
Setelah sepakat, Mia pulang ke rumah dan segera memesan cctv mini tanpa kabel di toko online dengan bantuan Ayra.
Esok harinya, paket itu datang. Meski menggunakan ongkos kirim yang lumayan mahal. Dia memesan 3 cctv, serta meminta Security memasangkannya. CCTV ini sangat mini, bahkan tanpa kabel hanya perlu ditempel saja, untuk itu Mia meminta Security menempelkannya di dinding CCTV milik sokolah. Cukup praktis dan tidak mengeluarkan lebih banyak tenaga apalagi ketahuan.
"Terimakasih bantuannya Pak," kata Mia sambil tersenyum. "Oh ya, ini uang sisanya." Untuk membeli semua benda yang diperlukan, termasuk biaya pembayaran pada sang security, Mia menghabiskan 2 jutaan. Lumayan menguras isi dompet.
Mia juga memasang aplikasi khusus untuk memantau aktivitas yang dapat terlihat oleh CCTV mininya tersebut. Tetapi dia tidak dapat berlama-lama di area sekolah. Karena Audrey dan Dimas muncul lebih awal dari perkiraannya.
"Mia? Kamu buat apa di sini?" tanya Dimas yang awalnya punya niatan menyapa.
Tapi Mia malah mendengus sebal seraya berkata, "Melunasi pembayaran uang sekolah. Sebentar lagi Audrey kan mau ujian." jawabnya dengan angkuh.
Dimas mengangguk dan mencoba tersenyum. Sedangkan Audrey yang memperhatikan pembicaraan singkat kedua orangtuanya itupun semakin kesal melihat sang Mama.
'Aku senang tinggal bersama Papa. Semalam kami jalan-jalan dan bebas kemana-mana. Tidak seperti mama. Harus di rumah ketika malam, bahkan membosankan!' dengan kata lain dia beruntung berhasil pindah dari rumah mamanya ke rumah Papa.
__ADS_1
Saat Mia membawa motornya menuju rumah, Dimas mengantar Audrey bahkan sampai ke pintu kelas.
"Semangat belajarnya ya, sayang. Papa akan kerja dulu."
Audrey menyalim tangan Dimas dan pergi duduk dalam kelas.
Tak lama setelah Dimas pergi, teman-teman Audrey yang sebelumnya selalu terpukau dengan segala kepunyaan Audrey pun semakin takjup lagi dengannya.
"Kemarin-kemarin Mama sekarang papa. Mana dibawa pake motor ninja lagi. Woh, kayanya keluargamu Audrey!" kata Tari salah satu teman Audrey.
"Sekaya apa sih keluargamu Drey?" tanya Erli penasaran.
SD Permata adalah sekolah dengan akreditasi A. Tetapi diisi Mayoritas siswa sederhana. Jadi akan menjadi sesuatu yang cukup heboh kalau Audrey menjadi anak paling kaya satu kelas.
"Aku enggak kaya loh, jangan terlalu banyak berhalu deh!" kata Audrey yang tidak ingin teman-temannya mengganggunya hanya karena dia anak orang kaya. Mengganggu dalam artian ingin Audrey mentraktir mereka 1 kelas.
__ADS_1
******
Di sisi lain, ada Mia yang duduk di sofa rumahnya. Dia sedang memperhatikan 3 video yang ditangkap kamera CCTV yang baru dipasangnya tersebut.
"Ternyata Audrey berteman baik dengan teman-temannya," gumam Mia senang. Tapi pandangannya tercuri oleh pemandangan seorang gadis yang mirip dengan Audrey, Dia tampak begitu sedih dan menderita. Selalu sendirian di sudut kelas–kelas yang sama dengan Audrey.
"Anak itu, bukannya anak yang kemarin ya?" Mia berpikir keras untuk anak yang selalu membuatnya bertanya-tanya, 'Sebenarnya anakku ada berapa sih?'
Dia tidak pikir jika itu adalah putri keduanya, Mia hanya teringat akan putranya yang meninggal saat dilahirkan itu.
Tok tok-tok.
Mia menoleh ke arah pintu apalagi saat dia melihat ada seorang pria di sana. Ayah anak kecil yang mirip Audrey.
"Mau bertemu dengan siapa ya?" tanya Mia penasaran.
__ADS_1