
POV Mia.
Setelah seluruh undangan pulang, aku menunjukkan trampolin yang sempat ku janjikan sebagai hadiah. Trampolin itu diletakkan di tengah halaman belakang. Dengan beberapa matras di sekitarnya untuk membuat Audrey semakin aman saja.
"Ini benaran punya Audrey, Ma!?" tanya Audrey kegirangan.
"Iya, sayang. Mama tidak akan mengingkari janji."
Audrey langsung naik ke atas trampolin itu. Dia melompat girang di sana. Mas Dimas menemaninya, semakin membuatku aneh. Sebenarnya ada apa dengan pria itu?
Setelah Audrey sibuk melompat-lompat, aku menarik tangan mas Dimas.
"Eh, mau kemana?" Mas Dimas terkejut.
"Bicara sebentar." Aku berbisik supaya tidak menggangu anakku.
Baru beberapa langkah, Audrey sudah berteriak, "Mama mau kemana?!"
__ADS_1
"Ke dalam sebentar sama Papa, sayang," jawabku singkat.
"Boleh Audrey bawa teman-teman Audrey ke sini?!" teriak Audrey lagi.
"Boleh sayang." Yang penting pembicaraanku dan mas Dimas tidak terganggu!
Aku membawa mas Dimas ke lantai atas. Duduk berhadapan di atas karpet, mataku terus menatapnya setajam mungkin "Mas kenapa datang? Mana Sarah?" tanyaku judes.
Terlihat raut keterkejutan di wajah mas Dimas. Dia tidak menjawab, hanya diam yang membuatku melengos kesal.
"Biasanya mas lebih membanggakan istri muda mas … sampai bergerak pun harus ditentukan olehnya," kataku menyindir.
"Maaf pilihan mas salah, Mia." Terdengar suara Mas Dimas menangis.
Kukerutkan keningku. 'Maksudnya?' dalam kebingungan, kuangkat kepala mas Dimas dan mencoba bertanya, "Memangnya kenapa mas? Si Sarahnya jahat seperti yang selama ini aku katakan sama mas kan?" tebak ku meremehkan mas Dimas.
"Ya. Dan lebih parahnya dia bukan hamil anakku. Itu anak Sarah dan suami lamanya."
__ADS_1
"Hahahaha!" aku hanya bisa menertawakan segala kemalangan mas Dimas. "Makanya mas. Jangan lebih melihat wanita dari body dan selangkangannya. Tapi lihat wanita dari perjuangannya juga."
Kasihan sih kasihan sama semua yang telah menimpa mas Dimas, apalagi semua terjadi secepat ini.
"Mas tidak bermaksud membuatmu sakit hati selama Sarah ada di rumah. Dari awal mas nikahi Sarah untuk menyelamatkannya dari suaminya–"
"Iya. Suaminya. Tapi mas menduakan dan melupakanku seolah peranku dalam hidup mas itu tidak ada sama sekali! Kini seluruh pilihan mas terbukti salah kan? Makan tuh bohay!"
Sekarang aku bisa berbicara dengan lantang sementara Mas Dimas tertunduk dalam perasaan malunya.
"Mas baru rasakan gimana sendiri, tidak punya teman yang mendukung kan?" kataku lagi. "Begitu lah perasaanku sewaktu mas Dimas sama sekali tidak memikirkan apapun selain Sarah, Sarah dan Sarah! Katanya hamil lah, apalah. Padahal anak yang selama ini mas bangga-banggakan, bukan darah daging mas sendiri. Heh, setelah kehilangan semuanya, mas malah kembali padaku. Pasti Mas mau ambil Audrey dariku kan? Tidak mas, Audrey hidupku. Mas jangan ambil dia dariku!"
Tiba-tiba mas Dimas menyentuh bahuku, kemudian berkata, "Mas salah Mia. Tolong maafkan mas … Kita kembali seperti dulu ya? Mas kan belum ceraikan kamu. Malah sampai detik ini. Oh ya, mas ingat kamu pernah bilang mas harus ceraikan Sarah baru kamu mau sama mas kan? Sekarang Sarah sudah mas ceraikan, dia gembel sekarang, Mia. Seluruh kedoknya sudah ketahuan. Kita kembali ya?"
Kudorong mas Dimas dari hadapanku. "Tidak mas. Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang, tanpa berpikir suami yang matanya tidak bisa dijaga, madu yang sukanya mengadu domba. Sekarang aku bahkan bisa menjadi diri sendiri. Berkarir tanpa ada larangan. Sampai punya banyak tetangga baik hati. Lihat mas, ruko, perabotan, segala keinginanku, … semua sudah kudapatkan dalam sebulan. Dan mas mau kembali? Untuk apa? Mas mau mengekang hidupku lagi, begitu?!"
"Tidak, Mia. Mas hanya …"
__ADS_1
"Sssstt." Kututup mulutnya dengan telunjuk.
"Harus berapa kali ku bilang, aku sudah bahagia dengan hidupku! Jangan usik aku!"