
Sekarang di sinilah Samuel dan Tessa. Duduk sebuah pesawat kelas bisnis yang memiliki fasilitas lebih baik dari kelas ekonomi. Kursinya bisa digunakan untuk tidur, bahkan bekerja dengan laptop lebih efisien. Seperti saat ini, Samuel sedang menggunakan laptopnya. Sedangkan Tessa sangat menikmati duduk di kursi pesawat ini.
"Rasanya lebih nyaman," niat awalnya, Tessa hanya berbicara pada diri sendiri. Tapi Samuel malah menangkap pembicaraan gadis itu.
"Apa kamu pernah menaiki pesawat?" tanya Samuel. Alis Tessa terangkat sebelah, apa dia sedang meremehkan ku? Miskin-miskin begini aku pernah naik pesawat!
"Pernah tuan," jawab Tessa dengan sopan.
"Pergi ke mana?"
Dia mau mengungkit apa ya? "Hem, jalan-jalan ke kota K, tuan."
"Kota K? Mau melakukan apa di sana? Aku ingat kota itu kota industri kecantikan." Mendadak Samuel merasa sangat penasaran. Biasanya orang yang ke kota itu untuk memperbaiki kulit dengan oplas.
Aku harap tuan Sam tidak curiga! Tessa sedang cemas saat ini. "Saya tidak oplas, hanya ada saudara jauh yang sedang sakit. Sekalian berlibur. Destinasi wisatanya kan menarik."
Segera Samuel menangkap sebuah kebohongan dari mulut Tessa. "Sejak kapan aku katakan kamu oplas?"
__ADS_1
"Ya ... kan biasanya orang ke sana untuk oplas," jawab Tessa berusaha menunjukkan ketenangannya.
"Aku hanya menebak saja," himbau Samuel.
Sejenak terjadi keheningan di antara keduanya. Dalam ketenangan, Tessa tiba-tiba teringat perihal Magda–Mamanya.
"Tuan," panggil Tessa.
"Kenapa?" Samuel mengalihkan pandangan dari layar laptop ke wajah Tessa.
"Saya tiba-tiba teringat Mama. Saya harap beliau tidak khawatir dengan ketidakpulangan saya malam ini dan dua malam berikutnya."
"Ya. Saya mau menghubungi Mama. Boleh kan?"
"Tidak," jawab Samuel singkat.
"Kenapa?" tanya Tessa terkejut.
__ADS_1
"Sekarang kita ada di pesawat, Nona Tessa. Kita hanya boleh menggunakan ponsel saat di Bandara saja."
Tessa melihat dan menunjuk laptop yang dipakai oleh Samuel. "Yang itu?"
"Itu WiFi Pesawat, tidak akan mengganggu koneksi pesawat. Mereka jelas berbeda, aku harap kamu mengerti," balas Samuel dengan nada rendah meski merasa sedikit tertekan.
Tessa menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya lebih dalam lagi ke kursi pesawat. Selama lima belas menit, Tessa memejamkan mata yang membuatnya tertidur.
Setengah jam setelahnya Samuel yang bekerja menyadari Tessa yang tidak berbicara akhirnya menoleh. Tidak tahunya, gadis itu sedang tidur saat ini.
Samuel menghentikan pekerjaannya, menatap Tessa dari samping. Mata tertutup, tetapi mulut justru ternganga. Tessa tidak memakai make up, tapi wajahnya sangat cantik seperti memakainya.
Apa wajahnya memang murni cantik seperti Mia? tanya Samuel dalam hati. Penjelasan Tessa perihal naik pesawat ke kota K sebelumnya sudah menganggu pikiran pria itu.
Tidak mungkin ada 2 orang yang mirip di dunia ini, kemungkinan terbesarnya hanya operas plastik. Tapi Tessa oplas untuk apa? Dia mau menarik perhatianku, begitu ya? Mengingat kehadirannya setelah aku mendapat kemalangan. Mungkin saja, segala yang terjadi bersamanya adalah direkayasa? Tapi ciptaan siapa?
Samuel mulai berpikir macam-macam. Setelah berdebat dengan ketakutan dan pikirannya sendiri, Samuel menyimpulkan satu hal.
__ADS_1
Apa mungkin... Tessa suruhan orang yang ingin menghancurkan hidupku?! Kemungkinan sekecil apapun yang hadir dalam hidup, selalu Samuel perkirakan dan selidiki. Tetapi tidak untuk Tessa, dia tidak melakukan riset mendalam perihal asal usul Tessa atau rahasia gadis itu.
'Apa mungkin aku perlu lebih siaga dalam menghadapinya ya?'