
"Tapi hanya Audrey yang aku miliki selain kamu sebagai adekku. Jelas saja aku tidak ingin kehilangan satupun dari kalian."
Ayra dapat melihat dengan jelas kesungguhan hati kakaknya itu. Ia menepuk bahu Mia dan tersenyum seraya berkata, "Kepergian Audrey sekarang tidak akan membuat kakak kehilangannya selamanya. Kita coba saja dulu, apakah Audrey sanggup tinggal tanpa kakak."
"Hanya sebentar?" ucap Mia memastikan.
"Setidaknya untuk beberapa waktu. Setahuku anak perempuan tidak akan sanggup tinggal bersama ayahnya dalam jangka waktu yang lama tanpa seorang ibu, seperti kita dahulu."
Mereka jadi nostalgia, Mia dan Ayra dapat mengingat dengan jelas masa lalu kelam mereka waktu kecil.
"Baiklah, kalau itu dapat membuat Audrey sadar akan semuanya. Aku bisa melepasnya."
Ayra sontak senang dengan keputusan yang akhirnya dibuat kakaknya itu dia bahkan mengacungkan jempol dan tersenyum semakin lebar. "Aku harap setelah ini kakak dapat menjalani hidup lebih baik lagi."
Mia mengangguk. Meski tahu itu berat, ia akan berusaha. "Mungkin sebagai tanda perpisahan sementara, aku harus mengantar Audrey nya ke depan Mas Dimas."
"Itu ide yang bagus," jawab Ayra senang. Karena itu, Ayra melajukan mobilnya sehingga tepat di dekat Audrey yang duduk di halte depan perumahan.
__ADS_1
Mia dan Ayra mendekati Audrey, tetapi anak itu terlalu menjaga jarak dengan mereka, Audrey bahkan berusaha melarikan diri.
Tapi untungnya, Mia dan Ayra dapat dengan segera menghentikan usaha pelarian anak itu lagi. Ayra menggenggam tangan Audrey serta berkata, "Jangan lari! Tolong jangan lari."
"Tante dan Mama mau apa?!" teriak Audrey kesal.
Teriakan ini membuat Ayra berpikir keras, Sebenarnya belajar darimana keponakanku sampai berani meneriaki orangtua?
"Mama hanya mau mengantarmu bertemu Papa," jawab Mia dengan suaranya yang lembut dan terkendali.
Kening Audrey tampak mengerut dia seolah tidak percaya dengan ucapan sang Mama. "Audrey ga mau ikut Mama!" teriak anak itu lagi.
"Ya, kita akan menunggu ayah kamu menjemput," ucap Aira menimpali.
"Tante yakin?" Audrey masih tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Iya. Tante yakin!"
__ADS_1
Saat Audrey merasa senang, sebuah motor berhenti di dekat mereka. Saat menoleh, ternyata ada Dimas di sana.
"Papa!" teriak Audrey sambil mendekat bahkan memeluk Ayahnya itu saat baru turun.
Tapi Dimas tidak membalas pelukan, dia lebih fokus menatap Mia. Apa Mia marah, atau kesal... Semua masih ada dalam kepalanya.
"Pa, gendong!" pinta Audrey sambil membentangkan kedua tangannya.
Dimas tidak menyahut. Isi kepalanya penuh kesiagaan, apakah ini sebuah jebakan, atau tidak?
Ayra dapat menyadari kegugupan Dimas. Untuk itu dia menyenggol lengan Mia yang tidak memandang ke arah Dimas dan Audrey.
"Kenapa harus gugup?" tanya Mia menegor. Wajah dan suaranya sangat angkuh didengar. Karena sebenarnya dia masih kesal dengan mantan suaminya itu.
"Hem itu. Aku hanya mau tau. Kamu tidak marah lagi kan? Kenapa Audrey bisa menghubungi ku lewat nomor Ayra? Aku–"
"Sudah cukup. Itu bukan satu pertanyaan lagi! Sudah dua" bantah Mia mulai emosi.
__ADS_1
Dimas diam.
Sedangkan Audrey, semakin tidak menyukai sang Mama karena tidak seperti Mamanya yang penyayang, lemah lembut dan membebaskannya bertemu dengan sang Papa.