
"Tessa, ambilkan handukku."
"Tessa, pakaikan jaket ke badanku."
"Tessa ..."
"Tessa ..."
"Tessa ..."
"Tessa ..."
Hari ini, Samuel benar-benar memperlakukan Tessa seperti asistennya. Menyuruhnya melakukan berbagai hal di hari pertama, sehingga memaksa gadis itu terus berusaha melakukan pekerjaan seperti keinginan majikannya itu
Tessa tidak membantah, berpikir ini hanya terjadi di hari pertama. Tidak tahunya, sampai berhari-hari sampai sekarang, Tessa sudah seminggu bekerja sebagai asisten.
"Tessa ..." Samuel baru keluar dan hendak menyuruh asistennya itu. Tessa yang sudah hapal segala permintaan Samuel pun stay berdiri di depan pintu dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Samuel.
"Berikan pijatan sedikit," kata Samuel setelah duduk di kursi berdapan dengan cermin. Tessa ada di belakang untuk mengeringkan kepala Samuel.
__ADS_1
"Baik."
Keadaan hening. Samuel terus memperhatikan cermin di hadapannya. Melihat penampakan Tessa yang berwujud Mia, Samuel merasa dekat dengan wanita pujaan hatinya itu. Perilaku penurut yang hampir serupa membuat Samuel merasa memiliki duplikat Mia.
"Tessa," ucap Samuel memanggil Tessa.
"Hm..." Tessa hanya berdehem.
"Besok aku akan menjenguk kakak ipar yang baru saja melahirkan. Aku mau mengajakmu ikut, untuk besok hari, kamu tidak ada halangan kan?"
Tessa berpikir sejenak. Untuk apa tuan Samuel mengajakku pergi ke rumah keluarganya? Walau hanya sekedar menjenguk, tapi Tessa merasa tak pantas ikut campur dalam urusan keluarga sang majikan.
"Bagaimana?" tanya Samuel memastikan.
"Kenapa?"
"Saya tidak bisa ikut campur dengan urusan keluarga tuan," balas Tessa berbicara terang-terangan.
Seketika kening Samuel mengerut setelah mendengar ucapan itu. "Kamu berpikir apa tentang maksudku? Apa kamu berpikir aku mau membawamu ke rumah keluargaku untuk diperkenalkan sebagai calon istri? Hahahaha ... tidak-tidak, aku tidak akan melakukan hal senekat itu. Kita baru bertemu beberapa hari, tidak mungkin langsung cinta. Aku hanya ingin membawamu sebagai asisten. Ya, dengar baik-baik, hanya sebagai asisten."
__ADS_1
Pergerakan Tessa yang sedang mengeringkan rambut Samuel pun terhenti. Entah mengapa dia merasa sedikit sakit hati mendengar ucapan itu.
Tapi ia harus profesional dalam bekerja. "Baik tuan. Saya kira anda membawa saya sebagai calon istri. Hahahaha!" secara maksud tersembunyi Tessa menertawakan kenyataan bahwa tidak mungkin, ia yang merupakan pelayan pribadi ini menjadi istri seorang majikan kaya seperti Samuel.
Dan meski tidak mirip seperti tawa Mia, Samuel tertegun sejenak ketika Tessa tertawa. Lesung pipi dan gigi gingsul milik gadis berusia 19 tahun itu menambah nilai kecantikannya.
'Aku rasa Mia versi KW ini perlu sering tertawa.' Samuel tersenyum tipis meski sejenak.
"Oh ya, kamu bereskan dulu lah pakaianku. Kali ini sesuaikan dengan selera mu saja," ucap Samuel yang ingin mengetes selera Tessa seperti apa.
"Berapa pasang, tuan?"
"Cukup 3 pasang."
Setelah Tessa menyiapkan semuanya yang juga dipantau Samuel, berbicaralah lelaki itu. "Bawa semua barang-barangku ke bagasi."
Tessa menurut. Seusai meletakkan koper kecil yang tak hanya berisi pakaian, tapi beberapa barang yang ingin dibawa Samuel, Samuel meminta Tessa ikut masuk ke dalam mobilnya. Tapi Tessa memilih duduk di kursi penumpang, sehingga Samuel sedikit kesal. "Apa kamu kira aku supirmu? Duduk di sini!" printah Samuel menunjuk kursi di sebelahnya.
Lagi-lagi Tessa menurut tanpa penolakan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang dirasakan Samuel maupun Tessa. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing.
'Entah mengapa aku gugup.'