
Di akhir pekan, Mia dan Audrey berjalan-jalan ke pantai. Bermain air dan bersenang-senang namun kali ini tanpa Dimas. Lelaki itu mengaku tidak dapat berkumpul bersama Mia dan Audrey karena ada pertemuan penting dengan klien.
"Terima ini Ma!" seru Audrey setengah berteriak di pinggir pantai. Anak itu tampak sangat girang sekali.
"Whah!" ekspresi Mia yang terkejut karena menerima air yang ditampung dalam tangan putrinya yang kemudian dilempar padanya.
"Kamu yaaaa …" Mia menunjukkan kekesalan yang pura-pura. Dia mendekati putrinya dan menggelitiki perut Audrey sampai anaknya itu menyesal.
"Mahahaha hentikan! Tolong …"
Kemudian Mia dan Audrey berenang agak jauh dari pesisir supaya lebih leluasa. Hanya saja kaki Mia mendadak kram dan Mia tenggelam.
"Tolong, oukh! Tolong …" Mia panik, dan Audrey berusaha menolong Mamanya tapi tidak bisa. "Ma … Mama kenapa? Aduh, gimana ini?"
"Tarik mama, bawa keluar dari sini!" pinta Mia. Audrey yang bertubuh kecil dan sebenarnya tidak tahu apapun itu berusaha menyeret mamanya mendekat ke bibir pantai, namun tenaganya habis.
"Gimana ini, Ma. Audrey capek," kata Audrey mengeluh. Mia yang semakin tenggelam karena kakinya tidak dapat digerakkan pun pasrah.
__ADS_1
Mana jarak mereka dengan orang lain cukup jauh. Biasanya Mia dan Audrey berenang jauh-jauh. Jauh dari orang lain jauh juga dari peradaban.
Tapi tidak pernah mengalami hal seperti ini. Beruntungnya ada seorang pria menyusul dan membawa Mia ke bibir pantai.
Pandangan para pengunjung pantai tertuju pada mereka, dan ketika Mia dibaringkan di atas pasir, banyak yang mengerumuni.
"Tolong jangan berkerumun!' pinta lelaki penolong membubarkan kerumunan.
Kemudian pria penolong itu melakukan resusitasi jantung paru (CPR) dengan tangannya.
Audrey memperhatikan Mamanya dengan cemas. Berharap mamanya selamat, apalagi dia tidak pernah melihat kaki mamanya tidak bisa digerakkan.
"Mama kamu sudah sadar dek," kata pria penyelamat itu.
Audrey langsung memeluk Mamanya. "Maaaaa, Audrey khawatir! Mama kenapa sih tadi, Audrey jadi takut ..." kata Audrey haru.
Mia melihat sekitarnya, terbatuk-batuk karena sisa air laut yang tak sengaja diminumnya.
__ADS_1
"Mama baik-baik saja sayang," bisik Mia lembut. Meski begitu ia tidak setenang kelihatannya. Karena debaran jantung akibat cemas itu masih ada.
"Tapi untung saja Mama ditolong Om itu!" Audrey menunjuk pria penolong yang sempat menolong Mia.
Mia mengalihkan pandangannya, ia melihat pria yang sedari tadi jongkok di samping Mia.
"Terimakasih," kata Mia. "Aku sangat … Eh?" Mia mengerutkan dahi, terkejut karena merasa tidak asing dengan wajah pria di depan matanya itu.
"Maaf, tapi aku merasa kamu mirip dengan seseorang," kata Mia sopan. Dia mencoba mengingat-ingat tapi sedikit ragu, apakah dia salah orang?
"Bukan, ini aku … Samuel. Salam kenal kembali, Mia," tangan pria bernama Samuel itu terulur. Senyum senang tak lupa ditunjukkannya.
"Oh, hai. Kurasa kita jadi canggung gini, hehehe." Mia tertawa pelan. Ia sudah lupa lupa ingat tentang Samuel.
"Iya, lagipula itu sudah lama sekali, bukan? Delapan tahun," jawab Samuel.
"Hem ya, sudah lama." Mia mengangguk malu.
__ADS_1
Melihat 'keanehan' yang ditunjukkan Mama dan pria asing itu, membuat Audrey bingung. "Mama. Siapa om itu?"
"Oh ini, namanya om Sam. Dulunya dia teman baik Mama," kata Mia menjelaskan pada Audrey.