Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
36. Membujuk


__ADS_3

POV Mia.


Aku kira, tidak ada jalan lain. Susah juga menyembunyikan hal sebesar ini dari Audrey. Yang ada, putriku malah semakin ingin kami berdua bersatu dan menyebabkan kemarahan dalam dirinya jika tidak dituruti.


Setelah menyiapkan perasaan dan hati yang mampu menerima kemarahan yang mungkin saja diluapkan Audrey, aku pun mulai menceritakan segalanya.


"Audrey… Mama bukan tidak sayang pada kamu. Dan Mama juga cukup paham jika kenyataan lebih menyakitkan daripada kebohongan. Mama–"


"Kebohongan? Memangnya Mama sedang berbohong pada Audrey?" tanya putriku penasaran.


Dengan berat hati, kukatakan, "Iya nak. Mama sedang berbohong padamu."


"Tentang apa?"


"Tentang, Papamu dan hubungan pernikahan kami."

__ADS_1


Audrey mengerutkan keningnya, bisa kulihat dia sedang kebingungan dengan maksud pembicaraanku.


"Mama paham kamu pasti bingung. Jadi begini sayang. Tapi Mama harap kamu jangan marah ya. Tahan emosi dan coba terima kenyataan ini dengan lapang dada," kataku menginstruksikan.


"Memangnya kenapa sih, Ma. Coba ceritakan, Audrey bingung nih," Audrey semakin tak sabaran.


Kucoba menceritakan semuanya sedetail mungkin. Alasanku meminta mas Dimas menceraikan aku yaitu ingin tahu apakah mas Dimas benar-benar mencintaiku atau tidak dan alasan kami tidak memberitahu Audrey tentang perpisahan ini.


"Tapi sayang, meski Mama dan Papa tidak bisa bersama seperti tidur bareng ataupun yang lainnya, kamu tetap bisa bersama Papamu. Karena selamanya tidak akan ada Mantan Anak atau Mantan Papa. Tapi istri atau suami, ada sayang. Namanya mantan suami dan mantan istri."


"Mama sayang kamu." Kupeluk Audrey tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya seketika membuat perasaanku campur aduk.


"Mama kejam! Kenapa Mama melakukan ini sama Audrey? Jelas-jelas Papa mau balikan tapi Mama malah minta pisah!" tak lupa Audrey juga melepas pelukan kami dan pergi ke kamar sambil menangis.


Kuhela nafasku dan menyusul Audrey. "Aku paham ini menyakitkan untuknya. Dia sudah salah paham denganku."

__ADS_1


Tok-tok-tok.


"Audrey, tolong buka pintunya sayang."


Kuketuk pintu kamar yang terkunci. Meski memiliki akses masuk, namun aku tidak boleh asal masuk dan marah-marah. Aku paham ini kesalahanku. Dan harus bisa membuat Audrey mengerti semuanya.


Beberapa menit kulalui hanya berdiri di depan pintu. Terdengar Audrey menangis kesegukan sambil memeluk bantal. Aku dapat melihat semuanya dengan baik karena ada jendela kecil di samping pintu.


Sabar Mia, sabar. Kamu tidak boleh membuka pintunya sekarang, ayo ceritakan semuanya lebih detail lagi, jangan ada yang tertutupi bahkan janggal. Anakmu gadis cerdas, dia bisa mendengar dan menganalis masalah dengan baik, meski kemampuannya ini masih perlu peningkatan.


Ku kuatkan hatimu untuk kembali berbicara dari balik pintu.


"Audrey sayang, Mama minta maaf karena keputusan Mama sudah memberatkan kamu. Tapi, kehidupan orang dewasa lebih rumit dari yang terbayangkan. Mohon mengerti, semua yang Mama lakukan semata-mata untuk membuat kamu dan Mama supaya tidak tersakiti. Kamu ingat kan waktu mama Sarah masih tinggal di rumah Papa? Papa lebih dominan sama mama Sarahnya. Sekarang maunya Mama, supaya Papa introspeksi diri dan kalau boleh mengejar Mama kembali. Seperti yang Mama bilang sebelumnya, tidak ada yang namanya mantan Papa. Jadi selamanya meski Papa dan Mama tidak bersama, Papa tetap menjadi milik Audrey. begitu Nak."


Ceklek.

__ADS_1


Syukur. Audrey langsung keluar.


__ADS_2