Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
48. Mirip Mia


__ADS_3

"Tapi setelah ini, Papa wajib nikahi Mama ya?"


"Kenapa memangnya?" tanya Dimas.


"Tadi mama bilang sama om Muel, Mama akan nikah lagi dengan Papa dalam waktu dekat, makanya Om Muel langsung pergi."


Dimas tersenyum mendengar berita seperti ini. "Baiklah, Papa akan segera menyiapkan pernikahan untuk Mama."


"Makasih Pa! Audrey harap kita akan bersama seperti dulu selamanya!" kata Audrey berharap sambil memeluk erat Papanya.


****


Samuel sampai di villa pribadinya tepat pukul delapan, dia disambut seorang pelayan wanita bertubuh gemuk yang tersenyum lembut padanya. "Selamat malam tuan."


"Malam." Samuel berlalu begitu saja. Wajah murung, mata panda yang tampak bengkak, dan ia berjalan seperti mayat hidup, sangat tidak bertenaga.

__ADS_1


"Tuan, ada apa dengan anda? Mengapa pulang dengan keadaan kekacau ini?" Pelayan wanita mendatanginya dan menanyakan beberapa hal.


Samuel hanya menghela nafas tanpa berbicara. Sesampainya di kamar, Samuel langsung tidur. Tenaga menangis sudah terkuras habis hingga dia merasakan lelah.


Sambil berbaring, Samuel membuka sedikit kelopak matanya hingga seperti celah. Dia berbisik pada diri sendiri dengan suara serak hampir tidak berdaya.


"Sia-sia semua perjuanganku belajar dan bekerja untuk memperkaya diri. Nyatanya, Mia tidak melirik cintaku dan malah memintaku melupakan dia."


Malam itu berlangsung begitu saja. Hingga paginya Samuel terlambat bangun.


Suara jam weker di samping tempat tidur. Perlahan Samuel membuka matanya dan pandangannya langsung disuguhkan seorang wanita bertubuh kurus yang membuat matanya terbelalak.


"Mi–ya?" Seketika kesadaran Samuel penuh. Dia menatap perempuan itu dan tidak percaya, "Ke–kenapa kamu ada di kamarku, Mia?" tanya Samuel antara merasa di surprise dan malu-malu.


Sedangkan perempuan di badapannya memperlihatkan raut kebingungan. Karena tidak nyaman dengan tatapan Samuel, perempuan itupun mulai berbicara, "Maaf, tuan. Tapi saya bukan Mia. Saya Tessa Melinda, pekerja baru di Villa tuan ini."

__ADS_1


Kening Samuel mengerut. Jelas saja ia tidak percaya dengan pengakuan perempuan di hadapannya. "Tidak, aku yakin kamu Mia. Lihat saja wajahmu, kamu seperti dia!" Samuel sampai menunjukkan foto berbingkai yang tergeletak di nakas.


"Atau kamu hanya berpura-pura? Ayolah, Mia. Jangan membuatku kepikiran!" Samuel merengek layaknya anak kecil. Berpikir saat ini dia sedang bermimpi, jadi tidak mungkin ada orang lain yang tersinggung.


Ternyata


ini nyata. Sampai perempuan yang mengaku bernama Tessa itu merasa aneh dengan tingkah tuan pemberinya pekerjaan.


"Aku yakin kamu Mia," ucap Samuel lagi menegaskan. Senyum di wajahnya begitu lebar. Sedikit air mata di sudut matanya karena melihat Mia sang pujaan ada hadapan.


Tetapi Tessa yang tak nyaman langsung menguak fakta sebenarnya, "Maafkan saya tuan. Saya Tessa, kita tidak pernah bertemu dan tidak mungkin bisa saling mengenal. Saat ini saja saya bahkan baru bertemu dengan tuan."


Samuel terdiam, dia sedang berusaha mencerna perkataan wanita itu di dalam hatinya. "Kamu ... bukan Mia? Lalu kamu siapa? Kenapa bisa mirip dengan Mia-ku?" tanya Samuel penasaran.


Tessa hanya menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, tuan. Mungkin hanya kebetulan," jawab perempuan itu.

__ADS_1


Seketika Samuel menghela nafasnya perlahan dan terdiam untuk beberapa saat. Berpikir, sebenarnya siapa perempuan di hadapannya itu. Karena tidak dapat menahan rasa penasaran, akhirnya Samuel memutuskan bertanya, "Lalu, untuk apa kamu datang ke kamarku? Hem, maksudku aku tidak pernah meminta pelayan baru untuk dipekerjakan."


__ADS_2