Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
49. Bekerja untuk Keluarga


__ADS_3

"Saya Tessa Melinda, anak pak Budi Nesto, mantan tukang kebun di Villa ini yang meninggal 2 bulan lalu."


Mata Samuel menyipit mendengar penjelasan perempuan itu. Sedikit tidak percaya, Masa Pak Budi memiliki putri yang wajahnya mirip Mia. Sebenarnya apa yang terjadi?


Samuel berpikir ia harus memanggil kepala pelayan di Villa ini. Kepala pelayan itu bernama Siti.


"Kamu panggil lah dan panggil kepala pelayan ke sini," titah Samuel.


"Maaf tuan. Tapi siapa kepala pelayan?"


"Orang yang menerima kamu jadi pelayan."


"Oh, baik tuan. Akan segera saya panggil."

__ADS_1


Seperginya Tessa dari hadapan, Samuel duduk di sudut ranjang, ia mengingat kejadian semalam. Melihat suasana kamar tapi membayangkan keadaan villa besar berluaskan 1 hektar.


Jumlah pelayan di Villa ini ada 5 orang. Dengan luas tanah 1 hektar, Samuel rasa sangat cukup jika mempekerjakan pengurus Villa. Awalnya, Samuel berencana membuat villa ini menjadi tempat masa depan Mia dan dirinya. Villa modern dengan keasrian dan keindahan yang masih terjaga.


Sebenarnya tidak sengaja juga ia menempatkan bangunan ini di kota yang sama dengan tempat selama ini Mia tinggal.


Sejenak, ini tampak seperti hal menyenangkan karena Mia tidak perlu berjauhan dari tempat tinggalnya selama 8 tahun, tapi fakta menyakitkan berada di depan mata, keputusan Mia sudah bulat untuk kembali ke pelukan mantan suaminya.


Samuel merasakan sedih mendalam, tapi satu hal yang mengejutkan adalah, Samuel melihat rupa Mia yang justru mengaku bernama Tessa.


"Aku kira hanya sebatas bunga tidur." Belum selesai Samuel merasa tercengang, Ia melihat Siti dan Tessa mulai memasuki kamarnya. Samuel berdiri dan bertanya pada Siti.


"Siti, aku yakin kamu tahu aku tidak meminta pelayan baru untuk bekerja di Villa ini. Dan apa benar, Tessa anak pak Budi Nesto?"

__ADS_1


"Saya sebagai kepala pelayan, sangat tahu perintah atasan, tapi sepeninggalnya Budi Nesto, Istri pak Budi mengaku mereka tidak memiliki pekerjaan untuk membiayai hidup. Apalagi selama ini hanya pak Budi yang menjadi tulang punggung, dan Tessa baru tamat SMA 7 bulan yang lalu. Dua hari yang lalu Tessa mengajukan diri menjadi tukang kebun untuk sekeliling bangunan di villa ini. Karena kasihan, saya memintanya segera bekerja hari ini. Maafkan saya jika keputusan saya salah, tuan." Siti sampai berlutut karena ketakutan akan kemarahan yang memang tidak pernah Samuel tunjukkan. Siti hanya mewanti-wanti.


Mata Samuel tak henti-hentinya menatap Tessa yang tertunduk dalam. Gadis itu mirip dengan Mia saat masih muda, benar-benar seperti pinang dibelah dua jika dihadapkan dengan Mia muda.


"Aku paham mengenai keputusanmu, bekerja untuk keluarga sangat diperlukan untuk menyambung hidup. Baiklah, kamu berdirilah, Siti. Dan pekerjakan dua pelayan perempuan lain untuk merawat tanaman di kebun sekeliling Villa, Tessa akan menjadi pelayan pribadi untuk mengurus segala keperluanku."


"Akan segera saya laksanakan, tuan. Terimakasih atas kemurahan hatinya." Siti sampai menangis haru karena atasannya itu tidak jadi memarahinya. Tanpa sadar, Siti--wanita paruh baya itu memeluk Tessa dan tertawa bahagia.


"Ekhem!" Samuel berdehem, segera hal itu menghentikan kesenagan Siti.


"Maaf tuan, saya kelepasan." Siti sampai menunduk hormat berkali-kali karena merasa bersalah.


Beruntungnya Samuel tidak terlalu mempermasalahkannya.

__ADS_1


"Kamu Tessa, aku minta siapkan pakaianku di lemari yang warnanya Cokelat," pinta Samuel yang segera diangguki Tessa karena Siti terlebih dahulu membisikkan padanya, "Kamu tenang saja, maksud warnanya cokelat itu sudah sepasang. Sekarang hari Minggu, ambillah pakaian warna coklat di tindihan ke 7 dari bawah."


__ADS_2