


"Kenapa?" tanyanya dengan suara rendah.


"Hem itu ... maaf saya ingat belum membawa baju. Jadi saya harap tuan mau membawa mobil ini ke rumah, sekalian izin ke rumah saya terlebih dahulu."


Cit. Mobil tiba-tiba berhenti, saat kualihkan pandangan, terlihat jalanan macet.


"Sebenarnya aku mau saja membawa mobil ini ke rumahmu, tapi jalanan macet, Arah yang berbeda dari bandara dan rumahmu. Kita akan pergi ke mall sejenak sebelum berangkat."


"Hem, baiklah." Aku menunduk dalam, meremas tangan karena khawatir, sangat canggung rasanya jika kami pergi ke mall dan ... "Tuan," ucapku memanggil Samuel.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Tuan, boleh tidak saya meminta satu permintaan."


"Minta apa?"


"Begini, mengenai biaya beli bajunya yang murah-murah saja ya, saya belum pernah gajian, biayanya di potong dari gaji saya bulan ini saja," begitulah permintaanku. Merasa cemas karena ketika membayangkan selera Samuel yang pastinya sangat berkelas. Takutnya Samuel malah minta macam-macam untuk membayar seluruh biayanya.


"Hahahahah!" Samuel malah tertawa, aku menoleh padanya, bertanya dalam hati, 'Kenapa tuan Samuel malah tertawa?'


"Untuk apa cemaskan hal sekecil itu? Aku yang mengajakmu, berarti semua biaya akan kutanggung. Termasuk tiket pesawat, biaya nginap di hotel dan pakaian baru yang akan kamu kenakan."


Aku tersenyum tipis, kembali menunduk tapi merasa senang, tuan Samuel memang sangat baik!


Lagi-lagi aku tersenyum malu-malu, merasa senang seperti sedang berada di awan-awan. Jika tidak ingat siapa pria di sampingku, maka aku akan tertawa seperti anak setan.


"Aku kira, ada bayaran besar yang harus kutagih untuk ajakanku saat ini."


Ucapan tuan Samuel membuatku mengerutkan kening. "Bukankah tuan yang bilang biaya perjalanan ini gratis, kenapa tuan memintaku membayarnya? Ya sudahlah tuan, saya tidak jadi ikut tuan dalam perjalanan kali ini," ucapku protes sambil cemberut. Di satu sisi merasa sangat beruntung karena belum jauh perjalanan, tuan samuel merubah keputusannya. Dengan begitu, biaya tidak akan terbeban padaku.


"Hahahah!"


Kukerutkan kening setelah mendengar tawanya, entah apa yang terjadi dan pikirkan lelaki yang sedang mengemudi di tengah jalanan penuh macet, aku yang sedang cemas membara semakin tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan tuan Samuel saat ini.

__ADS_1


"Tenang saja, aku hanya bercanda."


Lagi-lagi bercanda. Aku kesal dan bersedekap di dada, "Tuan terus bercanda, saya sampai bingung harus percaya pada yang mana."


"Percaya pada intuisimu saja."


Kuhela nafas ini, baru seminggu menjadi pelayan pribadi, tapi jantungku sudah dipompa lebih cepat dari biasanya.


"Maksud bayarannya hanya senyumanmu, aku suka melihatnya."


"Huh, tuan sudah mulai gombal," kataku mendegus sebal.


"Wah, jadi kamu kata segala ucapanku adalah bentuk gombalan? Hahaha ... Aku rasa itu adalah kata hatiku yang terdalam," jawab Samuel lagi.


"Maaf ya tuan, lebih baik anda fokus saja dengan perjalanan, lama-lama saya takut melihat tingkah tuan yang semakin di luar kendali," ucapku memperingatkan.


"Di jalanan membosankan seperti ini, lebih baik sering-sering tertawa bukan? Tapi tampaknya hidupmu terlalu monoton." Aku tidak tahu Samuel sedang meledekku atau menertawai, baru hari ini aku menemukan sifatnya yang menyebalkan seperti itu.


"Saya hanya ingin selalu bersifat profesional. Bukankah tuan adalah orang yang serius."


Samuel menatapku dengan matanya yang membulat sejenak. "Wah, berarti selama ini kamu sudah mengintaiku."


Aku terdiam sejenak, mengatakan dalam hati jika ya, aku mengintai pria ini."

__ADS_1


__ADS_2