Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
41. Tiada Peluang


__ADS_3

POV Audrey.


Aku tahu, diri ini hanya anak kecil yang tidak seharusnya ikut campur dalam kegiatan orang dewasa.


Tapi kala melihat kedekatan mama dan om Muel entah mengapa aku merasa, Mama dan Papa tidak akan pernah bersatu lagi.


Mungkin saja hubungan mereka tidak hanya sekedar 'teman' tapi lebih dari itu. Aku mendengar dengan jelas segala percakapan mereka.


Cukup mustahil jika mereka hanya sebatas teman. Apalagi tatapan Mama pada Om Muel maupun sebaliknya, lebih terlihat seperti tatapan Mama pada Papa, tatapan penuh cinta.


Untuk itu aku berpikir mungkin mereka adalah pasangan di masa lalu. Maksudku sebelum Mama dan Papa menikah. Dan ketika mendengar Om Muel bertanya tentang makanan, apalagi pergi ke restoran ala pribumi' milik Papa, aku pun segera berteriak dengan semangat!


"Ke sana aja om Muel! aku mau makan, lapar!"


Beruntungnya om Muel mau menuruti kemauanku.


Harapannya sih, Papa ada dalam restoran. Meski jabatan papa sangat tinggi, kantornya satu gedung dengan restoran. Mengingat sekarang pukul 3 sore, aku harap Papa berniat turun ke restoran untuk melihat Mama dan Om Muel seperti pasangan.


Cemburu?

__ADS_1


Ya jelas. Aku ingin mama dan papa Dimas bersama. Bukan Mama dan Om Samuel. Membayangkan memiliki Papa baru sangat mengerikan.


Aku jadi ingat, Papa temanku sering memukul dan menjahati anak tirinya. Karena kebanyakan Papa tiri hanya cinta pada Istrinya saja, bukan anak dari pernikahan sebelumnya.


"Audrey mau makan nasi goreng Ma!" Aku berteriak girang sambil menggandeng tangan Mama. Kuat-kuat supaya Om 'nyebelin' itu ga mesra-mesra sama Mama! Sengaja juga, aku ada di tengah keduanya.


Hahaha!


Om Muel memperlihatkan wajah masamnya, dia pasti sedang kesal sekarang.


Mama mengambil di meja nomor 23. Meja kosong yang dekat dengan jendela.


"Sekarang masih siang, Sayang. Minum dingin-dingin di tengah siang gini bisa buat kamu sakit."


Hu-uh! Aku kesal dalam hati.


Bagaimana mungkin Mama menolak permintaanku? Bukankah sudah biasa orang minum yang dingin di tengah panas? Orang di pantai contohnya, mereka minum es kelapa muda. Tapi ya sudah lah, "Oke, Ma."


"Samuel," kudengar Mama memanggil Om Muel yang sedang memperhatikan restoran mewah rancangan Mama dan Papa.

__ADS_1


Ingin sekali kukatakan kalau restoran ini adalah milik Papaku, supaya dia diam seribu bahasa!


"Kenapa?"


"Kamu mau memesan apa?" tanya Mama lembut. Entah mengapa rasanya kesal melihat tatapan penuh kerinduan itu!


"Hem, menu yang sama denganmu saja," balas om Samuel sambil tersenyum. Kutatap pria bertubuh tinggi itu dengan sebuah pertanyaan,


Sebenarnya Dia mau lakukan apa sih? Mau nostalgia? Jelas saja aku tahu trik ini. Sekali-kali kan suka nonton drama Indonesia, hehehehe.


"Sama denganku? Ya sudah, aku akan pilih seporsi bakso saja, kamu mau makan bakso kan?" balas Mama.


"Itu kan makanan kesukaan kita. Ingat kan, dulu pernah makan bakso goreng berdua di pinggir jalan, terus satu bakso kamu jatuh. Kita tertawa bersama! Tapi mangkok baksoku ikut jatuh, kuahnya tumpah kemana-mana. Akhirnya kamu yang semulanya kesal langsung ketawa."


Nah kan, benar dugaanku. Mama dan Om Samuel nostalgia. Huh, habis sudah peluangku menyatukan Mama dan Papa.


******


Sejauh ini, ceritanya menarik atau garing sih? Coba komentar🤩

__ADS_1


__ADS_2