Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
6. Anjuran Cerai?


__ADS_3

"Jujur ya kak Mi. Aku selalu sedih! mendengar semua cerita yang kakak katakan itu, dari kehilangan kasih sayang, madu yang kerja nya mengadu domba biar suami kakak marah dan terjadi pertengkaran sampai keponakan ku yang tidak di perhatikan lagi. Tapi, gimana ya aku bilang sama kakak. Sudah berulang kali Ara katakan, supaya kakak cerai saja sama suami kakak itu."


"Tapi aku–"


"Persetan tentang cinta, cinta ini membunuh mu kak! Percaya saja pada adik mu ini."


Ayra nama adik ku. Kami dua bersaudara dan dia satu-satu nya keluarga yang ku punya saat ini,


kedua orang tua kami meninggal tiga tahun yang lalu sehingga hanya dia tempat mengadu. Setiap aku sedih, kami pasti melakukan video call, bukan aku yang selalu menghubungi nya, tapi Ayra dari inisiatif nya.


Dia selalu berteriak menyakinkan ku supaya berpisah saja dengan mas Dimas. Tapi bagai suara rakyat, aku tidak pernah mendengar nya.


Ini bukan tentang cinta lagi. Tapi tentang anak ku. Perpisahan bisa membuat anak ku tidak memiliki papa lagi. Aku tahu itu menyakitkan.


"Kak!" suara teriakan Ayra adik ku, kembali membuat kesadaran ini kembali.


"Kenapa?" tanya ku terkejut.


"Coba kakak dengar baik-baik ya," suara Ayra kembali lembut. "Semua nya sudah kelewat batas, kak. Pernikahan di buat supaya bisa menyalurkan hasrat dengan cara halal. Namun di dalam pernikahan juga harus ada kebahagiaan. Apa kakak tidak lelah terus bertengkar dan menangis sedih setiap kali semua 'kebahagiaan' yang sebelum nya kakak pernah capai perlahan menghilang?" ucap Ayra menjelaskan.


"Bukan begitu, ini tentang Audrey."


"Kenapa dengan keponakanku kak?" Ayra tampak kepo.


"Hem, kamu tahu kan Audrey masih kecil."


"Iya."

__ADS_1


"Tidak punya Papa itu bisa membuat Audrey sedih."


"Adu kakak …! Itu lebih baik dari pada kakak tersiksa batin di rumah suami sendiri!" cibir adik ku kesal. "Ya sudah deh kak, nanti kita bicarakan ini lagi. Suami aku sudah memanggil nih, lelah juga Ayra bicara sama kakak! Padahal Ayra hanya berbicara berdasarkan fakta dan ingin kakak terbebas dari masalah yang mengikat rantai di leher kakak! Menurut Ayra dari pengalaman bibi Santi cerai bukan masalah besar, justru hidup lebih have fun!"


Video call di matikan.


Aku menghela nafas dan meletakkan ponsel di nakas untuk dicas. Menoleh ke samping, terdapat anak ku yang tidur seranjang dengan ku.


Audrey tidur sangat nyenyak meski aku tahu betapa berat nya gadis kecilku ini mendapat begitu banyak cobaan dari papa nya yang semakin keterlaluan.


Aku tahu Mas Dimas tidak main kasar, tapi Mas Dimas sudah menganggap kami bukan siapa-siapa.


Aku mengelus kepala anak ku dan mengecup kening nya. "Apa keputusan Mama tidak salah jika Mama minta cerai?" aku bertanya pada Audrey. Berat rasa nya jika Audrey tahu dia tidak memiliki Papa lagi.


Segalanya cukup rumit.


"Mia!" segera terdengar suara si kampret Sarah. Seperti biasa, tiap malam ia akan meneriaki nama ku dari kamar nya.


Pernah sih dia ku lawan, tapi kekuatannya sangat besar, sepengetahuan ku dia adalah atlet karate saat remaja. Mungkin, jiwa bertarung nya masih bertahan.


"Ada apa?" tanya ku kesal saat sampai di kamar nya.


"Tolong ambilkan cemilan di dapur," kata nya dengan angkuh.


"Malam-malam begini?" tanya ku bingung.


Dia mengangguk, "Iya. Aku lapar, mau makan."

__ADS_1


Aku berbalik untuk mengambil pesanan nya.


Tapi dia kembali memanggil ku. "Jangan lupa buatkan sambal cocolan."


Seketika kening ini mengerut, "Sambal ku kan pedas, orang hamil tidak boleh loh makan pedas-pedas," kata ku memperingatkan.


"Apa hak mu mengatur ku? Cukup jalankan tugas atau aku aduin sama mas Dimas, mau kamu?!"


"Laporin aja! Siapa takut? Aku kok istri pertama. Ya tinggal bilang aja sama mas Dimas kamu mau di buatkan sambal cocol padahal itu pedas, pasti mas Dimas lebih mempercayai aku dari pada kamu!" kata ku dengan bangga. Meski kurang yakin juga sih…


Tiba-tiba dia berdiri dan mulai menyerang ku. "Dasar kamu perempuan kampungaaaan … pantas saja mas Dimas tidak selera lagi dengan mu. Sifat cerewet gitu … mana tidak bisa melayani suami dengan baik lagi!"


Aku kesal, jadinya menampar nya. "Kurang hajar kamu ya?! Tau apa kamu tentang pernikahan ku dengan mas Dimas?!" tanya ku kesal.


"Mia!" suara Mas Dimas meneriaki ku. Dia mendekat ke Sarah. "Jangan coba macam-macam dengan Sarah kamu, ya! Ternyata benar kata Sarah, kamu bukan perempuan penurut! Padahal Sarah lagi ngidam!"


'Apa-apaan ini!?' aku terkejut. "Kalau aku tidak mau memang nya kenapa mas? Ikuti mau nya dia tidak ada untung nya untuk ku!" kata ku kesal.


"Kan sudah Mas bilang, kalian sebagai istri-istri mas harus akur."


Kata-kata legen itu selalu di katakan mas Dimas untuk menghentikan segala pembelaan ku. "Mas egois!" kata ku emosi. "Aku sudah muak, mas! Lihat aja, mas hanya peduli pada istri baru nya mas. Tanpa mas ingat aku yang temani karir mas Dimas dari nol. Mas Dimas lupa? Mas dulu nya siapa? Mas lelaki kere. Tapi dengan bantuan Ayah aku, maka nya mas jadi seperti sekarang. Kalau Ayah aku tahu mas menyakiti hati anak nya, mungkin mas sudah di bawa ke alam kubur!"


"Tapi kan ayah kamu udah mati!" suara si kampret Sarah berbunyi. Aku kesal setengah mati. "Kamu bilang apa?!" tanya ku sambil melangkah maju. Ingin ku hajar perempuan brengsek yang satu ini. Sampai kursi kecil di dekat ku menjadi alat. Tapi tangan mas Dimas langsung menghentikan nya.


"Hentikan, Mia!" kata Mas Dimas dengan suara rendah nya.


"Arrrgghhh!" aku kesal. Akhir nya pergi ke kamar dengan isak tangis.

__ADS_1


'Oh Tuhan, apa salah ku? Kenapa pernikahanku jadi sekacau ini?" kata ku setelah berbaring dan menatap langit-langit kamar. Hati ku sakit, teriris dan panas. Aku sangat menderita.


'Apa anjuran Ayra supaya aku cerai ada benar nya?" tanyaku dalam hati.


__ADS_2