
Sepulangnya mas Dimas dari resto, aku memberikan kartu miliknya. Sarah yang selalu berada di dekat mas Dimas kembali menunjukkan sisi menyebalkannya.
Di mana Dia berkata, "Mas, cek dulu berapa sisa uang di kartunya Mas. Siapa tau dia ambil lebih, karena aku lihat Audrey sudah punya kalung emas dan jam tangan baru. Aku takut istri tua mas mengambil uang sesukanya!"
Aku menggeram kesal, "Madu tak tahu diri!" ku hajar dia sesuai keinginanku, tapi mas Dimas segera membantu wanita itu.
"Hentikan, Mia! Kalau kamu tidak melakukannya, kenapa harus marah? Diam saja kenapa sih!"
"Seenaknya mas bilang gitu! Asal mas tahu saja ya, aku sudah muak dengan seluruh keputusan yang mas ambil! Aku mau cerai! Maslah lelaki terbodoh yang pernah aku temui seumur hidupku melebihi ayah kandungku! Mas terlalu jahat! Jahat! Jahat!!"
Emosiku tak terbendung, ku pukuli tubuh mas Dimas, sampai kuambil remot untuk ku pukul ke wajahnya. Semua benda yang tidak ku ketahui apa itu ku lempar saja ke tubuhnya.
"Hentikan, Mia! Hentikan!" Mas Dimas tidak melawan, ia hanya berusaha berbicara menenangkan ku. Tapi, aku yang tidak dapat menahan emosi ini terus melukainya sampai aku puas.
"Sudah marahnya?" hanya itu yang dikatakan mas Dimas, sehingga ku tendang *********** sampai dia pingsan.
__ADS_1
"Ma, hentikan!" Audrey mendatangiku, memeluk kakiku dan menangis.
Aku akhirnya sadar dari kemarahan. Melihat segalanya sudah berantakan dan Sarah yang terkejut dengan segala yang sudah kulakukan.
******
Mas Dimas masuk rumah sakit, Sarah yang menghubungi ambulance. Tubuh mas Dimas dipenuhi lebam, dan dia dirawat sehari semalam, seperti habis bertinju.
Ini membuatku merasa bersalah, dan berjuang meminta maaf. Tapi si Sarah bersandiwara dengan terus merawat Mas Dimas seolah hanya dialah yang peduli dengan suamiku itu.
Saat mas Dimas sudah diperbolehkan pulang pun, Aku tidak bisa menjumpai mas Dimas. Jujur saja, rasa penyesalan ini mengganggu pikiranku selama tiga jam setelah mas Dimas pulang ke rumah.
Aku menarik hembuskan nafas, mengumpulkan keberanian. Karena mas Dimas tidur aku hanya duduk di pinggiran ranjangnya.
"Maaf ya, Mas," kata pertama yang kukatakan sambil menahan sesak di dada karena melihat tubuh mas Dimas yang … sangat mengkhawatirkan, penuh lebam yang membiru.
__ADS_1
"Maaf sudah terlalu marah semalam." Kupegang tangan mas Dimas, ku tatap wajah tampan suamiku. Kurindukan semua kebahagiaan sebelum dia menikahi wanita sialan si Sarah itu.
"Kamu datang kemari?" aku terkejut. Lantaran mas Dimas tiba-tiba membuka mata dan berbicara.
"Hem, iya." Ku anggukkan kepalaku dan memalingkan wajah.
Tapi kurasakan tangan mas Dimas menyentuh pipi ini. Yang membuat darahku berdiri hebat dan buru-buru keluar dari kamar.
Aku menangis di kamar.
Tok-tok-tok. Tak lama di kamar kudengar suara ketukan pintu.
"Aku masuk ya, Mia." Entah bagaimana mas Dimas bisa masuk ke kamar yang sudah terkunci.
"Mas kenapa ke sini?" tentu saja diri ini terkejut.
__ADS_1
"Hanya ingin mengunjungimu," balas mas Dimas. Dia duduk di sudut tempat tidurku dan tersenyum ramah.
Bulu kudukku berdesir dan dada ini berdetak cukup kuat, perasaan seperti ini pernah terasa ketika mulai mencintai suamiku. Tapi kenapa kembali merasakannya? Apa aku mencintainya? Ini cukup aneh.