Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
55. Lebih Sering Berbohong


__ADS_3

POV Mia.


Selama seminggu, semua berjalan monoton, aku bekerja, makan dan mengantar Audrey ke sekolah. Saat malam, kami tidur, dan paginya melakukan proses yang sama berulang-ulang.


Bahagia? Sedikit, karena Audrey gadis kecilku yang kusayang masih hidup, sehat dan selalu berdiri bersamaku saat ini.


Hanya saja hati ini rasanya kosong. Tiap hari merindukan sosok Samuel. Aku mencintainya, tapi Audrey adalah prioritasku saat ini. Kesedihan Audrey adalah kegagalanku dalam menyenangkan hatinya. Dan anak itu menginginkanku menikahi Papanya kembali.


Merupakan sesuatu yang menyebalkan memang.


Audrey seolah melupakan sosok Dimas yang dahulu pernah menyisihkan kami demi seorang Sarah–wanita dari masalalu yang kembali untuk menghancurkan hubungan keluarga yang harmonis selama bertahun-tahun.


Tapi semua salahku, selama proses kesedihan beberapa bulan lalu, aku tidak pernah menanamkan rasa benci di hatinya. Selalu berkata, "Papa kamu akan segera kembali dalam pelukan kita, sayang. Akan segera kembali." Aku selalu menekankan hal itu padanya. Walau tidak tahu kapan masa itu.


Dan sekarang, ucapanku nyata terpangpang jelas di depan mata. Dimas benar-benar kembali setelah kecewa dengan masalalunya. Dibarengi … Samuel–lelaki yang tidak pernah melukai hati ini, dia selalu menyenangkan.


Dan selama seminggu Samuel selalu datang ke rumah, selalu mengingatkan begitu banyak memori indah bersama. Sampai kapanpun, Samuel adalah kekasih terhebat di masalalu.


"Mama!"

__ADS_1


Lamunanku terbuyarkan dengan pekikan Audrey dari luar kamar.


"Kenapa sayang?" aku sedikit menoleh, segera Audrey menghampiriku, memeluk tubuh ini dari samping. Kualihkan pandangan dari cahaya bulan terang dari atas balkon dan menatap mata jengkolnya yang indah. "Ada apa Audrey?" kutanyakan dia yang tidak berbicara hingga setengah menit dia di sini.


"Audrey mau kasih tahu sesuatu sama Mama," bisiknya dengan kekehan. Entah apa yang dimaksudkannya aku belum paham.


"Kasih tahu apa, sayang?" tanyaku dengan suara lembut.


"Pokoknya sesuatu!" dia tersenyum dan terus terkekeh.


Entah apalah maksud putriku ini. "Ya sudah, mama harus buat apa hem?" aku tak sabaran ingin tahu.


"Sekarang sudah malam, Audrey. Jangan keluar. Tadi bukannya kamu lagi ke toilet, sekarang setelah kembali justru minta mama keluar kamar."


Akh, rasanya malas jika keluar. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, sebelumnya Audrey minta izin buat ke kamar mandi, sehingga aku terbangun dan mengikutinya. Dia mengeluh sakit perut, akhirnya dia kutinggalkan dan memilih membuka sekat pembatas kamar dan area balkon. Di sana aku berdiri sambil menikmati cahaya bulan yang indah.


Sekarang, entah apa yang menyebabkan Audrey bahagia, dia terus memaksaku keluar kamar.


"Ayolah Ma. Ini kesempatan sekali seumur hidup!"

__ADS_1


Entah apa maksud kesempatan dua kali seumur hidup. Akhirnya aku nurut juga. Kami keluar dari kamar, serta melihat kegelapan di depan mata. Aku berusaha mencari saklar, tetapi tanganku ditarik seseorang yang membuatku reflek meninju orang tersebut.


"Akh!" orang itu mendesis sakit. Sedikit memundurkan tubuhnya.


Kalau aku ingat suaranya, itu adalah Dimas. Dibuktikan dengan Audrey yang mendekati pria itu dan berteriak, "Papa!"


Tapi untuk apa mas Dimas masuk secara sembunyi-sembunyi ke rumahku. Apalagi sekarang sudah malam?


Karena tidak dapat menahan rasa penasaran akupun mulai mempertanyakan isi kepalaku padanya. "Untuk apa mas Dimas ke rumahku malam-malam begini? Mas mau maling ya?" tuduh ku dengan kening yang mengerut.


"Aduh, sorry-sorry, Mas tidak berniat maling, Mia. Benaran deh."


"Terus, kalau tidak berniat maling, kenapa datang malam-malam begini? Lalu kamu, Audrey. Kalian sudah bersekongkol mengejutkan Mama ya?" tanyaku mengintimidasi keduanya.


"Hem itu, Ma. Audrey .... Audrey ga kenal orang ini Papa."


Nah, dengan mudahnya aku menemukan kebohongan yang Audrey sembuhkan. "Jangan jadi gadis kecil yang pembohong, Audrey. Katakan sejujurnya pada Mama!" kataku sambil menghidupkan lampu.


Terlihat Audrey menundukkan kepalanya, "Iya ma," jawab anak itu dengan suara lirih.

__ADS_1


Kukerutkan keningku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada putri kecilku yang manis? Dia menjadi gadis yang suka berbohong setelah semakin sering dekat dengan Papanya.


__ADS_2