
Mas Dimas benar-benar menunaikan janjinya. Kini, beliau tak jadi suamiku melainkan mantan. Sudah sebulan sejak surat perceraian mendatangi rumahku, tapi mas Dimas masih sering-sering mengunjungi kami.
"Papa antar ya ke sekolah."
Seperti biasa, mas Dimas akan datang ke rumah dan mengantar Audrey ke sekolah. Walau letak sekolah tidak jauh, tapi mas Dimas terus melakukannya.
"Apa mas tidak lelah jalan jauh dari rumah mas ke sini?" ucapku saat mas Dimas menunggu Audrey bersiap-siap.
"Tidak, Mas senang bersama Audrey," jawab mas Dimas sambil memperlihatkan senyumnya.
Aku menghela nafas berat. Jika saja mas Dimas mau mengantar jemput Audrey dan selalu bersikap semanis ini, mungkin saja aku tidak akan mengajukan cerai.
Wajah mas Dimas juga begitu berseri, dia terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Apa ini yang disebut, 'jika bukan milik kita, maka terlihat lebih indah dan menarik dipandang?'
Huh. Entahlah.
Kami memang berstatus janda duda. Perpisahan baik-baik membuatku merasa kami masih suami istri.
Karena mas Dimas lebih sering menghabiskan waktunya di ruko bersama Aku dan Audrey daripada di rumahnya dahulu.
__ADS_1
Memang terasa aneh, tapi inilah kenyataan.
Yang membedakan hanya satu, kami tidak berhubungan badan. Tapi tetap saja segalanya berjalan lebih menyenangkan.
Sepulang mas Dimas mengantar Audrey ke sekolahnya, dia akan duduk di sofa dan menerima sarapan pagi. Mas Dimas juga membantuku menyelesaikan pesanan pembeli online yang membludak. Kemudian pada jam 8 kurang 17, dia akan pulang ke rumahnya untuk siap-siap berangkat ke kantornya.
Sedangkan pukul 2 siang, Audrey akan pulang bersama mas Dimas. Tapi karena mas Dimas nya masih kerja, maka mas Dimas tidak akan menongkrong di ruko.
Awalnya, semuanya sangat canggung, tapi lama-lama terbiasa juga. Setelah bercerai, menurutku mas Dimas jadi lebih romantis.
'Huh, tolong Mia, jangan terlalu baper!' kukuatkan hatiku supaya tidak terbuai dengan segala kelembutannya.
Aku mengerutkan kening ,"Bayar uang sekolah?" beoku bingung. Setelah sadar, barulah aku merasa bersalah. 'Oh Tuhan, aku melupakan bayaran uang SPP Audrey! "Maafkan Mama ya, sayang. Jadi Papa yang bayar," kataku sedih.
"Papa kan boleh bayar uang sekolah Audrey."
"Tapi Mama …" argh! Aku hampir lupa jika Audrey tidak tahu jika mas Dimas sudah berpisah denganku.
"Ya sudah, tidak apa. Nanti sore kita kasih hadiah sama Papa ya, sebagai tanda terimakasih," jawabku.
__ADS_1
"Oke Ma!" Audrey selalu menunjukkan kebahagiannya. Sejak Sarah tidak ada, segalanya sangat mudah. Segalanya memang kembali, tapi dengan sedikit perubahan.
Sore hari, pukul 5 mas Dimas pulang dari tempat kerja. Audrey baru siap mandi saat mas Dimas pulang ke ruko dengan sebungkus kue-kuean.
"Kenapa bawa kue, Mas?" tanyaku bingung. Tidak biasanya.
"Tadi waktu jemput Audrey dari sekolahnya, Audrey nitip kue apa saja. Jadi aku beli kue di tukang gorengan." jawab mas Dimas sambil meletakkan plastik berisi kue itu.
"Hah? Memang ada?"
"Apanya?" mas Dimas melihatku bingung.
"Maksudku, memang ada kue di tukang gorengan?"
"Ya adalah. Lihat kuenya, seperti kue cup gitu. Beberapa bahkan aku beli telur tusuk dan tahu goreng isi," jelas mas Dimas.
Yah, aku salah mengerti tadi. Hahahaha, jadi malu.
"Ma! Aku sudah selesai!" Audrey berlari dari tangga. Ini membuatku takut dan berkata, "Hati-hati, nanti jatuh!"
__ADS_1
Tapi Audrey tidak mengindahkannya. Ia berlari menuju Papanya, dan tertawa kegirangan saat Mas Dimas menyambut Audrey dengan pelukan.