Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
66. Kesepakatan


__ADS_3

Seusai Dimas mengerti dan membawa Audrey pulang ke rumah lama, kini Mia hanya sendiri. Dia pulang bersama Ayra. Tetapi karena melihat kemurungan Mia, Ayra pun singgah di rumah Mia sambil berusaha menenangkannya.


"Seperti yang sebelumnya sudah aku katakan, kita lakukan percobaan hanya selama sebulan ini saja kak. Lagian Audrey tinggal bersama Papanya kan, bukan orang lain. Jadi pasti aman," begitu ucap Ayra.


Mia tidak menjawab, dia hanya mampu menghela nafas berat.


"Ayra ingat, sekolah Audrey ada di sebrang perumahan. Kakak bisa mengintip keadaannya untuk sekedar memastikan. Atau, kakak bayar saja seorang security untuk meletakkan kamera video supaya kakak dapat melihat Audrey tanpa bertemu. Ayra yakin ini berhasil, karena Ayra juga sering melakukannya terutama sewaktu Ayra ikut mas Dean jalan-jalan tanpa anak-anak."


Mendengar ucapan itu, membuat mata Mia membola. Dia terkejut dan senang. Sungguh sesuatu yang diluar pemikirannya. Untuk itu Mia berdiri dan menunjukkan senyum lebar. Sedikit membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu, hal ini tentu membuat Ayra cemas.


"Kakak mau kemana?" tanya Ayra.


"Minta izin sama guru perihal ketidakhadiran Audrey hari ini."


Ayra mengerutkan kening, dia tidak percaya begitu saja jika tujuan kakaknya hanya minta izin. "Ayra pikir kakak mau melakukan yang Ay bilang baru saja. Begitu kan?" tanya Ayra.


"Nah, kamu tau itu." Mia berjalan dengan girang. Percis seperti orang yang baru mendapat kemenangan.

__ADS_1


"Ayra mau ikut kak! Bosan juga di rumah, tidak ada teman."


"Boleeeh. Ayolah!"


Mereka jalan sama-sama ke sekolah Audrey. Kali ini dengan motor Mia sebagai kendaraan.


Setelah sampai, terlebih dahulu Mia mendatangi wali kelas Audrey, Mia menerangkan alasan Audrey tidak hadir. Setelah mendapat izin, Mia pun mendatangi security dan berbincang berdua.


"Permisi Pak Jur. Saya Mia, wali murid kita Audrey."


"Begini, saya ingin meminta pertolongan pak Jur untuk mengawasi putri saya yang bernama Audrey. Kalau perlu saya akan membelikan kamera untuk bapak pakai mengawasi Audrey."


"Kalau boleh tau, untuk apa ibu melakukannya? Apa anak ibu sedang dalam bahaya?"


"Tidak-tidak. Anak saya baik-baik saja. Saya hanya berharap bapak mau bekerja sama dengan saya memvideokan keadaan anak saya di kelas maupun sekolah."


"Tapi kenapa Bu? Apa ibu boleh menjelaskannya lebih detail pada saya?"

__ADS_1


Mia berpikir sejenak, dia bingung mau katakan apa.


Melihat kebingungan kakaknya itu, Ayrapun memutuskan melanjutkan maksud Mia.


"Hari ini Audrey tidak masuk, karena dia memutuskan tinggal bersama ayahnya. Pernikahan Ibu Mia dan suaminya sudah berakhir, sehingga Audrey bisa memilih dia tinggal bersama siapa, ibu atau ayahnya. Ibu Mia hanya berharap bisa menyaksikan kehidupan anaknya di sekolah. Hanya sampai di sini saja saya bisa menjelaskan. Bagaimana pak, apa bapak mau membantu ibu Mia?"


"Gimana ya, sepertinya ini sangat sulit," ucap Pak Jur yang tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung mau mengambil langkah seperti apa.


"Ayolah pak. Kami akan membayar berapapun yang anda inginkan."


Pak Jur merasa ini penawaran yang cukup menarik, apalagi pengeluaran pak Jur sedang meledak, sehingga dengan sedikit ragu dia menyetujuinya.


"Baik, mungkin bisa diatur," dia tersenyum lembut.


Mia langsung menjabat tangan security di sekolah itu.


Segera Mia mengeluarkan lembaran uang seratus ribu yang berjumlah tiga. "Ini uang mukanya ya Pak Jur. Terimakasih atas kesediaannya!"

__ADS_1


__ADS_2