
Aku kembali ke rumah sambil membawa Audrey yang ku jemput tepat pada waktu nya pulang sekolah. Bersama Ayra yang mengantar ku menggunakan mobil sampai ke depan pintu rumah.
"Terimakasih sudah mengantarku ya, Ar," kata ku sambil tersenyum.
"Sama-sama kak. Jangan lupa tentang yang tadi ya," kata Ayra yang segera ku angguki.
Aku berjalan masuk ke rumah dan melihat Sarah yang melempar kekesalan padaku.
"Apa lihat-lihat?" tanyaku mengerutkan kening. Si kampret Sarah semakin menyebalkan bahkan dari tampang nya saja.
"Kenapa lama sekali?!"
Aku merasa aneh dengan pertanyaan nya itu. "Ya suka suka aku lah mau lama atau tidak. Memang apa urusan mu?"
"Kata mas Dimas kamu pergi belanja. Tapi malah pulang tanpa bawa apapun. Mana di antar pakai mobil lagi. Jangan-jangan yang ngantar pacar baru mu ya?"
"Sembarangan!" cibirku kesal. "Yang ngantar itu adikku ya. Aneh-aneh saja pikiran nya." Aku menggeleng tidak percaya dengan dugaan madu ku yang tidak tahu diri ini. Mana dia tuduh aku belanja lagi. Hahaha, aku tahu maksud nya. Dia pasti mau minta makan. Jangan-jangan si bodoh itu malah tidak makan seharian.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam kamar, tetap menggenggam tangan anak ku. Membantu Audrey berganti pakaian dan mengunci kamar.
Dalam tas Audrey ada sebungkus rendang yang enak nya bukan main. Tadi di rumah Ayra, kami masak rendang ayam bersama-sama, jadi aku bisa deh makan siang tanpa harus memasak lagi di rumah. Apalagi ada si Sarah yang kerja nya minta-minta makanan, sungguh menghancurkan mood setiap aku makan.
Dor dor dor. Suara pintu yang digedor.
"Siapa itu Ma? Kenapa dia terus gedor pintu kita?" tanya Audrey kebingungan.
"Biarkan saja Sayang. Palingan orang itu mau ngemis makan."
"Kita tidak berbagi dengan nya?" Audrey kembali melempar pertanyaan.
Audrey mengangguk, "Jangan berbagi pada siapapun, ini hanya khusus untuk kita," kata Audrey masih mengingat kata-kata Ayra.
"Lagipula rendang nya hanya cukup untuk kita, jadi untuk apa berbagi dengan nya. Memang dia pernah berbagi dengan kita, tidak kan?" tanya ku mencoba mengajari anak ku berpikir realistis.
"Tidak Ma."
__ADS_1
Aku yakin anak ku tau siapa yang sedang kami bicarakan. Siapa lagi kalau bukan si kampret Sarah? Aku sudah sangat-sangat kesal melihat keberadaan nya, tapi suami ku yang lebih mencintai setan berwujud janda bohay itu, yang membuat posisi nya sangat kuat di rumah ini.
"Kalian makan sembunyi-sembunyi ya?!" suara Sarah terdengar kesal. Mungkin saja aroma rendang yang kami makan sampai ke penciuman nya.
"Kita diam saja 'ya," ucapku pada Anak ku.
Audrey mengangguk dan kami makan dengan gangguan. Memang si kampret Sarah selalu menghantui kehidupan kami, semua menjadi milik nya, si sialan itu … entah kapan dia lenyap dari kehidupan ku!
****
Malam hari nya aku malah kena marah sama Mas Dimas, dia mempermasalahkan Sarah yang mengaku sakit setelah tidak makan seharian.
"Kenapa kamu tidak memberikan Sarah makan, Mia?!" tanya Mas Dimas emosi.
"Lah, sampai urusan makan pun harus aku yang siapkan?" kataku ikut emosi.
"Sarah hamil, Mia. Tolong mengerti, dia suka mual, tidak bisa masak. Aroma bawang saja sudah membuat nya muntah. Sekarang lihat lah Sarah sakit, awas saja sesuatu terjadi pada bayinya, aku tidak akan memaafkan mu, Mia!"
__ADS_1
Aku hanya menatap tajam penuh kemarahan pada suami ku yang sudah berubah. Dia benar-benar menggilai Sarah, dan alasan aku tetap diam adalah, rasa bosan. Aku kesal karena suami ku terus memihak si sialan Sarah. Dan segala pembelaan ku hasilnya percuma.