
Mia menggeleng atas tuduhan Putrinya tersebut. "Mama hanya khawatir sayang, bukan mau merendahkanmu. Mama tahu kamu adalah anak yang kuat. Kamu–"
"Kalau mama khawatir sama Audrey, seharusnya Mama setuju nikah sama Papa lagi. Audrey cape bujuk Mama dan Papa yang terus berpisah! Ini demi Audrey, Mama. Jangan pikirkan yang lain," kata Audrey yang sudah tidak dapat menahan perasaan yang sudah bergejolak ingin disalurkan. Anak berusia 7 tahun itu bahkan menangis sejadi-jadinya hingga Mia memeluk anaknya itu.
"Ayolah Ma … Papa sudah janji akan berubah. Itu tidak cukup?!" tanya Audrey disela tangisnya.
Mia menggeleng tanpa bicara. Ketika mendengar tangisan Audrey, Mia pun langsung menangis. Audrey adalah putrinya, ia dapat merasakan bagaimana Audrey yang sedih.
"Mama tahu maksudmu, sangat tahu! Tapi tentang takdir tidak ada seorang pun yang tahu," Mia berjongkok di hadapan Audrey, menyeka air mata dirinya dan anak itu. "Mama paham kamu masih terlalu kecil untuk memahami semua ini, sayang. Kita hidup seperti ini saja ya. Mama janji akan selalu penuhi segala keinginanmu."
'Mama kenapa sih!' hati Audrey hancur dan dia menggerutu. Membujuk sampai menangis, Audrey pikir merupakan opsi yang tepat. Tapi Mamanya tetap teguh pada pendiriannya. Entah apa alasan sang Mama tetap melakukannya.
__ADS_1
"Ma …" Audrey ingin berbicara. Tapi Mia langsung menutup mulut Audrey dengan telunjuknya dan mendesis.
Sssttt.
"Menikah atau bukan, kamu tetap akan bertemu pada Papamu, tiada yang melarang."
"Tapi Mama larang Papa ketemu sama Audrey," bantah anak itu.
"Tapi bukannya Papa udah ga dekat-dekat lagi dengan Mama Sarah! Mama Sarahnya sudah pergi entah kemana! Papa juga sudah janji kalau mama mau nikah dengan papa lagi, hidup Mama akan lebih terjamin!"
Mia menggeleng dengan penuturan kata putrinya itu. "Seperti yang sudah sering mama katakan, Mama lebih nyaman seperti ini. Kamu harus tahu itu!" Mia berdiri setelah mengatakan ucapannya yang sangat tegas. Teringat akan semua kejadian yang telah menimpanya, serta sebuah video kiriman Ayra seketika membuka matanya.
__ADS_1
'Lelaki yang sudah melakukan pengkhianatan tidak akan pernah berubah. Jangan kembali padanya meski dia sudah memberikan hampir seluruh hidupnya padamu sebagai tanda penyesalan. Apalagi jika kamu tidak ingin kembali terluka.' kira-kira begitu isi kiriman video itu.
Jujur saja, Mia lebih nyaman seperti ini. Tidak ada tanggungjawab yang terlalu mengikat. Bekerja dan bertemu dengan siapa saja sesuka hatinya tanpa ada yang melarang.
Mia yang awalnya bodoh, kini berusaha hidup merdeka dan mandiri. Ia sudah mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Kecuali cinta dari seorang pria. Tapi kini, itu bukan yang terutama. Mia sudah bahagia seperti ini. Sedangkan bagi Audrey, keputusan yang dibuat sang Mama seperti kecaman untuknya.
Anak itu menggigit giginya sendiri dan mengepalkan tangan. "Mama egois! Papa sudah berkorban sangat banyak untuk mendapatkan hati Mama. Hanya satu saja kesalahan Papa, tapi Mama sudah menolak semuanya! Audrey benci Mama, sangat benci!" Audrey melangkah pergi keluar dari dapur setelah mengucapkan kalimat pedas yang menusuk sampai ke ulu hati Mia.
Sedangkan Mia hanya mampu terdiam untuk mengontrol seluruh emosinya.
__ADS_1