
"Kamu tahu sendiri kakak mau apa dengan datang ke sini. Tentang semalam, kamu masih ingat kan?"
Ayra tampak tersenyum malu. "Hehehe, sorry aku lupa kak. Maklum, sudah tua."
"Heh, kapan kamu lebih tua dari kakak?" tanya ku tak terima. Tapi pembicaraan kami masih terhitung pembicaraan candaan.
"Tapi aku punya pertanyaan yang sedari tadi menyangkut di leher ku kak," kata Ayra yang seketika membuatku kepo.
"Pertanyaan apa?"
"Aku kurang yakin Kakak datang hanya karena perkataan ku semalam. Apalagi dengan sifat keras kepala kakak yang sulit dibilangin ini, aku yakin ada sesuatu yang terjadi setelah VC kita."
Aku terdiam karena tidak berani menjawab.
"Dari mata Kakak saja Ayra sudah tahu. Kakak pasti habis disakiti sama kakak ipar kan?" tebak Ayra tepat sasaran.
"Iya." Akhirnya aku menjawab. "Tapi sebenarnya, kakak ipar mu hanya memarahi kakak, semua karena si kampret Sarah!" kata ku emosi.
"Itu sama saja sudah termasuk kekerasan dalam rumah tangga kak! Kakak ini, sudah berapa kali Ayra katakan, kakak pisah saja dari kakak ipar! Biarkan jadi janda tapi lebih bahagia dari pada punya suami tapi menderita. Toh kakak ipar tidak menganggap kakak lagi kan? Ya sudah, kakak pergi saja dari hidup nya. Selesai kan?"
__ADS_1
Ayra terus menatapku yang terdiam ini.
"Aku tau pikiran kakak. Kakak pasti mau bilang, tetap bertahan demi Audrey kan?"
Dia tahu saja pemikiran ku. "Iya, kakak masih bingung kalau bahas Audrey."
Ayra menyentuh bahu ku, "Kak. Tolong dengarkan adik mu ini ya … kita pernah mendapat kekerasan Ayah sewaktu kecil. Ibu menderita dan memutuskan cerai. Dan apa yang kita rasakan? Kita senang kak. Tidak ada kesedihan dan luka tercetak di kulit setiap malam kala Ayah mabuk. Ingat ya kak, seorang pria dianggap ayah sejati karena dia mampu menjaga perasaan anak-anak nya, menyediakan waktu untuk keluarga di tengah pekerjaan. Sedangkan Ayah kita dulu? Tidak kan, ayah hanya peduli pada minuman dan teman-teman nya. Tidak ada kita dan ibu di mata nya, jadi sekali lagi, Ayra tegaskan ya kak, Audrey tidak akan sedih ketika tahu Papa nya tidak bersamanya lagi. Kakak kan yang selama ini mengayomi Audrey?"
Aku mengangguk, "Iya."
"Nah, itu. Hak asuh akan di dapatkan kakak karena Audrey masih kecil. Lagi pun kalau ada perebutan hak asuh, kakak akan mendapat suara lebih banyak. Karena Audrey menginginkan hingga bersama Mamanya. Begitu kak, apa pikiran kakak sudah terbuka selebar mungkin?"
Ayra memang perempuan cerdas yang bijak dalam mengambil keputusan. Ayra memang Adik ku, tapi dia lebih banyak tahu dari aku. Kini, aku memiliki bahan alasan perceraian.
"Hem, kenapa kak?"
"Masalah harta."
"Kenapa dengan itu?" Ayra penasaran.
__ADS_1
"Aku ingat Ayah pernah memberikan pekerjaan dan support berupa sebagian harta untuk menjamin kehidupan ku bersama lelaki miskin seperti mas Dimas."
"Terus?"
"Hem, aku merasa tidak rela jika seluruh yang sudah ku korbankan semasa masih bersama mas Dimas, malah di nikmati si pelakor Sarah," kata ku menjelaskan. Almarhum ibu kami menikah beberapa bulan setelah bercerai dengan ayah kandung. Tapi ayah angkat sangat menyayangi kami melebihi apapun. Bahkan rela memberikan seluruh harta nya untuk kebahagiaan kami.
"Tunggu dulu ya kak. Ara pikirkan dulu. Memang kalau bagian ini cukup rumit. Tapi, Ara pernah dengar cerita bi Santi tentang sahabat nya yang juga mengalami hal yang sama dengan kakak. Bibi bilang, sahabat nya itu berbaik-baik dengan suaminya sampai seluruh jaminan hidup didapat nya."
Aku berpikir sejenak, "Jadi sahabat bibi Santi memanfaatkan suami nya?"
"Iya kak! Begitu maksud ku! Ah, akhirnya kakak mengerti," Ayra tampak lega.
"Tapi sebenarnya ya kak," Ayra kembali memulai pembicaraannya. "Itu bukan licik, tapi cerdik. Kakak harus mendapat setidak nya 50% dari hasil kerja keras kakak selama 7 tahun menemani perkembangan karir kakak ipar."
"Bagaimana cara mendapatnya?" tanyaku bingung.
"Ya gampang, minta aja. Kan pernah ada yang bilang, minta lah maka akan diberikan kepadamu, pasti kakak ipar akan memberikan nya."
Aku memijit pelipis. "Seandainya kamu tau dek, itu bukan sesuatu yang mudah."
__ADS_1
"Maksud kakak madu kakak yang tidak tahu diri itu?"
Aku mengangguk.