
Malamnya aku video call dengan adikku. Curhat tentang banyak hal, termasuk 'perpisahan' yang akan terjadi tidak lama lagi.
"Jadi, sekarang kakak tinggal di mana?" tanya Ayra tampak panik. Kekhawatirannya dapat ku lihat jelas karena kami video call.
"Kan tadi sudah kubilang, mas Dimas tidak mengusirku, dan aku dapat pergi dari rumah ini kapan pun yang kuinginkan," ucapku menerangkan.
"Jadi perpisahan kakak dan kakak ipar seperti perpisahan baik-baik, begitu?"
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Masalah uang?" tanya Ayra lagi.
"Hem … mas Dimas sudah memberikannya."
"Berapa?" Ayra kelihatan bingung.
"Empat ratus lima puluh," bisikku.
"Sedikit sekali. Mana mungkin bisa makan. Ada banyak biaya yang harus kakak penuhi! Kakak ipar! Kejam sekali …" balas Ayra sebal.
"Hahahaha," aku tertawa. "Juta," kataku selanjutnya.
__ADS_1
"Wow!" Ayra tercengang.
Ini membuatku tersenyum tipis.
"Kakak ipar baik sekali," kata Ayra mendadak berubah haluan.
"Hem, kamu seperti bunglon ya," kataku bercanda.
Terlihat Ayra kebingungan, kemudian berkata, "Kenapa dengan bunglon Kak?"
"Bunglon kan hewan yang suka merubah warnanya. Seperti itulah kamu, suka merubah pendapat saat penjelasan lain muncul," kataku menjelaskan.
"Hehehe, sorry kak. Maklum,–"
"Bukan!" tolak Ayra setengah berteriak.
"Lalu?" sebelah alisku terangkat karena ketidakyakinan ku bahwa kalimat Ayra bisa berubah.
"Aku kan pelupa orangnya," jawab Ayra.
"Hem …" aku hanya mengangguk, lalu melanjutkan pembicaraan, "Tapi tentang kejadian tadi pagi … Aku sangat bingung!" ku pijat kepalaku dengan kelima ruas jari yang secara tidak langsung menginfokan bahwa aku mengalami sesuatu yang memusingkan.
__ADS_1
Saat ku lihat wajah Ayra, dia tampak kebingungan. "Memangnya kenapa Kak?" tanya Ayra.
Kuceritakan perasaanku ketika mas Dimas mulai bersikap romantis.
"Apa tujuannya ya!" kata Ayra penasaran.
"Entah."
"Tapi aku berpikir mungkin saja kakak ipar mau mempertahan kakak supaya tetap ada di sampingnya," tebak Ayra.
"Asal tidak ada si kampret Sarah," kataku ketus.
Ayra mengangguk-angguk setuju. "Kalau aku jadi kakak juga akan menggugat cerai suami aku. Enak saja punya istri dua, malah pilih kasih pula itu!" jawab Ayra dengan emosi.
"Aku sih setuju sama pendapat kamu, dek. Hanya saja, seluruh kemesraan itu ditinggalkan mas Dimas diakhir. Kalau dia benar-benar memiliki rasa selama 7 tahun kami menikah, tidak mungkin dia meninggalkan kenangan baik di akhir. Harusnya di awal, supaya aku tidak punya niat cerai. Tapi semua sudah berlanjut. Aku harus menjalani hidup. Pasti lebih bahagia setelah bercerai." ucapku menjelaskan.
Ayra tidak menjawab. Mungkin dia kehilangan kata-katanya.
Malam itu, seusai video call, aku tidur memeluk putriku. Putri yang nyatanya hadir karena kecelakaan beberapa bulan setelah aku dan mas Dimas menikah.
Pernikahan kami memang hambar. Hanya memenuhi segala kebutuhan lahir dan batin. Tidak ada canda tawa selayaknya keluarga pada umumnya, tapi aku sudah terbiasa. Tapi mungkin, malam ini adalah akhir aku tinggal di rumah yang memiliki sejuta kenangan.
__ADS_1
Biarlah aku mengalah pada istri pilihan mas Dimas. Sudah cukup aku menjadi babu maduku sendiri, dan patuh terhadap suamiku–pria yang sudah memberiku pengalaman berupa perjuangan hidup, menemani karir sampai suamiku berada di tingkat terbaik dalam hidupnya.
Aku juga sudah menuliskan kembali isi hatiku dalam buku diary. Betapa aku mencintai suamiku, dan merasa sangat bahagia dengan segala pengalaman ini.