
POV Mia.
Subuh-subuh buta seperti ini, aku dibantu Ayra berkemas di kamar.
"Kakak bawa saja semua baju, serta selimut dan semua buku-buku," bisik adikku supaya tidak mengganggu mas Dimas dan Sarah di kamar lain.
Perlu satu jam juga kami berkemas, karena harus memikirkan bagaimana cara memasukkan barang-barang itu tanpa menimbulkan suara.
Setelah semuanya selesai, kami keluar dari kamar yang sudah kami rapikan dan semua barang juga sudah dimasukkan ke dalam mobil.
Kami keluar dengan perlahan sampai depan pintu utama, hal ini jelas membuat kami jantungan. Karena harus memikirkan apakah kami menimbulkan suara hingga mengganggu suami dan maduku itu, atau tidak. Pintu ku tutup dari luar, aku masuk ke dalam mobil Ayra. Setelah mobil berjalan, Ayra tiba-tiba tertawa.
"Hahaha…!"
"Kenapa dek?" tanyaku bingung.
"Kita lucu sekali tadi," balas Ayra dengan kekehan.
Aku hanya tersenyum membalas Ayra, kemudian melihat putriku yang sebelum kami berkemas pun, sudah ada di dalam mobil bersama adik iparku.
Audrey tampak tidur dengan nyaman. Dia bahkan tidak tahu jika kami akan pindah rumah tanpa sepengetahuan Papanya.
__ADS_1
Sebenarnya aku pun tidak tahu, apakah kelakuanku yang pergi tanpa sepengetahuan suamiku merupakan sebuah kesalahan atau tidak mengingat kami masih berstatus suami istri.
'Tapi bukankah Mas Dimas pernah mengatakan kalau aku bisa pergi dari rumah ini kapanpun yang kuinginkan.'
Di dalam mobil, selama beberapa menit tidak ada pembicaraan. Sehingga aku mulai mengantuk dan berkata, "Aku boleh tidur kan dek?" ucapku meminta izin.
"Oh, tidur saja kak. Perjalanan masih ada 50 menit lagi."
Aku pun tidur. Dan entah sudah berapa lama aku memejamkan mata dan bermimpi banyak hal yang cukup tak masuk akal, kudengar sayup-sayup suara Ayra yang mengatakan, "Kak, bangun. Kita sudah sampai."
pintu mobil terbuka Aira tampak berusaha membangunkanku bahkan Audrey yang sebelumnya aku pangku, tidak ada di dalam mobil.
"Tenang saja kak. Audrey aman, dia di sana digendong mas Dean."
Aku mengangguk dengan perasaan lega. Kemudian keluar dari mobil. Keadaan masih begitu tenang dan sepi. Bahkan matahari belum muncul karena jika kuhitung, sekarang masih sekitar jam empat subuh.
"Ayo masuk ke dalam kak," kata Ayra dengan senyum.
"Kemana?" tanyaku karena belum nyambung.
"Ke Rumah baru kakak," jawab Ayra. Dia menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Ini dibayar tidak nih?" mendadak aku takut. Karena jika kuingat, aku hanya punya 300 juta dalam ATM. Sedangkan ruko ini mungkin memiliki harga 1M.
"Mas Dean sudah membayar lunas kak." Seenteng itu jawaban Ayra. Jelas saja aku syok.
"Kalian baik sekali, terima kasih." hanya itu yang bisa kukatakan.
"Sama-sama. Sekarang ayo masuk kak."
Namun kakiku belum sanggup melangkah.
"Kenapa lagi kak?"
"Tapi harganya 1M loh dek. Ini benar sudah lunas?" aku tak percaya.
"Suami aku kan orang kaya kak, lagipun apa yang aku minta asalkan menyangkut jatah malam Jum'atan, mas Dean tidak akan mampu menolak," kata Ayra menjelaskan.
"Kalian terlalu baik!" aku memeluk Ayra sebagai tanda berterimakasih.
"Kakak sudah pernah membantu Ara sewaktu pikiran Ara sedang buntu kak. Dan Ara benar-benar berhutang tentang itu. Uang satu miliar bukan masalah."
Aku menggeleng tidak percaya dengan perkataan saudariku ini. 'Pemikiran sultan agak beda ya,' batinku.
__ADS_1