
Mia merasakan lelah yang menyerangnya ketika mengejar Audrey yang berlari secepat kilat menghindarinya.
Titik-titik peluh mulai muncul di sekitar kening dan pori-pori kulit. Ia bernafas tersenggal-senggal dengan sedikit perasaan sesak meski sudah menarik hembuskan nafas yang banyak.
Langkah wanita ini mulai melambat diiringi kaki yang kram bahkan pandangan yang mulai buram.
"Audrey … tolong jangan lari lagi," kata Mia dengan suara lemah dan lirihnya. Ia memandang Audrey dengan tangan yang seolah menggapai gadis kecil itu dari jauh.
"Mama hanya ingin kamu sekolah dan menggapai cita-cita, bukan lari-lari seperti ini. Uhuk-uhuk!" Mia terbatuk-batuk sambil menyeka peluh di kening. Terik matahari pagi pukul 8, sudah menguras tenaganya hampir sepenuhnya.
Mia jelas putus harapan mengejar anaknya itu. Area simpang perumahan tidak jauh, tapi Audrey berputar ke sana kemari seolah mempermainkannya. Alasan Mia tetap mengejar anak itu karena takut jika Audrey diculik. Hanya Anak itu yang dia miliki saat ini, tapi keras kepalanya Audrey sudah cukup membuatnya kewalahan.
Tin-tin!
Mia mendengar suara klakson di tengah jalan. Awalnya tidak menggubris hal itu. Tapi suara seseorang yang mengatakan, "Kakak, ayo masuk!" seketika Mia menoleh dan mengerutkan kening.
"Ayo masuk!" ulang Ayra dari dalam mobil.
Mia menghentikan langkah dan memfokuskan pandangan ke arah mobil yang berhenti di sampingnya itu.
"Kita kejar Audrey kak!" balas Ayra lagi dengan semangatnya.
__ADS_1
Mia yang terlampau lelah belum memahami maksud Ayra. Untuk itu Ayra sampai keluar dari mobil dan menarik tangan Kakaknya tersebut untuk masuk ke dalam mobil.
"Kakak pasti terlalu lelah," kata Ayra sambil menyerahkan sebotol air mineral untuk dikonsumsi Mia.
"Minum dan segarkan pikiran kakak dulu," pesan Ayra.
Mia menggeleng. "Kalau lelah, sebaiknya jangan minum. Aku istirahat saja," ucapnya menjelaskan.
Ayra paham. Mobil dijalankan dengan kecepatan rendah, 20km/jam–mengikuti Audrey yang menuju simpang.
"Kak Mi. Kenapa tadi tidak mengejar Audrey dengan motor?"
"Aku buru-buru. Taulah orang buru-buru itu sperti apa. Paling ga ingat semuanya."
Ayra melihat Audrey yang setiap beberapa detik menoleh ke arah mobil Ayra.
"Tampaknya Audrey sudah tahu kita mengikutinya," kata Ayra menyimpulkan.
Untuk itu Mia menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya.
"Audrey!" kata Mia setengah berteriak.
__ADS_1
Audrey malah melarikan diri hampir tidak kelihatan.
"Lagian untuk apa dia melarikan diri. Ayra yakin kakak tidak menjahatinya. Benar kan?"
Mia menghela nafas. "Ntahlah Ay. Aku bingung. Kepalaku seperti ditimpa beban berat sampai saat ini masih nyut-nyutan."
"Matahari itu kak."
"Masih pagi loh, jam 8 lagi," sangkal Mia.
"Paling lelah. Menurut Ay seharusnya kakak jangan mengejarnya. Biarkan saja sampai lelah. Atau turuti keinginannya."
Saran Ayra tentu membuat Mia menatap adiknya itu dengan tajam. "Kenapa sekarang berubah? Bukannya kamu yang sebelumnya selalu menekankan jangan mau kembali sama orang yang pernah menyebabkan penderitaan?" balas Mia memprotes.
Sejenak Ayra terdiam. Sedang berpikir cara mengatakan maksudnya. "Eh itu. Aku salah bicara. Maksudku untuk menuruti kemauan Audrey tinggal sama Papanya."
"Kenapa harus gitu?" tanya Mia belum paham.
Sambil tetap mengemudikan mobilnya, Ayra berkata, "Alasan kakak tetap membiarkan Mantan kakak memasuki kehidupan Audrey karna anak itu kan?"
"Iya."
__ADS_1
"Aku terima kakak tetap mempertahankan Audrey di samping kakak. Tapi anak itu semakin tidak terkendali, sampai menelepon Papanya untuk tinggal bersama. Menurutku, Audrey tidak ingin bersama kakak lagi. Jadi Aku pikir biarkan saja seperti itu."