
Tessa dan Samuel sampai ke mall terdekat. Setelah sampai ke toko penjual pakaian, Samuel memilihkan beberapa pakaian kesukaannya, pakaian yang dia harapkan dipakai oleh Mia. Tapi karena hanya ada Tessa, maka Dia menganggap Tessa adalah Mia.
"Bagaimana, bagus kan?" tanya Samuel pada Tessa sambil menunjukkan gaun biru dongker ukuran M.
"Itu ..." Tessa ragu-ragu menjawab, semua pakaian yang Samuel tunjukkan sangat bagus. Hati Tessa berkata 'aku ingin memilikinya!' tapi Tessa menahan diri untuk tidak serakah. Tessa sangat tahu kalau Samuel sangat memperhatikannya atas nama perempuan di masalalu yang wajahnya mirip dengan Tessa. Tapi Tessa sadar diri, dia tidak boleh bertindak seperti wanita matre.
"Apa ada komentar?" tanya Samuel dengan berbisik.
Tessa menarik hembuskan nafas perlahan dan berkata, "Terserah tuan saja, saya akan ikut."
Atas jawaban itu, Samuel berpikir, pasti Tessa masih takut menghabiskan uangku. Akh! Seharusnya aku jangan menunjukkan perhatian sebesar ini padanya. Kami baru seminggu berkenalan. Baiklah, untuk sekarang hanya pakaian selama 3 hari.
Samuel mengambil satu gaun yang sebelumnya dipilihkannya. Dia tidak bertanya lebih karena tahu, warna kesukaan Tessa adalah biru, Samuel sering melihat beberapa pakaian Tessa yang warnanya biru.
"Kita masih punya waktu satu setengah jam lagi untuk berbelanja, aku akan memberikan 1 juta untuk berbelanja pakian dan segala keperluanmu, anggap saja itu bonus."
Tujuan Samuel mengatakan itu supaya Tessa bisa lebih leluasa bergerak, di sisi lain, Samuel juga ingin tahu siapa Tessa yang sebenarnya, sebab ia juga cukup paham, rata-rata wanita akan lupa diri jika dihadapkan dengan uang gratis.
'Seharusnya dari awal seperti ini!' Tessa membatin, daritadi lehernya seperti tercekek mengikuti ke mana pun Samuel pergi.
"Kemana kamu akan membawaku pergi?" tanya Samuel bingung karena tanpa sadar Tessa menarik tangannya.
"Hem, itu. Kita harus membayar gaunnya di kasir."
"Tunggu-tunggu." Samuel mengerutkan kening dan menahan tangannya sehingga Tessa tidak dapat membawanya pergi.
__ADS_1
"Kenapa tuan?" Tessa yang sudah semangat pun kini terhenti.
"Apa kamu cukup hanya 1 gaun ini? Kita pergi selama 3 hari loh, Tess," kata Samuel memperingatkan Tessa.
"Gaunnya terlalu mahal, tapi karena gaun itu pilihan tuan, saya akan menerimanya."
"Cukup di mall ini saja, Tessa, jangan di tempat lain," jawab Samuel tidak mengerti alur pemikiran Tessa.
"Harga di sini mahal-mahal, saya tahu ada tempat bagus yang menjual barang murah tapi berkualitas."
Sekarang Samuel mengerti maksud gadis ini. "Iya, harganya murah dan berkualitas, tapi tidak dengan keasliannya, itu barang kw Tessa, barang tiruan!"
"Ayolah tuan Samuel yang baik ..." Segera Tessa menatap Samuel dengan tatapan penuh harap. Tessa tahu ini akan mempan. Tapi tidak berlaku untuk Samuel.
"Jangan menatapku seperti itu, Tessa. Kamu malah akan menggodaku." Samuel mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak nyaman dengan tatapan Tessa.
Tentu saja perkataan ini semakin memudahkan jalan Tessa. Lihatlah, pandangan Samuel mulai berubah terhadapnya.
"Baiklah-baiklah, ayo kita keluar dari sini."
Seusai membayar gaun biru dongker yang memiliki harga delapan ratus ribu, Samuel dan Tessa keluar dari mall. Saat di dalam mobil, Tessa sedang berpikir mengelola uang dua ratus ribu sisa untuk membeli pakaian, dan perlengkapan lain seperti perlengkapan mandi. Tessa jelas tahu kondisi keluarga kakak Samuel, dia melihatnya di internet beberapa hari lalu. Tessa hanya ingin menyamakan diri seperti keluarga Samuel supaya terlihat seperti sekelas, dan segera di terima.
Terlebih dahulu Tessa berhenti di warung kecil di pinggir jalan, dia membeli peralatan mandi dan berlanjut jalan lagi. Pedangang sekitar pasti bingung, sejak kapan orang kaya pengguna mobil mercy berhenti di pinggir jalan dan membeli peralatan mandi khas rakyat jelata.
Sebuah pasar lain penjual pakaian sedang sepi pembeli. Lagi-lagi Tessa meminta Samuel menghentikan mobil dan berjalan beberapa meter lebih jauh guna mendapatkan harga stabil. Biasalah, penjual akan menaikkan harga jika melihat pengunjungnya pembeli sultan.
__ADS_1
Tessa memilih pakaian yang terkesan mewah, dari sepasang baju tidur dan baju jalan, tapi harganya murah, yang totalnya kurang dari dua ratus ribu.
Sesampainya Tessa di mobil milik Samuel, Ia menunjukkan semua pakaian yang berhasil dibelinya.
"Lihat, tuan! Baju yang saya beli ini lebih terjangkau dan bagus!" kata Tessa sambil kecekikikan. Sekaligus membayangkan betapa suksesnya dia menawar harga.
Samuel hanya mampu tersenyum gentir membayangkan betapa alaynya dia hari ini karena mengikuti fashion Tessa.
"Berapa yang kamu habiskan untuk semua pakaian ini?" tanya Samuel.
"Satu juta seperti bujet yang tuan berikan," balas Tessa.
Samuel mengerutkan kening. "Lah, 1 juta? Semua pakaian ini 1 juta?"
"Baju yang saya beli dari pasar sebelah sana hanya memakan seratus lima puluh ribu. Sedangkan baju yang tuan beri punya harga delapan ratus ribu, berarti masih ada sisa tiga puluh karena ikut alat mandi yang saya beli sebelumnya," jawab Tessa lagi dengan santai.
Samuel masih belum mampu mencerna kenyataan di hadapannya, "Semurah itu?" Samuel tidak pernah hidup serbaa kekurangan seumur hidupnya, berasal dari keluarga kaya adalah identitasnya. Dan fashion Tessa yang sangat berhemat seketika menyadarkannya untuk selalu bersyukur.
"Tapi maksudku delapan ratus dari gaun yang aku pilihkan untukmu tidak ikut hitungan satu jutanya," gumam Samuel yang masih di dengar Tessa.
"Ya sudah kalau begitu. Tuan tambahkan saja dengan pendapatan saya bulan ini," kata Tessa yang awalnya berniat bercanda, tapi tidak tahunya Samuel malah serius.
"Aku akan menambahkannya di awal bulan depan."
Tentu saja Tessa terkejut, namun segera menyimpulkan sesuatu di dalam hati, 'Orang kaya memang beda!'
__ADS_1
Tessa pikir, Samuel akan beradu argumen dengannya, ternyata uang bagi orang kaya tidak ada apa-apanya!