
"Hem, iya. Kata mas Dean supaya suami kakak tahu rasa gimana susahnya tidak ada kakak di sampingnya. Kan selama ini yang berperan penting dalam bisnis restoran 'ala pribumi' milik suami kakak ya kakak sendiri. Jadi tunggu tanggal mainnya."
Aku menggeleng tidak percaya, ternyata adik ipar berperan besar dalam rencana tak terduga ini. Ya akui, mas Dimas tidak akan bisa tanpaku. Tapi kasihan juga sih, mas Dimasnya.
"Kakak jangan kasihan sama suami kakak yang lebih perhatikan mantan janda bohay itu! Kan sekarang kakak sudah dapat paket komplitnya. Kakak sudah punya ruko, uang cash 450 juta dari suami kakak dan 98% harta kekayaan yang pernah kakak perjuangkan dibuat atas nama Audrey."
Perkataan Ayra membuatku melongo. "98% harta kekayaan atas nama Audrey?"
"Iya kak," Ayra mengangguk. Mata-mata mas Dean sudah beritahu kalau suami kakak pindah tangankan seluruh hartanya atas nama Audrey. Jadi suami kakak sudah kembali kere, meski semua belum terasa."
Aku tidak percaya mas Dimas berani melakukannya. "Kenapa dia melakukannya ya?"
"Berita lain yang kuketahui, ternyata madu kakak masih berhubungan sama mantan suaminya."
Kepala ini menggeleng, semakin tidak percaya. Tapi Ayra segera menenangkan. "Kan itu masalah suami kakak, bukan masalah kakak lagi. Sekarang kakak hadapi hidup kakak, pernyaman diri kakak tanpa ada yang larang. Dan kalau kakak kesulitan dalam menggugat cerai suami kakak, aku akan minta pengacara mas Dean buat bantu kakak bercerai dari suami kakak. Gimana?"
Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Jadinya aku berkata, "Jangan dulu. Aku rasa ada hal yang perlu aku selesaikan dulu."
__ADS_1
"Oke, semoga berhasil!" kata Ayra menyemangati.
"Oh ya dek. Ini uang bulanan ruko, sorry kakak baru bisa kasih hari ini." Aku menyerahkan uang yang dibungkus amplop coklat. Di sana ada 5 juta."
"Kakak kerja apa selama ini?" Ayra terlihat terkejut. Karena memang sih, selama ini aku tidak pernah memberitahunya pekerjaanku.
"Kerjaanku? Yaaaa jadi seller online dek. Aku pakai uang pemberian mas Dimas untuk membeli alat jahit. Karna kan yang jadi prioritasku buat semalam ikat rambut, terus kotak pensil, bando seperti aksesoris anak gitu."
"Terus dapatnya berapa?" Ayra penasaran.
"Sekitar 10 jutaan, baru bisa diambil hari ini sih, makanya kakak langsung beri takutnya malah kecantol beli bahan baku pembuatan barang jualan yang lainnya."
"Ssstt, ruko yang kamu beri, bagi kakak adalah hutang. Jadi, terima ya." Aku menunjukkan senyum penuh persahabatan sambil menggeser-geser uang itu mendekat ke Ayra.
"Terimalah dek. Aku tau kamu sudah kaya, tapi kakak masih bisa bekerja dan membayar semua hutang-hutang itu. Kalau mau beramal, kasih pada orang yang membutuhkan, misalnya rakyat miskin dan sakit-sakitan," kataku meyakinkan.
"Ya sudah deh. Kakak bawa saja uangnya, dan bagi-bagikan pada orang miskin dan sakit-sakitan."
__ADS_1
Yah, adikku malah mengembalikannya lagi padaku.
"Sama kamu saja dek," kataku.
"Sama kakak aja!"
Tanpa Kami sadari, kami seperti anak kecil sampai keempat anak-anak Ayra ditambah Audrey ku menyaksikan perdebatan kami.
Malunya …
"Sudah dek, iya kakak beri sama orang miskin dan sakit-sakitan saja." kataku menyerah sambil memberi tanda kalau kami sudah diperhatikan anak-anak.
Untungnya Ayra mengerti, jadi kami berhasil bertindak dewasa meski anak-anak menyaksikan dalam kebingungan.
"Mama kenapa?" tanya Audrey.
"Iya Mi, Mami kenapa?" tanya keempat Anak Ayra.
__ADS_1
Alhasil kami berdua tersenyum penuh malu.