Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
59. Perubahan Sikap


__ADS_3

Mia menatap kepergian Dimas yang kecewa dari rumahnya. Dia tidak berniat apa-apa, dia hanya perlu ketenangan.


Pikirannya sedang kacau, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia masih sangat mencintai Samuel, ia merasa bodoh telah membiarkan Samuel pergi.


Dia tidak terlalu mencintai Dimas lagi, cukup dengan kehancuran hati yang dia dapatkan dari pria itu di tahun terakhir pernikahan mereka.


Menolak dengan cara yang sama tampaknya baik. Ia hanya berusaha menjaga hati putri satu-satunya yang sangat dia cintai itu.


Tapi tampaknya Audrey sedang marah dengan Mamanya sendiri.


Itu terbukti karena Audrey berjalan tanpa menyapanya saat berpapasan. Audrey masuk kamar miliknya. Tidak lagi tidur seranjang dengannya. Mia pun tidak terlalu mempermasalahkan hal yang sudah jadi dilemanya selama ini.


'Audrey hanya perlu waktu,' itu yang dia percayai sebelum akhirnya pergi tidur di kamarnya.


Di kamar Audrey.

__ADS_1


Ia menangis sederas-derasnya. Sengaja menyembunyikan kepala di bantal karena tidak ingin Mamanya mendengar tangisannya itu.


'Kenapa hubungan Mama dan Papaku seperti ini ya Tuhan? Audrey lelah! Teman-teman menganggap Audrey anak paling bahagia karena memiliki Mama dan Papa yang hubungannya harmonis! Bagaimana teman-teman memandang Audrey setelah tahu semuanya ini? Audrey lelah membujuk Mama dan Papa untuk berdamai. Mama selalu berkata untuk selalu berdoa demi kembalinya Papa ke kehidupan Mama dan Audrey. Papa pasti kembali! Begitu kata Mama. Tapi nyatanya, setelah Papa kembali, Mama justru menolak. Aku bingung harus buat apa … Semuanya sesulit ini!'


Esok harinya, Mia menjalani hari dengan normal. Begitu indah rasanya tidak bertemu orang-orang yang sudah membuatnya sakit hati.


Tapi Audrey–putrinya, yang sampai detik ini terus menunjukkan wajah masamnya, menjadi topik utama dalam otak Mia.


'Sebegitu bencinya kah anakku padaku karena terus tidak setuju dengan kembali masuknya mas Dimas masuk ke kehidupan kami?'


"Aku mau berangkat sendiri!" teriak Audrey setelah pakaian melekat di tubuh dan tas sudah digendongnya.


Mia yang sedang menyiapkan sarapan Audrey menghela nafas. "Sekolah kamu ada di sebrang perumahan kita loh, sayang."


"Terus kenapa?!"

__ADS_1


Mia mengalihkan pandangannya setelah Audrey yang lagi-lagi berteriak. Audrey sudah melawannya hari ini.


"Mama tahu kamu tidak bisa menyebrang. Tapi apa kamu sudah janjian dengan teman untuk jalan bersama?" tanya Mia lagi. Ia selalu merendahkan suaranya.


Audrey terdiam seribu bahasa. Meski begitu hatinya berkata, 'Kenapa mama tidak marah sih? Nolak gitu ... biar Audrey punya alasan pergi dari rumah buat ketemu Papa!'


"Audrey mau jalan sendiri ke sekolah! Kalau mama mau melarang, Audrey bakal pergi dari rumah ini!" ancam Audrey yang tidak tahu mau katakan apa lagi.


Mia menghampiri Audrey tanpa kemarahan di wajahnya. Dia berdiri di belakang tubuh Audrey untuk meletakkan kotak bekal dalam tas putrinya itu.


"Mama mendukung sepenuhnya keputusanmu yang mau mandiri. Mama tidak melarang. Hanya khawatir saja kamu kenapa-napa. Mama ingat, terakhir kali kita menyebrang jalan, kamu ketakutan sampai kaki gemetar. Takutnya, Kamu telat karena tidak berani jalan. Kecuali ada teman yang bantuin kamu menyebrang."


Seketika wajah Audrey memerah seperti kepiting rebus. Mamanya membuka aib menyebalkan yang terus menghantuinya itu.


"Argh!" Audrey menggeram sebal. Berbalik dan menatap sang Mama dengan amarah. "Mama kira Audrey selemah itu?!"

__ADS_1


__ADS_2