Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
23. Perubahan Signifikan


__ADS_3

POV Dimas.


Aku duduk di ruang makan sambil menunggu Sarah masak. Meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan perut ini terasa sangat lapar. Namun aku berusaha sabar, sebab tidak biasanya makan lebih dari jam tujuh, karena jika Mia yang memasak, setidaknya jam enam, sarapan pagi sudah tersedia. Lama kelamaan, aku jadi sangat merindukan Mia dan masakannya.


"Aaaaa!" tiba-tiba terdengar suara Sarah yang berteriak, hal ini tiba-tiba mengalihkan pandanganku.


"Kenapa Sarah?'' ku datangi Sarah yang terlihat menangis, aku kebingungan. "Jawab aku Sarah!" pintaku mendadak panik.


"Aku … itu aku …" suara Sarah gemetar. Aku melihat kekacauan di meja masak, kulit bawang dan kulit telur berserak begitu saja di atas talenan, serta wajan penggorengan berisi nasi goreng, tampak sangat berminyak, ini membuatku tak berselera.


"Masakan apa ini?" tanyaku dengan nada rendah, lantaran tak ingin membuat Sarah marah.


"Nasi goreng," jawab Sarah.


Kukerutkan keningku, seumur-umur tidak pernah melihat nasi goreng modelan begini. Selain berminyak, pecahan kulit telur ikut masuk ke dalam wajan. Melihatnya saja sudah membuatku enek.


Sebenarnya Sarah bisa masak tidak sih!

__ADS_1


Aku kecewa. Kesal, namun masih bisa ku tahan.


"Kamu tidak bisa masak ya?" tanyaku ceplas-ceplos. Tiba-tiba teringat tentang Mia yang pernah berkata, "Orang ngidam berbeda tiap harinya, tapi si Sarah terus maunya makan masakan ku. Mas tidak curiga, dia tidak bisa masak? Oh, aku paham ini alasan si Sarah dicerai suami masa lalunya. Karena dia tidak bisa masak!"


Baru beberapa jam Setelah Mia pergi, Sarah sudah menunjukkan beberapa poin utama alasan Mia tidak menyukai Sarah. Jika aku menjadi Mia pun, jelas akan memilih jalan yang sama dengan Mia.


"Hiks!"


Aku tersadar dari lamunan ketika mendengar suara tangisan, diri ini memutuskan melihat ke arah Sarah, dia tampak menangis. Aku bingung, sebenarnya apa alasannya melakukan itu "Kenapa Sarah?" tanyaku perhatian.


"Aku minta maaf karena tidak bisa memasak. Aku memang bodoh karna tidak bisa memanjakan perutmu seperti Mia, masakannya sangat enak dan buat nagih!" kata Sarah dengan suara lirih.


"Nanti kamu belajarlah, belajar dari tutorial masak diajari Mr. Google dan Mrs. Youtube, pasti ada langkah-langkahnya."


Sarah mengangguk dan segera kupeluk dia. "Dalam rumah tangga perempuan harus bisa masak, setidaknya masak nasi, air atau telur ceplok," kataku bersabar.


Dikarenakan perut ini sudah berbunyi, aku menyisihkan nasi goreng abal-abal buatan Sarah dan menggoreng telur ceplok dua biji.

__ADS_1


Tapi saat hendak menyajikannya di atas meja, aku melihat nasi sudah tidak ada.


"Kemana semua nasinya?" tanyaku agak kesal.


"Yang mas sisihkan itu, semua nasi sisa semalam."


Oh Tuhan … Lama-lama aku kehilangan kesabaran!


Untuk itu, aku menghubungi asistenku, Yera.


"Yer, tolong pesan nasi goreng bungkus dua ya."


"Oke, bos."


Tak lama, pesanan ku datang. Yera membawanya dari restoran cabang milikku yang lokasinya lumayan dekat dari sini.


"Ini bos," kata Yera sambil menyerahkan pesananku.

__ADS_1


"Makasih ya."


Kulihat Yera yang menatap aneh Sarah yang berdiri di sampingku. Aku paham pikirannya, pasti dia merasa aneh dengan aku yang tiba-tiba meminta nasi goreng sepagi ini. Tidak biasanya.


__ADS_2