
"Akan aku pikirkan nanti."
Deg!
Pikirkan apa? Mata Dimas membulat sempurna ketika mendengar jawaban singkat padat, dan cukup menghancurkan hatinya itu.
Aku rasa memang Mia tidak mau kembali padaku. Dia merasakan sedih yang mendalam, sudah dua kali ditolak dengan kata-kata sama. Untuk itu Dimas berdiri dan menunjukkan senyum tipis. "Aku akan menunggu sampai kamu siap menerimaku kembali. Dan terimakasih, karena pernah menjadi pasangan terbaik untuk pria lemah dan bodoh seperti ku."
Dimas melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Mia. Saat ia melangkah, Audrey mengikutinya dari belakang. Anak itu berbisik pada papanya sambil bergandengan tangan. "Papa yakin perjuangan Papa hanya sekecil ini?"
Dimas menggeleng, berhenti berjalan dan menghela nafas. "Mamamu hanya perlu waktu," jawab Dimas sambil berjongkok di hadapan Audrey. "Papa harap kamu tidak membenci Mamamu karena keputusan ini ya," lanjutnya.
Audrey terdiam, dia tidak menjawab. Anak sekecil Audrey, mana tahu tentang hubungan orang dewasa seperti kedua orangtuanya. Tapi dia berusaha memahaminya, hanya saja itu sangat sulit untuk dicerna dalam pikirannya.
__ADS_1
Setelah Papa berjuang, Mama justru menolak dengan cara yang sama. Sebenarnya maunya Mama itu seperti apa sih?! Audrey menggerutu di dalam hatinya. Sangat sulit memahami segala hal yang tengah terjadi dalam kehidupan Mama dan Papanya itu.
"Mas Dimas," tiba-tiba Mia memanggil. Jujur saja jantung Dimas berdetak sekencang mungkin, mewanti-wanti apa tujuan Mia memanggilnya. Saat Dimas menoleh, dia melihat Mia yang bersedekap memandangnya dengan dingin.
"Ada apa?" tanya Dimas sambil menghampiri Mia diikuti Audrey.
"Dari mana kamu bisa masuk rumah? Apa kalian sudah janjian?" tanya Mia dengan suara rendahnya.
Dimas dan Audrey saling pandang. Dimas menetapkan dalam hati, kalau dia tidak boleh menjadi pria pembohong-seperti yang sering ia lakukan selama ini.
Ucapan Dimas dihentikan Mia. "Kamu jalan lewat mana? Tidakkah membahayakan memasuki rumah ORANG tanpa izin untuk menciptakan momen yang menurutmu sangat 'manis' ini?"
Dimas terkejut karena Mia sangat tegas. Tidak seperti Mia saat masih menjadi istrinya. Mianya, bukan Mia yang dulu, wanita itu sudah berubah.
__ADS_1
Terkejut? Ya, Dimas akui dia terkejut bahkan tidak percaya. Tapi Dimas tahu, Mia berubah karena dirinya yang terlampau bodoh ini!
"Maaf untuk itu, tapi aku tidak punya cara lain untuk menyatakan keinginanku," jawab Dimas berdalih.
"Masalah maaf, sudah sejak dahulu kumaafkan. Tapi memasuki rumah ORANG tanpa izin bukan hal yang baik, aku yakin kamu bukan anak kecil yang perlu diberitahu mana hal baik dan bukan."
"Aku minta maaf untuk itu." Kepala Dimas menunduk karena bulu kuduknya berdiri. Sebuah gejala yang biasa Dimas rasakan ketika dimarahi.
"Aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama. Jika tetangga sekitar ruko ini terlalu peduli dengan kehidupanku, mungkin sudah banyak gosip yang beredar. Aku hanya perlu ketenangan dari masalah yang tengah menghantuiku, jadi aku harap kamu adalah pria yang patuh, aku minta kamu jangan datang untuk alasan apapun termasuk Audrey!"
DEG!
Lagi-lagi Mia mengatakan kecaman seperti itu. Tapi kali ini lebih parah dan menakutkan untuk Dimas. Meski itu berat, Dimas berusaha berjanji untuk menjadi pria yang patuh seperti keinginan Mia.
__ADS_1
Audrey di samping Dimas, menarik-narik sudut baju Dimas. "Papa yakin akan melakukannya?" bisik anak itu. Bagi Audrey, Papanya yang sudah 'berubah' adalah tempat ternyamannya setelah rumah dan sang Mama. Rasanya sulit jika mereka berpisah untuk beberapa masa ini.
"Papa akan berusaha melakukan keinginan mama kamu sayang." Dimas mengelus kepala Audrey dan tersenyum tipis kemudian pergi dari rumah itu.