Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
27. Punya Adik Ipar?!


__ADS_3

"Hem, Audrey boleh minta hp Mama?"


"Boleh." Kuambil hp dari dalam tas dan memberikannya pada Audrey. Tak lama Audrey menunjukkan sebuah gambar padaku. Aku mengangguk, "Namanya trampolin sayang. Tidak ada di pasar, adanya di mall. Kamu mau ke sana ya?"


Audrey mengangguk.


Kupikir sejenak jika, jika Audrey main trampolin di mall, aku akan keburu lama di luar. Sementara jika kulihat pesanan pembeli di toko online ku, ada sekitar 20-an lebih pembeli yang pesanannya harus dikirim hari ini.


Tatapan Audrey begitu berharap aku akan mengabulkan keinginannya. Kusejajarkan tubuh seperti Audrey dan menyentuh bahunya. "Mama minta maaf sedalam-dalamnya ya sayang. Gimana kalau Minggu depan di hari ulangtahun kamu, Mama hadiahkan trampolin? Halaman belakang ruko kita kan masih luas tuh, Mama akan belikan trampolin besar! Jadi kamu bisa main di rumah sepuasnya tanpa keluar rumah. Kamu mau kan?"


Aku sangat berharap Audrey menyetujuinya.


"Oke deh Ma. Tapi Audrey bisa bawa teman-teman Audrey serta kak Santi dan kak Sania buat main sama Audrey kan?"


"Boleh sayang. Boleh!" aku senang Audrey mau menurut.


Sesampainya di ruko, segera ku paketkan pesanan para pembeli online ku. Mengirimnya ke pusat pengiriman terdekat, kemudian kembali ke ruko.


Terlihat Audrey bermain boneka di kamar. Hal itu membuatku mendatangi putriku dan duduk di samping nya.


"Kamu tidak belajar sayang?"


"Audrey sudah selesaikan PR, Ma."


Aku mengangguk. "Tapi, coba Mama lihat."


"Apanya Ma?" Audrey menatapku.

__ADS_1


"PRnya lah."


Audrey mengambil buku PR. Sekarang anakku sudah kelas 1 SD, dan pelajaran matematikanya hanya sekitar tambah dan kurang.


Setelah mengecek beberapa soal, aku menemukan kesalahan di sana.


"Audrey, pekerjaanmu sudah bagus, hanya saja ada tiga soal yang salah."


"Yang mana, Ma?" Audrey melihat bukunya.


"Yang ini. Seharusnya 17 kurang 5 itu 12, bukan 22. Lihat ya, Mama kasih tahu." aku menulis angka 17 dikurang 5.


"Ingat ya Sayang. Dikurang berarti habis. Seperti kamu punya 17 boneka terus Mama ambil 5, jadi hitung berapa sisanya."


"1, 2, 3, 4, …, 12!"


"Ikuuuttt." Tiba-tiba Audrey berdiri dan memelukku. "Boleh ya Ma …" katanya penuh harap.


"Tapi PR kamu?"


Audrey mengambil buku dan pensilnya. "Audrey bawa biar nanti belajar sama kak Santi dan Sania."


"Oke deh."


*******


Sesampainya di rumah Ayra, Audrey langsung menjumpai putri kembar Ayra, Santi dan Sania. Sedangkan aku, menjumpai Ayra. Aku duduk di sofa nyaman rumah Ayra, berbicara banyak hal.

__ADS_1


"Kakak sehat?" tanya Ayra memulai.


"Sangat sehat dek. Hidup kakak lebih seperti segar lagi setelah berpisah rumah dari mas Dimas."


"Tapi mas Dimas belum menceraikan kakak kan?"


"Belum. Belum ada surat dari pengadilan. Tapi aku juga belum gugat cerai mas Dimas sih. Lebih seperti menjauh dari suamiku dan istri barunya. Mau tahu juga gimana Mas Dimas hadapi si Sarah yang sudahlah pemalas, menyebalkan, bahkan tidak bisa diandalkan. Yaaaa, aku tau. Sarahnya bisa diandalkan bagian ranjang gitu. Pahamlah," aku tersenyum penuh arti.


"Pernah lihat bodynya juga sih kak. Aku paham dia ahli bagian peranjangan."


Terus kami tertawa.


"Aku yakin suami kakak penuh lelah mengurus perempuan pemalas sepertinya," kata Ayra menerka-nerka.


"Ya itu kan pilihannya. Malam sebelum kamu bawa kakak dan Audrey, pindah aku juga sudah tanya. Mas Dimas pilih siapa, aku atau Sarah. Ya mas Dimasnya pilih Sarah karena perempuan itu lagi hamil. Padahal kalau mas Dimas pilih aku, aku ya mau saja melahirkan adek-adek Audrey yang lain."


"Malah lebih bahagia ya kan kak. Kakak kan perempuan hebat, buktinya suami kakak bisa sesukses sekarang. Punya restoran atas namanya bahkan dengan tiga cabang."


Aku hanya tersenyum getir mengingat semua kerja kerasku mendukung dan menemani mas Dimas sejak awal menikah, malah diambil alih oleh perempuan licik seperti Sarah.


"Tapi tenang kak." Tiba-tiba Ayra menyentuh bahuku.


"Kenapa?" aku kebingungan.


"Mas Dean sudah dirikan satu restoran bergaya Korea yang bisa gantikan secara perlahan restoran 'ala pribumi' milik suami kakak."


"Restoran itu punya adek ipar?!" aku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2