
"Kamu pasti berpikir kakak dan kakak iparmu tidak berselisih kan?"
"Hem, iya sih kak." Ayra habis cengigir. Entah apa yang dipikirkannya, akupun tidak tahu.
Segera kutarik tangan Ayra ke lantai bawah, meninggalkan mas Dimas di lantai kedua.
"Mau kemana Kak?" sudah kuduga Ayra bertanya seperti itu. Tidak ku jawab sampai kami berhenti di teras.
"Mas Dimas minta balikan!" kataku setengah berteriak.
"Ah, yang benar kak?" Aku duga Ayra akan bertanya seperti itu. Segera ku anggukkan kepalaku.
"Ini di luar pemikiran ku, dek!"
"Te … rus?" Ayra memperlihatkan senyum aneh, mungkin dia masih belum nyambung sekarang.
"Ya kakak merasa aneh aja. Ah, tapi laki-laki kan memang begitu. Gagal dengan yang satu, pergi ke yang lain," kataku setelah sadar.
"Oh, aku paham, aku paham. Tapi kan kak, jangan langsung mau begitu saja. Awal mula kakak ada di sini kan untuk menjauh dari Abang ipar dan bercerai," balas Ayra.
"Iya. Tapi mas Dimasnya bilang dia sudah menceraikan Sarah."
"Jadi intinya, kakak berubah pikiran?" tanya Ayra menyimpulkan.
"Tidak-tidak. Hanya saja–"
__ADS_1
"Kakak sudah pernah dijahati, dikhianati dan dijadikan pelayan madu sendiri. Ada loh kak laki-laki buaya, lelaki jahat yang seperti Ayra bilang tadi, mau enaknya saja kalau enggak enak, ya pergi ke lain hati."
"Jadi tolak aja?"
"Hem, tidak juga sih. Lebih tepatnya lihat dulu perkembangan abang ipar, kalau dia benaran cinta sama kakak, ya kembali."
Aku ingat betapa nyaringnya suara Ayra ketika aku mengaku dijahati Sarah dan mas Dimas tidak peduli akan kelakuan Istri keduanya itu.
Tapi sekarang, aku merasa aneh, karena mendadak saja, Ayra meminta memberikan waktu untuk Mas Dimas membuktikan perkataannya barusan.
Bukankah ini cukup janggal.
"Kak, lihat deh baik-baik. Aku lihat Abang Ipar hanya tidak peduli ketika Sarah masih ada di rumah. Sekarang Sarahnya sudah tidak ada di rumah, pasti pikiran Abang Ipar udah sehat."
Kusentuh jidat adikku. "Kamu tidak sakit kan?"
Ini membuatku mengangguk. "Ya. Mengingat pilihanmu lebih plin-plan. Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini. Apa Abang ipar memberimu sesuatu? Atau ada yang tersembunyikan?" tanyaku menebak.
"Tidak Kak. Tidak, sebenarnya aku hanya kasihan saja. Apalagi Abang ipar orangnya baik kan? Palingan semua karena pengaruh Sarah."
*****
Setelah berbincang dengan Ayra, aku mendatangi mas Dimas. Lelaki itu tampak melihat suasana sekitar lantai dua ruko ini.
"Mas, aku mau bicara."
__ADS_1
"Apa?" dia mendekat.
"Hem begini. Aku rasa kita tidak bisa kembali lagi, dan aku minta cerai sekarang juga." kataku menegaskan. Meski Ayra sudah mengatakan aku bisa kembali pada mas Dimas, tapi hatiku terlanjur sakit.
Terlihat raut kecemasan di wajahnya. "Aku … bukan tidak menghormati keputusanmu. Tapi bukankah sudah kuberikan seluruh hartaku untuk kehidupanmu? Bahkan Audrey, dia … argh! aku mau kita kembali lagi, Mia. Tolonglah."
"Maaf mas, hatiku sudah tertutup untukmu. Tiada cinta yang muncul dalam hati ini lagi, seperti yang pernah mas bilang sewaktu minta izin menikahi Sarah."
Terdengar helaan nafas Mas Dimas. "Waktu itu, aku … terpaksa melakukannya. Mas, tidak berniat membuatmu sakit, tapi masa itu nyawa Sarah ada dalam bahaya."
"Aku sudah katakan kalau aku senang hidup sendiri. Hidupku yang hilang seolah kembali, mas," kelasku.
"Mas tidak pernah memukulmu, melakukan KDRT. Jadi mas pikir jaksa pun tidak akan memisahkan kita dengan alasan seperti itu. Untuk ini, Mas mau jujur padamu. Mas, mencintaimu karena memang kamu baik dan setia. Tidak ada perempuan sesempurna kamu, Mia." Begitu kata Mas Dimas.
Cuih! Apa ini salah satu bentuk gombalan?
"Sudahlah Mas. Kita hidup masing-masing saja. Tentang Audrey, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, aku akan membiarkan mas Dimas bersama Audrey karena sampai kapan pun Audrey putri Mas," kataku ketus.
Tiba-tiba mas Dimas memelukku.
"Lepas, Mas," kataku risih.
"Pelukan terakhir sebelum perceraian. Mas akan menceraikan kamu setelah ini."
Pelukan itu sangat hangat, terlalu menyenangkan untuk dilepas.
__ADS_1
Dig dug! Dag! deg!
Jantungku seolah berdisko di dalam sana.