
Awalnya, Mia tidak terlalu penasaran dengan keadaan dua pria dari masalalu yang mungkin masih berdiri di teras rumahnya.
Namun suara kemarahan dan sedikit tinjuan menggerakkan hatinya untuk melihat lebih jelas melalui jendela di samping pintu gesernya.
"Apa mereka masih memperebutkanku?" tanya Mia pada dirinya sendiri.
Dua pria dari masalalunya itu Mia kenal sebagai pria-pria yang akan mempertahankan keinginannya. Walau pilihan ada pada Mia. Tetap saja mereka seperti berkompetisi menunjukkan kebolehannya.
Sejujurnya Mia tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Apalagi sampai beradu pukul. Tapi melihat Samuel yang pembawaannya tenang, ia berpikir, perang dingin ini akan segera berlalu. Dan benar saja, Samuel hanya memperingatkan Dimas tanpa memukul pria itu.
Mia mengenal betapa gentleman-nya Samuel. Andai Samuel adalah suamiku sejak awal, mungkin keadaan tidak sekacau ini. Batin Mia berkhayal.
Dalam khayalannya ini, jelas saja Mia lupa beberapa hadiah yang Tuhan berikan lewat Dimas, di mana dia menjadi wanita yang lebih kuat dan ibu yang tetap menenangkan Putrinya bahkan saat diri sendiri juga perlu ditenangkan.
__ADS_1
Hanya saja takdir selalu menuliskan beberapa hal yang bertolak belakang dari harapan. Saat sebelumnya Mia memutuskan menerima Dimas, justru berakhir dikecewakan.
Ingin sekali memilih Samuel karena pria itu adalah pria teromantis yang pernah dia temui seumur hidup. Tidak seperti Dimas yang ketika masih terikat dalam pernikahan selalu cuek karena terlalu sibuk mengembangkan karier.
Samuel adalah pria mapan, ia bekerja sebagai sutradara di perusahaan keluarganya. Entah sekarang sudah naik jabatan, Mia tidak tahu.
Segala informasi mengenai Samuel tidak pernah Mia gali sejak keduanya terputus komunikasi. Kota awal Mia dan Samuel bersama adalah kota B. Sedangkan Mia dan Dimas hidup selama ini di kota G, jarak yang sangat jauh.
Berdasarkan pengakuan Samuel sebelumnya, Samuel ditugaskan bekerja di perusahaan cabang JMY Entertainment, di kota G. Mereka pertama kali kembali bertemu di hari ketiga Samuel ada di kota G ini.
"Kenapa aku mendengar keributan di sini?" tanya Mia pura-pura galak. "Bukankah sudah kukatakan kalian pergilah dari sini!"
Tapi hanya Samuel di terasnya, sedangkan Dimas, baru pergi dengan motor Ninja miliknya itu.
__ADS_1
"Dia sudah pergi," jawab Samuel dengan senyum manis yang semakin menggetarkan hati Mia.
Sejenak Mia terdiam, terpana akan tatapan cinta yang dulu pernah Samuel berikan padanya.
"Menatapku sedalam itu. Apa cintamu padaku masih ada?" tanya Samuel sedikit ragu. Tapi berusaha memberanikan diri.
"Hah? Tidak-tidak Aku sudah memiliki kehidupan sendiri. Kamu pulanglah ke rumah. Aku yakin kamu masih punya pekerjaan lain selain datang ke rumahku." Buru-buru Mia mengalihkan padangan dan mengusir halus Samuel.
Saat melihat pria itu tidak menuruti perintahnya, Mia melangkah memasuki rumah tapi terlebih dahulu dicegat Samuel.
Samuel menarik tangan Mia yang membuat Mia hampir saja terjatuh. Buru-buru Samuel menarik Mia kepelukan, "Aku yakin kita masih memiki urusan yang lebih penting dari ini," ucap Samuel serus.
"U-urusan apa?" tanya Mia deg-degan. Bagaimana mungkin dia menatap Samuel sedekat ini. Matanya sampai terbelalak.
__ADS_1
"Urusan mengenai hubungan kita," jawab Samuel sambil mengangkat Mia dan menggendongnya ala bridal style. Dia masuk ke dalam rumah Mia dan mendudukkan perempuan itu di sofa ruang tamu.